เข้าสู่ระบบ‘’Syukurlah kamu masih di luar. Aku kira kamu sudah masuk,’’ seru Mbak Ros seraya mengelus dada. Dia tampak begitu lega karena aku belum menanyakan tentang hal yang Mbak Ros adukan padaku tadi pada Mas Ega.
‘’Kalian?’’ Mas Ega mengintip dari jendela. Lalu membuka pintu lebar-lebar penuh raut curiga. ‘’Selin? Ros? Ada apa ini?’’ tanyanya dengan nada tinggi. Pasti Mas Ega mengira kalau aku dan Mbak Ros menguping. Aku perhatikan, suamiku ini sangat sensitif terkait pembicaraan yang tidak melibatkanku namun tak sengaja aku tau.
Mbak Ros menatapku gugup.
‘’Mas, aku mau tanya tentang baju yang harus aku pakai. Kenapa kamu kasih aku model begitu? Aku tidak suka desainnya.’’ Terpaksa mengelabui karena aku melihat Mbak Ros begitu pucat. Tapi aku memang tidak suka pakaian tersebut.
‘’Oh, kirain apa.’’
‘’Aku pakai baju pilihanku sendiri boleh, ya?’’
‘’Terserah. Yang jelas kamu harus tampil cantik.’’ Mas Ega berkata sambil menahan kedua pundakku. Tidak lupa mencium pipi sebelah kiri menganggap pembicaraan kami telah selesai.
‘’Huh, Sel. Kamu jangan bikin aku jantungan dong,’’ bisiknya ketika Mas Ega sudah kembali ke dalam dan pintu di depan kami telah tertutup kembali.
Aku kian dibuat bingung. Mengapa Mbak Ros seperti orang ketakutan begitu? Apa ada yang aku tidak tau?
‘’Sel, aku mohon. Kamu jangan ceritakan apapun pada Ega kalau aku cerita kayak tadi. Ini cukup aku dan kamu saja yang tau.’’
Aku tidak ingin Mbak Ros merasa tidak nyaman. Jadi mengangguk, terpaksa aku lakukan.
***
Di dalam mobil, hanya ada aku dan Mas Ega saja. Rencananya kami akan bertemu dengan klien di sebuah hotel di bilangan pusat kota.
Aku mengenakan pakaian sopan dan juga tertutup. Jauh sekali dengan pakaian yang sebelumnya Mas Ega pilihkan. Namun demikian, Mas Ega tidak banyak protes. Bahkan beliau memuji kecantikanku.
‘’Aku yakin klien pasti langsung terkesima begitu melihatmu, Sel.’’
‘’Kali ini produknya apa, Mas?’’ Karena kemarin kan iklan sabun.
‘’Kali ini handbody,’’ jawabnya tanpa mengindahkanku yang menatapnya. ‘’Makanya mas minta kamu pakai pakaian sebelumnya agar klien bisa melihat betapa mulus dan bersihnya tubuh kamu.’’
‘’Maaf ya, Mas. Tapi mudah-mudahan klien tidak menjadikan itu sebagai tolak ukur mereka untuk memakaiku menjadi model mereka.’’
‘’Ya, semoga saja.’’ Tanpa permisi, tangan Mas Ega menelusup ke dalam rokku.
‘’Mas!’’ Aku protes sekaligus menepis karena rasanya geli.
‘’Kenapa malu? Kita kan sudah suami istri?’’
Memang benar kami sudah sah. Tapi aku baru melihat sikap genit Mas Ega yang seperti ini. Tanpa bisa dijelaskan, aku rasa risih yang menghantui.
‘’Oh, ya. Kamu jangan terlalu dekat, ya, sama Rosdiana. Bekerja secara profesional saja,’’ lanjutnya sembari menyalip dua mobil di depan kami.
‘’Memangnya kenapa?’’
‘’Aku khawatir dia menjadi provokator. Menjelek-jelekkanku dan karyawan lain. Khawatir saja kamu berpikiran yang tidak-tidak.’’
Tampaknya, Mas Ega menyimpan kerisauan kalau aku berteman dekat dengan Mbak Ros. Menurutku, dia sangat baik dan sangat-sangat membantu.
‘’Tapi, bukankah kamu yang nyuruh dia agar aku cepat beradaptasi dengan pekerjaan dan lingkungan?’’
‘’Memang. Tapi hanya sebatas itu. Aku tidak mau kamu bernasib sama seperti model-modelku yang lain, Sel.’’
