ANMELDEN
“Hmm, cewek kampung ini lagi. Males aku lihatnya!”
“Iya, Sis. Cuma modal dada gede sama muka cantik doang, tapi di suruh ngelayani pelanggan, malah kaku kayak kayu. Mentang-mentang masih perawan, harganya sok dinaikin.” “Iya nih. Padahal yaa, masih mending kita ke mana-mana.” Begitulah nasib Kiara Shanin Pratama yang kini menangis tersedu karena pekerjaannya yang hina. Ditambah lagi, cibiran dan cemooh itu meluncur bebas dari sesama pelacur yang kerja di tempat yang sama dengannya. Lahir dari keluarga miskin di sebuah desa terpencil, hidup Kiara sejak kecil tak pernah mudah. Ayah dan ibu tirinya terlilit utang yang cukup besar hanya untuk judi dan foya-foya. Hampir setiap hari para rentenir dan preman datang menagih hutang ke rumah. Hingga suatu malam, salah satu rentenir yang terkenal paling kejam datang ke rumah sambil mengancam akan menjebloskan sang ayah ke penjara. Namun, alih-alih bertanggung jawab untuk mencicil semua utang tersebut, kedua orang tuanya justru menjadikan Kiara sebagai alat pembayaran. Kiara diserahkan kepada rentenir itu tanpa sedikit pun rasa iba. Bagi keluarganya, gadis itu tak lebih dari barang yang bisa ditukar demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Biadab kan? Memang! Dari tangan sang rentenir, Kiara kemudian dijual kepada seorang Mommy, pemilik klub malam terkenal di kota. Dan di sinilah hidup Kiara berubah menjadi mimpi buruk. Di balik gemerlap lampu, dentuman musik, dan kemewahan klub, Kiara dipaksa menemani para pria hidung belang yang datang. “Sudah-sudah! Diam kalian! Jangan ganggu anak ini!” suara ketukan hak tinggi Mommy menggema bersamaan dengan titahnya yang tegas selayaknya bos di tempat kerja. Wanita setengah baya itu menatap Kiara tajam tanpa simpati. “Kiara, bawa minuman ini ke Suite 01 sekarang! Malam ini, kita kedatangan tamu penting. Jadi jangan sampai kamu membuat kita malu! Tuan Johnny bukan orang sembarangan dan dia termasuk pelanggan VVIP di sini! Kamu harus melayaninya sampai puas! PAHAM?” tegas si wanita bergincu merah tebal. “M-melayani? Maksud Mommy a–” Belum sempat Kiara menyelesaikan kalimatnya, pemilik klub malam itu lebih dulu menyela, “Sudah jangan banyak tanya! Toh nanti kamu juga tau!” perintahnya sambil mendorong Kiara menjauh. “Cepat masuk sekarang! Kalau sampai kamu buat masalah, aku suruh anak buahku cambuk kamu sampai pingsan!” tukas sang Mommy dengan dingin. Dengan tangan gemetaran, Kiara memegang nampan perak berisi botol Macallan 18 dan dua gelas kristal. Rambut hitam pekatnya yang panjang dan bergelombang lembut berkibar pelan saat ia melangkah ragu menuju pintu hitam di ujung lorong VVIP. Dua orang penjaga langsung membantu untuk membukakan pintu begitu melihat kedatangannya. Ruangan itu luas dan temaram khas club malam di kota-kota besar. Aroma alkohol langsung menusuk indra penciuman Kiara. Di atas sofa kulit hitam, duduk seorang pria dengan perut gendut, kepala botak, cincin berderet di jari, dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka menampilkan dadanya. Pria itu menatap Kiara dengan kilat nafsu. Senyum terukir di wajahnya yang mulai keriput itu. “P-permisi Tuan, saya mau antar minuman,” cicit