เข้าสู่ระบบJam 7 pagi.
Zoya sudah mandi duluan. Kaos oblong putih kebesaran dan celana pendek selutut warna abu. Rambut basah dicepol asal. Wajah bersih tanpa bedak. Dari kamar, Enzo melipir keluar. Mata masih panda. Kaos hitam semalem masih nempel di badan. Dia langsung berhenti pas liat Zoya. Yang masih sibuk menata makanan di meja. Celana pendek. Kaki mulus. Kaos jatuh sebelah. Bahunya terlihat sedikit. 'Sederhana, tapi aku suka.' Tanpa sadar dia tersenyum melihatnya. `Ya Allah... ini ujian apa gimana?' batinnya langsung istighfar. "Pa-pagi," kata Enzo suaranya serak. Zoya menoleh. Langsung reflek narik ujung kaos ke atas buat nutupin bahu. "Pagi," jawabnya dingin. Bu Fatimah dari dapur senyum-senyum. "Mandi sana Mas Enzo. Sarapan udah mateng." Enzo masuk kamar. Buka tas. Kosong. `Anjir. Lupa bawa baju. Kemaren buru-buru sih.` Dia keluar lagi. Garuk tengkuk. "Em ... Zoya." "Apa?!" Zoya nongol dari dapur bawa piring. "Aku gak bawa baju ganti." Zoya mendelik. "Ya terus? Mau pake daun?" "Enggak... maksudnya... boleh pinjem baju Raka gak?" Zoya diem 3 detik. Terus ngedumel masuk kamar Raka. Lalu ia keluar dan melempar satu set kaos putih dan celana training hitam ke Enzo. "Nih. Buruan mandi. Bau!" Sigap Enzo nangkep. Lalu masuk kamar mandi. Dan, 10 menit kemudian... `KREKK.` Pintu kebuka. Zoya yang lagi nyuap nasi langsung diam. Sendoknya jatuh di atas meja. 'Klutak!' DEPAN DIA. Enzo. Kaos putih Raka yang tadinya longgar... SEKARANG KETAT. Ngepas di dada bidang, bahu kekar, lengan berotot sampai uratnya keliatan. Celana trainingnya juga ketarik di paha. Tinggi 180cm pake celana Raka yg cuma 170cm... jadi nanggung di mata kaki. Rambut basah. Tetesan air di leher. Di tulang selangka. Seksi. Banget. "Eh, kekecilan ya?" tanya Enzo sok polos. Sambil narik-narik kaos yang nyekek di perut. Zoya langsung menunduk. Muka merah padam. `Ya Allah... ini baju apa pembungkus sosis?!` "Eng... enggak. Biasa aja, kok." bohong. Batin Enzo, `Lah kok dia diem? Padahal biasanya cerewet. Apa... dia salfok ya?` Dalam hati dia malah senyum puas. `Aku godain, ah!' Bu Fatimah sama Raka dari pojok meja saling kedip. Raka berbisik, "Bu, itu baju aku kok kayak baju ketat cewek seksi sih di badan Bang Enzo?" Bu Fatimah menjawab, "Shhh... biarin. Bagus. Biar Mbakmu cepet luluh." Keduanya cekikikan pelan, nahan tawa. Enzo duduk. Sengaja duduk paling deket sama Zoya. Ambil nasi. Lengan berototnya gesek tangan Zoya. `Duk` Zoya langsung narik tangan. "Ikh, jauh-jauh sana!" Mode galak telah kembali. "Orang mejanya sempit," jawab Enzo datar. Tapi ujung bibirnya naik. Sepanjang sarapan Zoya nunduk. Tak berani ngangkat kepala. Telinganya panas. Hatinya, `Ini salah. Ini suami. Tapi... kenapa jantungku... Ya Allah.` Enzo? Santai aja. Malah dalam hati, `Ternyata ngeselin dia itu lucu. Apalagi pas lagi malu-malu gini. Bikin gemes.' `Tek-etek-etek` kipas muter. Tapi di meja makan itu... suhunya naik 10 derajat. Habis sarapan, Zoya langsung nyapu halaman. Ngeles. Biar gak diam di deket Enzo yang pake kaos 'menyiksa' itu. Rambutnya masih setengah basah. Dikucir asal pake karet. Beberapa helai jatuh ke pipi. Kaos putihnya masih lembab dikit di bagian punggung. `Sreeek ... sreeek!