ログイン"Kamu sebaiknya menginap di rumahku saja, Lana. Ada Mas Leon dan Debby di sana. Oh ya, Debby baru saja masuk playgroup, lho," tawar Tiara lembut sambil menyodorkan susu hamil ke hadapan adik iparnya.Lana menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi makan. "Masalahnya, aku ini bawaannya mengantuk terus, Kak, sejak hamil. Tidak enak saja kalau di rumahmu kerjanya cuma makan, tidur, dan buang air saja... seperti kucing."Tiara tertawa renyah mendengar keluhan itu, lalu mengusap bahu Lana untuk menenangkan rasa sungkannya."Namanya juga ibu hamil, Lana. Tidak apa-apa, yang penting kamu aman dan tidak sendirian di apartemen sebesar ini.""Sambil menunggu suamimu menjemputmu dan kita membicarakan rencana penggerebekan tempat spa milik Garry itu, sebaiknya—" Kalimat Tiara terputus oleh dering nyaring ponselnya."Halo, Sayang? Ini ada Aunty Lana. Mama sudah coba bujuk, tapi belum berhasil. Coba Debby yang bicara sendiri, ya," ujar Tiara ser
"Pasti, Lana. Aku janji." Lana melangkah ke sudut ruangan dan mengambil tas yang sudah rapi. "Ini ransel dan tas kerjamu." Reyner menerimanya dengan tatapan takjub. "Ah, benar. Berarti aku tidak perlu mampir ke Bogor dulu. Aku hampir lupa kalau kamu sudah menyiapkan ini sejak siang, dan aku baru ingat kalau tadi aku sudah setuju untuk menginap." "Aku antar sampai lobi, ya?" tawar Lana cemas. "Jangan, ini sudah terlalu larut. Sebaiknya kamu tetap di apartemen sampai aku kembali. Kimmy bisa saja datang ke Bogor dan mengusikmu jika tahu aku tidak ada," ujar Reyner protektif. Ia menarik napas panjang, lalu mengecup dahi dan kedua pipi Lana dengan lembut. "Rey, cepat kembali..." Lana menarik lengan Reyner, seolah berat melepaskan genggamannya malam itu. Perasaannya mendadak tidak enak, seolah ada badai lain yang sedang menunggu di luar sana. "Hanya sebentar, Lana. Begitu semua beres, aku langsung terbang pulang. Jaga dirimu baik-baik di sini, jangan buka pintu untuk siapa pun." Begit
Setelah pergumulan panas di ranjang apartemen mewah itu, Kimmy bersandar pada headboard sambil mengatur napas. Keringat masih membasahi kulitnya saat ia meraih potongan ayam goreng yang mereka pesan."Sampai kapan aku harus berpura-pura tinggal di kontrakan sempit itu, Mas? Tidak nyaman sekali sandiwara diusir olehmu begini," keluh Kimmy dengan nada manja yang dibuat-buat.Garry terkekeh, ia menyalakan cerutu dan membiarkan asapnya mengepul ke langit-langit kamar. "Sampai suamimu benar-benar luluh dan mau menginap di sana. Bujuk dia terus, merengeklah. Kalau perlu, jebak dia dengan obat perangsang. Setelah itu, aku yang akan memberikan kejutan spesial untuk Lana."Kimmy mendengus kesal sembari mengunyah makanannya. "Padahal target awal kita adalah aku bisa satu rumah dengan mereka di Bogor. Tapi pengaruh Lana kuat sekali pada Reyner. Perempuan itu pakai pelet atau bagaimana, sih? Kamu juga, bisa-bisanya naksir istri suamiku," protes Kimmy cemburu.
Jangan pedulikan kenaikan berat badan, aku mau anakku dan ibunya sehat. Makan saja bubur ayammu, kita masih terjebak macet," jawab Reyner enteng. "Nanti setelah melahirkan, jika berat badanku tidak kunjung turun, kamu biayai aku ke klinik untuk liposuction, ya, Rey." Reyner terkekeh sambil mengacak rambut Lana gemas. "Jangankan sedot lemak, seluruh klinik itu bisa kubeli jika kau mau. Makanlah yang banyak, yang penting kalian sehat!" Mobil mereka terhenti di persimpangan yang padat. Tepat di sebelah kanan, sebuah sedan hitam mewah berhenti sejajar. Kaca filmnya yang gelap perlahan turun, menampakkan seringai dingin Garry yang sedang menyesap cerutu. Tatapan mata Garry yang tajam beradu dengan netra Reyner yang dingin. Lana seketika membeku, menyembunyikan sendok buburnya di balik dasbor. Atmosfer di dalam kabin mendadak mencekam, hanya deru mesin yang memecah keheningan di tengah kepulan asap knalpot.
Wajah Kimmy memucat, tangannya gemetar menahan sendok. Setiap kata Reyner terasa menyayat harga dirinya tepat di depan umum."Cukup, Rey! Aku sedang mengandung anakmu, tidak bisakah kau sedikit menghargai perasaanku daripada terus memuja gairah murahan istrimu itu?""Oke, kali ini aku serius, Kim. Garry terlibat praktik perdagangan manusia, kan? Jawab! Bekerja samalah denganku, daripada kau kuanggap terlibat dan aku tidak akan pernah memaafkanmu."Kimmy mematung, mendadak kehilangan keberanian. Ia hanya menunduk dalam, mengaduk bubur yang mendingin tanpa berani menatap mata tajam Reyner sedikit pun."Aku tidak tahu apa-apa, Rey. Jangan paksa aku membicarakan urusan Garry yang sama sekali bukan urusanku sekarang.""Kenapa kau sangat melindunginya? Bukankah dia baru saja mengusirmu dari apartemennya? Atau jangan-jangan cerita pengusiranmu hanya fiktif belaka agar kau bisa tinggal serumah denganku dan Lana?" selidik Reyner, tatapan
Di wastafel toilet, Lana memuntahkan cairan bening karena perutnya masih kosong. Dua piring nasi goreng yang hangat pun akhirnya dingin.Sayup-sayup, terdengar suara mobil Reyner menjauh, membawa Kimmy entah ke mana."Ya Allah, maafkan aku jika benar itu anak suamiku. Namun, jika membiarkannya di sini, justru aku sendiri yang menderita. Aku hanya ingin menikmati kehamilanku tanpa stres," ucap Lana sembari menatap wajahnya yang pucat di cermin wastafel.Lana menyeka bibirnya, mencoba mengatur napas yang tersenggal. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, berusaha mengusir rasa mual dan kecemasan yang menghimpit dadanya."Aku harus kuat demi bayi ini. Reyner sudah memilihku, dan aku tidak akan membiarkan drama Kimmy menghancurkan kebahagiaan kecil yang baru saja kami bangun.""Rey, aku lapar.""Kau kira kau saja? Gara-gara kedatanganmu, aku jadi mengabaikan nasi goreng lezat buatan Lana," balas Reyner ketus."Ayo kita maka







