مشاركة

Baju Raka Yang Menyiksa

مؤلف: YOSSYTA S
last update تاريخ النشر: 2026-08-08 11:44:12

Jam 7 pagi.

Zoya sudah mandi duluan. Kaos oblong putih kebesaran dan celana pendek selutut warna abu. Rambut basah dicepol asal. Wajah bersih tanpa bedak.

Dari kamar, Enzo melipir keluar. Mata masih panda. Kaos hitam semalem masih nempel di badan.

Dia langsung berhenti pas liat Zoya. Yang masih sibuk menata makanan di meja.

Celana pendek. Kaki mulus. Kaos jatuh sebelah. Bahunya terlihat sedikit.

'Sederhana, tapi aku suka.' Tanpa sadar dia tersenyum melihatnya.

`Ya Allah... ini ujian apa gimana?' batinnya langsung istighfar.

"Pa-pagi," kata Enzo suaranya serak.

Zoya menoleh. Langsung reflek narik ujung kaos ke atas buat nutupin bahu.

"Pagi," jawabnya dingin.

Bu Fatimah dari dapur senyum-senyum. "Mandi sana Mas Enzo. Sarapan udah mateng."

Enzo masuk kamar. Buka tas. Kosong.

`Anjir. Lupa bawa baju. Kemaren buru-buru sih.`

Dia keluar lagi. Garuk tengkuk. "Em ... Zoya."

"Apa?!" Zoya nongol dari dapur bawa piring.

"Aku gak bawa baju ganti."

Zoya mendelik. "Ya terus? Mau pake daun?"

"Enggak... maksudnya... boleh pinjem baju Raka gak?"

Zoya diem 3 detik. Terus ngedumel masuk kamar Raka. Lalu ia keluar dan melempar satu set kaos putih dan celana training hitam ke Enzo.

"Nih. Buruan mandi. Bau!"

Sigap Enzo nangkep. Lalu masuk kamar mandi.

Dan, 10 menit kemudian...

`KREKK.`

Pintu kebuka.

Zoya yang lagi nyuap nasi langsung diam. Sendoknya jatuh di atas meja.

'Klutak!'

DEPAN DIA.

Enzo.

Kaos putih Raka yang tadinya longgar... SEKARANG KETAT. Ngepas di dada bidang, bahu kekar, lengan berotot sampai uratnya keliatan.

Celana trainingnya juga ketarik di paha. Tinggi 180cm pake celana Raka yg cuma 170cm... jadi nanggung di mata kaki.

Rambut basah. Tetesan air di leher. Di tulang selangka.

Seksi. Banget.

"Eh, kekecilan ya?" tanya Enzo sok polos. Sambil narik-narik kaos yang nyekek di perut.

Zoya langsung menunduk. Muka merah padam. `Ya Allah... ini baju apa pembungkus sosis?!`

"Eng... enggak. Biasa aja, kok." bohong.

Batin Enzo, `Lah kok dia diem? Padahal biasanya cerewet. Apa... dia salfok ya?`

Dalam hati dia malah senyum puas. `Aku godain, ah!'

Bu Fatimah sama Raka dari pojok meja saling kedip.

Raka berbisik, "Bu, itu baju aku kok kayak baju ketat cewek seksi sih di badan Bang Enzo?"

Bu Fatimah menjawab, "Shhh... biarin. Bagus. Biar Mbakmu cepet luluh."

Keduanya cekikikan pelan, nahan tawa.

Enzo duduk. Sengaja duduk paling deket sama Zoya. Ambil nasi. Lengan berototnya gesek tangan Zoya. `Duk`

Zoya langsung narik tangan. "Ikh, jauh-jauh sana!" Mode galak telah kembali.

"Orang mejanya sempit," jawab Enzo datar. Tapi ujung bibirnya naik.

Sepanjang sarapan Zoya nunduk. Tak berani ngangkat kepala. Telinganya panas. Hatinya, `Ini salah. Ini suami. Tapi... kenapa jantungku... Ya Allah.`

Enzo? Santai aja. Malah dalam hati, `Ternyata ngeselin dia itu lucu. Apalagi pas lagi malu-malu gini. Bikin gemes.'

`Tek-etek-etek` kipas muter.

Tapi di meja makan itu... suhunya naik 10 derajat.

Habis sarapan, Zoya langsung nyapu halaman. Ngeles.

