Share

Jerat Obsesi Masa Laluku.
Jerat Obsesi Masa Laluku.
Author: Azzurra

Tawaran.

Author: Azzurra
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-07 22:57:33

“Menikah dengan ku maka semua urusanmu akan aku selesaikan.”

Kinanti mendongak menatap lelaki yang berdiri menjulang di depan meja kerjanya. Tanpa menjawab Pertanyaan dari lelaki itu dia kembali menenggelamkan kepala di atas meja.

“Aku tunggu 1x24 jam. Setelah ini aku tak akan lagi memberi penawaran. Dan aku tak akan pernah mau menolong, walau kamu memohon.”

Lagi Kinan mendongak menatap iris hitam di hadapannya.

“Ta-p –“

Belum Kinan selesai bicara Angga berbalik badan meninggalkan gadis ini.

Ingin rasanya Kinan berteriak menghadapi problematika hidupnya. Ya Tuhan tak adakah pilihan lain, keduanya pilihan yang sulit.

“Pak Angga atau penjara? Dan yang lebih sadisnya aku bisa saja di seret dan di jadikan wanita penghibur oleh para penagih hutang itu.”

“Ki, laporan ini harus selesai sore ini.”

Kinanti menatap tumpukan map di atas meja, “Gue usahain.” Suara Kinan lemah.

Nindia menatap Kinan kasihan, “Kalo gue jadi lo, gue terima tawaran Pak Angga.”

“Gila banget, terima tawaran itu sama aja gue masuk ke jurang Palung terdalam. Gue tenggelem dan gak bakal bisa balik lagi.”

“CK. Dasar ratu drama. Apa susahnya mencintai bos ganteng model Pak Angga.”

“Ganteng? Cinta? Udah sana gue mau ngerjain laporan ini. Mood gue nanti makin ambyar kalo ngomongin dia. Istrinya ama anaknya mau di kemanain? Tersemat cap pelakor kalo gue terima tawarannya.”

Nindi meninggalkan Kinan yang masih dengan muka di tekuk, “Iya juga sih, sematan pelakor lebih menakutkan dari apapun,” pikir Nindi.

Ponsel Kinan beberapa kali bergetar, gadis ini hanya melirik enggan mengangkat, pasti ini dari si tukang tagih itu, “Emang sialan itu Lisa gara-gara dia sekarang gua di teror tukang tagih,” tukas Kinan.

“Ki tolongin gue, gue kehabisan uang, pamor gue bisa turun kalo gue makan di kaki lima, beli tas kw, baju nggak ganti-ganti. Mau di taro mana muka gue ke para follower.”

“Duh Lis, utang lo udah banyak banget loh. Buat apa sih pencitraan doang, tapi aslinya lo pusing tujuh keliling begini? Mending hidup biasa aja, tinggalin tuh sosmed yang bikin keuangan lo ancur-ancuran begini!” Kiara kesal karna Lisa terus menerornya.

“Kan ini ladang usaha gue, Ki. Gue bisa kerja apa coba? Lo masih mending punya skil kerja kantor.” Lisa masih terus membujuk.

“Tapi janji ya, Lo bakal cicil, ini gue pinjemin lagi atas nama gue,”

“Biasanya juga gue cicil, Ki, Lo nggak percayaan banget.” Lisa bergumam, merebut ponsel Kinanti.

Setelah beberapa saat mengotak Atik ponsel milik Kinan, Lisa kembali menyerahkan ponsel.”Nih foto dulu muka Lo.”

“Makasih ya,” pokonya bulan depan gue cicil.

Setelah meyerahkan ponsel Lisa segera pergi dari kamar Kinan. Kini Kinan yang di buat terbelalak. “Lis, Lo utang banyak banget buat apaan?”

Tapi teriakan Kinan tak mendapat jawaban sebab mobil Lisa sudah keluar dari garasi.