` Baru 3 ayunan sapu. "EALAH ... PENGANTIN BARU, PAGI-PAGI UDAH NYAPU?" Suara cempreng khas Bu RT. Dateng bawa kresek sayur. Tapi matanya langsung scan dari atas ke bawah. Dari rambut Zoya yg basah, kaos kebesaran .Terus... ke dalam rumah. Ngelirik Enzo yg baru keluar kamar. Kaos putih ketat dan celana training ngatung. Rambut masih basah juga. Bu RT langsung nutup mulut. Tapi matanya melotot. "Hehe... hehe..." Zoya langsung berhenti nyapu. Muka merah se-RT. "Bukan... bukan, Bu. Tadi cuma..." "Nggak apa-apa. Ibu ngerti kok, Nduk." Bu RT kedip-kedip. Lebay. "Wajar. Namanya juga pengantin baru. Iya to, Mas Enzo?" Enzo yang dari dalam denger namanya disebut. Langsung nyengir kuda. Tangan masukin saku. "Iya, Bu. Wajar," jawabnya santai asal nyahut. Padahal dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Bu RT. 'EH, BUKAN GITU!` Zoya hampir teriak. Tapi ditahan. Bu RT makin menjadi. Muterin Zoya kayak lagi ngukur. "Pantesan. Rambut basah. Muka merona. Kaosnya juga... ehem. Punya siapa to itu?" "Itu punya Raka, Bu!" Zoya buru-buru jawab. Panik. "Oh punya Raka, dipake Enzo." Bu RT manggut-manggut. "Pantesan ngepas. Bagus. Cocok. Jadi kelihatan tambah seksi." Terus beliau bisik, tapi sengaja dikencengin, "Dulu aku sama Pak RT juga gitu, Nduk. Tiga hari gak keluar kamar." `BLAR!` Zoya langsung buang muka. Mau mati rasanya. Enzo di belakang malah ketawa kecil. `Galak kalo malu. Lucu.` "Udah-udah Bu, kasihan Mbak Zoya." Raka yang baru nongol pura-pura nolongin. "Mbak Zoya itu masih malu-malu kucing, Bu." Padahal mah, sama saja. Suka godain kakaknya juga. "Iyaa iyaa." Bu RT akhirnya pergi sambil masih cengir-cengir. "Nanti sore tak bawain jamu kuat ya, Mas Enzo. Buat... 'ehem' nanti malam." Enzo hanya senyum dan mengangguk pelan. Pas Bu RT udah pergi. Hening 2 detik. Lalu, tiba-tiba Zoya langsung jambak rambut adiknya, Raka. "Ikh, dasar adik durhaka! Bukannya nolongin, malah ikut-ikutan ngejek!" "Iya ya, ampun, Mbak!" Raka nepuk-nepuk tangan Zoya agar bisa terlepas. Enzo yang auto panik segera mendekat ingin menolong adik ipar. Namun, sebelum sampai, Zoya sudah menoleh tajam ke arahnya. Enzo langsung berhenti kaku. Zoya lempar sapu. "KAMU TUH! KENAPA JAWAB IYA AJA TADI, HUH?!" Raka yang selamat, segera kabur masuk dalam rumah. Sekarang ngamuknya beralih ke Enzo. Namun, bukannya takut, Enzo malah angkat bahu. Santai. "Lah emang iya. Kita kan pengantin baru." "BARU 24 JAM!" "Ya tetep aja, masih baru." Enzo ngelirik Zoya dari atas ke bawah. Rambut basah, pipi merah. "Apalagi pake baju gitu. Rambut juga masih basah. Ya pantes disangka..." "DIEM!" Zoya langsung masuk rumah. Banting pintu kamar. Keras, sampai kedengeran dari luar. Enzo ngikut jalan ke rumah. Senyum-senyum sendiri. Batinnya, `Tadi pas Bu RT bilang 'tiga hari gak keluar kamar'... kok aku malah ngebayangin, ya?` `Astaga, Enzo. Fokus!` Di dalam, Zoya nyender di pintu kamar. Pegang dada. `Jantung brengsek. Kenapa deg-degan gara-gara diledekin doang.` `Tek-etek-etek.` Suara kipas di dalem berisik. Tapi di luar, di teras rumah, ada cowok ganteng pake kaos ketat lagi mikir aneh-aneh. Dan di RT, gosip baru sudah jalan lima menit kemudian.Jam 20:00 malam. Rumah Bautista baru selesai makan malam, tapi tanpa Damar. Damar belum pulang dari Superstar sejak kejadian siang tadi. Pintu utama terbuka kasar. `BRAK!` Damar masuk dengan langkah berat. Jas manager nya sudah tidak rapi, dasinya longgar, name tag `DAMAR - MANAGER` nya miring. Wajahnya kusut, merah, dan penuh keringat. Jelas habis ngamuk seharian di gudang. Frisca yang sedang gendong bayi di sofa langsung bangun. "Ya ampun, Mas! Kamu kenapa? Pulang kantor kok, kusut gitu? Mukanya ditekuk kayak habis berantem aja?" Vanessa yang sedang maskeran di sofa sebelah juga ikut menoleh. "Iya, Damar. Kamu kenapa? Ada masalah di toko?" Damar membanting tas kerjanya ke sofa. `BUGH!` Bayi Frisca yang digendong sampai kaget dan nangis. "Iya, ini semua gara-gara adik tiri kamu, si Enzo!" bentak Damar, suaranya masih tinggi sisa emosi di gudang. Frisca langsung melotot mendengar nama Enzo. "Enzo? Enzo ngapain lagi? Dia kan gak pernah mau ke Superstar!" Damar
'CIIIT!` Suara rem mobil sport hitam mewah milik Enzo berhenti mulus tepat di depan gerbang rumah besar keluarga Bautista. Enzo turun duluan. Kemeja putihnya agak berantakan, jasnya sudah ia lempar di jok belakang. Tanpa ragu, ia buka pintu penumpang dan kembali mengangkat tubuh Zoya dengan bridal style. Tidak diturunkan sama sekali dari kantor. "Mas, turunin... aku bisa jalan kok," bisik Zoya malu-malu. "Diam. Kakimu bengkak," jawab Enzo pelan. Pintu rumah dibuka, Enzo masuk sambil terus gendong Zoya. Di ruang tamu, Frisca dan Vanessa lagi duduk santai menyilangkan kaki sambil menyeruput teh. Mereka berdua menoleh. Awalnya bingung dan melongo. Mereka melihat Enzo menggendong seorang wanita cantik. Rambutnya tergerai rapi, dress creamnya elegan, kulitnya glowing. Jauh banget dari Zoya yang mereka kenal yang biasanya kucel pakai daster. "Eh, itu siapa yang digendong sama Enzo? Sepertinya bukan Zoya deh?" bisik Vanessa ke Frisca, kaget. Frisca juga mengerutkan dahi, "
Pelan, mereka lewat koridor, turun tangga besi, masih di gendong terus! Karyawan di lantai 1 dan lantai 2 auto berhenti kerja, melongo dan berbisik. "Sumpah itu Zoya? Glowing banget digendong Pak Enzo! Beda banget sama yang dulu!" "Iya, dulu cuma kasir biasa. Tapi, sekarang udah jadi Nyonya Besar beneran!" Setiap langkah Enzo yang pelan tapi pasti itu seperti pernyataan. Bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi Zoya yang nunduk-nunduk di gudang, tidak ada lagi Zoya yang dicap mandul. Yang ada hanya Nyonya Zoya Bautista, yang kakinya saja tidak boleh menyentuh lantai kotor supermarket ini. Di ujung koridor lantai 2, Amelia melihat itu semua. Mukanya yang tadi merah karena malu, sekarang ungu kehitaman! Panas! Iri! Benci! "Curang! Curang! Harusnya aku yang digendong Kak Enzo! Harusnya aku yang jadi Nyonya Besar!" geramnya dalam hati sambil menginjak-injak lantai sampai heelsnya mau patah. Sementara Pak Deon yang masih berdiri di depan pintu ruangannya, hanya bisa geleng-gelen