‘’Maksudnya, mantan-mantan, Mas?’’
Drrriiiiitttttttt!
Tubuhku maju ke depan karena Mas Ega melakukan rem mendadak. Beruntung aku memakai seatbelt dan kami berada di tepi jalan sepi. Jika tidak, entahlah.
Wajah Mas Ega berubah garang ketika aku menoleh ingin mempertanyakan aksinya barusan.
‘’Apa yang sudah kamu dengar dari Rosdiana?’’ Bukan lagi marah, tapi suara Mas Ega seperti menyentak.
Jantungku sampai berpacu heboh sangking kagetnya.
‘’A-aku cuma tau itu saja, Mas. Tidak lebih. Katanya, kamu pernah menjalin hubungan dengan mereka.’’
‘’Dan kamu sudah tau nasib mereka sekarang bagaimana?’’
Aku mengangguk.
‘’Karena itulah aku tidak mau kamu terlalu dekat dengan Rosdiana. Dia itu wanita penghasut dan tidak betul.’’
Mobil kembali melaju dengan suasana tegang. Mas Ega memberikan larangan keras padaku. Agar tidak berhubungan lagi dengan Mbak Ros.
Tapi anehnya, kenapa Mas Ega tidak memecat Mbak Ros dari dulu jika tau model-model sebelumnya beralih profesi berkat wanita itu?
Namun melihat sikon seperti ini, aku jadi membungkam minta untuk mengajukan pertanyaan tersebut.
Belum lagi setelah bertemu dengan klien, tidak ada kesepakatan terjalin dan Mas Ega menyalahkanku karena berpakaian terlalu rapat.
‘’Kamu kalau dikasih tau jangan ngeyel. Lain kali kalau disuruh pakai apa saja, nurut makanya. Lihat, kita sudah kehilangan uang karena kamu bandel dikasih taunya.’’
Aku baru tau sifat Mas Ega yang begitu temperamen seperti ini. Sehingga aku pun berusaha menenangkan walau tidak terima disalahkan.
‘’Mungkin belum rezekinya, Mas. Bukankah kita masih punya uang hasil dari pemotretan dengan Pak Abi kemarin?’’
‘’Kamu tidak tau apa-apa, Sel. Karyawan harus di gaji, sewa studio harus dibayar, rumah kita masih dicicil. Uang yang kita dapat kemarin, mana cukup untuk menutupi kebutuhan bulan ini.’’
Aku memang tidak tau berapa jumlah pengeluaran Mas Ega. Termasuk pendapatannya berapa. Tapi, apa iya Mas Ega tidak punya simpanan sama sekali?
Saat itu, keinginan untuk bertanya lagi-lagi pupus sudah. Kali ini karena gawai Mas Ega berdering. Aku yang tengah terduduk di sofa melirik sebentar.
‘’Halo? Ya? Di mana?’’ Tiga pertanyaan beruntun yang terucap dari bibir suamiku membuatku tak hanya melirik. Namun membekukan pandangan pada Mas Ega.
‘’Baik. Saya akan segera ke sana. Terimakasih.’’ Mas Ega menutup benda pipih itu.
Aku lihat, ekspresinya sudah berubah seperti baru saja mendapat durian runtuh.
‘’Ada apa, Mas? Apa kamu sudah dapat klien baru?’’ tanyaku penasaran, sambil berdiri dan menghampirinya yang langsung mencium bibirku sangking girangnya.
‘’Cantik. Kamu jangan kemana-mana, ya? Kamu di sini saja.’’
‘’Kamu mau kemana?’’ Aku tidak masalah ditinggal sendiri. Apalagi tidak jadi pemotretan karena tidak ada klien. Jadi aku bisa bersantai dan tidur lebih awal. Tapi kenapa Mas Ega tidak mengajakku?
‘’Aku mau menemui klien. Kamu tidur saja duluan. Mungkin aku akan pulang larut, jadi jangan menungguku,’’ ucapnya yang ku jawab dengan anggukan kepala.
Mas Ega bergegas meraih jaket yang tergantung di belakang pintu. Kuantar suamiku itu menuju pintu.
Sejenak perasaanku seperti tidak enak, tapi tidak tau penyebabnya. Firasat mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu. Entah itu padaku? Atau pada suamiku. Sesaat sebelum meninggalkanku sendiri, Mas Ega menciumku, penuh dengan hasrat dan gairah.
