Share

85 - Racun

Author: Luna Maji
last update Last Updated: 2025-10-27 22:00:32

Cahaya pagi yang lembut menyusup melalui celah tirai, menerangi lantai di kamar Kaisar. Shangkara dan Cailin masih berpelukan, diselimuti selimut sutra. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Cailin menikmati kedamaian, melupakan kekacauan di luar tembok istana.

Cailin membuka matanya perlahan, kepalanya bersandar nyaman pada dada Shangkara. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang kuat dan napasnya yang stabil. 

Jemari Cailin dengan ringan menelusuri segel di dada Shangkara. Tanda segel itu terasa halus dan hangat. Senyum kecil mengembang di bibirnya.

Saat tangannya bergerak, Shangkara bergumam pelan dan matanya terbuka perlahan. Ia melihat Cailin dan senyum lelahnya muncul.

“Selamat pagi,” bisik Cailin.

“Pagi,” jawa

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    196 - Jalur Hantu

    Dingin.Itu adalah sensasi pertama yang dirasakan Ren. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menggigit hingga ke tulang.Selama hidupnya, tubuhnya dialiri Qi Vermilion yang bersifat Yang murni. Hujan salju, badai es, atau angin malam tidak pernah membuatnya menggigil. Tubuhnya adalah tungku abadi.Tapi sekarang, tungku itu padam.Ren merapatkan jubah abunya yang sudah robek terkena ranting berduri. Napasnya mengepul putih di udara malam yang membeku.Jalur Pedagang Hantu bukan sekadar nama. Jalan setapak ini membelah tebing curam yang tertutup lumut licin dan kabut abadi. Di sisi kirinya adalah dinding batu basah, di sisi kanannya adalah jurang gelap tanpa dasar.Kaki Ren gemetar.

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    195 - Jalan

    Lian duduk di kursi kayu di tengah ruangan yang remang-remang. Pergelangan tangannya terikat tali sutra biru yang dilapisi mantra peredam energi.Ia tidak mencoba memberontak. Ia tahu itu percuma. Sebagai Pengendali Angin, ia butuh gerakan tangan atau napas yang bebas untuk memanggil badai. Tali ini membatasi keduanya.Pintu kamar terbuka. Seorang pria bertubuh besar—bukan Rashid, tapi salah satu pengawal Saharath—masuk membawa nampan makanan.Lian menatapnya tenang.“Di mana Tuan Rashid?” tanya Lian. Suaranya datar.“Tuan Rashid sedang sibuk di istana, mengurus pertukaranmu,” jawab pengawal itu sambil meletakkan nampan dengan kasar. "”akanlah. Kami butuh kau tetap hidup sampai kami m

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    194 - Diplomasi

    Kabut pagi belum sepenuhnya lenyap ketika ruang strategi istana Vermilion mulai dipenuhi suara rendah yang tegang. Ruangan itu tanpa jendela, diterangi cahaya kristal putih yang memantulkan peta wilayah besar di dinding.Shangkara berdiri di depan peta, punggungnya tegang. Di sebelahnya, Guru Fen duduk di kursi kayu, tangannya menelusuri gulungan laporan medis dengan gerakan lambat. Jenderal Fan, pria berotot dengan wajah penuh luka lama, berdiri tegak di sisi lain meja. Ren tidak duduk. Dia bersandar di dinding dekat pintu, wajahnya masih kotor dari debu gang.Kepala Intelijen, pria yang selalu muncul dari bayangan, baru saja selesai melaporkan dua hal: kerusuhan di Distrik Timur yang mulai mereda setelah pasukan menduduki gudang, dan fakta bahwa tidak ada jejak Lian di seluruh kompleks istana.“Aku ber

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    193 - Obat

    Ren menarik tudung jubahnya lebih dalam saat melangkah memasuki kedai kecil di Kota Bawah.Tempat itu pengap, dipenuhi bau alkohol murah dan sup tulang yang terlalu lama direbus. Orang-orang duduk rapat, berbicara setengah berbisik—bukan karena takut, tapi karena sudah terbiasa. Kota ini selalu hidup dari gosip.Ren duduk di meja sudut. Ia mengenakan jubah kain kasar berwarna cokelat kusam.Ia menggenggam gelas tanah liatnya erat-erat. Ia kabur dari istana satu jam yang lalu, menyelinap lewat saluran pembuangan lama yang kering. Tatapan kasihan para pelayan masih menempel di kulitnya. Nada datar Lian terngiang di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Ren merasa asing di istana yang dulu ia lindungi dengan nyawanya.Di sini, tidak ada yang mengenalnya. Di sini, ia h

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    192 - Pedang Kayu

    Kabut pagi masih menyelimuti lapangan latihan Pasukan Bayangan. Udara dingin menusuk tulang, tapi keringat sudah membasahi seluruh tubuh Ren. Pedang kayu di tangannya terasa asing—terlalu ringan, terlalu mati. Tidak ada getaran Qi. Tidak ada dengung api yang biasanya menyatu dengan napasnya.Trak! Trak!Suara benturan kayu menggema.Ren mencengkeram pedang kayu latihan dengan tangan gemetar. Di hadapannya, Yun—salah satu letnan Pasukan Bayangan—memegang pedang serupa, wajahnya ragu-ragu.“Serang aku dengan serius, Yun!” bentak Ren. “Jangan menahannya!”“Tapi, Tuan…”“LAKUKAN!”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    191 - Abu dan Pasir

    Aroma teh herbal menguar di udara, namun tidak mampu meredakan ketegangan di wajah Cailin dan Shangkara.Di ruang kerja Guru Fen yang sunyi, Guru Fen duduk bersila dengan cangkir teh ditangannya. Matanya menatap permukaan teh di cangkirnya, seolah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang bisa dilihat mata biasa. Cailin duduk di hadapannya.Shangkara berdiri menghadap jendela, kedua tangannya terlipat di balik punggungnya. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.“Katakan dengan jujur, Guru,” suara Shangkara memecah keheningan. “Jangan berikan harapan palsu. Apakah Api Ren … benar-benar tamat?”Guru Fen menoleh perlahan. Kerutan di wajah tuanya tampak lebih dalam dari biasanya.&ldquo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status