BRAK!` Pintu ruangan Pak Deon terbuka kasar! Enzo keluar dengan wajah merah padam. Dari dalam ruangan kaca, ia melihat semua. Di detik terakhir, Enzo dengan sigap menangkap tubuh Zoya yang hampir jatuh! Zoya langsung jatuh ke pelukan Enzo. Grep! "Sayang! Kamu gak apa-apa?!" Zoya memeluk dada Enzo, gemetar. "Aku gak papa," jawabnya pelan. Enzo yang melihat siapa pelakunya, matanya langsung menyala. "KAMU BILANG APA TADI SAMA ISTRI SAYA?! DAN KAMU BERANI DORONG ISTRI SAYA?!" Wajah Amelia langsung pucat dan nangis takut beneran. Tangannya yang masih di udara langsung turun lemas. "Ma... maaf Kak Enzo. A-aku... tadi gak sengaja." Enzo sudah mengepalkan tangan, mau lanjut bentak Amelia lagi, TAPI... "SUDAH CUKUP, ENZO!" Suara berat Pak Deon membentak dari dalam ruangannya. Ia keluar dengan wajah super dingin dan kecewa. Ia menatap Enzo, Zoya, dan Amelia yang masih mematung di koridor. Semua staff langsung diam, takut. "Jangan bikin malu di kantor! Ini kantor, bukan
Pintu kaca tertutup. `KLEK!` Hanya tersisa Pak Deon dan Enzo di dalam ruangan kerja yang ber-AC dingin. Zoya menunggu di luar. Pak Deon melepas kacamatanya, dan menaruhnya di atas meja. Lalu sambil memijat ujung hidung dia mulai menatap Enzo dengan tatapan menyelidik. Wajahnya tidak marah, tapi lebih ke kecewa dan serius. "Duduk!" Enzo tidak duduk. Ia masih berdiri tegak. "Ada apa, Pa?" Pak Deon menghela napas panjang. "Papa mau tanya serius sama kamu, Enzo. Kamu balik ke kantor ini, kamu serius mau kerja? Mau bantu Papa ngurus Superstar ini? Atau kamu cuma mau main-main? Bikin keributan sama Damar?" Enzo terdiam. "Papa lihat sendiri kan dari tadi. Kamu bawa Zoya ke sini, pamer di depan Damar. Kamu mau bikin kantor ini jadi arena tinju kamu sama Damar rebutan perempuan, Enzo?" "Bukan gitu, Pa," jawab Enzo dingin. "Aku bawa istri sendiri ke kantor. Salahnya di mana?" Pak Deon mengebrak meja pelan. `BRAK!` "Salahnya, istri kamu itu mantan istri karyawan Papa
Tok-tok! "Masuk."'Klik!' Pintu terbuka. Pak Deon mengangkat kepala. Kacamata bacanya hampir jatuh menoleh ke arah sumber suara. Enzo dan Zoya berdiri di depan pintu. Bergandengan tangan. "Enzo?!" Pak Deon spontan berdiri. Wajahnya kaget bukan main. "Kamu... kamu ngapain di sini?" Belum sempat Enzo jawab, mata Pak Deon turun ke tangan mereka yang bergandengan. Lalu menatap Zoya. Wajah kaget Pak Deon langsung berubah. Senyumnya hilang. Jadi datar, bahkan sedikit kesal. "Zoya?" Pak Deon menghela napas berat. "Kamu bawa dia ke sini, Enzo?" Enzo tersenyum, masih bangga. "Iya, Pa. Sengaja aku pingin kenalin istri aku, Zoya. Dan mulai hari ini aku mau bekerja di sini, Pa. Di kantor pusat." Pak Deon tidak menjawab. Ia justru berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke lantai bawah. Dari situ, dia bisa memantau semua karyawan di sana. "Enzo, kamu tau apa yang kamu lakukan?" suara Pak Deon pelan tapi tegas, menahan marah. "Ini kantor pusat, Superstar, Z







