Share

444.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-10-21 04:42:33

Pintu hidrolik tebal bergeser membuka perlahan ke samping, menghembuskan udara dingin bercampur aroma mesiu pekat dan ribuan lembar uang kertas baru.

Waktu di layar detonator pilar beton kini menunjukkan angka krusial: 00:02:15.

Di tengah ruangan brankas berkubah beton itu, Danang sedang kalap menjejalkan gepokan mata uang asing ke dalam koper aluminium besar. Tepat di sampingnya, Paman Hartono berdiri santai mengisap cerutu Kuba seraya mengawasi lilitan kabel peledak plastik C4 berkekuat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    446.

    Deru mesin mobil bak ganda milik Rendra membelah dinginnya jalanan aspal menuju ruko bengkel di ujung gerbang komplek. Di dalam kabin yang sempit dan beraroma khas besi tua, keheningan di antara keduanya justru terasa sarat oleh letupan rasa yang belum usai. Arini duduk merapat di kursi penumpang, sesekali melirik jemari kekar Rendra yang mencengkeram lingkar kemudi. Tatapan mata elang pria itu tampak lurus menatap jalan, namun rahang tegasnya yang mengeras memperlihatkan pergolakan batin yang nyata setelah mendengar tantangan sang nyonya di beranda tadi. Namun, ketegangan manis itu seketika buyar begitu mobil berbelok memasuki pelataran bengkel. Lampu tembak mobil bak menyorot tepat ke arah sedan sport merah milik Clarissa yang terparkir melintang di depan pintu lipat besi. Wanita blasteran itu rupanya tidak benar-benar pulang. Clarissa berdiri bersandar di kap mobil mewahnya seraya melipat tangan di dada, mengenakan jaket kulit hitam yang membalut lekuk tubuh rampingnya dengan sa

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    445.

    Satu jam berselang, hiruk-pikuk sirene dan lampu rotator biru perlahan mereda di pelataran depan komplek Cemara Hijau. Garis polisi membentang di sekeliling gerbang mansion. Udara dini hari yang sejuk perlahan mengusir sisa bau gas air mata dari teras beranda marmer. Sejumlah petugas forensik masih sibuk mencatat barang bukti, sementara beberapa tetangga komplek elit berdiri di kejauhan dengan tatapan ingin tahu yang tertahan. Di undakan tangga teras samping yang sepi, Rendra duduk bersandar pada pilar seraya menyalakan sebatang rokok. Kaos hitamnya berdebu dan sobek di bagian lengan kiri, memperlihatkan luka gores memanjang yang mengeringkan bercak darah tipis akibat pecahan kaca tabung gas. Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat. Arini muncul membawa sebuah kotak pertolongan pertama kecil dan sebaskom air hangat. "Duduk diam dan jangan bergerak," titah Arini dengan nada suara yang berusaha terdengar galak, meski matanya masih tampak sembab. Rendra mendongak, tersenyum

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    444.

    Pintu hidrolik tebal bergeser membuka perlahan ke samping, menghembuskan udara dingin bercampur aroma mesiu pekat dan ribuan lembar uang kertas baru. Waktu di layar detonator pilar beton kini menunjukkan angka krusial: 00:02:15. Di tengah ruangan brankas berkubah beton itu, Danang sedang kalap menjejalkan gepokan mata uang asing ke dalam koper aluminium besar. Tepat di sampingnya, Paman Hartono berdiri santai mengisap cerutu Kuba seraya mengawasi lilitan kabel peledak plastik C4 berkekuatan tinggi yang terpasang rapi di empat pilar penyangga utama. "Paman yakin bom militer ini cukup untuk menghanguskan jasad Arini dan montir sialan itu tanpa menyisakan bukti forensik?" tanya Danang dengan tawa parau yang bergetar serakah bercampur panik. "Dua ratus kilogram C4 akan melumat mansion ini menjadi kawah sedalam lima meter, Danang," sahut Hartono santai seraya menghembuskan asap kelabu ke udara. "Polisi dan publik hanya akan mencatat peristiwa ini sebagai ledakan kebocoran pipa ga

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    443.