Biar gak diam di deket Enzo yang pake kaos 'menyiksa' itu.

Rambutnya masih setengah basah. Dikucir asal pake karet. Beberapa helai jatuh ke pipi.

Kaos putihnya masih lembab dikit di bagian punggung.

`Sreeek ... sreeek!`

Baru 3 ayunan sapu.

"EALAH ... PENGANTIN BARU, PAGI-PAGI UDAH NYAPU?" Suara cempreng khas Bu RT. Dateng bawa kresek sayur. Tapi matanya langsung scan dari atas ke bawah.

Dari rambut Zoya yg basah, kaos kebesaran .Terus... ke dalam rumah.

Ngelirik Enzo yg baru keluar kamar. Kaos putih ketat dan celana training ngatung. Rambut masih basah juga.

Bu RT langsung nutup mulut. Tapi matanya melotot. "Hehe... hehe..."

Zoya langsung berhenti nyapu. Muka merah se-RT. "Bukan... bukan, Bu. Tadi cuma..."

"Nggak apa-apa. Ibu ngerti kok, Nduk." Bu RT kedip-kedip. Lebay. "Wajar. Namanya juga pengantin baru. Iya to, Mas Enzo?"

Enzo yang dari dalam denger namanya disebut. Langsung nyengir kuda. Tangan masukin saku.

"Iya, Bu. Wajar," jawabnya santai asal nyahut. Padahal dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Bu RT.

'EH, BUKAN GITU!` Zoya hampir teriak. Tapi ditahan.

Bu RT makin menjadi. Muterin Zoya kayak lagi ngukur. "Pantesan. Rambut basah. Muka merona. Kaosnya juga... ehem. Punya siapa to itu?"

"Itu punya Raka, Bu!" Zoya buru-buru jawab. Panik.

"Oh punya Raka, dipake Enzo." Bu RT manggut-manggut. "Pantesan ngepas. Bagus. Cocok. Jadi kelihatan tambah seksi."

Terus beliau bisik, tapi sengaja dikencengin, "Dulu aku sama Pak RT juga gitu, Nduk. Tiga hari gak keluar kamar."

`BLAR!`

Zoya langsung buang muka. Mau mati rasanya.

Enzo di belakang malah ketawa kecil. `Galak kalo malu. Lucu.`

"Udah-udah Bu, kasihan Mbak Zoya." Raka yang baru nongol pura-pura nolongin.

"Mbak Zoya itu masih malu-malu kucing, Bu." Padahal mah, sama saja. Suka godain kakaknya juga.

"Iyaa iyaa." Bu RT akhirnya pergi sambil masih cengir-cengir. "Nanti sore tak bawain jamu kuat ya, Mas Enzo. Buat... 'ehem' nanti malam."

Enzo hanya senyum dan mengangguk pelan.

Pas Bu RT udah pergi.

Hening 2 detik.

Lalu, tiba-tiba Zoya langsung jambak rambut adiknya, Raka. "Ikh, dasar adik durhaka! Bukannya nolongin, malah ikut-ikutan ngejek!"

"Iya ya, ampun, Mbak!" Raka nepuk-nepuk tangan Zoya agar bisa terlepas.

Enzo yang auto panik segera mendekat ingin menolong adik ipar. Namun, sebelum sampai, Zoya sudah menoleh tajam ke arahnya.

Enzo langsung berhenti kaku.

Zoya lempar sapu. "KAMU TUH! KENAPA JAWAB IYA AJA TADI, HUH?!"

Raka yang selamat, segera kabur masuk dalam rumah. Sekarang ngamuknya beralih ke Enzo.

Namun, bukannya takut, Enzo malah angkat bahu. Santai. "Lah emang iya. Kita kan pengantin baru."

"BARU 24 JAM!"

"Ya tetep aja, masih baru." Enzo ngelirik Zoya dari atas ke bawah. Rambut basah, pipi merah. "Apalagi pake baju gitu. Rambut juga masih basah. Ya pantes disangka..."

"DIEM!" Zoya langsung masuk rumah. Banting pintu kamar. Keras, sampai kedengeran dari luar.

Enzo ngikut jalan ke rumah. Senyum-senyum sendiri.

Batinnya, `Tadi pas Bu RT bilang 'tiga hari gak keluar kamar'... kok aku malah ngebayangin, ya?`

`Astaga, Enzo. Fokus!`

Di dalam, Zoya nyender di pintu kamar. Pegang dada.

`Jantung brengsek. Kenapa deg-degan gara-gara diledekin doang.`

`Tek-etek-etek.` Suara kipas di dalem berisik.

Tapi di luar, di teras rumah, ada cowok ganteng pake kaos ketat lagi mikir aneh-aneh.

Dan di RT, gosip baru sudah jalan lima menit kemudian.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Tamu Tak Diundang

    Jam 8 malam, setelah makan. Di ruang tamu. Enzo, Raka dan Bu Fatimah sedang duduk mengobrol. Sementara Zoya masih sibuk membereskan meja makan. "Oh, jadi sebenarnya Nak Enzo ini adalah anak tunggal, ya?" tanya Bu Fatimah mulai ingin mengenal latar belakang sang mantu. Enzo pun mengangguk. "Ya. Tapi saya punya kakak tiri perempuan, Bu." "Oh, gitu." Bu Fatimah manggut-manggut. "Terus kamu kerjanya bareng sama Raka di supermarket?" "Iya, Bu. Tapi Bang Enzo itu Supervisor yang dikirim dari kantor pusat," sahut Raka. "Apa? Super-super -- apa tadi?" Bu Fatimah tampak kesusahan mengucapkan. "Supervisor, Bu. Kayak yang ngawasi para pegawai gitu." Raka coba menjelaskan. "Oh, gitu." "Terus ngomong-ngomong umur kamu berapa sekarang?" Bu Fatimah kembali kepo. Diam-diam Zoya yang berada di ruang tengah ikut menguping. "Umur saya 25 tahun, Bu," jawab Enzo jujur. "Oh, berarti kamu lebih muda dua tahun dari Zoya dong." "Lah, memangnya Zoya umur berapa, Bu?" Enzo jadi ingin

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Video Viral

    Siang. Zoya baru pulang dari warung. Bawa kresek belanjaan. Jalan santai sambil senyum ramah, sapa tetangga. Namun, baru masuk gang. "Eh, itu kan istrinya Mas Enzo yang KDRT itu, kan?" 'Deg!' Senyum di bibir Zoya langsung menghilang. "Nggak sopan banget ya. Cowok seganteng itu malah dikasarin." "Pantesan mukanya jutek. Galak gitu. Makanya sampai dicerain." "Aku sih kalau jadi dia, rela dipukul tiap hari." Ibuk-ibuk muda komplek. Yang kemarin like TikTok Raka. Semuanya ngerumpi. Ngeliatin Zoya dari atas ke bawah. Bisik-bisik. Tapi sengaja kenceng. Zoya berhenti. Napasnya tercekat. Tangan yang megang kresek gemeteran. `Pantesan dicerain.' `Mukanya aja kayak singa. Jutek gitu.' `Kasian Mas Enzonya.` `BLUK!` Kresek jatuh. Telur pecah. Zoya tak peduli. Dia langsung lari masuk rumah. Mata udah panas. `BRAK!` "RAKAAAA!!!" teriaknya dari ruang tengah. Raka yang lagi edit video langsung drop HP. "Kenapa, Mbak?!" "Puas kamu sekarang?!" Zoya nangis.

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Sandal Melayang

    Di ruang tengah. Raka duduk sila di lantai. Senyam-senyum sendiri sambil scroll HP. Komentar TikTok nya sudah 300 lebih. `@selerabunda_99 , 'Ya ampun kasian banget baru juga pengantin baru udah KDRT.` `@cantikmandiri , 'Ih kasian mana cowonya ganteng banget. Masa ceweknya galak kayak singa.` `@biduankampung, 'Kalau dia gak mau, sini sama aku aja Bang. Aku siap jadi istri ke 2.` `@mentimun, 'Upload part 2 nya, Bang. Mau liat lanjutannya.` Raka tertawa ngakak. "Laris manis dagangan kita, Bang Enzo!" `BRAK!` Pintu kamar kebuka. Zoya keluar. Masih pake kaos dan celana pendek. Rambut sudah kering tapi masih diikat. Lihat Raka ketawa-tawa langsung curiga. "Lagi ngapain kamu?" "Nggak... nggak apa-apa kok, Mbak," Raka buru-buru nutup HP pakai tangan. Zoya jalan mendekat. Ngintip. DI LAYAR. VIDEO TADI PAGI. Dia teriak `AAA ... ENZOOOO` terus nendang. Enzo mental. Caption nya, `POV ; Baru nikah 24 jam udah KDRT.' Views 800 ribu. "RAKAAAA!!!" Zoya langsun