Kiara pelan. Ia menunduk dalam-dalam hingga helai rambut hitamnya jatuh menutupi wajahnya yang manis. Johnny sama sekali tidak tertarik pada apa yang Kiara pegang. Pandangannya justru tertuju pada tubuh Kiara. Matanya menyisir leher jenjangnya yang mulus, turun ke lekuk dadanya yang menyembul ketat, hingga ke pinggang rampingnya. “Cepat kemari!” perintah Johnny. Suaranya terdengar serak akibat menahan gejolak gairah. Jantung Kiara berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. “S-saya cuma disuruh antar minuman saja, Tuan. Saya–” Johnny terkekeh penuh nada sarkasme. “Kamu pikir Mommy-mu mengirim ke sini hanya untuk itu?” tanyanya masih dengan mata jelalatan yang tak pernah lepas dari tubuh Kiara. “Dasar gadis naif.” “Tapi—” “Cepat ke sini!” Johnny kembali bertitah. Dan mau tak mau, Kiara bergerak patuh menghampirinya meskipun ia sudah gemetar luar biasa. “Akh!” Pria berusia hampir 50 tahunan itu menarik pinggang Kiara, mengikis jarak di antara mereka. “Tubuhmu indah sekali, manis.” “Tolong... jangan Tuan...” bisik Kiara, air matanya akhirnya menetes. Rasa ketakutan menyumbat tenggorokannya. Jemari Johnny yang dingin menyentuh dagu Kiara, memaksanya menatap balik. “Lihat wajahmu– kamu cantik sekali.” Pria itu menyentuh ujung rambut Kiara dan mengendusnya. “Tubuhmu juga harum sekali, dan— menggairahkan.” Ibu jarinya bergerak turun, mengelus bibir bawah Kiara yang berlipstik merah muda. Lalu perlahan merayap turun ke tulang selangka dan menekan bagian atas gaunnya. “Mommy-mu bilang, kamu masih perawan ya?” “Tuan...” Dada Kiara yang besar terlihat naik turun, jantungnya berdegup liar. Air matanya sudah jatuh menetes membasahi wajahnya. Ia ketakutan sekali. “Lepaskan gaunmu! Aku ingin melihat tubuhmu yang indah itu!” perintah Johnny penuh gairah yang tertahan. “Saya tidak bisa.” Kiara menggeleng kuat, mencoba menolak meski ketakutan setengah mati. “Jangan uji kesabaranku!” tekan Johnny mulai emosi. “Saya mohon Tuan, jangan minta saya melakukan hal yang aneh-aneh! Saya— ahh...” Johnny menekan pinggang Kiara dengan kuat hingga gadis itu mengerang kesakitan. Mata yang dipenuhi kilat nafsu itu sedikit menggelap ketika Kiara menolaknya. “Jangan membantah! Aku sudah membayar mahal untuk menikmatimu! Cepat turuti perintahku, SE-KA-RANG!” Dengan jemari yang gemetar hebat, Kiara menurunkan bagian atas gaun merahnya. Kain itu meluncur turun, menyisakan kemben tipis yang hampir tidak bisa menahan keindahan bentuk dadanya yang membusung pasrah. Kiara nyaris polos dengan hanya menyisakan hot pants yang cukup minim. Johnny menarik napas. Mata gelapnya berkilat liar. “Luar biasa... Mommy-mu benar-benar tahu seperti apa seleraku.” Dia bertepuk tangan. Sesekali bibir bawahnya dijilat. Bahkan, miliknya sudah tegang hanya dengan melihat Kiara yang nyaris polos di depannya. “Sekarang...” Pria itu menepuk area di antara kedua kakinya. “Berlutut di depanku!” Kiara memegang dadanya yang terbuka dengan tangan gemetar. “Tuan, tolong lepaskan saya! S-saya...” “CEPAT LAKUKAN!” potong Johnny tegas. Jemarinya mulai melonggarkan sabuk kulitnya. “Tuan...” “SEKARANG!!” bentakan keras pria gemuk itu membuat Kiara tak punya pilihan