LOGIN_o0o_
"Permaisuri Zhang sungguh menakutkan," ujar salah satu selir.
"Kau benar, aku sampai merinding," sahut yang lain.
"Permaisuri Zhang kini bukan seperti Permaisuri Zhang yang dulu."
"Iya
Lu Si mengangguk cepat dengan mata berbinar senang. "Kakak Feng bahkan tidak peduli saat para menteri tua di kekaisaran Feng mulai berbisik-bisik soal jumlah peti yang berlebihan. Kakak hanya menatap mereka lurus-lurus dan berkata, 'Semua ini adalah bekal untuk Pangeran Feng dan istrinya. Tidak ada satupun aturan kekaisaran yang melarang seorang kakak untuk menjamin kenyamanan adiknya.'"Lu Si mendengus geli, sebuah senyuman bangga terukir di wajahnya. "Kakak Feng benar-benar ingin memastikan bahwa saat kalian memimpin esok hari, tidak akan ada satu pun bangsawan kolot kekaisaran Zhu yang berani memandang kalian sebelah mata."Yue Ning menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ibu jarinya perlahan bergerak melingkari pinggiran porselen cangkir teh yang hangat. Rasa syukur menyebarka
"Lepaskan! Beraninya prajurit rendahan sepertimu menyentuh kulitku?!" jerit Ruoxi histeris.Sebelum Zhao Ling bertindak lebih jauh, Lu Si sudah melangkah maju. Dengan satu sentakan kuat, ia mendorong tangan Ruoxi menjauh dari jangkauan Zhao Ling, lalu berkacak pinggang tepat di depan dada pria itu."Heii! Berani-beraninya kau memegang tangan perempuan lain di depanku?!" semprot Lu Si, matanya mendelik galak pada Zhao Ling.Lu Si kembali memutar tubuhnya, menatap Ruoxi dengan pandangan jengkel yang tak lagi ditutupi. "Lagipula, aku ini sudah sangat berbaik hati, ya. Mau memilihkan sekaligus membayari perhiasan yang paling cocok dengan guratan wajahmu. Aku beri tahu. Sadar diri itu penting!"Lu Si melirik anting mutiara yang masih digenggam erat oleh Ruoxi, lalu mencibir p
Sebuah bunyi tawa yang tertahan lolos begitu saja dari sela bibir Lu Si. Ia menutupi mulutnya dengan punggung tangan, namun bahunya yang terguncang hebat tidak bisa menyembunyikan rasa geli yang meluap.Senyum Ruoxi seketika lenyap. Wajahnya menegang, matanya mendelik tajam ke arah Lu Si. Berani-beraninya seorang gadis asing menertawakannya di depan umum? Namun, saat tatapannya mempelajari wajah Lu Si lebih dekat, alis Ruoxi bertaut. Gadis di depannya ini mengingatkan dirinya pada Yue Ning, sepupu rendahannya yang entah bagaimana nasib baiknya bisa diangkat menjadi calon permaisuri Zhu oleh Feng.Ruoxi mengangkat dagunya tinggi, melempar tatapan meremehkan yang pekat. "Kau pasti putri salah satu pejabat kekaisaran Feng yang baru dipindahkan kemari, bukan? Dengar baik-baik, ini peringatan pertama dan terakhir dariku. Kau tidak akan sanggup menanggung akibatnya j
_o0o_"Waahh!!!" seru Lu Si setelah menatap lingkungan sekitar. Hari ini adalah hari kedatangannya di Kekaisaran Zhu. Harusnya ia kemari bersama Kakak Feng dan kakak iparnya seminggu lagi. Namun, Lu Si sudah berada di Kekaisaran Zhu karena ingin melihat dan menikmati wilayah yang akan di pimpin kakak kembarnya kelak.Gadis yang memakai hanfu berwarna merah muda seperti bunga plum itu berjalan ke berbagai arah di pasar ibukota kekaisaran Zhu.Di belakangnya, Jenderal Zhao mengikuti seperti setiap langkah gadis ceria itu."Aaaa." Tangan Lu Si terangkat menawarkan sebuah manisan yang baru dibelinya. "Enak?" tanya Lu Si ketika Zhao Ling masih mengunyah."Manis."Lu Si menatap jengah.
Malam itu, lentera-lentera kertas di sepanjang selasar Istana Zhu baru saja disulut, melemparkan pendar kuning yang bergoyang di lantai kayu. Di dalam paviliunnya yang sunyi, Yue Ning duduk terpaku. Pandangannya tertambat pada selembar gulungan sutra tebal yang tergelar di atas meja rendah.Kain sutra merah, kotak-kotak perhiasan emas lambang kekaisaran Zhu, dan tata cara penyambutan altar leluhur tersusun rapi yang harus ia pelajari.Pernikahan akan diselenggarakan kurang dari sebulan lagi. Jemari Yue Ning berhenti di atas baris kuas paling bawah, tempat dua nama bersanding erat sebagai penguasa baru wilayah ini, Feng Huang Ji dan Zhu Yue Ning.Yue Ning memejamkan mata, menghembuskan napas panjang. Kejadian di aula pertemuan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Tepat saat itu, suara langkah kaki yang santai nam
_o0o_Atmosfer di aula utama Istana Zhu yang dialihfungsikan menjadi ruang pertemuan sementara terasa begitu kaku, dipenuhi oleh gumaman rendah para pejabat. Sebagian besar adalah menteri lama Zhu yang memilih tunduk demi keselamatan keluarga, sementara sisanya adalah pejabat utusan kekaisaran Feng yang dikirim untuk mengawasi masa transisi.Yue Ning duduk di kursi kayu berukir di sisi kanan Huang Ji. Punggungnya ditarik lurus sempurna, sepasang tangannya tersusun rapi di atas lutut. Namun, di balik lipatan lengan kainnya yang lebar, jemarinya saling meremas satu sama lain. Ini adalah rapat formal pertama yang ia hadiri, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata di bawah sana sedang menguliti sosoknya dengan tatapan meragu, penasaran, bahkan ketidaksukaan yang terang-terangan."...dengan demikian, pasokan gandum unt