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Baju Raka Yang Menyiksa

    Jam 7 pagi. Zoya sudah mandi duluan. Kaos oblong putih kebesaran dan celana pendek selutut warna abu. Rambut basah dicepol asal. Wajah bersih tanpa bedak. Dari kamar, Enzo melipir keluar. Mata masih panda. Kaos hitam semalem masih nempel di badan. Dia langsung berhenti pas liat Zoya. Yang masih sibuk menata makanan di meja. Celana pendek. Kaki mulus. Kaos jatuh sebelah. Bahunya terlihat sedikit. 'Sederhana, tapi aku suka.' Tanpa sadar dia tersenyum melihatnya. `Ya Allah... ini ujian apa gimana?' batinnya langsung istighfar. "Pa-pagi," kata Enzo suaranya serak. Zoya menoleh. Langsung reflek narik ujung kaos ke atas buat nutupin bahu. "Pagi," jawabnya dingin. Bu Fatimah dari dapur senyum-senyum. "Mandi sana Mas Enzo. Sarapan udah mateng." Enzo masuk kamar. Buka tas. Kosong. `Anjir. Lupa bawa baju. Kemaren buru-buru sih.` Dia keluar lagi. Garuk tengkuk. "Em ... Zoya." "Apa?!" Zoya nongol dari dapur bawa piring. "Aku gak bawa baju ganti." Zoya mendelik.

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Tendangan Maut

    Malam makin larut. Suara jangkrik dari luar sudah mulai bersahutan. Enzo duduk bersila di atas tikar butut. Bersedekap. Dagunya terangkat. Sok galak. "Aku Enzo Alvaro Bautista. Anaknya Surya Bautista Morgan. Punya 3 villa, 5 mobil, kasur busa seharga 20 juta. Masa tidur di lantai semen? Apa kata dunia nanti?' Batinnya ngomel, tapi mukanya tetep datar. Dari atas ranjang, Zoya juga melipat tangan. Tatapannya tajam, seperti elang. "Udah. Tidur sana! Kalau berisik aku tendang beneran." Enzo mendengus. `Tuh kan. Galak kayak singa. Bener kata Raka.` Dia rebahan. Punggung langsung 'Nyess!' kerasa dingin. `Astagfirullah... ini lantai apa freezer?` Zoya masih melek. Ngawasin dari atas ranjang. Sampai dengar napas Enzo sudah teratur dan pelan. `Akhirnya tidur juga`, batinnya lega. Baru dia narik selimut dan ikut merem. --- Berapa jam kemudian. Jam 2.17 Pagi `Grrr... Grrr...` Bukan suara kuntilanak, ataupun genderuwo yang suka keluyuran tengah malam. Itu suara g

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Hari H

    Hari H. Jam 10 pagi. Halaman rumah Zoya penuh kursi plastik. Tenda biru seadanya. Bu RT muter-muter ngatur. “Bu, itu meja buat penghulu! Bu, itu buat tamu!” Warga datang semua. Bawa amplop. Bawa gosip. “Jadi, beneran nikah, ya?” “Lah, tiga hari doang pacaran langsung nikah?” “Denger-denger sih, gara-gara kepergok." "Mana katanya calon suaminya ganteng banget, lagi." "Masa sih? Jadi penasaran aku." Di dalam kamar, Zoya duduk. Baju pengantin sewaan warna dusty pink. Rambut disanggul simpel. Makeup seadanya ditolongin tetangga. Tangannya dingin. Gemetaran. "Nduk... udah ya." Ibu Fatimah ngusap punggungnya pelan. "Bismillah. Hadepin aja.” Zoya hanya mengangguk pasrah. Air matanya ditahan. Batinnya berisik, `Ya Allah... tiga hari lalu aku masih mau kabur dari rumah ini. Tiga hari lalu aku masih janda. Sekarang aku mau akad sama orang asing? Kuatin aku, ya Allah.' Di ruang tamu, Enzo sudah duduk. Kemeja putih dan celana hitam. Rambut gondrong yang biasanya

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status