登入Erangan Heri kian berat saat rahangnya mengetat menahan kenikmatan dari hisapan mulut Sintya yang tanpa ampun.Tidak sanggup lagi menahan gejolak pekat di dalam dadanya, tangan besar Heri menyambar kedua ketiak Sintya, mengangkat tubuh wanitanya berdiri dari lantai secara paksa.Heri menyudutkan Sintya ke dinding dingin di sebelah meja kerja. Tanpa memberi jeda bernapas, Heri berlutut di hadapan Sintya.Pria bertubuh tegap itu memisahkan kedua paha mulus wanitanya, menyandarkan satu paha Sintya di bahu kekarnya, lalu melesakkan lidah tebalnya kembali menjejaki liang intim Sintya yang masih basah bersimbah cairan orgasme sebelumnya.SLURP! SLURP!"AAAGHH! HERI! SSSH... FUCK!" Sintya menjerit histeris, kedua tangannya mencengkeram erat dinding di belakangnya.Lidah Heri bermain brutal, menjilat dan menyedot klitoris Sintya dengan tempo cepat yang langsung menyengat saraf kewarasannya.Tubuh Sintya berguncang hebat, panggulnya bergerak-gerak liar menolak sekaligus menagih siksaan lidah p
Sensasi gairah yang membakar seketika menyapu habis sisa-sisa kewarasan di dalam ruang kerja itu.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Heri menyambar pinggang ramping Sintya, menyapu bersih tumpukan berkas di atas meja kayu mahoni hingga berserakan ke lantai, lalu merebahkan tubuh mulus wanitanya di atas permukaan meja tebal tersebut.BRAK!"AAKH! HERI!" Sintya menjerit kecil, matanya membola liar saat Heri langsung mengurung tubuhnya dari atas, menindihnya dengan dominasi jantan yang teramat pekat.Tanpa memberi kesempatan untuk bernapas, Heri memajukan wajahnya dan melumat bibir Sintya secara brutal.Ciuman panas yang saling bertukar saliva pecah bergemuruh. Lidah Heri menerobos masuk, mengaduk bagian dalam mulut Sintya dengan sapuan liar yang langsung membuat wanitanya mengerang pasrah.Tangan besar Heri bergerak cepat menyebakkan pakaian Sintya, merobek kancing yang menghalangi hingga dua gundukan dada indah nan kenyal itu terpampang bebas di depan matanya.Heri merendahkan kepala
Heri menggeleng tegas. Sepasang mata elangnya menatap Sintya dengan cengkeraman rahang yang amat kaku.Tangan besarnya yang berurat meremas lembut kedua bahu Sintya, menyalurkan penolakan mutlak yang tidak bisa dibantah."Nggak," potong Heri cepat dengan suara beratnya yang amat menekan. "Aku nggak setuju. Itu terlalu berbahaya buat kamu, Sintya."Sintya sedikit tersentak. "Tapi Heri, kalau aku pura-pura terkontaminasi omongan dia—""Jangan!" sergah Heri memotong kalimat Sintya sebelum selesai."Mereka itu bukan orang bodoh. Justru dari awal, Mayang mendekati kamu bukan cuma buat memprovokasi, tapi buat memancing kamu supaya melangkah keluar dari lingkaran perlindungan aku."Sintya terdiam, bibirnya sedikit terbuka menatap wajah tegas Heri yang dipenuhi kewaspadaan tingkat tinggi."Suryo dan Reno itu sedang memasang umpan," lanjut Heri dengan nada suara yang makin dingin dan taktis."Mereka sengaja pakai Mayang buat bikin kamu emosi dan ambil keputusan nekat. Kalau kamu pura-pura perc
Pintu ruang kerja Heri terbuka. Sintya melangkah masuk dengan raut wajah yang masih menyimpan kekesalan.Setelah mengantar Nathan kembali ke apartemen, wanita itu langsung meluncur ke restoran untuk menemui Heri.Heri yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya langsung mendongak. Sepasang mata elangnya menangkap gestur gusar dari wanitanya.Pria bertubuh tegap itu memutar langkah, menghampiri Sintya dan menyambutnya dengan sentuhan lembut di kedua bahunya."Kamu kenapa, Sayang? Kok mukanya cemberut begitu?" tanya Heri dengan suara bariton rendahnya yang menenangkan.Sintya menghela napas panjang, kalu mendudukkan dirinya di sofa kulit ruang kerja Heri."Aku habis dari sekolah Nathan, Heri. Tadi, si Mayang datang lagi ke sana. Aku nggak tahu ya, sebenarnya dia ke sana itu lagi mengantar anaknya sekolah juga atau ada urusan lain."Heri menyunggingkan senyum tipis, lalu ikut duduk di samping Sintya. Tangan besarnya merayap, menggenggam jemari Sintya yang terasa agak dingin."Dia jemput a
Siang itu, parkiran sekolah swasta internasional tempat Nathan menuntut ilmu tampak dipadati jajaran mobil-mobil mewah milik para wali murid.Sintya turun dari mobilnya dengan anggun, mengenakan blus krem elegan dan kacamata hitam yang bertengger manis di wajah cantiknya.Wanita itu mengunci mobil, lalu melangkah tenang menuju area penjemputan siswa tingkat SMP.Namun, baru beberapa langkah Sintya berjalan menelusuri koridor samping, sebuah bayangan wanita berpenampilan mencolok langsung menghadang jalannya."Duh, yang lagi sibuk jadi ibu rumah tangga tangga baru. Senang banget ya keliatannya?"Sintya menghentikan langkahnya, lalu melepas kacamata hitamnya perlahan, dan menatap dingin ke arah Mayang yang sedang berdiri menyilangkan tangan di atas dada dengan senyuman sinis.Sintya tidak membalas sapaan itu, hanya menatap Mayang dari atas ke bawah dengan raut wajah datar.Mayang melangkah mendekat, memangkas jarak sembari memutar bola matanya malas."Aku cuma kasihan aja sih sama kamu,
Dua hari kemudian, ketukan di pintu ruang kerja Heri terdengar dua kali dengan nada terburu-buru sebelum Maman melangkah masuk.Maman langsung mengunci pintu tebal dari dalam, lalu berjalan cepat menghampiri meja kerja Heri dengan raut wajah amat serius. Ia menghempaskan sebuah map cokelat tebal tepat di hadapan sahabatnya."Aku dapat informasi krusial, Her," ucap Maman dengan suara setengah berbisik, lalu mengambil tempat duduk di depan Heri.Heri yang tadinya sedang mengoreksi laporan keuangan restoran langsung menegakkan punggung tegapnya.Sepasang mata elangnya meredup tajam, mengunci pandangan pada map di atas meja."Soal Mayang?" tanya Heri pendek dengan suara bariton rendah."Bukan cuma Mayang, tapi pria yang menampung dia selama ini," sahut Maman sembari membuka lembar pertama dokumen tersebut."Namanya Suryo. Pria paruh baya, pejabat daerah berpengaruh di kota ini. Jaringannya luas banget, dari mulai pengadaan proyek pemerintah, perizinan hukum, sampai bisnis gelap di balik l
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri







