LOGINPenyelidikan kebakaran pabrik tekstil Karaton Badra ditangani oleh Pasukan Pengamanan Ibu Kota yang dipimpin langsung oleh Raden Cakrasurya, ayah Ndari.Lelaki tersebut memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penyelidikan mendalam dan menyeluruh untuk mengetahui penyebab kebakaran. Semua petunjuk harus diperiksa, bahkan yang kecil sekali pun.“Lapor Senapati, hasil penyelidikan sudah keluar,” ujar Bima, bawahan Cakrasurya.“Bagaimana hasilnya?” Sorot mata Raden Cakrasurya berbinar. Ia tidak sabar ingin mendengar laporan sang anak buah.Bima menarik napas perlahan. Ia mengumpulkan stok keberanian dalam dirinya karena laporan yang ia buat dapat menimbulkan gejolak di pemerintahan.Kesatria itu menaruh laporan di atas meja kerja Cakrasurya. Hatinya dipenuhi perasan waswas.“Karaton Badra memiliki lima pabrik tekstil yang beroperasi aktif. Empat pabrik berlokasi di Ibu Kota, sedangkan yang lain berada di wilayah Gumuk.” Bima mengulum bibir untuk meredakan kegugupan.“Pabrik tekstil y
Karaton Badra mengandalkan dua hal untuk menopang kas keuangan. Upeti dan monopoli bisnis.Ratu Badra penguasa tertinggi yang mengatur sektor pangan, sandang, serta bumi dan mineral. Untuk mendukung kekuasaannya, ia memiliki aset vital seperti pabrik kain, Badan Pangan, tambang mineral dan juga pabrik senjata.Dalam praktik di lapangan, Ratu Badra tidak mengurus bisnisnya secara langsung. Ia dibantu oleh putra mahkota mengelola sektor sandang dan pangan di bagian hulu. Di bagian hilir, para pangeran yang ambil peran.“Yang Mulia!” Ganendra berdiri di depan pintu kediaman Prameswari Widuri.Ia tidak berani masuk ke dalam. Lelaki itu tahu, harus menghindari masalah.Kamakarna melihat ekspresi ajudannya. Ia memiliki firasat buruk. Sang Putra Mahkota pun meninggalkan Widuri dan Ndari.“Ada apa?” tanya Putra Mahkota pelan agar orang lain tidak mendengarnya.“Pabrik tekstil kebakaran,” bisik Ganendra.
Damarteja mendapat laporan dari Kesatria Wayangan mengenai kondisi terkini sang istri. Darahnya mendidih seketika.“Kenapa kamu tidak menghentikannya?” Pangeran Adipati menekan leher prajurit di hadapannya.“Ya-yang menganiaya Kanjeng Putri adalah Putri Mahkota. Jika kami ikut campur, maka dampaknya jauh lebih buruk,” terang lelaki itu.“Saat kejadian, kami juga melihat Kanjeng Putri samar-samar tersenyum. Jadi kami kira ....” Prajurit yang bersangkutan terlempar ke dinding.Informasi yang disampaikan oleh bawahannya membuat Damarteja meradang. Hatinya memanas seperti air mendidih.Saat ia mengunjungi Muniratri, wanita itu sempat memperingatkan Damarteja untuk tidak mengacaukan rencananya. Lelaki itu pun menurut.Ia pikir sang istri akan melakukan cara murahan seperti biasa. Tak disangka, wanita itu malah mempertaruhkan hidupnya sendiri. Pangeran Adipati pun frustrasi.“Kalian boleh pergi.&rdq
Cahaya di wajah Ndari mendadak padam saat ia seseorang mendobrak pintu Paviliun Kantil. Dia adalah Kamakarna.“Yang Mulia!” Mata Ndari membulat.“PUTRI MAHKOTA!! APA YANG KAMU LAKUKAN?!” Kamakarna membanting pintu, menciptakan dentuman keras.Semua yang ada di sana berlutut, kecuali Muniratri. Tubuhnya lemas tak bisa digerakkan.“Yang Mulia, ini hanya salah paham,” dalih Ndari.Kamakarna melangkah ke depan. Sorot matanya tak lepas dari Muniratri.“Salah paham, katamu?” Kamakarna berdiri tepat di depan mantan tunangannya.Putra Mahkota melirik ke arah Ndari yang berlutut di samping kiri Muniratri. Kemarahan menyelimutinya. Ia menendang perempuan si pemilik Paviliun Melati tanpa ampun.“Yang Mulia.” Narti menangkap tubuh Ndari agar tak jatuh ke lantai.Saat itu adalah kali pertama sang Putri Mahkota dipermalukan di depan umum.Meskipun semua orang menundukk
Ndari mendatangi Paviliun Kantil pada malam hari. Ia tidak datang seorang diri. Perempuan itu membawa sepuluh dayang bersamanya.“Kanjeng Putri, Putri Mahkota datang berkunjung.” Ningsih terengah-engah setelah berlari dari halaman paviliun menuju kamar tidur Muniratri.Dalam keadaan normal, jika seorang dayang melihat Putri Mahkota, maka ia akan berlutut sebagai tanda penghormatan. Namun yang dilakukan Ningsih tidak demikian. Muniratri pun mencium sesuatu yang tidak beres.“Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja.” Muniratri tersenyum, sikapnya tenang tanpa beban.Rambut adalah harga diri wanita. Ia tidak boleh dibiarkan terurai di depan orang lain karena akan dianggap tidak sopan menurut adat.Berdasarkan pandangan itu, Muniratri yang sudah bersiap di tempat tidur pun bangkit. Ia menyanggul rambut dan juga memakai riasan wajah.“Pergi lewat jendela. Temui Yang Mulia Putra Mahkota. Katakan pada beliau bahwa aku memiliki hal penting untuk dibicarakan,” perintah sang Putri Hadiwangsa
Muniratri menyerahkan kain Ndari yang sudah diperbaiki pada Kamakarna. Ia berpesan pada lelaki tersebut agar membantunya menyampaikan permintaan maaf pada sang Putri Mahkota.“Aku mengerti kesulitanmu.” Kamakarna menepuk-nepuk punggung tangan Muniratri.“Nimas tenang saja, aku pastikan Putri Mahkota tidak akan berani marah padamu.” Lelaki itu tersenyum percaya diri.Ada secercah kebahagiaan dalam sorot pandang Muniratri. Kamakarna menangkap momen itu.“Yang Mulia Anda memang yang terbaik.” Muniratri mengusap kelopak mata dengan punggung tangan, seperti wanita yang terharu akan kebaikan orang lain.Tanpa menunggu waktu lama, Kamakarna mengunjungi kediaman Putri Mahkota. Perempuan itu pun menyambut kehadiran suaminya dengan riang gembira.Jantung Ndari pun berdegup kencang. Ia tak pernah menyangka bahwa lelaki pujaannya akan datang sendiri ke sana.“Selamat Yang Mulia, akhirnya Yang Mulia Putra