Yang semakin membuat Kinan ssmakin pusing sudah 3 bulan Lisa menghilang bak di telan bumi. Parahnya lagi rumah satu-satunya milik Kinan sudah di gadaikan juga oleh Lisa. Kinan di beri waktu satu Minggu untuk meninggalkan rumah itu. Rumah peninggalan kedua orang tuanya yang telah wafat sejak Kinan masih SMP.

Tuntutan pekerjaan membuat pikiran Kinan teralihkan dari otak ruwetnya, tanpa sadar jam kantor telah usai.

Kinan membereskan berkas-berkas, berniat besok lagi melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.

“Ayo Ki, bareng.”

“Bentar tunggu, Bos.”

Tak lama pintu kantor utama terbuka. Kinan menatap wajah angkuh di depan pintu, sesaat netra mereka bertemu. Kinan mengalihkan pandangan menatap lantai, kembali mengingat masalah hidupnya

“Ya Allah, kenapa harus dia yang bisa menolongku.” Rutuk Kinan dalam hati.

Nindia menarik tangan Kinan, melangkah mengikuti Angga menuju lift. Di dalam lift mereka terasa canggung, beruntung ada Nindia yang mencairkan suasana.

“Pak, besok jangan lupa, rapat pagi.”

Hmm.

Hanya gumaman yang keluar dari mulut lelaki angkuh ini.

“Oh iya, Pak, rapat besok penentuan di terima atau tidaknya tender, seandainya di terima biasanya perusahaan akan kasih f*e jalan-jalan, kira-kira kita mau kemana, Pak?” tanya Nindia.

“Kamu pengen kemana, Ki??” pertanyaan Angga membuat Kinan gelagapan.

“Kok tanya aku, Pak?”

“Kamu nggak mau ikut? Di catat Nind, lumayan mengurangi pengeluaran.”

Lelaki ini gegas keluar dari lift meninggalkan dua wanita ini dalam kebingungan.

“Loh!! CK.”

Kinanti berdecak, kakinya sedikit di hentak, membuat bibir Angga berkedut, tanpa di ketahui Kinanti.

Hal menyenangkan bagi Angga mengerjai Kinan gadis yang pernah menolaknya hingga saat ini.

Nindi hanya meringis, dia tau apa yang terjadi antara Kinan dan Angga di masa lalu. Dan sekarang semesta mempertemukan mereka kembali dengan keadaan yang berbeda.

Angga langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan loby, netranya menangkap dua orang berbadan besar sedang duduk di atas motor Kinan.

Lelaki ini mengusap-usap rahang, tersenyum miring.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (9)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
Angga jangan dingin-dingin lah......
goodnovel comment avatar
Rafli123
Kinan mau-maunya sih, terlalu baik jadi di manfaatkan
goodnovel comment avatar
YOSSYTA S
waduh kira2 gmn ya si Kinan nanti?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Pengendalian diri.

    Kamar rawat itu kini tak lagi berbau kecemasan. Cahaya matahari pagi masuk lewat celah tirai, menyentuh wajah Lisa yang sudah jauh lebih segar dibanding hari-hari pertama. Lehernya masih ditopang penyangga, bibirnya menyisakan bekas luka, tapi matanya—mata itu—kini lebih jernih. Pintu diketuk pelan. “Lis?” suara Kinanti terdengar lembut. Lisa menoleh. Senyum kecil terbit di wajahnya. "Kinanti…” Kinanti masuk perlahan. Angga mengizinkannya datang sendiri hari ini, dengan satu pesan singkat, jangan terlalu capek, jaga nafasmu, tetap dalam keadaan sadar pada nafas." Kinanti duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Lisa yang terasa lebih hangat dari sebelumnya. “Gimana rasanya hari ini?” tanya Kinanti. “Lebih baik,” jawab Lisa jujur. “Dan… lebih tenang," tanya Kinanti. Lisa mengangguk senyumnya terpancar ketenangan. “Bram sudah ditahan. Semua sudah selesai.” Lisa menghela napas panjang, seperti melepaskan beban bertahun-tahun. “Waktu aku dengar itu,” katanya pe

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Ruang penyembuhan.

