MasukPukul tujuh malam, seperti biasa setelah sholat maghrib ia duduk di ruang tv bersama Ibrahim yang asik menonton animasi favoritnya bersama Fatma. Tak lama kemudian, Usman datang disusul Ardi yang tak biasanya mau ikut bergabung berkumpul bersama.
Layla memandang heran kepada Ardi yang kini duduk berselonjor di samping ibunya dan sesekali mengajak Ibra bercanda. Adik bungsunya itu memang jarang ikut bergabung duduk bersama seperti ini, ia lebih sering suka menyendiri di kamar atau jika mau ia akan pergi keluar bersama teman-temannya. "Tumben banget keluar kamar." celetuk Layla kepada Ardi. Sang adik yang merasa terpanggil menatap kakaknya dengan cengiran lebarnya. "Tau banget bapak habis pencairan. Mau minta duit ya?" tuduh Layla yang tak dijawab Ardi. Pemuda itu terus menampilkan cengiran lebarnya. "Memangnya kamu mau apa, minta uang jajan tambahan ke bapak?" timpal Usman melihat gelagat anaknya yang seperti itu. Mendekat jika ada maunya. "Mau beli velg ban, pak." jawab Ardi pelan, tahu kalau permintaannya itu mengundang ceramahan bapaknya. "Sudah 2 kali kamu ganti velg ban. Kali ini mau pakai yang bagaimana lagi sih? Velg ban segitu-gitunya, kamu gonta-ganti terus!" "Ardi cuma minta uang kurangnya aja, pak." balas Ardi ringan berharap bapaknya mau memberikan kekurangan uang itu. "Kalau buat modal, nanti bapak kasih. Kalau buat velg bapak gak kasih." ucap Usman final. Ia tak mau lama-lama berdebat untuk hal yang sudah dua kali terulang. "Pak, kan Ardi sudah bilang mau masuk PT aja. Ardi belum siap buka usaha sendiri." kilah Ardi kala sang bapak kembali menbicarakan soal usaha sendiri. Bapaknya itu selalu mendesaknya untuk membuka bengkel di kampung dari pada bekerja di kota. Kedua orang tua itu selalu mewanti-wanti anak-anaknya untuk tidak pergi terlalu jauh meninggalkan rumahn, namun ternyata kedua anak lelaki itu sangat bebal ingin pergi merantau. Ardi dengan jiwa mudanya itu tentu ingin melanglang buana mencari berbagai pengalaman ke berbagai penjuru tempat selepas lulus sekolah nanti. Berbeda dengan pandangan orang tua yang selalu khawatir akan keadaan anaknya jika berada jauh dari pandangan mereka, meskipun sang anak sudah dewasa dan mandiri. "Pokoknya keputusan bapak cuma itu. Kamu itu sudah habis jutaan rupiah buat modif motor yang gak ada selesainya." keluh Usman melihat tingkah anaknya. "Ya kan namanya juga anak muda yang suka gaya, pak. Beruntung Ardi sukanya modif motor, bukan pergaulan bebas kayak yang lain." "Kamu hobi ngerokok dari SMP, terus main sampai subuh emang bukan pergaulan bebas hah?" tanya Usman keras sembari berancang-ancang dengan tasbih di tangannya, membuat Ardi seketika beringsut sedikit menjauh, tak ingin terkena sabetan biji tasbih. "Sudah, jangan berdebat terus. Ardi, kamu itu sudah mulai dewasa, kamu juga sebagai laki-laki harus punya tabungan untuk masa depan. Kalau punya uang jangan sekali habis, apalagi cuma buat gaya-gayaan." ucap Fatma ingin mengakhiri perdebatan yang mengganggunya. Ardi pun menghela nafas pasrah mendengar ibunya yang sudah memberi simpulan yang jelas mendukung sang bapak. Tak apa, lain kali Ardi akan memintanya lagi kepada Fatma tanpa sepengetahuan Usman. "Ya sudah, eh ngomong-ngomong... Ardi gak nyangka kak Layl dekat sama bang Raffa. Kenal dari mana, kak?" tanya Ardi dengan seringai licik yang terlihat. Layla yang tengah asik menonton tv melotot menatap Ardi yang masih memasang tampang jahil. Entah apa maksud Ardi mengungkap peristiwa pagi tadi. "Ngomong apa kamu sih?! Jangan ngada-ngada." kilah Layla datar, meskipun dalam hati ia merutuk perkataan Ardi yang mengundang tanya dari kedua orang tuanya. "Kenapa? Tadi aja Ardi denger dia ngajak kakak nikah!" ucapan Ardi langsung menghantam dirinya. "Enggak ya!" balas Layla keras, menampik semua