ANMELDEN"Apa yang sedang kamu lakukan?" tegur Zayn dengan suara berat dan dingin.Alya yang tadi duduk santai kini menoleh dengan sedikit terkejut. Ia melihat Zayn menatapnya tajam, namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan keberaniannya."Zayn," Ia berdiri sembari mengulas senyum. "Aku baru selesai ngobrol sama Kakek.""Kalau begitu keluar." Zayn melangkah dari arah kamar mandi menuju lemari pakaian. Ia sama sekali tidak peduli pada Alya, menganggapnya tak ubahnya angin lalu."Mmm, memangnya tidak bisa kalau main bersamamu? Dulu kamu suka catur, kan? Belakangan ini aku sudah belajar, loh. Bagaimana kalau--""Aku tidak perlu menyeretmu keluar, kan?" Zayn mendesah bosan, melirik Alya dengan tatapan penuh peringatan. Nada suaranya terdengar makin berat dan menekan, namun gadis itu tetap bebal dan terus mencari alasan agar bisa berlama-lama di sana."Hey, Zayn! Kamu kasar sekali padaku," keluh Alya sembari memasang wajah cemberut yang dibuat-buat manja. "Aku akan bilang pada Kakek kalau
Azalea masih mematung di teras rumah. Matanya menangkap gelagat aneh dan mencurigakan dari gesture sang ayah serta Alya. Ia terus menatap ke arah mobil Zayn sampai kendaraan mewah itu melaju dan lenyap dari pandangan. Ada rasa berat yang perlahan mengganjal di dadanya."Apa ada acara khusus di rumah Zayn, Ayah?" tanya Azalea begitu Marvel melangkah kembali mendekatinya."Tidak ada acara apa-apa. Hanya saja Kakek Adinata ingin bertemu dengan Alya, mereka memang biasa mengobrol santai," jawab Marvel tenang tanpa curiga."Oh... Jadi Zayn tinggal bersama kakeknya juga? Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya?"Marvel mengangkat sebelah alisnya, agak terkejut dengan pertanyaan mendadak itu. "Orang tua? Zayn itu sudah yatim piatu. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal."Langkah kaki Azalea melambat. Penjelasan singkat dari sang ayah membuat benaknya terus berputar mencoba mencerna. Zayn... tidak punya orang tua?Kabar tersebut membuat Azalea tertegun. Selama ini, ia kira Zayn mem
"Zayn," Azalea dengan cepat menarik lengan Zayn, berusaha menghentikan ketegangan di hadapan Haikal. "Lebih baik kita pulang sekarang." Gadis itu benar-benar menggeret Zayn pergi menjauh, memutus jarak sebelum keributan fisik pecah di koridor. "Lihat, kan? Meski statusnya hanya seorang babu, Zayn tetap mengklaim Lea sebagai miliknya. Jadi lebih baik kamu mulai menjaga jarak darinya. Tidak perlu sok dekat jika memang tidak ada hal penting!" kata Naura dengan senyuman mencibir, berusaha memprovokasi. Haikal tidak terpengaruh sedikit pun oleh kalimat itu. Seharusnya, orang yang paling terpukul dan kecewa di sini adalah Naura sendiri, sebab sejak awal kedatangannya, Zayn bahkan tidak melirik atau memandangnya sekilas pun! "Hm, aku mengerti," sahut Haikal dingin. Kali ini ia mengukir senyum miring dengan tatapan mata yang sulit diartikan. "Aku pulang dulu." "Tunggu, Haikal! Kamu tidak berniat mengantarku pulang?!" Naura bergegas menyusul langkah Haikal dan menyambar lengannya.
"Kerja bagus," bisik Zayn rendah saat tongkat sepenuhnya berpindah ke tangannya. Tanpa membuang waktu seakan baru saja diisi energi penuh, Zayn melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya. Langkah kakinya yang panjang dan penuh daya dengan cepat melewati pelari terakhir tim lawan, mendominasi lintasan lurus hingga akhirnya memotong pita finish. Meski hanya sebatas simulasi, euforia kemenangan tetap terpancar begitu kuat di antara mereka. Anggota tim Zayn yang lain berbondong-bondong mendekati pemuda itu, berjingkrak riang dan bersorak merayakan hasil akhir. Azalea yang berdiri persis di samping Zayn pun ikut larut dalam kegembiraan, ia menggegam lengan Zayn dengan tawa lepas. "Kamu terlihat sangat senang, hm? Ini baru latihan, kemenanganmu yang sebenarnya harus kamu raih besok," bisik Zayn rendah. Tanpa diduga, tangannya melingkar santai di pinggang Azalea, menarik lembut tubuh gadis itu hingga makin merapat ke sisinya. Siswa yang lain tidak menyadari gerakan sa
"Terserah saja kalau menurutmu begitu," jawab Zayn santai, tanpa beban.Bersamaan dengan itu, Haikal tiba dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan eksklusif. Varan dan Varel bergegas mendekat untuk menyambut kedatangannya."Hei, Bro!" Varan langsung melemparkan salam persahabatan berupa pukulan pelan di pundak pemuda itu."Selamat datang kembali!" sapa Ezra yang ikut mendekat, lalu merangkul akrab bahu Haikal. "Aku berharap kesalahpahaman yang berlalu sudah cukup jadi pelajaran untuk kita."Haikal menyunggingkan senyum miring, membalas dengan ekspresi wajar dan datar."Sejak awal kita memang tidak pernah bermasalah," ujarnya tenang, enggan menciptakan kekakuan di antara mereka.Bagaimanapun juga, Haikal sadar bahwa ia memang pernah berbuat salah. Hanya saja, ia merasa kesalahan yang dilakukannya waktu itu bukan semata-mata ditujukan pada Ezra ataupun Zayn, melainkan pada Azalea yang notabene bukan anggota resmi ruang eksklusif, walapun Zayn selalu pasang badan membela gadis itu
Azalea tampak terkejut. Ia bahkan refleks memalingkan wajah dan menatap Zayn lekat-lekat, berusaha mencari kepastian apakah pemuda itu sekadar bercanda atau tidak. Namun, raut wajah Zayn di sampingnya tetap tenang dan santai. "Lea, apa kamu masih ingat detail perjanjian kontrak kita? Setiap hal yang kamu lakukan harus berada atas izin dariku."Azalea mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tidak menyahut. Ia mengingat poin itu dengan sangat jelas."Lalu, kenapa belakangan ini kamu justru bertindak sesuka hati? Apa ponselmu sudah tidak berfungsi lagi? Sampai tidak bisa memberi kabar sama sekali?""Tapi Zayn, soal itu... aku hanya tidak ingin mengganggumu. Karena kamu tidak pernah memintaku datang dan tidak pernah menghubungi lebih dulu, jadi aku pikir—"Azalea sejujurnya mengira Zayn memang sedang tidak membutuhkan keberadaan babunya lagi. Perlu diingat, belakangan ini di sekolah Zayn terbilang sangat jarang memanggil atau menyuruh Azalea mendekat."Oh, jadi kamu sudah kehilangan inis
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--