    Angga berdiri beberapa langkah dari ranjang. Tatapannya tak lepas dari sosok Lisa yang terbaring lemah. Dadanya terasa sesak—bukan karena simpati berlebihan, tapi karena ia tahu tak satu pun manusia pantas menerima perlakuan seperti itu. Ia mengalihkan pandangan. Tangannya menyentuh pundak Kinanti dengan lembut. “Ki… aku tunggu di depan,” ucapnya pelan. Kinanti menoleh, mengangguk kecil. Angga pun melangkah keluar kamar, menutup pintu perlahan di belakangnya. Begitu berada di lorong, wajah Angga berubah. Ia meraih ponselnya, menekan nomor yang sudah tertera di aplikasi pesan. “Ger,” ucapnya begitu sambungan tersambung. Suaranya rendah—dingin. “Kerahkan orang.” Di seberang sana, Gerry langsung siaga. “Semua tinggal menunggu perintah, Bos.” “Bram harus segera ditangkap,” kata Angga tanpa ragu. “Sekarang.” Ia mengusap kelopak matanya dengan ibu jari, menahan sesuatu yang mengendap di dada. M

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Menyadari Emosi Jiwa.

    Angga menarik napas panjang saat layar televisi dimatikan. Dadanya terasa sedikit lebih lega—Lisa ditemukan. Masih hidup. Itu saja sudah cukup untuk membuat beban di pundaknya berkurang. Ia berbalik dan mendapati Kinanti berdiri kaku, wajahnya pucat, matanya kosong menatap ke depan. “Ki…” Angga mendekat, menggenggam kedua tangan istrinya. “Tenang ya.” Kinanti tak langsung menjawab. “Kamu harus ingat,” lanjut Angga lembut namun tegas, “ada bayi di perut kamu.” Ia menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandang mereka. “Sekarang yang paling aku khawatirkan itu kamu.” Sejak hamil, Kinanti memang tak pernah benar-benar tenang. Satu demi satu kejadian datang tanpa jeda—kecelakaan Angga, kecemasan yang berlarut, lalu kini Lisa. Seolah hidup tak memberinya ruang untuk bernapas. Kinanti menggeleng pelan. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Aku nggak bisa baik-baik saja, Mas,” ucapnya lirih, suaranya pecah

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Di temukan.

    Mobil itu terus melaju, menelan jarak dan waktu. Lisa terkulai di kursinya. Tubuhnya lemas, kepalanya pening, napasnya tersengal. Setiap getaran mobil terasa seperti menghantam sisa kesadarannya. Di balik kelopak matanya yang berat, ia masih mendengar suara Bram—dingin, penuh amarah yang tak lagi terkendali. “Cari tempat sepi,” perintah Bram pada sopirnya. “Sedikit jurang. Jangan ada orang.” Sopir itu ragu sejenak, namun tatapan Bram membuatnya memilih diam. Mobil keluar dari jalur utama, memasuki jalanan yang semakin sunyi. Lampu-lampu kota menghilang, digantikan gelap dan suara angin malam. Lisa tersadar sepenuhnya saat mobil berhenti. Hatinya mencelos. “Bram…” suaranya parau, nyaris tak terdengar. “Tolong… aku mohon… jangan lakukan itu.” Tangannya ditarik kasar. Tubuhnya diseret keluar dari mobil. Kakinya hampir tak mampu menopang, namun ia masih hidup—masih sadar—masih berharap. “Bram, aku nggak sal

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Serangan mendadak.

