Share

144|

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2026-03-27 19:00:57

Muniratri memerlukan waktu satu minggu untuk merangkai manik-manik yang ada di kain Ndari secara sempurna. Dan setelah menyelesaikannya, ia segera memberikan kain tersebut kepada Kamakarna.

“Benaran sudah selesai?!” Kamakarna membentangkan kain milik Ndari.

Ia menelisik manik-manik yang diuntai oleh Muniratri. Tak ada satu pun yang terlewat.

“Kamu hebat sekali,” pujinya.

Kamakarna mengempaskan kain sutra merah di atas tumpukan buku yang seda

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   203|

    “Begitulah yang terjadi, Ibu Suri.”Raden Apta, keponakan Ibu Suri Tarisujana melaporkan apa yang terjadi di Aula Hutama segera setelah dirinya selesai menghadiri rapat pagi.Wanita itu tak langsung memberikan reaksi apa pun. Ia termenung untuk waktu yang tak sebentar, membuat Raden Apta bosan menunggu tanggapan sang Ibu Suri.“Ini pasti perbuatan Pangeran Hadiwangsa. Dia ingin mengguncang kedudukan kakak sepupu,” terka lelaki itu.Wajah Ibu Suri yang tadinya datar jadi memerah. Air mukanya mengeras. Meski begitu ia tak buru-buru mengutuk aksi Damarteja.Sikap gegabah dalam berbicara hanya akan membawanya pada situasi yang buruk. Terutama jika perkiraannya tak sesuai dengan yang terjadi di lapangan.‘Dari depan, dia terlihat seperti sedang membela diri atas kekalahannya enam belas tahun yang lalu,’ ucap Ibu Suri dalam hati.‘Tapi jika tujuannya hanya itu, dia tidak perlu sampai ....” Ibu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   202|

    “Aku penasaran bagaimana ekspresi Ibu Suri ketika tahu bahwa anak bungsunya sudah meninggal. Dan yang membunuhnya adalah kandungnya sendiri.” Damarteja mengasah pedang di hadapan Tumenggung Yajnayodha.Lelaki yang kini berstatus sebagai tahanan militer tersebut menarik rantai yang membelenggunya. Ia meronta sekuat tenaga namun yang dihasilkan hanyalah kesia-siaan.Badannya tetap terikat oleh rantai yang besar dan kuat. Jangankan lepas dari ikatannya, bahkan menggerakkannya saja tak bisa. Benda itu terlalu berat, bahkan hanya untuk bergetar.“Hm! Hm! Hm!”“Kamu bilang apa, Raden?” Damarteja melengkungkan telapak tangan di samping daun telinga.“Hm! Hm!”Tumenggung Yajnayodha sudah berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. Namun usahanya gagal.Sejak Begawan Prayono memutuskan bahwa Mustika meninggal karena dibunuh oleh Yajnayodha, lelaki itu disiksa sepanjang waktu. Ia hanya bisa beristirah

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   201|

    “YANG MULIA!”Ibu Suri Tarisujana jatuh setelah mendengarkan berita yang dikirim oleh Begawan Prayono.Sejak lelaki itu sampai di Ibu Kota, tempat pertama yang ia tuju adalah kediaman Ibu Suri. Ia bahkan tak menunggu hari berikutnya untuk menyampaikan kabar tersebut.“Bagaimana keadaan anak itu sekarang?” tanya sang Ibu Suri.Wanita itu berpegangan kepada dayangnya agar tetap tegar. Napasnya berat, namun ia berusaha menarik dan mengembuskannya secara teratur.“Dia sudah dikremasi di Agratampa.” Begawan Prayono menyeka wajahnya tak sedikit pun basah karena air mata.Belum juga tenang setelah mendapatkan kabar tentang Mustika, kini wanita itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak bisa berjumpa dengan putrinya lagi. Hatinya makin hancur.“Kalau begitu, kamu pasti membawa abunya, kan?” Ibu Suri tersenyum getir.Walaupun sudah tak mungkin melihat wajah sang putri, setidaknya dia