ucapan adiknya yang sayangnya memang benar. Usman yang sedari tadi diam mendengarkan akhirnya tertarik untuk bertanya, "Yang bener kamu, Ardi?" timpal Usman sedikit keras, antara terkejut dan semangat. Ardi mengangguk ikut antusias karena kini ia bisa terus menggoda kakak perempuannya. "Iya pak, Ardi denger dari kuping Ardi sendiri." "K-kamu tuh jangan asal ngomong, apalagi di depan ibu sama bapak!" elak Layla tak mau ngaku. Adiknya ini memang lambe turah kalau sekali ngomong. "Kenapa sih kak? Udah janda ini, kan bebas mau punya suami lagi juga." "Lagian tuh, udah banyak cowok-cowok yang nanya-nanya tentang kakak sama Ardi." Tambah Ardi yang entah benar atau tidak, yang benar saat ini hanya dirinya yang malu karena percakapan Raffa tadi disampaikan adiknya kepada orang tuanya. "Astagfirulloh, Ardi. Bisa enggak, gak usah ngomongin hal begituan? Kakak ini masih dalam masa idah, gak usah bicara yang macam-macam!" "Piss... Bisa aja kan kakak mau pilih-pilih dari sekarang mana yang cocok buat ayah baru Ibra. Ya, kan Ibra?" Ibra yang disebut namanya hanya mengangguk sebentar kepada Ardi sebelum kembali menonton televisi. Ardi yang melihat respon Ibra pun bersorak riang seperti kegirangan saat tim bola kesayangannya mencetak gol. "Sudahlah, mau isya dulu." ucap Layla sembari beranjak pergi. "Loh, malah kabur." gumam Ardi menatap kepergian Layla. Usman yang dari tadi mendengarkan kini mencondongkan tubuhnya bertanya kepada Ardi, si pembawa berita. "Tapi, emang bener apa yang kamu katakan tadi, Di?" "Bener pak... Ardi juga gak nyangka, tapi bang Raffa berani bener to the point ngajak kak Layl nikah." "Laki jantan itu." ucap Usman bangga, memang lelaki pilihannya itu sangat cocok untuk anaknya. Meskipun begitu, ada setitik rasa kecil hati mengingat anak perempuannya itu janda beranak satu. Layla juga bukan wanita karir yang punya penghasilan. Oleh sebab itu Usman tidak berani mengutarakan keinginan hatinya. Namun saat ia mendengar perkataan Ardi barusan, secercah harapan membuat Usman bahagia mendengar lelaki yang dirasa cocok menjadi menantu barunya itu pun menyukai anaknya. "Lagian bang Raffa juga udah berumur, pantes gak mau yang bertele-tele." tambah Ardi yang memang sedikit lebih tahu akan sosok Raffa. "Nah, gimana bu? Kita dukung gak?" tanya Usman kepada Fatma kemudian. Sang ibu yang dipanggil hanya menghela nafas dan menatap jengah suaminya. "Apa pak? Dukung nyoblos anggota dewan?" tanya Fatma. "Si Raffa lah." "Hush... Jangan terlalu senang, anak kita baru saja dapat musibah, bapak sudah ngomongin yang aneh-aneh. Tunggu masa berkabung Layla selesai, nanti bisa dibicarakan lebih lanjut. Itu pun kalau Raffa benar-benar serius dan Layla juga mau dengan sendirinya." "Iya, setidaknya Raffa laki-laki yang baik, paham agama dan bertanggung jawab, insyaalloh. Pak Sudirman juga orangnya baik gak suka mandang orang lain dari statusnya." "Bapak sok tahu banget ih." "Tahu dong, bapak kan suka main ke blok sebelah. Banyak juga yang bicarain si Raffa, katanya dia itu bujang paling diincer satu kampung. Sudah mah mapan, tampan, dan juga dermawan!" jelas Usman membanggakan lelaki yang kini ia anggap calon mantunya. "Gak tahu lah pak, Ibu gimana si Layla aja." *** Di dalam kamar, Layla termenung seorang diri di atas hamparan sajadah dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya. Layla menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi dadanya terasa sesak. Air mata selalu mengancam untuk tumpah kala ingatannya kembali mengingat sosok Raihan, suaminya yang penyayang. Ia teringat senyum Raihan yang selalu mampu mencairkan suasana hatinya yang gelap. Senyum yang begitu hangat, begitu menenangkan. Ia teringat bagaimana Raihan selalu ada untuknya, menemaninya dalam suka dan duka. Bagaimana Raihan selalu