LOGINWaktu berjalan sangat cepat, dan roh Jaka Srenggi masih terkurung di dalam neraka tingkat satu, yang mana keadaan yang Jaka Srenggi alami telah dia terima.
Selama di dalam neraka tingkat satu itu, kesabaran Jaka Srenggi benar-benar diuji, yang mana berkali-kali dia harus berhadapan dengan musuh lama yang ia bunuh semasa dia hidup. Beberapa kali pula Jaka Srenggi terpancing amarahnya, yang mana amarahnya itu membakar tubuh Jaka Srenggi hingga menjadi abu. Namun, semakin lama berada di dalam neraka itu, Jaka Srenggi semakin sadar kalau amarah sungguh akan terus membakar dia, tak ubahnya saat Jaka Srenggi hancurkan dunia dewa Kanaya. Tapi, setelah sekian lama berada di dalam neraka, kesabaran Jaka Srenggi pun mulai terasah, dan tak lagi marah sekalipun musuhnya memberikan serangan yang kuat. Jaka Srenggi bukan pasrah, namun ia memilih untuk bersabar, dan itu sungguh satu peningkatan yang nyata bagi Jaka Srenggi. "Aku tak akan marah lagi, dan aku sudah terima sekalipun aku akan selamanya berada di dalam neraka ini!" ucap Jaka Srenggi. "Tidak, kau tidak akan selamanya berada di neraka ini, Jaka Srenggi!" kata satu suara. "Dewa Jasin!" kata Jaka Srenggi. Dewa Jasin, sang dewa pelindung Jaka Srenggi datang, dan ia tersenyum pada Jaka Srenggi. "Ini hari terakhir bagimu berada di dalam neraka tingkat satu ini, saatnya untuk menuju neraka yang berikutnya!" kata dewa Jasin. "Neraka yang berikutnya? Apa yang akan aku alami?" tanya Jaka Srenggi. "Kau akan segera tahu, ikuti aku!" kata dewa Jasin. Bersama dengan dewa Jasin, Jaka Srenggi pun berjalan menuju ke neraka yang berikutnya, dan hawa yang jauh lebih panas pun dirasakan oleh Jaka Srenggi padahal mereka masih berada di gerbang neraka itu. "Neraka tingkat dua ini, memiliki julukan, neraka pilihan, Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. "Neraka pilihan?" kata Jaka Srenggi bingung. "Iya, kau akan segera tahu saat kita masuk ke dalam neraka tingkat dua ini!" kata dewa Jasin. Dewa Jasin mendorong pintu gerbang neraka tingkat dua, dan suara-suara jeritan pun membahana di telinga Jaka Srenggi. "Selamat datang di neraka tingkat dua, dewa Jasin!" kata penjaga neraka tingkat dua. "Aku membawa penghuni neraka, dan aku yakin kalian tahu siapa dia?" kata dewa Jasin. "Jaka Srenggi!" kata penjaga neraka. "Aku yakin kalau kalian tahu siapa dia? Aku sangat yakin!" kata dewa Jasin. "Apakah Jaka Srenggi akan memulai ujian di neraka tingkat dua ini?" tanya penjaga neraka tingkat dua. "Iya, bawa dia!" kata dewa Jasin. Jaka Srenggi melihat ke arah dewa Jasin, ia ingin bicara, namun ia tak tahu harus bicara apa. "Jika di neraka tingkat dua ini telah selesai, aku akan jemput kau Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. Jaka Srenggi diam, dan mengikuti langkah penjaga neraka tingkat dua itu. Bersama dengan penjaga neraka tingkat dua, Jaka Srenggi dibawa ke sebuah ruangan yang sangat panas, dan bahkan itu membuat tubuh Jaka Srenggi berasap karena rasa panas itu. Penjaga neraka tingkat dua menekan sesuatu, dan di hadapan Jaka Srenggi muncul puluhan orang yang berdiri di atas dua buah jembatan. "Jaka Srenggi, pilih yang mana, bangsa dewa atau bangsa manusia?" tanya penjaga neraka tingkat dua itu. "Apa maksudnya ini?" tanya Jaka Srenggi. Brakkkkkkk!! Dan tiba-tiba saja, pijakan kaki Jaka Srenggi runtuh, dan ia jatuh ke dalam kawah api yang maha panas, dan jeritan Jaka Srenggi pun membahana, sangat keras, dan tubuh Jaka Srenggi berubah jadi abu. Namun itu hanya sejenak, karena setelah itu roh Jaka Srenggi pun muncul kembali di dalam ruangan pilihan itu. "Setiap kau bicara, dan bicara bukan tentang pilihan maka kau akan jatuh ke dalam neraka!" kata penjaga neraka. Kali ini Jaka Srenggi tidak mau bicara lagi, dia diam dan memikirkan pilihan apa yang akan dia tentukan. "Jika pilihanmu salah, maka yang kau pilih dan juga dirimu akan masuk ke dalam neraka!" kata penjaga neraka tingkat dua. Jaka Srenggi menatap ke arah jembatan, dan memikirkan tentang pilihan yang akan ia buat. "Sebelah kiri adalah bangsa manusia, dan sebelah kanan adalah bangsa dewa. Mana yang akan kau selamatkan?" tanya penjaga neraka tingkat dua. Jaka Srenggi menutup mata, dan jiwanya sebagai bangsa manusia, jelas akan memilih bangsa manusia. "Aku memilih bangsa manusia!" jawab Jaka Srenggi dengan tegas. Brakkkkkkk!!! Byurrrrrr!! Semua roh manusia yang ada di atas jembatan, dan juga Jaka Srenggi jatuh ke dalam api neraka, yng mana itu tandanya Jaka Srenggi salah dalam menentukan pilihan. Untuk kedua kalinya Jaka Srenggi salah dalam menentukan pilihan, dan ia gagal pada pilihan yang pertama itu. "Kau gagal, Jaka Srenggi!" kata penjaga neraka tingkat dua. Jaka Srenggi diam, dan rasa panas dari api neraka masih terasa di roh Jaka Srenggi. "Kenapa pilihanku salah?" tanya Jaka Srenggi. "Bangsa dewa, adalah bangsa yang suci, dan mereka layak dijaga dan diselamatkan, karena mereka adalah penghuni utama dunia, dan juga yang menciptakan manusia!" kata penjaga neraka tingkat dua. "Tapi bangsa dewa juga banyak yang jahat," kata Jaka Srenggi. "Itu sangat benar, namun sebanyak apapun bangsa dewa yang berbuat kejahatan, yang pantas menghukum mereka adalah Sang Penguasa, bukan bangsa manusia!" kata penjaga neraka. Jaka Srenggi diam, karena dia merasa alasan dari penjaga neraka tingkat dua bisa dia terima. "Dan satu lagi, bangsa manusia adalah bangsa yang memiliki sikap yang sangat egois, dan kau baru saja tunjukkan bagaimana egoisnya bangsa manusia!" "Baiklah, aku pilih bangsa dewa untuk aku selamatkan!" kata Jaka Srenggi. "Pilihan untuk itu telah selesai, kau akan masuk ke pilihan yang berikutnya!" kata penjaga neraka tingkat dua. "Pilihan seperti apa itu?" tanya Jaka Srenggi. "Mari ikuti aku!" kata penjaga neraka tingkat dua. Kembali Jaka Srenggi ikuti penjaga neraka tingkat dua itu dan mereka masuk ke dalam sebuah ruangan lain, yang mana pilihan akan kembali diberikan pada Jaka Srenggi. "Mana pilihanmu Jaka Srenggi?" tanya penjaga neraka dan menekan lagi sebuah tombol di hadapannya. Dan tak berapa lama, di hadapan Jaka Srenggi muncul satu orang yang terikat dengan rantai, dan tubuhnya hampir jatuh ke dalam neraka. Sementara tak jauh dari Jaka Srenggi, ada belasan orang yang juga akan jatuh, hanya saja rantai yang ikat belasan orang itu masih kokoh dan kemungkinan butuh waktu lama untuk jatuh ke dalam neraka. Jaka Srenggi berpikir keras dalam menentukan pilihan mana yang akan ia pilih untuk selamatkan mereka. "Jangan hanya diam, tentukan mana yang akan kau pilih untuk selamat, Jaka Srenggi?" tanya penjaga neraka. "Aku pilih yang satu orang itu, dia akan jatuh ke bawah!" kata Jaka Srenggi. Penjaga neraka tingkat dua tersenyum pada Jaka Srenggi. "Apakah pilihanku, benar?" tanya Jaka Srenggi.Jaka Srenggi sungguh kaget karena ucapan penjaga neraka tingkat sembilan itu, dan Jaka Srenggi sungguh ingin tahu apa alasannya.Namun sebelum Jaka Srenggi bertanya, panjaga neraka itu sudah bisa menebak apa yang akan Jaka Srenggi tanyakan itu. "Jangan lupa saat ini kau berada dimana, Jaka Srenggi? Saat ini kau berada di neraka kekuatan, dan kematian karena pertarungan hal biasa di sini. Dan itu wajib kau hadapi, jika kau menolak, maka hukuman yang tak bisa kau bayangkan akan kau terima!" kata penjaga neraka itu. "Ini sungguh aneh!" kata Jaka Srenggi."Diam Jaka Srenggi, jangan harap kau akan dapatkan keistimewaan, kau sama dengan semua yang ada di neraka ini. Jadi terima tantangan itu, dan ikuti aturan yang ada di neraka tingkat sembilan ini!" kata Penjaga neraka itu. "Baiklah, apa boleh buat!" kata Jaka Srenggi.Setelah Jaka Srenggi katakan itu, barulah penjaga neraka itu tinggalkan Jaka Srenggi, dan semua orang penasaran siapa orang yang menantang Jaka Srenggi itu. "Aku yakin,
Beberapa purnama sebelumya, saat Jaka Srenggi masih berada dalam belenggu neraka. Seorang lelaki dengan pakaian kuning masuk ke neraka kekuatan, dan pakaian yang ia gunakan bukan pakaian yang biasa, namun itu adalah jubah pelindung yang ia miliki.Saat ia masuk ke neraka kekuatan, semua penghuni neraka gempar karena keberadaan dirinya dalam di neraka. "Tidak mungkin! Dia tidak mungkin ada di sini!" kata dewa perang Shu Ban.Dewa perang Shu Ban merupakan penghuni terkuat di neraka kekuatan, dan dia berada di posisi puncak dari semua yang terkuat di neraka kekuatan itu. Namun, hadirnya orang itu membuat neraka kekuatan cukup gempar, dan yakin kalau posisi dewa perang Shu Ban akan segera digusur oleh orang yang baru datang itu. Sosok itu tak lain adalah Dewa Ra, dia dikatakan sebagai salah satu dewa pelindung Sang Penguasa, namun tak ada yang tahu hingga ia masuk ke dalam neraka Kekuatan.Sesuai dengan dugaan semua penghuni neraka kekuatan, hal pertama yang dilakukan oleh dewa Ra ad
Selama beberapa hari di dalam ruangan panas, Jaka Srenggi terus menerus menyerap energi murni dari api neraka. Hal itu membuat tubuh Jaka Srenggi dipenuhi dengan aura panas yang sangat kuat, dan rasanya Jaka Srenggi ingin tumpahkan semuanya lewat satu pukulan. Jaka Srenggi berusaha untuk bebaskan diri dari totokan dewa Jasin, namun ternyata totokan itu sangat kuat."Sungguh tak ku duga kalau kekuatan totokan dewa Jasin sangat kuat," kata Jaka Srenggi.Setelah itu, Jaka Srenggi memilih untuk duduk lagi, namun kali ini dia tak lagi menyerap energi murni dari api neraka karena dia merasa semuanya sia-sia kalau dia tak bisa lepas dari totokan dewa Jasin. Baru saja Jaka Srenggi menutup matanya, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan dewa Jasin sudah ada di pintu ruangan itu. "Ikuti aku, Jaka Srenggi!" kata dewa Jasin. "Kita akan kemana?" tanya Jaka Srenggi."Tidak usah banyak tanya, ikuti saja aku!" kata dewa Jasin dan langkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan berhawa panas itu.
