LOGIN"Duduk," perintah Nathan halus namun sarat wibawa.Alya menurut tanpa bantahan. Gadis itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Kakinya yang tak beralas menyentuh karpet tebal yang empuk.Gaun katun tipisnya sedikit tersingkap, namun Alya tak lagi sibuk merapikannya.Tatapan matanya yang sedikit sayu dan lelah terkunci rapat pada sosok Nathan yang berdiri menjulang di hadapannya.Nathan melepas jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas nakas dengan denting halus.Pria itu kemudian bertumpu pada satu lututnya di atas lantai, berlutut tepat di hadapan Alya yang terduduk.Posisi itu membuat tatapan mata mereka kini sejajar. Nathan mengulurkan kedua tangannya, merapikan helai demi helai rambut Alya yang berantakan menempel di pipinya yang masih kemerahan."Masih mau lari dari gue, Al?" tanya Nathan dengan suara bariton yang berat dan tenang. Ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir Alya yang sedikit terbuka.Alya menggeleng pelan. Kepolosan di matanya kini bercampur dengan kepasrahan mu
Napas Alya masih terengah-engah, memburu cepat di tengah keheningan penthouse yang temaram.Kedua bahunya naik-turun kencang, menahan gelombang gairah dan rasa frustrasi yang sengaja digantung oleh Nathan.Nathan menatap pemandangan itu dengan sudut mata pekatnya, menikmati setiap detik kehancuran pertahanan emosi gadis yang berada di bawah cengkeramannya.Tanpa mengucap sepatah kata pun, Nathan mengulurkan tangannya, merengkuh pinggang mungil Alya, lalu mengangkat tubuh ringan gadis itu dalam satu gerakan mudah."N-Nathan! Mau dibawa ke mana?!" pekik Alya terkejut seraya refleks mengalungkan kedua tangannya di bahu kokoh Nathan.Nathan tidak menjawab. Langkah kakinya yang mantap membawa Alya melintasi lantai marmer menuju area dapur bersih berkonsep island bar.Dengan santai namun tegas, Nathan mendudukkan Alya di atas meja marmer dingin berpermukaan hitam mengilat tersebut.Kedudukan Alya yang kini lebih tinggi membuat posisi wajah mereka hampir sejajar.Sebelum Alya sempat menarik
Mobil sport Nathan meluncur mulus memasuki pelataran parkir bawah tanah gedung penthouse eksklusif di pusat kota.Nathan melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Alya yang duduk membisu dengan telapak tangan saling meremas di atas pangkuan."Turun," perintah Nathan singkat namun penuh penekanan mutlak.Alya menatap Nathan dengan binar mata ragu. "Nathan... ini kan tempat tinggal kamu. Nggak seharusnya aku—""Gue nggak suka ngulang perintah dua kali, Alya," pangkas Nathan dingin. Pria itu membuka pintu kemudi, melangkah keluar tanpa menunggu jawaban lagi.Mau tak mau, Alya melangkah keluar mengekor di belakang tubuh bidang sang pewaris Utama.Mereka menaiki lift pribadi berpanel kaca yang melesat cepat menuju lantai teratas.Begitu pintu lift terbuka langsung di dalam penthouse seluas tiga ratus meter persegi tersebut, keheningan mewah menyambut mereka.Lampu sorot temaram menyala otomatis, membiaskan pendaran cahaya hangat pada lantai marmer hitam dan dinding panel kayu.Di uju
Napas Alya menderu cepat, memburu di udara dingin yang dihembuskan pendingin kabin mobil sport milik Nathan.Tatapannya yang liar dan menuntut masih terkunci pada wajah tegap pria di hadapannya.Jarak yang sengaja digantung oleh Nathan tepat sepermil sebelum bibir mereka bertaut membuat seluruh jaringan saraf Alya terasa terbakar oleh hasrat dan rasa penasaran yang tak tersampaikan.Nathan menyandarkan punggungnya kembali ke jok kemudi dengan gerakan yang teramat tenang dan penuh perhitungan.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin, sebuah ukiran kemenangan dari seorang pemangsa yang paham betul bahwa mangsanya sudah bertekuk lutut sepenuhnya di bawah kendali emosinya."Kenapa? Muka lo kelihatan kecewa banget, Al," goda Nathan dengan suara baritonnya yang dalam.Pria itu menyilangkan lengan tegapnya di atas kemudi, menatap Alya dari samping dengan binar mata yang memojokkan.Alya menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Jemari tangannya yang tadi mencengkeram erat kau
Notifikasi pesan dari Alya yang menanyakan keadaannya masih mengambang di barisan atas.Jemari tebal Nathan yang kokoh mengusap tepian kemudi berlapis kulit, membiarkan ukiran senyum tipis yang dingin hadir di sudut bibirnya.Alih-alih mengetik balasan teks singkat yang membosankan, Nathan menekan ikon panggilan suara pada nama Alya.Ia mendekatkan ponsel ke telinga kanan, mendengarkan nada dering yang berbunyi dua kali sebelum akhirnya tersambung."N-Nathan?" Suara Alya terdengar dari balik speaker. Ada nada terkejut yang tertahan di sana, diiringi keheningan malam dari kediamannya. "Kenapa telepon? Kamu... udah sampai di rumah?""Turun ke depan pagar panti sekarang," ucap Nathan tanpa basa-basi. Suara baritonnya yang berat dan dalam memotong keraguan Alya secara mutlak."Hah? Sekarang? Tapi ini udah mau tengah malam, Nathan—""Gue di jalan ke tempat lo. Lima menit lagi sampai," pangkas Nathan santai. "Kalau lo nggak ada di depan pintu pagar pas gue sampai, gue yang bakal masuk ke ka
Jam dinding di lorong staf telah menunjukkan pukul sebelas malam. Suara hiruk-pikuk pelayanan dan denting piring dapur kini berganti dengan kesunyian yang tenang.Sebagian besar karyawan sudah membereskan stasiun kerja mereka dan bersiap untuk pulang.Nathan berdiri tegap di ambang pintu besi belakang yang menuju langsung ke area parkir VIP.Pria itu menyandarkan satu bahu bidangnya pada bingkai pintu, menikmati udara malam yang terasa dingin dan lembap setelah sisa hujan sore tadi.Sebuah rokok mint menyala diselipkan di antara dua bibirnya, memancarkan titik api merah yang sesekali terang saat Nathan menarik napas dalam-dalam. Asap putih tebal menguar dari hidung dan mulutnya, berbaur dengan angin malam.Langkah kaki halus berirama pelan terdengar mendekat dari dalam lorong. Nathan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma parfum vanilla manis yang familier sudah lebih dulu membelah udara di sekitarnya.Siska melangkah keluar dengan penampilan yang sudah berganti
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun







