ログインAlfan menyentuh kening istrinya, dan panas sekali ternyata. "Kamu demam karina. " Suara Alfan tenang, akan tetapi sorotnya terlihat khawatir dan merasa bersalah.
"Ayo kita ke dokter, " Ajak Alfan pelan, namun istrinya menggeleng lemah sambil mengigau. "Ibu... Kepala aku sakit banget.. Mau di pelukkkk" Suara Karina semakin serak, dahinya mengerut dan tangisnya semakin terdengar menyedihkan. "Mas Alfan sakit, badan aku panas, aku demam, mau peluk. " Rengek Karina dan langsung memeluk badan tegap Alfan. Alfan mengarahkan punggung tangannya ke arah jidat dan lipatan leher Karina untuk mengecek suhu badan perempuan itu, "kamu panas sekali. Kenapa bisa panas begini? " Tanya Alfan tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatir nya. Alfan bisa merasakan gelengan kepala Karina di dadanya, menandakan jika perempuan oyi juga tidak tahu. Namain sudah pasti demamnya Karina karena Karina kurang tidur kecapean. "Mas peluk. Mas mau peluk dingin... " Rengek Karina lagi. "Karina, lepas dulu---" "Nggak mau Mas! Aku mau peluk, kepala aku pusing Mas Alfan, leher aku rasanya nggak enak, hidung aku juga mempet, " Karina semakin merengek dengan air mata yang terus keluar. "Ke rumah sakit saja ya. Badan jamu panas sekali, Karina. Ayo, ke rumah sakit dengan saya. " Ajak Alfan. Karina menggeleng, "nggak mau Mas! Aku nggak mau ke rumah sakit. Mau di peluk aja... " Rengek Karina di akhir kalimat nya. Alfan menghela nafas pelan. Akhirnya, karena binggung harus berbuat apa, ia gendong Karina yang sedang memeluknya itu menuju ke dalam kamarnya dan ia rebahkan di kasur besar miliknya. Dan Karina yang saat itu tidak bisa memikirkan apapun selain demamnya pun hanya pasrah saja saat tubuhnya di gendong oleh Alfan menuju ke dalam. "Saya mau ke Bi Ijah dulu, minta tolong buat di siapin bubur dan obat, kamu di sini sebentar--" Karina menarik Alfan yang akan beranjak dari sisinya itu untuk kembali di sebelahnya, bahkan sampai membu6pria itu jatuh tertidur di samping nya. "Nggak mau Mas! Jangan tinggalin saya. Disini aja. Kepala saya bener-bener pusing banget, jangan tinggalin aku sendirian. " Ucap Karina semakin menangis kencang. '𝘈𝘭𝘧𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘳𝘪𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢' "Sebentar saja Karina" Tutur Alfan lembut, kemudian ia keluar mencari obat paracetamol yang do rekomendasikan oleh Anggara. Tidak lupa ia membawa bubur dan air hangat yang di siapka Bi Ijah. Sedangkan karina masih terpejam, masih merintih kepalanya sakit seperti ada yang menghantam dan tubuhnya terasa mati rasa. Tidak sampai 20 menit, Alfan kembali ke kamarnya, sambil menenteng mangkuk dan air hangat. Namun, sebelum itu ia menempelka,𝘣𝘺𝘦 𝘣𝘺𝘦 fever di kening karina untuk menurunkan panas dan pusing. Pria itu lalu berbisik ke telinga istrinya. "Karina makan dulu ya, biar obatnya langsung diminu6. " Alfan membuka selimut nya, lalu menarik perlahan tangan Karina, kemudian menyandarkan tubuh mungil ke dasbor kasur. "Mas Alfan... " Panggil Karina pelan matanya begitu kayu seakan binar itu sirna sejenak. "Jangan bicara dulu karina, ini makan buburnya, " Bujuk Alfan, duduk di hadapan istrinya sambil menyiapkan ke mulut Karina. "Saya nggak lapar Mas Alfan, mau tidur aja, " Tolak karina, suaranya parau karena tenggorokannya tercekat setelah menelan bubur dari Alfan. "Kamu mau bikin saya repot terus? Makan, minum obat terus baru tidur ya! " Tandas Alfan lalan, namun penuh ketegasan yang tidak boleh di bantah. Iris pekatnya menatap lekat karina, lalu menyuapkan lagi bubur. Karina masih dengan mata sayuny6, langsung menekan buburnya. "Mas jangan galak-gakak sama saya, " Sungut Karina lemah tidak mampu menatap Alfan. Alfan berdecak, lalu menarug mangkuk buburnya di meja. "Yang jahat sana kamu itu siapa karina? Kamu kebanyakan ngobrol sama Aldan makanya ngomong aneh begini, seloroh Alfan santai, ia lalu menyobek kemasan obat yang sudah ia siapkan. "Minum obat dulu, " Lanjut Alfan dengan telaten menyuarakan satu butir obat ke mulut karina, di banrengi air hangat. Karina sendiri hanya menurut, dan tidak mau membantah lagi karena kepalanya tersa berat sekali. "Makasih Mas Alfan, " Ucap Karina lembut, lalu ia kembali berbaring dengn Alfan membantu menyelimuti karina. Pria itu duduk di pinggir ranjang menatap karina yang terlihat mengantuk. "Mas aku ikut tidur di kamar kamu ya, " Suara Karina semakin pelan dan lirih, diiringi kelopak matanya semakin terpejam. "Iya.sekarang tidur karina, jangan cerewet, " Alfan berkata dengan tegas, tangan besarnya reflekmenepuk lembut perut karina yang tertutup selimut. Pandangan tidak mau lepas dari sosok yang terbaring lemah ini, den6wajag yang masih pucat, rambut panjang yang terbiasa dikepang kini terurai panjang di atas sprei putih. Ada desiran rasa bersalah ketika mengingat pertengkaran mereka tadi. Alfan mengehela nafas panjang. "Maaf karina, " Alfan mengatakan halus, lallu tangan besarnya mengusap-usap kening istrinya lembut."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







