Share

444.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-10-21 04:42:33

Pintu hidrolik tebal bergeser membuka perlahan ke samping, menghembuskan udara dingin bercampur aroma mesiu pekat dan ribuan lembar uang kertas baru.

Waktu di layar detonator pilar beton kini menunjukkan angka krusial: 00:02:15.

Di tengah ruangan brankas berkubah beton itu, Danang sedang kalap menjejalkan gepokan mata uang asing ke dalam koper aluminium besar. Tepat di sampingnya, Paman Hartono berdiri santai mengisap cerutu Kuba seraya mengawasi lilitan kabel peledak plastik C4 berkekuat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    448.

    Dekapan di atas kasur busa tipis itu perlahan meluruhkan sisa ketegangan yang membakar dada mereka. Napas Rendra yang semula memburu berat kini berangsur teratur, menyapu pucuk kepala Arini yang bersandar pasrah di ceruk lehernya. Pria bertubuh kekar itu menarik selimut kain sederhana hingga menutupi bahu porselen Arini, mengurung wanita itu dalam kehangatan tubuhnya yang kokoh tanpa membiarkan hawa dingin dini hari menyusup masuk. Arini memejamkan mata rapat-rapat, menikmati ketenangan langka yang tak pernah ia rasakan selama lima tahun terbelenggu dalam istana megahnya. Jemari lentiknya masih meraba perlahan garis bekas luka di punggung liat sang montir, merasakan setiap detak jantung Rendra yang berdenyut tenang bagai genderang perlindungan. "Mas Rendra..." bisik Arini lirih, suaranya parau memecah sunyi. Rendra menunduk sedikit, mengecup lembut kening Arini seraya menyisipkan helai rambut yang menutupi pelipisnya ke belakang telinga. "Tidurlah, Arini. Semuanya sudah selesai."

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    447.

    Rendra menarik tuas pintu geser besi bengkel ke bawah perlahan hingga dasarnya berdentang rapat menghantam lantai semen. Gembok baja besar dipasang dari arah dalam dengan bunyi klik yang solid, mengunci rapat seluruh dunia luar yang penuh intrik dan kebisingan di balik dinding seng tebal. Bengkel tua itu kini hening, hanya diterangi seberkas lampu bohlam kuning temaram yang menggantung di dekat meja perkakas. Arini berdiri mematung di tengah ruangan beraroma oli mesin dan pelarut karat, memeluk kedua lengannya sendiri seraya menatap sekeliling dengan binar mata yang berkilat lembut. Langkah kaki Rendra melangkah mendekat tanpa alas kaki, bayangan tubuh kekarnya yang menjulang menenggelamkan sosok ramping sang nyonya. "Ini tempat tinggal saya, Arini... jauh dari kata layak untuk nyonya besar seperti kamu," bisik Rendra seraya menatap gaun sutra Arini yang tampak begitu mewah di antara tumpukan roda gigi dan dongkrak hidrolik. Arini mengangkat pandangannya, menatap sepasang mata e

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    446.

    Deru mesin mobil bak ganda milik Rendra membelah dinginnya jalanan aspal menuju ruko bengkel di ujung gerbang komplek. Di dalam kabin yang sempit dan beraroma khas besi tua, keheningan di antara keduanya justru terasa sarat oleh letupan rasa yang belum usai. Arini duduk merapat di kursi penumpang, sesekali melirik jemari kekar Rendra yang mencengkeram lingkar kemudi. Tatapan mata elang pria itu tampak lurus menatap jalan, namun rahang tegasnya yang mengeras memperlihatkan pergolakan batin yang nyata setelah mendengar tantangan sang nyonya di beranda tadi. Namun, ketegangan manis itu seketika buyar begitu mobil berbelok memasuki pelataran bengkel. Lampu tembak mobil bak menyorot tepat ke arah sedan sport merah milik Clarissa yang terparkir melintang di depan pintu lipat besi. Wanita blasteran itu rupanya tidak benar-benar pulang. Clarissa berdiri bersandar di kap mobil mewahnya seraya melipat tangan di dada, mengenakan jaket kulit hitam yang membalut lekuk tubuh rampingnya dengan sa

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    445.

