FAZER LOGINRasa hangat dan nyaman menjalar ke tubuh Karina, sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan seperti ini sejak menikah dan boyong Alfan. Namun, Karina merasa ada yang aneh, merasakan sebuah dekapan dan mendengar suara detak jantung. Perlahan ia membuka kelopak matanya, dan terkejut dengan pemandangan pagi ini.
"𝘔𝘢𝘴 𝘈𝘭𝘧𝘢𝘯" Batin Karina dalam hati, ketika melihat sosok Alfan masih tertidur sambil mendekapnya erat. Entah sejak kapan mereka saling berpelukan seperti ini. "Pantesan hangat," Cuman Karina sangat pelan, iris matanya menatap lama wajah suaminya.Meskipun tertidur,Alfan masih terlihat galak, tegas tapi ganteng.kalau seperti ini krang tidak akan menyangka jika Alfan bermulut harimau. Karina tersenyum geli.Karina melanjutkan lagi tidurnya. Sekitar 30 menit Karina tertidur lagi, Alfan mulai terbangun dan berniat membangun kan Karina. "Karina hei".Panggil Alfan menepuk pelan punggung karina. Posisi berpelukan mereka adalah Alfan yang tiduran dengan posisi lebih tinggi dan Karina tertidur berantakan lengannya dan mendusel pada dada bidang miliknya. Karina tidak membuka matanya, hanya bergumam sebagai tanda ia mendengar pangilan Alfan. " Ini sudah jam setengah enak, saya harus siap-siap berangkat kerja. Kamu kalau ada apa-apa langsung kabarin saya ya! " Karina bangkit dari tidurnya dan duduk menatap Alfan kesal, "aku kan cuma minta tolong di peluk aja Mas ngak lebih, nggak minta Mas ngerawat aku kayak dokter yang harus ngasih suntikan, vitamin, infus dan segala macem. Aku cuma mau di oeluk aja, aku biasanya kalo lagi sakiyt selalu di peluk sama ayah dan ibu. Tapi sekarang di rumah ini aku cuma ada Mas, tapi justru Mas malah lebih mentingin kerjaan dan nitipin aku ke Bi Ijah di banding nemenin aku yang lagi sakit, "omel karina kembali menangis. Menarik nafas kuat, karina usap pipinya yang basah oleh air mata itu dan ia bangkit dari ranjang milik Alfan, " Kalau kaya gitu mending Mas anterin aku ke rumah ibu sama ayah. Aku mau sama mereka akan kalau memang Mas mau kerja hari ini. Aku nggak mau kalau cuman di titipin sama Bi Ijah . Anterin aku ke rumah Ayah sama Ibu, aku mau ke sana aja--" Denis menarik karina yang sudah berdiri iti kembali ke atas ranjang, dengan sigap pria itu langsung membetulkan posisi Karina agar nyaman dan sedikit menurunkan baju perem6itu yang sedikit terangkat karena gerakannya. Dan ia bawa lagi perempuan yang sedang demam iti ke pelukan , "sudah berhenti mengomelnya, bahkan di keadaan sakit gini pun kamu masih punya tenaga untuk mengomeli saya. " "Itu karena Masnya aja yang jahat sama---" "Sekarang sudah saya peluk lagi kan? Peluk saya sesuka kamu, tapi jangan mengomel kalau saya juga harus menemani kamu sembari menyelesaikan pekerjaan. Biar saya WFH saja hari ini. " ***** "𝘔𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. " "𝘔𝘢𝘴... 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵... " "𝘛𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘳𝘰𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘔𝘢𝘴. " '𝘗𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘔𝘢𝘴. " Begitulah kira-kira yang Alfan dengar selama 1 setengah jam menemani Karina yang sedang sakit. Babakan tangannya sedari tadi tidak di biarkan berhenti ol3h Karina yang meminta di peluk dan di elus terus menerus olehnya. "Kamu mau saya peluk sampai kapan hem? Kamu perlu makan Karina, Bi Ijah juga sudah menyiapkan makanan dan obat untuk kamu. Di makan dulu kalau kamu tidak makan dan tidak minum obat, kamu tidak akan sembuh. " Ucap Alfan sembari mengelusi punggung karina. "Mulut aku pahit buat makannya Mas. " Ucap karina. "Namanya orang sakit pasti nafsu makannya berkurang, tapi kalau tidak di paksakan, badan kamu itu akan semakin lemas. Apa lagi dari tadi pagi kamu tiduran terus. Kalau sedang sakit itu memang pasti rasanya lemas, tapi tetap harus di bawa aktivitas, karena kamu kamu tidur terus, kepala kamu itu akan semakin pusing. "Ucap Alfan memberi pengertian. Karina menyentuh tangan Alfan yang sedang mengelusi punggung belakangnya itu lalu memindahkan tangan itu ke arah pinggangnya dan berucap, " Bawel. Aku bene-bener nggak ada tenaga sekarang.. Mau peluk aja, sama elusin juga pinggang aku. " Alfan kembali menuruti karina"kamu kalau sakit memang manja begini? " Karina menganggukkan kepalanya."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







