เข้าสู่ระบบJuned berjalan santai menuju kursi kerjanya, lalu mendudukkan diri dengan tenang."Itu mah tergantung Bu Ratna, Ca," ucap Juned seraya menyandarkan punggungnya di kursi. "Coba kamu tanyain lagi gih ke dia."Caca mendengus kesal, menghentakkan kakinya pelan di atas karpet ruangan. "Masa aku yang nanya duluan, Pak? Kan Bapak yang waktu itu nawarin!"Juned terkekeh pelan melihat wajah cemberut asistennya itu, lalu memajukan tubuhnya menopang dagu di atas meja."Ya udah, atau enggak nanti saya cariin rumah yang deketan sama rumah saya," potong Juned memberi solusi. "Biar gampang kalau mau bolak-balik."Mendengar tawaran itu, raut wajah Caca seketika melunak, digantikan binar penasaran."Beneran ya, Pak?" bisik Caca pelan seraya melangkah mendekati meja kerja Juned. "Awas kalau cuma janji manis doang."Juned mengangguk yakin seraya menyunggingkan senyum tipis. "Iya, beneran. Nanti saya yang urus."Caca tersenyum puas, membetulkan posisi rok kerjanya sebelum merapikan berkas di atas meja."
Juned menyandarkan tubuhnya di daun pintu, menyeringai tipis menatap Nayla yang gelagapan di balik selimut. "Lagi ngapain kamu, Nay?" tanya Juned santai, melangkah mendekat ke pinggir kasur. Nayla makin merapatkan selimut ke dadanya, menunduk malu dengan napas yang masih tersengal. "Gara-gara liat Mas Juned begituan sama Bu Ratna tadi..." bisik Nayla malu-malu, matanya melirik Juned sekilas. "Nayla jadi kepengen..." Juned terkekeh pelan, lalu menarik perlahan selimut yang menutupi tubuh gadis itu. "Ngapain main sendiri kalau ada Mas di sini?" goda Juned seraya mengusap lembut pipi Nayla yang terasa panas. Juned merayap naik ke atas kasur, menarik selimut yang menghalangi pandangannya hingga melemparnya ke ujung tempat tidur. Nayla langsung melebarkan kedua pahanya tanpa ragu, menatap Juned dengan pandangan menuntut dan napas yang memburu. "Gara-gara, mas... makin basah nih gara-gara nungguin kamu," keluh Nayla seraya menarik tengkuk Juned mendekat. Juned menyeringai, menunduk
Juned dan Ratna seketika saling dorong menjauh, merapikan baju mereka yang sempat berantakan dengan napas terengah-engah.Ratna menarik napas panjang untuk menetralkan rasa gugupnya, lalu melangkah santai menghampiri Nayla yang masih terpaku di pintu."Makasih ya, Nay," ucap Ratna seraya mengambil nampan berisi teh dan kopi itu dari tangan adiknya.Nayla mengangguk patah-patah dengan wajah polos yang memerah. "I-iya, Bu... Nayla balik ke kamar dulu," bisiknya seraya berbalik dan buru-buru keluar ruangan.Juned menghembuskan napas lega sambil menyandarkan punggungnya di kursi, namun pikirannya mendadak kalut dipenuhi rasa khawatir.Duh, dia liat apa enggak ya tadi? batin Juned gelisah, meski di sisi lain ia tahu kalau pun Nayla melihatnya, sebenarnya bukan masalah besar.Ratna meletakkan nampan berisi teh dan kopi ke atas meja kerja, lalu menghela napas panjang."Kita ngopi dulu aja deh, Ned, sambil ngobrol," ucap Ratna seraya menyerahkan cangkir kopi ke arah Juned. "Nayla kelihatan be
Juned mengusap matanya kasar, menatap layar ponsel itu sekali lagi dengan napas tertahan."Setan, salah aplikasi!" umpat Juned pelan sambil menepuk jidatnya sendiri.Pria itu buru-buru menutup aplikasi bank digital yang sudah lama tidak terpakai itu, lalu membuka aplikasi m-banking miliknya yang utama.Begitu kode akses dimasukkan dan saldo sebenarnya muncul sebesar puluhan juta rupiah, Juned menghembuskan napas lega seraya bersandar di kepala kasur."Bikin kaget aja," gumam Juned sambil terkekeh pelan memandangi saldonya yang ternyata aman-aman saja.Juned segera memindahkan uang dua belas juta rupiah ke rekening Desi tanpa membuang waktu.Begitu notifikasi transfer berhasil muncul, Juned melempar ponselnya sembarangan ke ujung kasur lalu merebahkan tubuhnya kembali.Nayla bergerak gelisah merasakan pergerakan di sampingnya, lalu mengerjap pelan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Juned."Mas... tadi jadi transfer ke Mbak Desi?" gumam Nayla serak, matanya masih setengah terpeja
Juned justru menyeringai nakal, makin memperdalam lumatannya di inti Nayla tanpa memedulikan pukulan lemah di bahunya."Oh, capek ya? Yaudah, Mas Juned di mana sekarang? Tadi Mbak telepon dia nggak diangkat," cecar Desi dari balik telepon.Nayla makin panik, meremas sprei kuat-kuat sambil memiringkan kepala, berusaha mati-matian menahan jeritan nikmat yang hendak pecah."M-Mas Juned... ahh... lagi di luar, Mbak... eunggh... katanya mau beli minum sebentar," bohong Nayla dengan suara bergetar dan napas terengah-engah."Nay? Kamu beneran nggak apa-apa? Suara kamu kayak nahan sakit gitu?" tanya Desi penuh keheranan.Juned semakin gencar memainkan lidahnya, membuat tubuh Nayla bergetar hebat di atas kasur."I-iya, Mbak... fhh... Nayla mau istirahat dulu ya, pusing banget..." potong Nayla cepat, lalu langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Desi.Nayla melempar ponselnya ke samping, lalu melepaskan desahannya yang sejak tadi tertahan. "Ahh! Mas Juned nakal banget, sih!"
Juned merebut ponsel dari tangan Nayla tanpa ragu, lalu melemparnya begitu saja ke atas sofa empuk di sudut ruangan."Biarin aja, nggak usah diangkat," ucap Juned dingin seraya menatap lurus ke arah Nayla.Sebelum Nayla sempat merespons, Juned langsung menarik pinggang ramping gadis itu dengan cepat.Nayla terkesiap kecil saat tubuhnya melayang, lalu jatuh telentang di atas kasur empuk resort dengan Juned yang langsung mengurung tubuhnya.Juned berlutut di tepi kasur, menarik perlahan pakaian bawah Nayla hingga terlepas sepenuhnya dari tubuh mulus gadis itu.Nayla menggeliat pelan, meremas seprei saat Juned mulai mendaratkan kecupan-kecupan hangat di sepanjang paha bagian dalamnya.Gairah Nayla kian memuncak ketika bibir Juned bergerak naik, merapat dan melumat area intinya dengan kecupan yang makin intens dan lihai."Ahh... Mas Juned... eungghh," desah Nayla tertahan, menengadahkan kepala dengan napas terengah-engah menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.Juned terus