    Satu jam berselang, hiruk-pikuk sirene dan lampu rotator biru perlahan mereda di pelataran depan komplek Cemara Hijau. Garis polisi membentang di sekeliling gerbang mansion. Udara dini hari yang sejuk perlahan mengusir sisa bau gas air mata dari teras beranda marmer. Sejumlah petugas forensik masih sibuk mencatat barang bukti, sementara beberapa tetangga komplek elit berdiri di kejauhan dengan tatapan ingin tahu yang tertahan. Di undakan tangga teras samping yang sepi, Rendra duduk bersandar pada pilar seraya menyalakan sebatang rokok. Kaos hitamnya berdebu dan sobek di bagian lengan kiri, memperlihatkan luka gores memanjang yang mengeringkan bercak darah tipis akibat pecahan kaca tabung gas. Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat. Arini muncul membawa sebuah kotak pertolongan pertama kecil dan sebaskom air hangat. "Duduk diam dan jangan bergerak," titah Arini dengan nada suara yang berusaha terdengar galak, meski matanya masih tampak sembab. Rendra mendongak, tersenyum

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    444.

    Pintu hidrolik tebal bergeser membuka perlahan ke samping, menghembuskan udara dingin bercampur aroma mesiu pekat dan ribuan lembar uang kertas baru. Waktu di layar detonator pilar beton kini menunjukkan angka krusial: 00:02:15. Di tengah ruangan brankas berkubah beton itu, Danang sedang kalap menjejalkan gepokan mata uang asing ke dalam koper aluminium besar. Tepat di sampingnya, Paman Hartono berdiri santai mengisap cerutu Kuba seraya mengawasi lilitan kabel peledak plastik C4 berkekuatan tinggi yang terpasang rapi di empat pilar penyangga utama. "Paman yakin bom militer ini cukup untuk menghanguskan jasad Arini dan montir sialan itu tanpa menyisakan bukti forensik?" tanya Danang dengan tawa parau yang bergetar serakah bercampur panik. "Dua ratus kilogram C4 akan melumat mansion ini menjadi kawah sedalam lima meter, Danang," sahut Hartono santai seraya menghembuskan asap kelabu ke udara. "Polisi dan publik hanya akan mencatat peristiwa ini sebagai ledakan kebocoran pipa ga

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    443.

    Kedua tangan lentik Arini merayap naik ke dada bidang Rendra yang hanya berbalut kaos hitam lembap oleh peluh. Jemari lentiknya mencengkeram kain kaos itu, merasakan otot-otot dada yang liat dan denyut nadi pria perkasa yang bertalu kencang seirama dengan detaknya sendiri. Rasa takut akan kematian seketika lenyap, tergantikan oleh dahaga asmara yang membuncah tak tertahankan di ulu hatinya. Rendra menggeram rendah di tenggorokannya. Napas panasnya menyapu kulit pipi Arini saat ia menundukkan wajahnya, memangkas sisa udara di antara bibir mereka. "Kamu membuat saya lupa kalau kita sedang dikepung maut, Arini," bisik Rendra sebelum melabuhkan bibir tegasnya ke atas bibir ranum sang nyonya. Ciuman itu mendarat begitu dalam, sarat akan rasa kepemilikan yang liar namun dilandasi kelembutan seorang pelindung sejati. Arini melenguh panjang di dalam mulut Rendra, membuka bibirnya dan membiarkan lidah sang montir menerobos masuk menyapu rongga mulutnya dengan kehangatan maskulin yang m

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    6. Pak Bram Selingkuh?

    Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    5. Malam Panas

    "I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    4. Mimpi Basah

    Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    3. Pijat Aku

    Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status