LOGINHari hari berikutnya berlalu sangat damai. Salsa melakukan masa pemulihan di mansion dengan damai. Sehari hari ia ditemani oleh tiga si kecil, Roland, Ronald dan Arnold. Ia juga ditemani oleh Akas, pria ini tidak bekerja dan terus tinggal di rumah belakangan ini. Salsa turun dari lantai atas, melihat Akas duduk di sofa ruang tamu. "Kamu benar-benar tidak pergi bekerja lagi hari ini?" Akas mendengar dan menggelengkan kepalanya. "Aku sudah ambil cuti, aku ingin menemanimu dengan baik." Ucap Akas dengan suara memanjakan."Kamu tidak mau bekerja? Tidak takut perusahaanmu bangkrut?" Akas yang mendengarnya hampir dibuat tertawa oleh Salsa. Apakah ada orang di dunia ini yang masih mampu membuatnya bangkrut? Kalau ada silahkan datang saja. Pikir Akas geli dalam benaknya."Kalau aku bangkrut, kamu saja yang bekerja dan aku jaga anak di rumah. Kamu yang membiayai seumur hidupku." Akas bercanda dengan riang. Salsa menghampiri nya dengan cemberut. Bagaimana pria ini bisa mengatakan hal-hal itu.
Membereskan barang barang di dalam bangsal. Salsa masih duduk di atas tempat tidur, sama sekali tidak diperbolehkan turun oleh Akas. Sementara Akas sibuk merakit kereta dorong untuk si kembar tiga. Salsa sejak tadi terus berusaha menahan tawanya melihat Akas berputar ke seluruh ruangan hanya untuk merakit kereta dorong. Dimas menepuk dahinya tak berdaya, namun meski awalnya begitu membingungkan dan berantakan. Akas sebenarnya berhasil melakukannya. Kereta dorong tiga bayi itu di pesan khusus oleh Akas dengan waktu kilat. Kemudian pria itu memeluk satu demi satu anak anak kecil itu dan meletakkannya ke dalam kereta dorong."Dorong ini." Akas menyerahkan ketiga putranya begitu saja pada Dikas, membuat Dimas terkejut saat itu juga. Bukankah awalnya ia hanya menonton, kenapa sekarang diberikan tanggung jawab. Sementara Dimas mengurus ketiga anak kecil itu, Akas memeluk Akas dan membawanya dengan pelukan putri berjalan keluar bangsal. Di lantai bawah, Hendry sudah menunggu dengan mobil k
"Baiklah, semuanya aku dengar kata istri ku. " Ucapan Akas. Kemudian Salsa tersenyum puas, baru kemudian ia melihat deretan seratus nama yang Akas berikan padanya. Semuanya adalan nama nama yang mengandung makna indah. "Roland, Ronald, Arnold. Ketiganya sangat bagus, bagaimana jika kita menggunakan nama ini?" Ucap Salsa. Akas mengulangi nama tersebut di bibir dan hatinya. Akas tersenyum lembut, sebelumnya ia tidak menganggap nama nama itu berarti. Tapi ketika Salsa yang mengatakannya, nama nama itu menjadi berarti. "Roland Dhanusell, Ronald Dhanusell, dan Arnold Dhanusell. Tiga pria kecil ini benar benar untung besar." Tawa Akas lirih. Salsa ikut tertawa, keduanya saling berpandangan. Akas melihat Salsa sedikit mengerutkan keningnya. "Bagaimana jika aku pijat?" Begitu Akas mengatakan hal itu, Salsa otomatis tersipu malu. Berapa lama sudah? Tujuh bulan lamanya. Merekam merindukan satu sama lain. Jika bukan karena persalinan Salsa, begitu mereka bertemu mereka pasti sudah melakukan n
Beberapa waktu kemudian, ketika suasana muram di dalam bangsal mulai mereda. Hendry dan Dimas berjalan masuk sambil membawa beberapa makanan dan minuman. Ketika mereka masuk, Akas duduk di samping tempat tidur sambil mengupas apel."Wah, aku ingin lihat cucu ku." Hendry berjalan menghampiri kotak bayi. Disana ada tiga balita mungil yang masing masing tampan dan cantik sedang menutup mata lelah dan terlelap. Hati seorang pria dibuat luluh oleh anak anak ini. "Sungguh cucu cucu ku yang baik. Segera tumbuh dewasa, temani kakek bermain main. Kakek akan memanjakan kalian!" Ucapnya dengan gembira. Jujur saja perasaan menjadi kakek ini benar benar luar biasa. Hendry mengulurkan tangannya hendak memeluk salah satu si kecil. Namun tangannya baru terulur ketika Akas menampar tangan itu dengan keras."Mau apa kamu? Jangan sentuh sentuh!" Tegas Akas pada Hendry. Mengusap tangannya yang sakit, Hendry menatap Akas dengan marah. "Apa maksudmu aku tidak boleh menyentuh cucu ku!" Tanya Hendry dengan