Bersama dengan dewa Jasin, Jaka Srenggi dibawa masuk ke dalam neraka tingkat tiga, dan reaksi yang diperlihatkan oleh penjaga neraka tingkat tiga sungguh kaget bukan kepalang. "Dewa perang Jaka Srenggi!" desis penjaga neraka tingkat tiga itu. "Masukkan dia ke salah satu ruangan!" kata dewa Jasin. "Baik!" kata penjaga neraka itu. Dengan gemetaran penjaga neraka itu membawa Jaka Srenggi ke salah satu ruangan yang sangat panas, dan meninggalkan Jaka Srenggi di dalam ruangan itu. "Dewa Jasin, untuk apa kau bawa dewa perang Jaka Srenggi ke neraka tingkat tiga?" tanya penjaga neraka tingkat tiga. "Aku tak tahu harus bawa dia kemana? Tidak mungkin aku langsung bawa dia ke neraka tingkat sembilan!" "Kenapa tidak mungkin?""Itu akan membuat Jaka Srenggi curiga, penjaga neraka!" kata dewa Jasin. "Aku tidak menerima dia di sini, ikut denganku!" kata penjaga neraka tingkat tiga. Dewa Jasin mengerutkan dahinya, dan ikuti penjaga neraka, dan ternyata mereka menuju ke arah ruangan dewa nera
Pilihan demi pilihan selalu yang jadi hukuman bagi Jaka Srenggi saat berada di neraka tingkat dua saat ini. Namun, hingga saat ini, satu pun tak pernah Jaka Srenggi memberikan jawaban yang tepat."Jaka Srenggi, sesungguhnya apa yang ada dalam pikiranmu?" "Aku selalu mengikuti apa kata hatiku, aku tidak akan melibatkan emosi dalam memilih sesuatu!" kata Jaka Srenggi."Jika hanya itu yang ada dalam hidupmu, bagaimana bisa kau jadi seorang dewa perang?""Sepertinya pertanyaan itu bukan untukku, tapi pada Sang Penguasa!" kata Jaka Srenggi dengan sangat tenang. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu Jaka Srenggi, kau sungguh terlalu tidak tahu apa-apa!" "Berikan saja aku pilihan yang berikutnya!" kata Jaka Srenggi."Ini akan jadi pilihan yang terakhir untukmu, dan aku harap kau bisa memberikan pilihan ataupun jawaban yang tepat!""Akan aku usahakan!" kata Jaka Srenggi."Aku ingin kau menjawab ini dengan benar, cobalah untuk benar, satu saja, Jaka Srenggi!" "Akan aku usahakan!"
Brakkkk!!Tiba-tiba saja, lantai pijakan Jaka Srenggi retak, dan tubuh Jaka Srenggi pun jatuh kembali ke dalam neraka yang bersuhu sangat panas."Tidak!" teriak Jaka Srenggi karena merasakan rasa panas yang menyengat seluruh tubuhnya. Namun, setelah tubuh Jaka Srenggi berubah jadi abu, roh Jaka Srenggi pun kembali muncul di ruangan pilihan."Kenapa bisa pilihan yang aku buat salah?" tanya Jaka Srenggi."Kau harus memilih yang banyak dari pada yang hanya satu orang!" kata penjaga neraka tingkat dua."Tapi kondisinya jauh lebih buruk, dia pasti akan mati jika tak aku tolong!" kata Jaka Srenggi."Kondisi mereka juga sama, mereka juga butuhkan bantuan darimu!" "Tapi dia jauh lebih membutuhkan bantuan dariku!" "Hahaha! Jaka Srenggi, kau masih memikirkan tentang hal itu?""Jelas, aku tahu kalau dia yang pantas untuk diselamatkan!""Baik, mungkin kau merasa benar, namun kau harus melihat peluang hidup seseorang itu Jaka Srenggi!""Aku melihat peluang dia untuk hidup cukup besar!""Bagaima