    “Aku tahu kamu mengkhianatiku, Lisa.” Ucapan itu dingin, sebelum tangan Bram melayang. Plak. Kepala Lisa terhentak ke samping. Dunia seketika berputar, dengungan keras memenuhi telinganya. Rasa panas menjalar di pipinya, asin darah terasa di bibirnya yang pecah. “Bram … ampun …” Lisa merintih, suaranya nyaris tak terdengar. Namun Bram seolah tuli. Amarah yang lama terpendam meledak tanpa kendali. Tangannya kembali terangkat, tubuh Lisa terhuyung tak berdaya di kursi mobil. Ia mencoba melindungi wajahnya, tapi Bram terus meluapkan kemarahannya, napasnya memburu, matanya gelap oleh kebencian. “Kamu pikir aku bodoh?” desis Bram. “Kamu pikir aku nggak tahu ke mana kamu pergi dan apa yang kamu lakukan?” Bram berteriak melampiaskan kemarahannya. Lisa menangis tertahan. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu ia ucapkan. Hanya rasa sakit—dan ketakutan yang menyesakkan dada. Mobil itu terus melaju, menelan jeritannya dalam gelap. Lisa hanya bisa pasrah, dia sudah menyerahkan dirinya pad

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Kelegaan bercampur Duka.

    Angga dan Gerry saling bertatapan. Ada jeda singkat sebelum Gerry akhirnya bersuara, nada suaranya menahan emosi. “Kenapa dari awal kamu nggak bilang?” tanyanya. “Kalau kamu dan Bram sudah sejauh itu?" Angga tak langsung menjawab. Ia bangkit dari duduknya, melangkah pelan ke arah jendela. Tirai tipis bergoyang tertiup angin, memperlihatkan hiruk-pikuk kota di bawah sana. Dari luar, semuanya tampak normal—berlawanan dengan permainan kotor yang sedang mereka hadapi. “Sebenarnya itu masalah mudah bagi kami,” ujar Angga akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar."Ger, urus ini dengan Tim, IT." Angga berbalik setengah badan menatap Lisa yang masih duduk gelisah. “Kami punya tim IT yang handal. Apa pun yang disimpan Bram—di ponsel, di cloud, di perangkat mana pun—bisa kami lacak.” Lisa yang duduk di seberang meja menegang. Jarinya mencengkeram tas di pangkuannya. Masih belum percaya jika Angga sehebat ini menyelesaikan masalah, kenapa dari awal dia tak datang ke sini. “Semua akan kami

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Masih berhubungan

    Siang itu matahari masih bersinar, tapi angin yang berembus dari halaman membuat suasana rumah tetap sejuk. Angga berdiri di teras depan, satu tangannya bersandar pada pilar, sementara Gerry merapikan jasnya di dekat mobil. “Aku masih mau di sini seminggu, Ger,” kata Angga membuka pemb

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Jerat Obsesi.

    Setelah dari Rumah Sakit. Angga mengantar Kinanti sampai ke dalam kamar. Langkahnya pelan, mengimbangi langkah Kinanti. "Mau mandi dulu atau mau langsung istirahat?" Kinanti menatapnya sebentar. Ada lelah yang belum sepenuhnya hilang dari mata Angga, tetapi ada kegelisahan di sana. "Aku mandi

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Aku Juga Tahu.

    Setelah Kinanti naik ke kamarnya, dari balik gorden ia melihat lampu mobil menyorot di halaman. Mobil Gerry masuk ke garasi. Kinanti hanya memperhatikan sebentar, lalu menurunkan gorden kembali. Dadanya terasa sedikit sesak, sepertinya ada urusan yang harus di selesaikan, pikir Kinanti.

  • Jerat Obsesi Masa Laluku.   Terjebak.

    “Sialan!” Bram menggebrak meja hingga gelas di atasnya terguncang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu. Di layar ponsel, kabar tentang Angga yang selamat masih terpampang. “Harusnya mati, atau cacat.” gumamnya penuh amarah. Ia meraih jaket, menyampirkannya kasar, lalu keluar tanpa menoleh. Me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status