Setelah tangis yang pertama, tangis yang kedua dan ketiga menyusul setiap lima menit kemudian. Ketika ketiga bayinya akhirnya lahir, suara di dalam ruang bersalin akhirnya perlahan mereda. Seorang perawat membawa tiga keranjang bayi keluar, bayi bayi itu begitu mungil. Ketika Akas melihatnya, ia bahkan tidak berani menyentuhnya. Tangannya hanya sebesar ibu jarinya.Akas memalingkan wajahnya, menatap pintu ruang bersalin. Setelah ketiga bayinya, Salsa akhirnya di dorong keluar. Ia berkeringat deras, wajahnya pucat tanpa darah. Akas merasa sakit hati melihatnya, ia meraih tangan gadis kecilnya dan mengecupnya ringan. Berapa umur Salsa? Baru dua puluh tahun! Dia memiliki anak di umur dua puluh tahun yang tergolong sangat muda. Ini salahnya karena tidak melakukan pencegahan, ini salahnya karena tidak menyelesaikan urusannya lebih awal dan menyusul Salsa secepatnya. Akibatnya Salsa mengandung anaknya sembilan bulan tanpa keterlibatan nya. Dimana dia berada ketika Salsa hamil? Sekarang ma
Akas berjalan cepat menuju meja resepsionis dan bertanya kemana Salsa di arahkan. Resepsionis yang berada di belakang meja tertegun sesaat, ketika ia mendongak dan melihat Akas disana ekspresinya berubah drastis. Dia langsung mundur beberapa langkah karena ketakutan.Ekspresi Akas benar benar menakutkan saat ini matanya memerah entah karena marah atau tangis, wajahnya gelap dan alisnya mengerut rapat. Meskipun tetap sangat tampan, tekanan yang Akas berikan tetap membuat orang mengabaikan ketampanannya dan hanya merasakan tekanan nya. Dimas datang tepat waktu, ia menarik Akas menjauh dan menengahi kedua belah pihak. "Mohon di percepat, kami adalah anggota keluarga gadis yang baru saja di bawah masuk untuk persalinan." Kali ini resepsionis itu maju dan melakukan pekerjaannya. Keringat dingin membasahi tubuhnya, ia berkata pada Dimas dan Akas. "Di ruang persalinan ujung jalan sana." Ucap resepsionis mengarahkan. Akas tidak peduli lagi, dia langsung berbalik pergi menuju arah resepsionis
Beruntungnya, ketika Salsa melihat Crystal hendak bergegas menyerbu pintu hotel tanpa pikir panjang, Salsa akhirnya menghentikannya tepat waktu. "Crystal, tidak sekarang!" Ucap Salsa dengan alis mengerut. Hatinya menjadi hangat mendengar kata kata Crystal. Kali ini ia tidak akan salah pilih teman l
Kembali pada waktu saat ini. Fajar akhirnya tiba, dan hari mulai pagi. Matahari bersinar dengan cahaya jingga di ufuk timur. Naik sedikit demi sedikit dan perlahan membangunkan semua orang dari tidurnya.Di dalam kamar hotel mewah tersebut, sepasang kekasih sedang tidur dengan sikap yang intim. Tid
Sedikit Flashback, Beberapa waktu yang lalu. Salsa yang sebelumnya tengah sibuk di kamarnya kini sedang berjalan dengan langkah lambat dan mengendap endap. Ia memegang high heels di satu tangan dan tas mewah di tangan lainnya.Strateginya berhasil! Ia telah menahan diri dan berpura pura patuh dalam
Di koridor hotel yang remang remang. Seorang pria yang sangat tampan dan cukup kekar dengan sedikit rambut putih dan lipatan keriput di sudut matanya berjalan sempoyongan. Matanya kabur dan ia berulang kali menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya. Pakaiannya berantakan, dasinya yang longg