Perubahan suasana hatinya begitu drastis. Untuk mengusir rasa cemas tanpa sebab, aku pun tak langsung masuk ke kamar.
Ku datangi dapur karena haus. Membuka kulkas namun yang ku dapati malah minuman keras. Minuman yang akhir-akhir ini sangat aku sukai.
Sel, pintu jangan di kunci. Mas khawatir kamu tidak bangun kalau nanti mas ketuk-ketuk pintu. Oh, ya. Cobain aroma terapi yang mas beli kemarin. Aroma kopi. Cocok dipakai menjelang tidur.
Pesan dari Mas Ega masuk ketika aku meneguk minuman dingin itu. ‘’Uhuk!’’ Tapi bodohnya aku malah mencoba lagi dan lagi hingga habis setengah.
Baiklah.
Ku jawab singkat setelah itu aku kembali ke kamar untuk tidur. Menghidupkan lilin di dalam jar kaca dan menempatkannya di meja kecil di sudut kamar. Mas Ega benar, aromanya sangat enak ketika dihirup.
Berselang beberapa jam, aku mendengar suara langkah kaki berpikir bila Mas Ega sudah pulang. Sayangnya, aku tak kuasa untuk mengecek apakah itu benar suamiku? Karena tak mampu membuka mata sangking mengantuknya.
Kehilangan tidak akan membuat siapapun baik-baik saja.Termasuk pada orang-orang di sekitar. Yang perduli dan juga menyayangi orang yang tertimpa musibah.Berdiri di ambang pintu menyaksikan penderitaanku, tidak terbayang olehnya sesakit apa dulu aku karenanya.Ega ingin menggantikan posisi Abi, memeluk, juga menenangkanku yang kini menjadi pengisi di hatinya. Namun, melihat aku dipelukan suamiku dengan tidak ada keinginan untuk lepas mengendurkan niatnya yang ingin masuk ke dalam. Terutama saat mata kami saling bertemu, namun tidak ada respon dariku sama sekali.Ega tersadar bukan dia yang ku inginkan lagi.Mungkin, dulu pernah mencintainya namun cinta itu lenyap karena kebencian.“Ega…” Rosdiana mengusap pundaknya dan melihat ke dalam.“Dia mencintai Abi,” tuturnya dengan pandangan sedih. “Mereka ditakdirkan bersama.”“Aku terlambat berubah.” Ega menyesali telah menyia-nyiakan ketulusanku. Senyum paksa Rosdiana mengisyaratkan, bahwa dirinya pun sebenarnya telah disia-siakan Ega. Nam
Cukup lama berada di ruang operasi yang sangat dingin, akhirnya aku dipindahkan ke ruang perawatan. Apakah operasinya berjalan lancar?Aku selamat, namun di mana anakku? Mata mungkin masih menutup, tapi aku telah sadar saat brankar bergerak membawaku berpindah ruangan.Banyak sekali pertanyaan berkecamuk di kepala. Rentetan rasa ingin tahu tersebutlah yang membuat mata ini terbuka. Dan Abi lah yang pertama kali aku lihat.Suamiku tercinta.Dia telah kembali. Entah mengapa kebencian padanya hilang. Keinginan cerai juga tidak lagi menguasai diri. Ternyata benar hormon kehamilan sangat berperan dalam keegoisanku mengambil keputusan.Abi menangis pilu, mencium tangan dan mengecup kening hanya dalam waktu yang singkat.“Sayang, syukurlah kamu sudah siuman.”Pelukan erat takut kehilangan begitu terasa. Mungkin karena sebelumnya telah kehilangan dirinya, untuk beberapa waktu sehingga dalam kondisi itu, secara tidak langsung Abi kehilanganku. Hilang status sebagai istri, hilang momen bersa
“Aku istrimu.”“Aku istrimu.”“Aku istrimu.”“Mas.”“Mas.”“Sayang Selin, nggak?”“Selin suapin, ya? Buka mulutnya? Aaaaa. Yang besar biar sendoknya bisa masuk.”Tawaku setelah menyuapinya seakan tamparan keras di kedua pipinya.“Mau Selin pijitin? Yang mana? Kepalanya? Atau bahunya?” Tawaku menggema di kepala dengan mata terpejam itu. Karena Abi malah menunjuk bibirnya.“Capek, ya, Mas? Nanti tidur awal saja.”“Tapi temenin, ya?”“Ih, kan Selin biasanya tidur jam sepuluh.”“Oh, jadi nggak mau tidur di jam delapan?” Abi bersiap ingin menangkapku yang menatapnya ngeri.“Enggak.”Dan Abi pun menggelitikku hingga terbaring di lantai dan tawa bahagia semakin terdengar jelas.Ketika matanya terbuka…Semua yang ada di kepalanya terasa seperti nyata.Abi memutar tubuhnya ke sana kemari, setiap sudut di kamar itu memperlihatkan setiap adegan demi adegan. Tangis, harus, sedih, kecewa bahagia tidak ada satupun yang tersisa.Otaknya bekerja lebih keras dari biasanya sehingga abi tak bisa untuk
