LOGINAzalea memutuskan keluar dari apartemen karena Zayn yang tak kunjung membalas pesannya. Ia juga menolak percaya pada ucapan Alya, Azalea masih berharap jika foto itu hanya rekayasa meski terlihat sangat nyata. Namun selagi Zayn belum berkata apa pun, Azalea akan tetap menunggunya. Dreeet!Ponsel Azalea bergetar saat ia berjalan menuju lift. Nama Ezra tertera di layar sebagai pemanggil. "Halo, Ez, ada apa—""Lea, kamu sudah tahu kabar tentang Tante Marta?" potong Ezra terburu-buru."Tante Marta? Belum. Memang kenapa, Ez?" Dahi Azalea berkerut bingung, ia jadi ikut berdebar mendengar suara Ezra yang panik. "Tante Marta... dia hampir saja meninggal!""Apa?!" Azalea membelalak, tak percaya dengan pendengarannya. "Kamu bercanda, kan, Ez? Mana mungkin—""Lebih baik kamu ke butik Tante Marta sekarang. Cepat!"Nada bicara Ezra yang mendesak membuat Azalea tak sempat bertanya lebih lanjut. Ia bergegas menyusul ke butik Marta.Begitu tiba, suasana lokasi sudah ramai. Beberapa mobil
"Alya, kamu terus mengirimku pesan omong kosong. Kamu pikir aku akan percaya begitu saja? Mana Zayn? Kalau memang dia di sana, biarkan aku bicara--"Kalimat Azalea dipotong oleh tawa Alya yang cukup keras. "Sepertinya kamu sangat tidak percaya ya, tapi sayang banget tuh Zayn baru ajah keluar."Azalea tersenyum miring. Ia semakin yakin Alya hanya sedang mempermainkannya. "Oh. Baiklah, kalau begitu aku tutup teleponnya.""Haha, tunggu! Bukankah kamu masih ingin--"Panggilan diputus secara sepihak oleh Azalea. Tawa Alya semakin kencang, ia yakin ekspresi Azalea saat ini sangat menyedihkan. Di lain tempat, Rico berjalan ke ruang bawah tanah. Ia membawa makanan yang tak layak dimakan manusia lalu melemparnya begitu saja di lantai. Prak! Makanan di bungkusan itu jatuh dan tercecer di lantai, hanya seidkit yang tepat berada di piring. Di sudut ruangan yang lembap dan berbau apek itu, sosok Marvel terkapar tak berdaya di lantai yang kotor. Tubuhnya yang dahulu tegap kini tampak kuyu da
Zayn mengangkat telepon itu dengan berpindah dari duduknya. Cukup jauh hingga Azalea tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. "Lea--" Zayn kembali mendekat setelah menutup telepon, namun ia tetap berdiri dengan sikap gusar. "Aku harus pulang, Kakek sakit.""Kakek sakit?" Azalea ikut berdiri. "Lalu bagaimana dengan lukamu? Kamu juga masih sakit--""Tidak apa-apa aku bisa menahannya. Di rumah nanti ada dokter. Aku harus lihat kondisi Kakek." Zayn bersiap pergi, ia lihat Azalea yang tampak bingung dan takut. "Lea, kamu tidak apa-apa menginap di sini sendiri kan?"Azalea mematung, ia ragu jika harus berada di tempat ini tanpa Zayn. Ia mendongak, menatap Zayn berharap pemuda itu sedikit peka untuk mengantarnya pulang saja. "Kalau kamu tidak ada, untuk apa aku di sini?""Besok libur, Lea. Aku akan segera kembali, atau paling lambat besok pagi," tegas Zayn tidak sedikit pun membahas ingin mengantar Azalea pulang. "Tapi, Zayn--""Tidurlah. Aku tidak punya waktu untuk mengant
Zayn tidak menjawab secara gamblang. Tadi di dalam gudang, ia memang sempat tersungkur akibat tinju telak Raven. Namun, kejatuhatannya itu justru membakar sisa-sisa amarahnya. Dengan sisa tenaga dan ego yang terluka, Zayn bangkit kembali dan membantai Raven tanpa ampun hingga lawannya itu tak sanggup berdiri lagi sampai hitungan sepuluh berakhir. Zayn menang, hanya saja, saat Azalea bertanya di luar gudang tadi, Zayn memilih diam karena emosinya masih belum berakhir. "Aku tidak pernah kalah dari bajingan itu, Lea," ucap Zayn penuh penekanan. Cengkeramannya pada roda kemudi makin mengencang. "Raven tidak punya hak apa pun atas kamu. Pertandingan itu selesai, dan aku yang menang."Azalea menatap Zayn tak percaya, campuran antara lega, marah, dan semakin terkejut dengan jalan pikiran Zayn "Kalau kamu memang menang, kenapa tadi kamu diam saja saat aku tanya?!"Zayn tersenyum miring. "Itu karena sejak awal kamu menganggapku kalah. Jadi aku enggan bicara."Azalea menarik napas dalam-d
Sementara itu tak jauh dari sana, sebuah mobil hitam terparkir tanpa lampu menyala. Rico bersama dua anak buahnya sudah sejak tadi mengintai pergerakan Zayn dan Azalea dari kejauhan tanpa menarik perhatian. "Bos, mereka pergi," ucap salah satu anak buah Rico seraya menunjuk mobil Zayn yang melesat pergi meninggalkan pelataran. Rico terkekeh rendah, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum miring yang penuh arti. "Biarkan saja dulu, aku yakin mereka hanya akan menghabiskan waktu untuk bertengkar," sahut Rico tenang, menikmat kekacauan yang baru saja terjadi. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara, menatap jalanan kosong yang baru saja dilewati mobil Zayn. Bagi Rico, kehancuran hubungan Zayn dan Azalea dari dalam adalah pemandangan yang sangat menguntungkan. "Yang penting... selalu awasi pergerakan Zayn," lanjut Rico dengan nada dingin dan penuh penekanan. "Tunggu sampai dia benar-benar lengah." Dua anak buahnya mengangguk. "Kurasa Zayn s
Azalea termenung di sudut luar gudang tua yang remang-remang, masih didampingi Jeje dan Ezra yang tampak merasa bersalah. Suara riuh penonton di dalam bangunan tua itu samar-samar masih terdengar memekakkan telinga."Kenapa kamu tidak bilang padaku, Ez? Harusnya pertandingan konyol ini tidak perlu ada," kata Azalea dengan raut wajah tegang.Ezra tergagap, salah tingkah. "Bukan begitu, Lea. Kamu tahu sendiri, Zayn kalau sudah mengambil keputusan tidak bisa diubah. Dan dia memintaku untuk diam... ."Ezra sama sekali tidak berdaya. Meski ia takut, teman-temannya jelas menekan dan memintanya untuk bungkam dari Azalea.Azalea menghela napas berat, merasakan kepalanya makin berdenyut nyeri.Jeje mengusap pundak Azalea untuk menenangken sahabatnya itu. "Sabar ya, Lea... .""Aku hanya merasa ini sangat konyol," Azalea berucap getir. "Raven bahkan bukan anggota inti Black Viper, tapi Zayn justru menantangnya. Apa yang sebenarnya kalian pertaruhkan di dalam sana?"Azalea kembali menata
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--







