LOGIN"Selamat siang Mas Aldan. Wah sama siapa nih Mas Aldan? " Sapa seorang perempuan cantik berkulit eksotis dengan rambut cokelat madu panjangnya yang tergerai indah.
"Haloo Nova, aku bawa istrinya Mas Alfan nih. Kenalin, Karina namannya, " Balas Aldan ramah, membuka kacamatanya. "Siang Mbak Nova, salam kenal saya Karina istrinya Mas Alfan, " Karina berkata sopan dah halus. "Cantik sekali istri Mas Alfan ih, " Puji Nova tulus, membuat Karina menunduk malu. "Tolong buat dia lebih cantik lagi dia dong. Aku percaya kamu Nova, "lontar Aldan ramah seperti biasa. 𝘍𝘠𝘐,𝘒𝘢𝘳𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘯𝘫𝘰𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. " Oh, kebetulan aku punya 𝘴𝘵𝘺𝘭𝘦 baru dan pasti cocok sama kamu Karina, "tutur Nova mengamati lekat tubuh mung Karina. Namun, sebelum mengajak Karina ke ruang ganti. Nova melirik ke arah Aldan. " Dan, kamu mau kopi apa minum lainnya sambil menunggu Karina? "Tawar Nova pelan. " Aku kopi hitam tanpa gula deh. 𝘛𝘩𝘢𝘯𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢, "jawab Aldan lalu duduk di sofa panjang sembari mengetik sesuatu di handphone nya. " Oke kalo gitu." "Ayo Rin ikut aku, " Ajak Nova langsung, menggandeng Karina ke ruang ganti. "Nah, ini 𝘧𝘢𝘴𝘩𝘪𝘰𝘯 𝘢𝘱𝘢 terbaru di butik kita. Coba deh kamu pakai, setelah itu aku tata rambut kamu, " Niva memberi saran kepada karina, sembari memberikan satu potongan pakaian itu kepadanya. "Makasih Mbak Nova, kalau begitu saya masik ke ruang ganti dulu ya, " Karina membawa satu pasang pakaian tersebut. ***** "Gimana Dan? Ini hasil karya ku, " Suara Niva mengagetkan Aldan yang sedang bermain game di handphone nya. Aldan mengalihkan pandangannya, sedikit ternganga melihat penampilan Karina. Cantik, elegan dan manis dengan blouse lengan pendek warna biru langit, dipadu dengan rok cream selutut. Rambut panjang lurus, terlihat rapuh dan berkilau. Masih khas Karina, yang sederhana dan lebih anggun. "Karina kamu kenapa? Sakit kah? Kok merah begitu? " Tanah Aldan langsung tersadar pada pipi Karina yang memerah. "Eh, nggak kok Mas Aldan. Emang kurang tidur aja sih, akhir-akhir ini jadi lumaya pusing, " Jujur Karina pelan. "Aduh begitu, yaudah ayo kita makan setelah iti pulang, kamu perlu istirahat yang cukup, " Ujar Aldan tidak enak karena telah mengajak Karina pergi. "Mas Aldan, sebelum pulang saya boleh minta anterin beli kado? " Sela Karina cepat, karena ia tiba-tiba saja ingin membelikan barang untuk Alfan. "Oke, yaudah ayo kita cari makan dulu, " Jawab Aldan sambil mengacungkan jempol. **** Tidak terasa langit siang mulai berubah jingga pink, setelah setengah hari pergi bersama Aldan, badan Karina terasa semakin tidak enak. Tapi tidak masalah, ia senang karena akhirnya bisa membeli hadiah untuk Alfan, meskipun uangnya dari kartu pemberian suaminya. "𝘉𝘦𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘫𝘢 𝘙𝘪𝘯, 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘳𝘪𝘣𝘦𝘵 "Aldan membantunya untuk memilih jam tangan untuk Alfan. "Semoga Mas Alfan suka, " Gumam Karina pelan, ia langsung memasukkan barangnya ke kamarnya. Perempuan itu sedikit ragu untuk masuk ke dalam kamar Alfan, sekedar untuk menaruh jam tangan ngak lebih. "Aku taruh aja kali ya, kalau di kasih langsung pasti bakal nolak. Coba taruh ajalah, " Setelah berperang dengan pikirannya sendiri, Karina akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke kamar suaminya. "Maaf ya Mas Alfan, " Suara oelan Karina menggema di kamar Alfan . Ia sedikit takjub dengan desain kamar suaminya itu. Terlihat elegan dengan tema monokrom. Dominasi warna hitam, putih, abu, namun terasa hangat karen ada cahaya dari luar jendela. Ranjang king size yang merangkap dengN laci penyimpanan under-hed yang tersembunyi. Namun, mata Karina terpaku oleh laci yang terbuka sedikit lebar menampakkan beberpa barang di laci itu. "Kok kebuka sih? " Karina lalu berjongkok, ingin menutup laci tersebut akan tetapi ia urungkan karena melihat bingkai fhoto ukuran 5R. Pupil matanya melebar melihat sosok Alfan memakai kemeja casual, tersenyum tulus dengan perempuan cantik berwajah blasteran, memakai dress warna putih menggandeng lengan Alfan mesra. "Cantik banget. Jadi ini alasannya ya, " Lirik Karina menatap zayai sebuah fhoto yang Karina yakin adalah foto Mas Alfan sama mantan kekasihnya dulu."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







