LOGIN
"Astaga, ini pasti salah lantai."
Alexa menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kaca berukir logo perusahaan yang megah. PT Daneswara Gemilang Enterprise. Tulisan itu terpampang dengan huruf emas berkilau di atas marmer putih. Tangan Alexa masih menggenggam erat map berisi berkas lamaran yang versi soft copy-nya sudah ia kirimkan tiga minggu lalu. Jantung gadis itu berdegup tidak karuan. Sebenarnya ia tidak gugup di hari pertamanya bekerja. Namun, ada firasat aneh yang tiba-tiba menyergap. Alexa menoleh ke kiri dan kanan. Koridor lantai 27 sangat lengang. Hanya ada dua pintu besar di ujung. Satu mengarah ke ruang rapat utama, yang lainnya lagi arah kantor direktur. Namun, bukan itu yang membuatnya merinding. Seperti ada sesuatu yang familiar. Alexa menggelengkan kepala. "Jangan paranoid, Alexa. Ini hanya hari pertama," gumamnya seolah memerintah diri sendiri. Gadis itu menarik napas panjang dan mendorong pintu kaca. Saat melangkah masuk, aroma kopi dan parfum mahal menyambutnya. Ruangan luas dengan meja-meja berwarna putih minimalis, kursi-kursi ergonomis, dan monitor besar di setiap sudut. Para pegawai yang sudah datang terlihat sibuk dengan laptop masing-masing. Beberapa menatapnya sekilas, lalu kembali ke layar di depannya. "Selamat pagi. Alexandria Nirmala?" Seorang wanita muda dengan blazer merah menghampirinya. "Saya Sari, HRD. Selamat datang di hari pertamamu." Alexa tersenyum lega. "Terima kasih, Mbak Sari." "Ayo, saya antar ke ruangan. Tim kreatif ada di ujung sana. Kamu akan di bawah supervisi langsung Pak Randu." Jantung Alexandria berhenti satu detik, lalu berdetak sangat kencang. "Pak Randu?" Suaranya bergetar tipis. Sari mengangguk. "Iya, Randu Daneswara. CEO sekaligus anak pemilik perusahaan. Jangan khawatir, beliau profesional, kok. Mungkin sedikit dingin, tapi asal kerjaan kita bagus, pasti diperlakukan adil." Alexa tidak mendengar kalimat terakhir Sari. Dunianya seperti berputar. Randu Daneswara. Apakah itu benar dia? Lalu, apa katanya tadi? Anak pemilik perusahaan? CEO? Tidak mungkin. Alexa memang beberapa kali mendengar dari teman-teman SMA dulu. Tentang keluarganya yang pindah lagi setelah Randu lulus. Bahwa lelaki itu kuliah di luar negeri dan menjadi ahli waris dari pemilik perusahaan besar. Namun, Alexa tidak pernah membayangkan jadi .... "Alexandria? Kamu baik-baik saja?" Sari menatapnya khawatir. "Wajahmu pucat." "Sa-saya baik-baik saja, Kak." Alexandria memaksakan senyum. "Cuma sedikit grogi hari pertama." Sari tertawa kecil. "Wajar. Ayo, ikut saya." Mereka berjalan melewati deretan meja. Alexa mencoba menenangkan diri. Mungkin yang akan ia temui bukan lelaki itu. Bisa jadi nama Randu memang cukup banyak di dunia ini. Tidak mungkin itu Randu yang dulu, kan? Dia yang meninggalkan Alexa tanpa pesan, dan bahkan tidak datang ke perpisahan sekolah. "Pak Randu, ini karyawan baru yang sudah saya infokan." Sari berhenti tepat di balik pintu setelah ia dan Alexa masuk. Alexa mengangkat kepala, dan semua harapan buyar. Di balik meja, seorang pria berdiri di dekat jendela dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh. Rambutnya yang dulu lurus dan sering tergerai sembarangan, kini tersisir rapi ke belakang. Rahangnya jadi lebih tegas. Matanya tetap sama, tajam dan dalam. Seperti dua lautan yang siap menenggelamkan siapa pun di depannya. Pria itu memindai Alexa dari atas ke bawah. Ia Randu yang sama, tetapi kali ini menatap dengan ekspresi kosong dan dingin. Sama sekali tidak menunjukkan pengakuan kalau mereka pernah terlalu akrab. Seolah gadis di depannya bukanlah siapa-siapa. Randu berjalan mendekat, lalu duduk di balik meja besar. Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan kayu. Tidak ada senyum atau sapaan hangat seperti dulu. Alexa bahkan masih ingat nada suaranya. "Hei, Alexa! Aku bawain susu kesukaanmu!" Yang ada kini hanya senyum tipis dan sinis. "Alexandria Nirmala." Randu membaca berkas di meja tanpa menatap gadis di depannya. "Lulusan Desain Komunikasi Visual, IPK 3.89, dan pernah magang di tiga perusahaan besar. Lumayan." "Terima kasih, Pak." Alexa menahan suara agar tidak bergetar. Akhirnya Randu mengangkat kepala. Mata lelaki itu menatap Alexa dengan tajam. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Pertanyaan itu seperti pisau. Alexa merasakan dadanya sesak. Randu pura-pura tidak kenal, atau ia benar-benar sudah melupakan semuanya? "Tidak, Pak," jawab Alexa cepat. "Saya yakin belum." Alis Randu terangkat tipis. "Hmm. Baiklah. Saya tidak suka karyawan yang bawa-bawa masa lalu. Apa pun itu. Di sini, kamu mulai dari nol. Paham?" Alexa mengangguk kaku. "Paham, Pak." "Sari, antar dia ke meja nomor tujuh." Randu kembali menatap layar komputernya. "Kamu Alexa ...." Ia berhenti. Alexa menahan napas. "Mejamu di sebelah pintu. Aku ingin melihat langsung hasil kerjamu hari ini. Buatkan proposal desain untuk klien baru. Deadline jam empat sore. Ada masalah?" "Tidak, Pak." Alexandria menggigit bibir bawahnya. Jam empat? Ini sudah pukul sembilan pagi! "Bagus. Silakan keluar sekarang dan kerjakan." Sari menarik lengan Alexa dengan hati-hati. Mereka meninggalkan ruangan itu. Saat pintu tertutup di belakangnya, Alexa hampir terjatuh. Dada gadis itu terasa seperti ditekan batu. "Kamu yakin nggak kenal Pak Randu?" Sari berbisik. "Dia aneh banget tadi. Biasanya kalau terima karyawan baru selalu ramah."Ia tidak menoleh. Enggan melihat Randu. Air sudah menggenang di matanya.Randu punya tunangan, tapi dia tidak pernah bilang.Sampai di meja kerjanya, Alexa langsung duduk diam. Laptop terbuka di depannya, tapi gadis itu tidak melihat apa-apa. Hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya."Aku Wina, tunangan Randu.""Kau baik-baik saja?"Alexandria menoleh. Farel berdiri di sampingnya dengan ekspresi khawatir."Kau pucat," lanjut Farel. "Apa kau sakit?""Aku baik-baik saja." Suara Alexa datar. "Cuma sedikit pusing.""Mau aku ambilkan air minum?""Nggak usah.""Siapa cewek tadi?"Alexa membeku. "Cewek yang mana?""Di kafe. Wanita berbaju merah." Farel menarik kursi di samping Alexa, lalu duduk dengan nyaman. "Aku lihat dari kejauhan. Dia kayak kenal dekat sama Pak Randu.""Ya." Alexa menelan ludah karena tidak menduga Farel melihat adegan di kafe. "Dia tunangannya.""Tunangan?" Farel terkejut. "Tunggu. Pak Randu tunangan? Aku nggak pernah dengar!"Alexa menatapnya. "Kamu nggak tahu?""
Alexa menarik kursi di depannya. Randu berjalan ke balik meja, tapi tidak duduk. Dia bersandar pada dinding di belakangnya."Aku sudah pikirkan semuanya semalaman," kata Randu. "Tentang kita."Kita. Kata itu terasa berat dan ringan sekaligus."Lalu?""Nggak tahu harus berbuat apa." Randu mengusap wajahnya lelah. "Aku masih marah, tapi mana bisa bisa juga berpura-pura nggak peduli."Alexandria menunduk. "Aku juga.""Kau juga apa?""Aku juga nggak bisa berpura-pura." Ia mengangkat kepala. "Aku menyesali semuanya, Randu. Setiap hari. Aku mencari tahu kabarmu ke teman-teman, tapi nggak ada yang tahu ke mana kamu pergi.""Karena aku pergi ke luar," jawab Randu datar. "Papa mengirimku ke Harvard. Katanya aku perlu menjauh dari gangguan. Kau tahu siapa yang dimaksud?"Alexa menelan ludah. "Aku."Randu tertawa pahit. "Papa melihat aku hancur setelah hari itu. Dia bilang kamu nggak layak untukku karena selama ini hanya main-main. Sampai sekarang aku nggak percaya.""Aku nggak main-main, Randu.