lain kecuali patuh. Tubuhnya bergetar hebat saat ia berlutut di antara kedua kaki pelanggan VVIP tersebut. Pria itu mengelus rambut panjang Kiara, lalu menurunkan resleting celananya, mengeluarkan miliknya yang sudah menegang sempurna di balik pakaian dalam. Kiara menatap inti pria itu dengan mata membelalak penuh ketakutan. “Ayo, buka mulut dan cepat kulum!” perintah Johnny tidak sabaran. Jemarinya meremas tengkuk Kiara, mendorong kepala gadis itu mendekat. Gadis itu menggeleng. “Cepat kulum!” ‘Tidak! Aku tidak mau melakukan ini!’ Pikiran Kiara berkecamuk. Mana mau dia patuh pada pria hidung belang ini dan merelakan keperawanannya begitu saja? Tidak, tidak boleh! Dia harus melawan. Dan saat rasa takut serta tekad ingin melarikan diri itu bercampur jadi satu, Kiara segera menggenggam milik pria itu, lalu...“Kiara!” panggil Arvino tegas. Kiara menoleh dan menatap Arvino sambil mengedipkan kedua kelopak matanya. “Iya, Tuan?” sahutnya polos. “Daripada mikirin bunga, lihat dirimu!” tegur Arvino sambil mengernyitkan alis. Ucapan itu membuat Kiara langsung mengerutkan kening. Ia menatap dirinya sendiri sekilas sebelum kembali memandang pria di sampingnya. “Memangnya aku kenapa?” tanyanya bingung. “Ada remah roti tuh,” jawab Arvino singkat. “Di mana?” Kiara buru-buru mengangkat tangan, berusaha mencari remah yang dimaksud. “Di situ,” tunjuk Arvino dengan dagunya. Kiara mengusap pipinya dengan punggung tangan. Salah sisi. “Udah?” tanyanya sambil menoleh penuh harap. “Belum,” jawab Arvino datar. “Sini?” Kiara kembali mengusap dagunya. Masih salah. Arvino mengerang pelan. Melihat tingkah gadis itu yang tak kunjung menemukan letak remah roti, kesabarannya hampir hab
Arvino meletakkan pisaunya. Dentingan logam di tepi piring terdengar jelas di ruang makan yang mendadak lengang. “Duduk!” ucapnya tanpa menoleh. Kiara tidak bergerak. Air matanya masih menetes ke taplak putih, dan ia buru-buru mengusap pipi dengan punggung tangan supaya tidak ketahuan. “Kiara. Duduk,” ulang Arvino dengan suara tegas. “Iya, Tuan.” Suara Kiara serak dan nyaris tidak terdengar. Kiara menarik kursi di sebelah Arvino dengan hati-hati, lalu duduk di tepinya. Jas hitam itu terlalu besar untuk bahunya, sehingga lengan bajunya menutupi sampai ujung jari. Di depannya terhampar piring porselen berpinggiran emas, deretan garpu dan pisau yang tidak ia tahu fungsinya, serta serbet kain yang dilipat berbentuk kipas. Semuanya terlihat terlalu bagus untuk disentuh. Gadis itu tak berani mengangkat kepalanya. Kedua tangannya bertaut di atas paha. Arvino menyesap kopinya dan melirik
“Tuan?!” Kiara refleks berlari menghampiri, dan itu menjadi kesalahan terbesar pagi itu. Kedua lengannya terlepas dari dada demi menepuk-nepuk punggung Arvino. “Tuan pelan-pelan aja minumnya!” serunya panik. Bagian atas dress itu bergeser turun beberapa senti. Belahan dada Kiara terlihat sepenuhnya di bawah cahaya pagi yang menembus jendela besar. “Kiara!” Arvino terbatuk sekali lagi sambil menutup mata dengan satu tangan. “Tutup dadamu!” “Iya, iya, ini aku tutup!” Kiara cepat-cepat menyilangkan kedua lengannya, tetapi dadanya yang penuh terlalu besar untuk disembunyikan oleh dua lengan kecil. Ia menarik napas gugup sebelum mengeluh, “Duh, nggak bisa, Tuan! Bajunya kekecilan!” Arvino berdecak keras. Ia menyambar jas hitam yang tersampir di sandaran kursi, lalu melemparkannya ke arah Kiara tanpa menatap. “Pakai ini!” perintahnya. Kiara menangkap jas itu dan memakainya cepat-cepat. Bahunya tenggelam dalam kain yang