mampu membuatnya tertawa lepas, bahkan ketika ia merasa paling terpuruk. Layla menggenggam sebuah foto Raihan, foto yang diambil saat mereka berlibur di pantai sebelum mereka memiliki buah hati. Raihan tersenyum lebar, matahari terbenam di belakangnya menciptakan siluet yang indah. Air matanya semakin deras, mengalir tanpa henti. Ia merindukan Raihan, rindu akan sentuhannya, rindu akan suaranya, rindu akan kehadirannya. Rasa sakit kehilangan begitu menusuk kalbu, menghancurkan hatinya sedikit demi sedikit. Layla hanya bisa meringkuk di atas sajadah menangisi kepergian orang yang paling dicintainya, menangisi kenangan indah yang kini hanya tinggal kenangan. Di tengah kesedihan yang mendalam, bayangan wajah Raffa tiba-tiba muncul di benaknya. Kata-kata Raffa, "Saya tertarik sama kamu, Layla, saya ingin menikahi kamu. " bergema kembali di telinganya, mencampuri kesedihannya dengan gelombang emosi yang lain, kemarahan dan kebingungan. Layla mengusap air matanya, rasa marah kembali menggelegak. Bagaimana Raffa bisa begitu tidak peka? Bagaimana ia bisa menyatakan perasaannya di saat Layla masih berduka? Ketidakpekaan Raffa membuatnya semakin kesal. Ia merasa diperlakukan semena-mena, perasaannya diabaikan begitu saja. "Bagaimana dia bisa begitu tega? Suamiku baru saja pergi, lukaku masih berdarah, dan dia... Dia berani menyatakan perasaannya?" Air mata akhirnya mengalir deras di pipinya. Ia menghapusnya kasar dengan punggung tangan, tapi air mata terus mengalir. "Aku masih berduka, aku masih merindukannya setiap detik! Dan kau... kau datang dengan perasaanmu yang bodoh itu, seakan-akan semua ini tidak penting bagimu!"Ijab qabul telah diucapkan, suasana nampak riuh dengan beberapa obrolan serta ucapan do'a yang dipanjatkan. Pengantin wanita muncul ke depan menyita perhatian seluruh orang. Raffa tak bisa menyembunyikan senyum gugupnya kala menatap wajah Layla yang begitu cantik dengan balutan gaun putih dan hijab yang sederhana. Wajahnya menunduk, tak berani mendongak karena rasa malu yang menghantuinya, namun Raffa tak peduli, nyatanya Layla terlihat cantik meskipun wanita itu berusaha menyembunyikannya.Kini Layla berdiri di hadapan Raffa, semakin tertunduk dan canggung enggan menatap wajah di sekitarnya. Hingga sentuhan lembut di punggung tangannya menyentak dirinya dan membuat dirinya menatap sosok di hadapannya.Layla melihatnya, sorot tulus dan senyum bahagia Raffa yang diam-diam menyusupkan debarag asing di dadanya. Tak lama, Raffa mendekat, mencondongkan tubuhnya seraya menarik belakang kepala Layla lembut, bibirnya melafalkan do'a di puncak kepala sang istri.Layal tak bisa menahan debaran
Beberapa saat yang laluKeadaan rumah Pak Usman masih terasa tegang, meskipun kemarahan dan kepanikan mulai mereda. Beberapa pria duduk berkumpul, membahas nasib Layla yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ustadz Khairil hadir kembali, menatap serius ke arah para warga yang berdiskusi dengan nada tinggi."Jadi gimana bapak-bapak? Apa sanksi yang setimpal untuk Layla?" Nisa memotong dengan amarah, suaranya bergetar."Diam Nisa, kita tidak akan gegabah. Suami kamu menghilang, dan Layla belum sadar," Pak Usman menimpali, mencoba membela anaknya.Nisa mendengus, "Tapi saya gak ridho kalau dia hidup tenang! Dia harus diberi pelajaran.""Lalu apa yang harus Layla terima? Kalau terbukti berzina, biarkan suami kamu yang bertanggung jawab," ucap Pak RT menyela."Saya tidak setuju!" Raffa menolak keras jika Layla dinikahkan dengan Reza. "Kalau status jandanya Layla jadi masalah, maka saya yang bertanggung jawab. Saya yang akan menikahi Layla." ujar Raffa lantang, mengejutkan semua orang yang