Ia berhenti. Menelan ludah. "Aku juga masih menyukaimu, dan itu menyebalkan, Alexandria."Alexa selalu ingat, Randu akan menyebut namanya dengan utuh saat marah. Bukan Al atau Alexa. Lelaki itu melepaskan tangannya. Berdiri. Kemudian keluar dan berjalan kembali ke kursi depan."Besok kau tetap harus bekerja," katanya tanpa menoleh. "Aku juga akan tetap menjadi bos yang menyebalkan. Setidaknya sekarang ...." Randu menoleh sekilas. Matanya sayu. "Aku nggak perlu berpura-pura belum pernah kenal sebelumnya."Alexa menatap lelaki itu. Hatinya berdesir. Untuk pertama kalinya hari ini, senyum kecil muncul di bibir gadis itu."Oke.""Sekarang masuklah. Aku akan tunggu sampai lampu kamarmu menyala."Alexa turun dari mobil. Ia melangkah ke kosnya. Begitu sampai di kamar, gadis itu menyalakan lampu.Mobil Randu masih di bawah. Sampai sepuluh menit berikutnya sebelum melaju perlahan.Alexa menatap kepergiannya. Di dada gadis itu, ada sesuatu yang lama terkubur dan mulai bangkit kembali.Peras
"A-aku baru mau pulang," jawab Alexa cepat, menutup map biru itu, dan memasukkannya ke dalam tas."Ini sudah malam.""Masih jam tujuh."Randu melangkah mendekat. "Kau naik apa?""Bus.""Bus terakhir jam delapan." Randu berhenti di depan mejanya. "Kau tahu itu?"Alexa mengangkat dagu. "Aku tahu.""Bagaimana kalau kau ketinggalan bus?""Ada ojek online."Randu mendengkus. "Malam-malam naik ojek? Kau tidak takut?"Kenapa ia harus peduli? Alexa menahan diri untuk tidak berteriak. Bukannya tadi Randu bilang ingin mengabaikanku?"Aku sudah dewasa, Ran." Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. "Bisa menjaga diri sendiri."Rahang Randu seketika kaku. "Kamu nggak berubah sama sekali, ya. Tetap keras kepala.""Kamu sendiri sama aja. Tetap suka mengatur orang lain."Mereka saling tatap. Udara di antara keduanya terasa panas. Alexa bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Juga napas Randu yang sedikit memburu.Kemudian lelaki itu tertawa. Pelan dan pahit."Benar," katanya. "Aku memang
Alexa mengusap matanya dengan punggung tangan. Lalu kembali menatap layar.Hari pertama kerja. Bosnya adalah mantan ....Ah, bukan! Mantan apa memangnya? Ia dan Randu tidak pernah pacaran. Namun, perasaan itu, yang tidak pernah ia akui selama SMA, ternyata masih ada. Bahwa Randu adalah orang yang membuatnya merasa aman, diperhatikan, dan dicintai.Alexa baru menyadarinya sekarang. Saat Randu menatapnya dengan dingin.***Jam menunjukkan pukul 15.45. Alexa menyelesaikan proposal tepat waktu. Ia menyimpan file, menekan tombol kirim, dan menunggu.Lima menit kemudian, pintu ruangan Randu terbuka."Alexandria! Masuk!"Suara itu lagi. Dingin dan memerintah.Alexa bangkit. Dengan hati berdebar ia melangkah ke ruangan itu. Begitu pintu tertutup, Randu menatapnya dari balik meja."Proposalmu bagus," katanya. "Aku tidak menyangka."Alexa membeku. "Apa maksudnya?""Aku pikir kamu akan menyerah, tapi ternyata tidak." Randu berdiri.Lelaki itu berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Tentu saja senga
"Kamu yakin nggak kenal Pak Randu?" Sari berbisik. "Dia aneh banget tadi. Biasanya kalau terima karyawan baru selalu ramah."Alexandria menggeleng. "Mung-mungkin dia sedang sibuk."Padahal di dalam hatinya, Alexa tahu itu bukan alasan. Dulu, di SMA. "Hei! Alexa! Tunggu!"Alexa baru saja turun dari bus ketika suara itu memanggilnya. Ia menoleh. Seorang siswa baru dengan rambut acak-acakan berlari ke arahnya. Ransel birunya terayun-ayun di punggung. Matanya bersinar seperti menemukan harta karun."Kamu siapa?" tanya Alexa bingung.Cowok itu berhenti tepat di depannya, dengan napas tersengal. Ia lebih tinggi dari kebanyakan murid laki-laki. Dengan kulit cerah dan senyum yang harus Alexa akui, sangat indah."Aku Randu. Murid baru, pindahan dari Singapura." Ia mengulurkan tangan. "Aku suka sama kamu sejak pertama kali lihat di halte tadi. Mau jadi pacarku?"Alexa tercengang. "What?""Aku serius." Randu menatapnya dengan mata jujur. "Aku belum kenal siapa pun di sini, tapi udah yakin kala