Arvino menghentikan kalimatnya dan menggertakkan gigi. “Pokoknya lepas!” “Terus perutnya gimana? Tadi Tuan kayak nahan sakit perut.” Kiara menarik diri dan menggeser telapak tangannya turun ke perut Arvino. Ujung jarinya menekan otot perut yang keras dan berlekuk. “Keras banget, Tuan. Ini sakit nggak kalau aku tekan? Kenapa nggak ngomong aja kalau lagi sakit?” “Kiara, aku bilang berhenti!” bentak Arvino. “Coba Tuan balik badan. Siapa tahu di punggung juga sakit!” usul Kiara dengan penuh kesungguhan. Tanpa menunggu persetujuan, Kiara memegang pinggang Arvino dan memutar tubuh pria itu dengan penuh semangat. Arvino yang kehilangan keseimbangan akibat lantai licin ikut berputar setengah lingkaran. Handuk putih di pinggangnya ikut bergeser, makin lama makin turun. Arvino merasakan kain itu melorot. Refleks, tangannya menyambar ujung handuk dan menahannya tepat sebelum semuanya jatuh. Kiara membeku. Matanya turun mengikuti
Arvino menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang dengan langkah cepat. Ia melangkahi tubuh Kiara tanpa menoleh sedikit pun, dengan satu tangan menutupi bagian depan celananya. Pintu kamar mandi ia buka, pemuda itu masuk, lalu menguncinya dari dalam. Suara shower terdengar menyala deras. Waktunya dia menuntaskan hasrat pagi yang ON tiba-tiba. Sedangkan di luar kamar, Kiara terbangun karena sesuatu yang aneh. Perempuan berkulit putih itu membuka mata perlahan. Beberapa detik ia bingung berada di mana, tetapi ingatan semalam kembali dan ia tersenyum kecil. Tidak ada preman. Tidak ada mommy club. Tidak ada tangan kasar yang mencengkeram bahunya. Hanya karpet empuk dan selimut yang wangi.Gadis itu menggeliat panjang dan merentangkan kedua lengan. Kaosnya ikut tertarik naik, tetapi ia tidak peduli. Ia menguap lebar tanpa menutup mulut, lalu menoleh ke samping dan mendapati ranjang di atasnya sudah kosong. “Tuan?” panggilnya dengan suara serak
“Aku yang matiin,” sahut Arvino dari kegelapan. “Hah? Kenapa dimatiin, Tuan?” tanya Kiara kebingungan. “Supaya kamu tidur.” Suara Arvino terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. “Besok kita berangkat pagi. Jangan sampai kamu bangun kesiangan.” Kiara meraba-raba karpet, mencari tabung salepnya. “Tapi aku belum selesai olesin obatnya, Tuan. Masih ada yang di punggung.” “Besok saja,” jawab Arvino singkat. “Nanti sembuhnya lama,” keluh Kiara. “Kiara.” Nada Arvino turun satu tingkat, dan itu cukup untuk membuat Kiara terdiam. “Tidur sekarang!” “Iya, Tuan.” Kiara akhirnya menemukan tabung itu di dekat kaki sofa, lalu memeluknya. “Tapi gelap banget. Aku takut nabrak sesuatu.” Arvino tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, lampu tidur kecil di sisi ranjang menyala dan memancarkan cahaya kuning redup. Cahaya itu hanya cukup untuk menerangi sepetak lantai tempat Kiara d