Sebelumnya, Layla tak pernah merasakan malam yang begitu mencekam. Namun malam ini, terasa berbeda. Ada hal yang ditunggunya bersama beberapa orang di rumahnya, sebuah bukti untuk mengeluarkannya dari jerat fitnah yang menimpanya.Layla pasti yakin, foto tersebut hasil rekayasa semata. Karena bagaimana pun ia sendiri tidak pernah melakukan hal tersebut. Berfoto dalam busana tertutup pun ia jarang lakukan, apalagi berfoto tanpa busana dengan senyum lebar dengan tatapan menggoda. Layla tak seberani itu.Entah apa yang dilakukan Reza sehingga dengan tega memfitnahnya, bahkan setelah sebelumnya mencoba melecehkannya. Layla merasa hancur, terlebih ketika orang-orang meragukannya dan lebih mempercayai tuduhan lelaki itu.Dalam sujudnya, Layla berdo'a, memohon dalam sujudnya agar permasalahan ini segera menemukan titik terangnya.Setelah menyelesaikan ibadahnya, Layla segera beranjak lalu menyimpan kembali mukena putihnya dengan rapi. Nafasnya masih tera
"Assalamu'alaikum, Pak Usman, ada apa ramai seperti ini?" tanya Raffa yang sejak kedatangannya di rumah Pak Usman dilanda penasaran karena hadirnya banyak orang. Terlebih akan suara jeritan yang menyayat hati bagi yang mendengarnya.Kedatangannya sebagai salam perpisahan dengan Layla menjadi berubah saat ia melihat sosok yang dicintainya berada dalam kondisi yang memprihatinkan.Layla terlihat lebih kurus dengan penampilan yang sangat berantakan. Wajah sembab dengan lingkaran hitam di sekitar mata, serta hijabnya yang acak-acakkan membuat hati Raffa mencelos seketika."Ada apa, Di?" tanya Raffa kepada Ardi disaat tak ada yang menjawab pertanyaannya.Dengan ragu, Ardi menyerahkan ponsel Nisa yang masih berada di tangannya, "Bang Raffa.. bisa perhatikan apa foto ini asli atau editan?"Raffa menatap ponsel tersebut, lalu matanya membulat tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Dalam hati, ia mengucap istigfar dengan benak yang mencelos mendengar isak Layla yang tak jauh darinya.
Di depan sana, muncul Nisa yang dengan wajah penuh amarahnya menghampiri Pak Usman yang terkejut. Perempuan itu tanpa mengucapkan salam dan malah meneriaki nama anaknya langsung menerobos masuk tanpa sopan santun.Ustadz Khairil yang saat itu tenga berbincang ringan dengan Pak Usman ikut terkejut dan melihat kembali perempuan yang waktu itu ada dalam kejadian yang menimpa menantunya."Ada apa kamu datang kesini langsung marah-marah?!" tanya Usman berang. Usman yang sudah tahu akan kejadian yang menimpa anaknya merasa marah karena Nisa datang mengacau disaat kondisi Layla masih terpuruk.Fatma dan Firda terlihat jeluar dari kamar untuk mengetahui penyebab kegaduhan terjadi."Mana anak perempuan bapak yang sok suci itu?! Aku harus memberi pelajaran kepada perempuan gatal itu!""Bicara apa kamu?! Mulut kotormu tidak pantas mengata-ngatai anakku!" ujar Usman dengan dada yang naik turun pertanda tengah emosi."Mulut kotorku jauh lebih
Sudah dua hari Raffa menghabiskan waktunya di rumah sakit. Kondisi bapaknya yang belum sadar membuatnya begitu khawatir dan berharap sang bapak segera sadar. Hari ini seharusnya ia kembali ke Jogja untuk kembali melakukan rutinitas mengajarnya disana. Namun karena keadaan darurat seperti ini, Raffa bersama Aleea memutuskan untuk menunda keberangkatannya beberapa hari. Saat ini Raffa tengah sendirian menunggu Sudirman di ruang rawatnya. Aleea sendiri saat ini masih berada di rumah sebelum siang nanti ia datang dan mengganti Raffa berjaga sementara pamannya itu beristirahat di rumah. Raffa menghela nafas gusar, entah kenapa ia merasa gelisah tanpa alasan. Lelaki itu kemudian menatap bapaknya yang terbaring di atas ranjang, mungkin karena sang bapak yang belum juga sadar, menjadikan perasaannya semakin gelisah tak menentu. Tak lama, pintu diketuk, lalu terbuka menampakkan dua orang yang dikenalnya. Salma, sang kakak nampak berjalan menghampiri ranjang bapaknya. Anak pertama Sudirm







