LOGIN"Kamu lagi ngapain di kamar sata Karina? " Gerakan suara Alfan membuat Karina terkejut karena melihat sosok Alfan berisi di depan pintu kamar, pria itu menatap Karina dengan tatapan bengis.
"Mas Alfan... " Cicit Karina seperti seorang maling yang terperangkap basah oleh warga. "Saya tanya kamu lagi ngapain dikamar saya Karina? Tanya ulang Alfan, nadanya semakin menKutkam dN tatapannya semakin menusuk, membuat tubuh Karina terpaku. " Maaf Mas Alfan, saya cum-" "Lancang kamu ya Karina! " Bentak Alfan pelan, tibuh besarnya semakin mendekati istrinya kemudian merebut kasar bingkai fhoto itu, kilatan amarah terlihat dari iris pekat Alfan. "Ingat batasan Karina, saya sudah kasih tahu kamu, jangan pernah masuk kamar saya. Kamubini pura-pura bodoh, gak dengar apa gimana? "Ucapan kejam dari mulut Alfan semakin membuat Karina menahan sesak. Ia tidak bermaksud lancang, Karina hanay ingin menaruh hadiah itu di kamar suaminya saja. Tatapan mereka bertemu, wajah Karina sudah terlihat pucat pasi seakan menahan sakit. "Saya cuma mau kasih Mas jam tangan, nggak lebih Mas, " Jelasnya dDengan halus tiba-tiba saja ia merasa pening di kepalanya. "Orang tua kamu tidak pernah mengajarkan kamu sopan santun kah? Sehingga kamu berani berbuat lancang seperti ini, " Sarkas Alfan masih menahan amarahnya untuk tidak semakin bergejolak. Mendengar kalamat Alfan, tatapan karina menajam, dadanya bergemuruh hebat. "Mas jangan pernah hina orang tua saya , orang tua saua tidak ada hubungannya dengan semu ini! " Pungkasnya kecewa , tatapannya sangat terpukul. "Mas Alfan boleh hina saya sepuasnya, tapi tidak dengan orang tua saya", suara Karina tetap tenang meskipun wajah Karina sudah pucat pasi dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Setelah mengatakan itu Karina melemparkan tote bag yang berisi jam tangan buat Alfan, lalu Karina berlari kencang menuju kamarnya. Alfan terpejam sebentar lalu mengambil nafas dalam-dalam, seketika ia menyesal karena mengatakan sesuatu yang sepertinya terlalu '𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵'umpatnya lalu Alfan membanting bingkai fhoto yang sialnya ia lupa membuangnya. ***** Rasanya Alfan hampir lupa merasakan amarah yang menggebu seperti tadi, sampai ia harus mengeluarkan kalimat jahat secara spontan. Alfan tidak bermaksud untuk berkata kasar kepada Karina seperti tadi, tapi perempuan itu menjadi pematik amarahnya karena berani melihat fhoto yang seharusnya sudah di musnahkan dari dulu. Namun, Alfan selalu lupa karena ia terlalu disibukkan oleh pekerjaan dan hidupnya sendiri. Tidak, bukan karena masih ada rasa dengan mantan kekasihnya, akan tetapi rasa benci yang begitu menggebu ketika mengingat sebuah penghianatan yang terjadi dulu. '𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘔𝘢𝘴! 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘶𝘦𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘪𝘯! ' Sekelebat ucapan perempuan itu membuat Alfan mendesah pelan, sambil menatap kobaran api yang membakar bingkai fhoto itu. Sudah seharusnya masa lalunya terbakar oleh kobaran api seperti ini. Bersama rasa cinta yang ia berikan kepada perempuan itu. Berakhir menjadi luka yang terlalu lama melebar hingga ia tidak bisa lagi merasakan perih yang mendalam. Sembari menghisap rokok, pria 29 tahun itu menatap kosong asap yang melambung tinggi bersama udara malam. Setelah pertengkarannya tadi dengan sang istri, Alfan diam-diam membakar bingkai iyu di belakang mansion. "Orang mati tidak akan bangkit lagi, " Monolognya pelan lalu melempar sisa barang rokok bersama dengan api yang membakar kenangannya. Kembali ke dalam, Alfan merasakan suasana yang begitu hampa ia tidak melihat Karina di dapur, karena biasanya istrinya berkutat di dapur untuk memasak makan malam untuknya. Namun, katika ia ingin kembali ke kamar, Alfan mendengar suara menangis dari dalam kamar Karina. "Karina? " Panggil Alfan rendah, lalu mengetuk pintu kmar itu pelan dan merapatkan telinganya ke pintu kamar Karina. Suara menangis semakin sedikit kertas, dan tanpa pikir panjang ia membuka kamra Karina dan terkejut melihat istrinya terbaring lemah dikasur dengan selimut sampai ke leher. "Karina? " Panggil Alfan rendah, lalu mengetuk pintu kmar itu pelan dan merapatkan telinganya ke pintu kamar Karina. Suara menangis semakin sedikit kertas, dan tanpa pikir panjang ia membuka kamra Karina dan terkejut melihat istrinya terbaring lemah dikasur dengan selimut sampai ke leher. "Karina! " Seru Alfan langsung berlutut di dekat Karina. Wajah istrinya sangat pucat, dan keringat dingin bercucuran dari kening Karina. "Ibu.. Ibu..". Lirih Karina terdengar pulu, matanya terpejam seperti menahan kesakitan, air matanya mengalir dengan tubuhnya terlihat gemeter."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