    Kedua tangan lentik Arini merayap naik ke dada bidang Rendra yang hanya berbalut kaos hitam lembap oleh peluh. Jemari lentiknya mencengkeram kain kaos itu, merasakan otot-otot dada yang liat dan denyut nadi pria perkasa yang bertalu kencang seirama dengan detaknya sendiri. Rasa takut akan kematian seketika lenyap, tergantikan oleh dahaga asmara yang membuncah tak tertahankan di ulu hatinya. Rendra menggeram rendah di tenggorokannya. Napas panasnya menyapu kulit pipi Arini saat ia menundukkan wajahnya, memangkas sisa udara di antara bibir mereka. "Kamu membuat saya lupa kalau kita sedang dikepung maut, Arini," bisik Rendra sebelum melabuhkan bibir tegasnya ke atas bibir ranum sang nyonya. Ciuman itu mendarat begitu dalam, sarat akan rasa kepemilikan yang liar namun dilandasi kelembutan seorang pelindung sejati. Arini melenguh panjang di dalam mulut Rendra, membuka bibirnya dan membiarkan lidah sang montir menerobos masuk menyapu rongga mulutnya dengan kehangatan maskulin yang m

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    442.

    Kabut asap putih dari tabung gas air mata menyembur liar, menyengat hidung dan membuat mata pedih membakar dalam hitungan detik. Kepanikan seketika meremukkan wibawa para petinggi keluarga Adiningrat. Paman Hartono terbatuk-batuk parah seraya diseret panik oleh pengawalnya menuju lorong belakang, sementara pekikan tertahan Nyonya Mirna tenggelam di balik suara pecahan kaca jendela yang dihantam laras senjata. Rendra tidak membuang waktu sedetik pun. Sebelum kepulan gas pekat menelan kesadaran mereka, lengan kekar sang montir menyambar pinggang Arini, mendekap tubuh ramping wanita itu ke dalam rengkuhan dadanya dan menariknya menerobos lorong gelap menuju ruang kerja mendiang ayahnya. Klek. Grendel pintu jati tebal dikunci rapat dari dalam. Ruangan itu kedap dan temaram, hanya menyisakan bias pucat cahaya rembulan yang menyelinap dari ventilasi tinggi di atas rak buku. Di sudut sempit antara dinding pualam dan lemari arsip kayu, Rendra menyandarkan punggungnya, menarik tubuh Arini

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    441.

    Kilatan logam kelabu dari moncong peredam suara itu memantulkan cahaya lampu gantung, membidik lurus ke rongga dada Rendra tanpa getaran sedikit pun. Napas Arini tercekat di tenggorokan saat insting purbanya meledak, menolak melihat pria yang baru saja menyelamatkannya tewas bersimbah darah di lantainya sendiri. Tanpa memikirkan keselamatannya, Arini melompat maju menempatkan tubuh rampingnya tepat di antara laras senjata dan dada bidang Rendra. "Tembak aku dulu kalau kamu berani, Paman!" pekik Arini dengan suara melengking tajam yang mengguncang seisi ruangan. Kedua lengan sang nyonya terentang lebar melindungi Rendra, sementara sepasang matanya menyala menantang sang mantan pejabat tinggi. Hartono tidak bergeming, bibir tipisnya hanya menyunggingkan seringai meremehkan melihat keberanian keponakannya. "Singkirkan perempuan bodoh ini," titah Hartono dingin kepada pengawal berbadan tegap di sampingnya. Sebelum tangan sang pengawal sempat menyentuh bahu Arini, sebuah gerakan sec

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    2. Godaan Nyonya

    “Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    1. Puasin Aku

    "Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    6. Pak Bram Selingkuh?

    Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S

  • Rahasia Malam Sang Nyonya    5. Malam Panas

    "I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status