“Jangan terlalu berharap. Selin bukan diriku yang mudah berbelok hati.” Bagaimanapun, Rosdiana tidak ingin Ega terus berharap karena, Rosdiana masihlah mencintainya.Seburuk apapun sikap dan perlakuannya. Rosdiana tetap ingin hubungan mereka seperti dulu. “Aku tidak perduli. Aku mencintainya dan cinta selalu bisa mengalahkan kebencian. Kemarin, Selin tidak keberatan aku temani dia berbelanja. Bukankah itu artinya lampu hijau?”Ega tersenyum miring. “Begitu, ya.” Ada kesedihan yang sangat terasa. Bertanya-tanya dalam hatinya, apakah aku akan kembali pada mantan suamiku itu? Atau tetap bertahan dengan Abi?Tetapi, Rosdiana sangat mengenal watakku sehingga dirinya terus saja menasehati Ega.“Jangan sampai kamu patah hati. Jangan sampai kamu mengalami hal memalukan karena menjilat ludah sendiri. Kamu bilang, tidak akan pernah bisa mencintai Selin. Kamu hanya menganggapnya properti untuk penebusan dosa pada Abi. Tapi sekarang?” Tanpa sadar Rosdiana jadi berapi-api meluapkan emosinya.“
Apakah bisa bercerai saat dia tidak mengetahui siapa jati dirinya?Foto pernikahan yang tengah ku pandangi rasanya sudah tak enak dilihat lagi. Pernikahan seperti apa yang suaminya tidak tahu aku adalah istrinya? Apakah masih bisa dikatakan suami istri jika begini?Berbulan-bulan tak mendapat nafkah batin, aku rindu bersamanya.Aku ingin memeluknya. Berbaring di sampingnya. Namun, dengan Abi yang jiwa dan Raganya Abi dan bukan Jaka.Mengapa harus ada sosok lain yang hidup di dirinya? Di saat aku tengah hamil begini, masalah datang dan silih berganti.Tadinya aku ingin rujuk dan berbaikan ketika menjenguknya di rumah sakit. Namun, keadaan yang malah berbalik malah melahap keinginan itu sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya aku berada di titik sepi dan hampa.Di sisi lain, ada Ega yang telah berubah dan masih menungguku hingga detik ini.“Apakah masih ada cinta di hatimu untukku, Sel?” Pertanyaan itu terlontar setiap bertemu.Namun dengan tegas, hanya ada untuk Abi sepenuhnya.Haruskah
Saat pulang ke rumah, aku mendapati Abi tengah meringis memegangi kepalanya. Efek dipukul oleh Rosdiana rupanya sangat menyakitkan. Rosdiana di sebelahnya hanya melihatnya dengan dua tangan dilipat di dada. Muak mengurus Abi dengan segala dramanya.“Karenamu istriku jadi seperti ini. Kamu memang pengaruh buruk.” Telunjuknya yang terangkat, namun yang sakit malah perasaanku. Apakah aku begitu buruk di matanya hingga kesalahan Rosdiana saja tidak diakui?“Maaf, Mas. Aku salah.”“Lain kali jangan berlaku kasar. Kamu tidak hanya memberi pengaruh buruk pada istriku, tapi juga pada anak yang ada di kandunganmu.”Aku mengelus perutku yang sekarang memasuki usia 9 bulan.“Kalau tidak bisa jadi istri yang baik bagi suamimu, seharusnya kamu bisa jadi teladan bagi anak-anakmu.”Abi berdiri di hadapanku dengan kebencian membara. Kebencian yang entah dirinya dapatkan dari man. Sebelumnya, hanya kasih dan ketulusanlah yang ku lihat. Tapi sekarang, sudah hilang bersama ingatannya. “Aku tidak hera