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   200|

    Api berkobar hebat membakar mayat Mustika dan juga Ratnawangi. Kremasi keduanya dilakukan di hari dan lokasi yang sama, di bawah pohon cantigi. Pohon yang dipercaya mampu menenangkan roh.Prosesi tersebut dilakukan secara terbatas. Hanya keluarga Pangeran Adipati Agung, dan Begawan Prayono yang boleh menghadirinya. Orang luar yang diizinkan berada di lokasi hanyalah para ajudan dan dayang pribadi.“Kanjeng Pangeran.” Begawan Prayono memberikan hormat kepada Damarteja.“Terima kasih sudah memberikan upacara yang layak untuk putri kami.” Begawan tersebut menundukkan badan.Sang Pangeran Adipati Agung mengangguk sebagai tanda bahwa ia telah menerima penghormatan sang Begawan. Ia mengizinkan lelaki itu untuk bangkit.“Tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah menjadi kewajibanku mengantarkan kepergian putri kalian untuk terakhir kali.” Damarteja menepuk pundak Begawan Prayono sekali.“Semoga dia bisa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   199|

    “Bukankah itu guru Putra Mahkota dan juga istrinya?” Kasmirah menepuk pundak pelayan pribadinya ketika melihat Begawan Prayono keluar dari kamar Mustika.Pelayan itu menyipitkan mata agar pandangannya lebih fokus. “Benar, Raden Ayu. Itu memang mereka.”Kasmirah menyunggingkan senyuman. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia ingin memanggil Begawan Prayono untuk bertukar informasi demi keuntungannya.Namun belum sempat rencana itu terlaksana, Endra sudah lebih dahulu mendapatkan waktu sang Begawan.“Kanjeng Pangeran menyuruh saya untuk mengantarkan Anda ke suatu tempat,” ujarnya.“Baiklah.” Lelaki yang statusnya sebagai guru Putra Mahkota itu mengangguk.Endra membawa Begawan Prayono dan juga istrinya ke barak militer. Di sana dia diarahkan menuju penjara militer yang dijaga secara ketat.“Silakan masuk. Raden. Paduka ada di dalam.” Endra membuka pintu ruang interogasi ya

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   198|

    “Kamu? Hamil anakku?”Damarteja berdiri, mengangkat Muniratri yang ada di pangkuannya. Ia meletakkan kembali istrinya di atas kursi pelan-pelan, bak vas bunga yang rapuh.Lelaki itu melangkah ke depan. Ia mengambil cambuk di tangan Ningsih dan memecutnya ke tanah.Suara cambukkan terdengar nyaring di telinga semua orang. Suara itu memenuhi ruangan, membuat hati menjadi lemah dan ketakutan.“Tentu saja saya hamil anak Anda!” ucap Ratnawangi dengan lantang.Dada sang selir mengembang dan mengempis dengan napas yang tersengal-sengal. Wajahnya merah, antara menahan sakit dan juga amarah karena diperlakukan kasar.“Endra.” Sorot mata Damarteja mengarah kepada Ratnawangi. Tatapannya tajam seperti keris Empu Gandring.“Bukannya kamu sudah kusuruh untuk membereskannya? Kenapa bisa kebobolan?” Tatapan tajam Damarteja beralih ke arah sang ajudan.Lelaki itu memiringkan leher ke kanan dan ke

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   9| Kereta Berubah jadi Panggung Sandiwara

    Penampilan yang cantik dan rapi, membuat seorang wanita lebih dihargai, daripada mereka yang berpenampilan asal-asalan. Oleh sebab itu, setiap dua menit, Muniratri meraih cermin kecil dan memeriksa riasannya.Bercermin bukan sekadar untuk memastikan penampilan tetap sempurna. Bagi Muniratr

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   8| Hukuman Ala Damarteja

    Damarteja bukannya mengantar Muniratri ke kamar, malah membawa wanita tersebut ke petirtaan yang berada di dalam kompleks Keraton. Padahal malam itu, suasana di Badra tak jauh beda dengan ujung utara Antartika.“Masuk!” Damarteja menunjuk kolam di petirtaan menggunakan gerakan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   7| Mantan Tunangan Jadi Bibi

    “Aku tidak peduli dengan orang lain. Asalkan bisa memeluk Nimas, itu sudah cukup,” ucap Kamakarna.Jika orang yang memeluknya bukan anggota keluarga keraton, Muniratri tak akan ragu melukai orang tersebut menggunakan cunduk atau benda apa pun yang bisa ia pakai menjadi senjata.Masalahnya, orang itu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   6| Wanita Hadiah

    Bahuwirya memijat dahinya karena ia merasa frustrasi. ‘Bisa-bisanya mereka memberikan wanita sebagai hadiah. Padahal, Pangeran Hadiwangsa masih tergolong sebagai pengantin baru,’ batinnya.Jika sang Raja saja sampai sakit kepala, apalagi para pejabat yang ada di sana. Kendati demikian, mereka tak be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status