LOGINBab 201. Kembali.
Bai Dishi yang berdiri di samping mereka mengangguk-angguk dengan wajah penuh makna. "Ternyata menjadi penguasa dunia kecil memang memiliki banyak keuntungan. Kau bisa mengatur hukum dunia, mengendalikan energi spiritual, dan bahkan menerima permintaan dari dua gadis cantik sekaligus. Tian Fan, aku mulai berpikir bahwa aku juga harus mencari dunia kecil untuk diriku sendiri."Tian Fan meliriknya. "Kalau kau masih ingin tinggal di duniaku, sebaiknya janBab 202. Situasi pelik.Tian Fan masih berdiri di tempatnya dengan senyum canggung. Ia dapat merasakan tatapan semua orang tertuju kepadanya, terutama kedua master sekte yang sejak tadi mengamati Mu Xueyan dan Yue Qing'er. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk menjelaskan keadaan, Yue Qing'er justru melangkah setengah langkah ke depan."Master, jangan terlalu terkejut. Selama beberapa waktu terakhir, kami memang pergi untuk berkultivasi. Kami berdua berada di bawah arahan Kakak Tian Fan, dan berkat bimbingannya, kami berhasil menerobos ke Ranah Langit," jelas Yue Qing'er dengan nada riang.Mu Xueyan mengangguk di sampingnya. "Benar. Kami sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkuat fondasi kultivasi. Kakak Tian Fan banyak membantu kami selama proses tersebut."Ming Yi, Master Sekte Bulan yang juga merupakan guru Yue Qing'er, langsung mengerutkan kening. Sementara itu, Song Lau, Master Sekte Pedang Surgawi sekaligus guru Mu Xueyan, menunjukkan ekspresi yang tidak jauh be
Bab 201. Kembali.Bai Dishi yang berdiri di samping mereka mengangguk-angguk dengan wajah penuh makna. "Ternyata menjadi penguasa dunia kecil memang memiliki banyak keuntungan. Kau bisa mengatur hukum dunia, mengendalikan energi spiritual, dan bahkan menerima permintaan dari dua gadis cantik sekaligus. Tian Fan, aku mulai berpikir bahwa aku juga harus mencari dunia kecil untuk diriku sendiri."Tian Fan meliriknya. "Kalau kau masih ingin tinggal di duniaku, sebaiknya jangan mencari masalah lagi."Bai Dishi langsung menutup mulutnya.Setelah pembicaraan mengenai Banlu selesai, Tian Fan mengamati kedua gadis itu sekali lagi. Mereka tampak jauh lebih kuat dan percaya diri dibandingkan sebelum mencapai Ranah Langit. Namun, ia juga menyadari bahwa sudah cukup lama mereka berada di dunia kecilnya. Meskipun waktu di tempat ini dapat berjalan berbeda dari dunia luar, keberadaan mereka yang terlalu lama menghilang tentu dapat menimbulkan kekhawatiran b
Bab 200 — Dua Keindahan Ranah LangitBatu besar yang dilemparkan Tian Fan melesat membelah udara, memaksa Bai Dishi berlari menjauh sambil mengumpat. Naga hitam itu melompat ke balik sebuah pohon, lalu mengintip dari samping batangnya dengan ekspresi penuh kewaspadaan. Setelah memastikan Tian Fan tidak berniat melemparkan batu kedua, ia baru berani menegakkan tubuh dan menepuk-nepuk pakaiannya yang sebenarnya tidak terkena debu sedikit pun."Tian Fan, kau benar-benar keterlaluan! Aku hanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Mengapa reaksimu selalu berlebihan setiap kali aku membicarakan adu mekanik? Jangan-jangan, kau memang memiliki sesuatu yang ingin disembunyikan dariku!" seru Bai Dishi sambil menunjuk Tian Fan dari kejauhan.Tian Fan meliriknya dengan dingin. "Kalau kau masih ingin mempertahankan kepalamu di tempatnya, sebaiknya kau tutup mulutmu sebelum aku berubah pikiran."Bai Dishi langsung menurunkan tangannya. Ia bahkan mengatupkan bibir rapat-rapat, kemudian mengangkat
Bab 199 — Tingkatan Banlu.Tian Fan akhirnya tiba di Puncak Utara bersama Bai Dishi. Begitu melewati sebuah gerbang batu yang berdiri di antara pepohonan tinggi, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok perempuan yang sedang duduk bersila di atas sebuah hamparan batu datar. Keduanya duduk dalam posisi lotus dengan punggung tegak, kedua tangan bertumpu di atas lutut, dan mata terpejam rapat. Energi spiritual dari sekeliling mereka mengalir perlahan, membentuk pusaran samar yang terus berputar di sekitar tubuh masing-masing.Mu Xueyan dan Yue Qing'er sedang berada dalam kondisi kultivasi yang mendalam.Dari kejauhan, Tian Fan dapat merasakan aura kedua gadis itu. Aura tersebut begitu tebal dan stabil, tidak menunjukkan gejolak berarti seperti yang biasanya terjadi pada kultivator yang baru saja menerobos sebuah ranah besar. Jelas bahwa selama Tian Fan berada di Lembah Neraka, mereka tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan bantuan lingkungan dunia kecil yang memiliki energi spiritual meli
Bab 198 — Adu MekanikSetelah menghabiskan waktu cukup lama di Lembah Neraka, Tian Fan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu bersama Bai Dishi. Kabut hitam yang menyelimuti lembah perlahan menghilang dari pandangan mereka ketika keduanya melintasi sebuah lorong batu yang menghubungkan wilayah tersebut dengan bagian lain dari dunia kecil milik Tian Fan.Sepanjang perjalanan, Tian Fan masih memikirkan berbagai hal yang ditemukannya di Menara Kegelapan. Teknik-teknik aneh, miasma yang seolah memiliki kesadaran, serta kemampuan untuk mempengaruhi pikiran seseorang melalui bayangan hitam merupakan hal-hal yang belum sepenuhnya ia pahami. Meskipun ia telah memperoleh beberapa petunjuk, masih banyak rahasia yang menunggu untuk diungkap.Namun, untuk saat ini, ia memutuskan mengesampingkan semua pemikiran tersebut.Bagaimanapun, setelah sekian lama berkutat dengan kegelapan, ia merasa perlu memeriksa keadaan orang-orang yang berada di dunia kecilnya. Terlebih lagi, ada dua orang y
Bab 197 — InstingBugh! Bugh! Bugh!Tiga suara benturan terdengar berturut-turut ketika Ma Durung, dua tetua Sekte Raja Obat, dan tiga alkemis Lembah Obat terjatuh keras ke atas tanah. Tubuh mereka berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Rasa sakit yang menjalar dari sekujur tubuh membuat mereka mengerang, tetapi sebelum sempat bangkit, keenam orang itu langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan tempat mereka berada.Ma Durung mengangkat kepalanya dengan susah payah. Pandangannya masih sedikit kabur, sementara kepalanya terasa berat akibat perpindahan mendadak yang baru saja dialaminya. Ia mengira dirinya masih berada di dalam Formasi Tanam Gu, tetapi ketika pandangannya mulai jelas, wajahnya seketika berubah.Di sekelilingnya terbentang sebuah gua raksasa yang luasnya sulit diperkirakan. Dinding-dinding batu menjulang tinggi, dipenuhi retakan aneh yang memancarkan cahaya redup. Beberapa bagian langit-langit menggantungkan stalaktit hitam yang bentu
Bab 07. (21++) Digagahi.Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.Tubuh wanita berca
Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o
Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri
Bab 01. Jenius yang Disingkirkan. Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dala







