ログインAland juga ikut bertanya. Pasalnya jika nyonya Ratna tahu nama ibunya Erick, itu artinya Nyonya Ratna juga mengenal pria itu. "Iya, dari mana Tante tahu nama ibunya Erick? Tante kenal sama mereka?" tanya Aland dengan wajah yang tak kalah serius dari Vina. Ruangan berubah menjadi lebih dingin. Nyonya Ratna yang sedang menggendong baby Raisya, wanita itu harus terlihat tenang agar sang bayi tidak menangis. Sementara itu Romi, sepertinya pria itu harus mengungkapkan semuanya. Tapi, ia juga memikirkan bagaimana respon Aland nanti jika tahu bahwa Erick adalah adik sepupunya sendiri. "Ya Tuhan, ini semakin pelik. Aku harap bos bisa mengerti keadaan nyonya Ratna. Sebenarnya kasihan juga melihatnya seperti ini. Dia pasti sangat merindukan putranya!" batin Romi yang masih berdiri di belakang Aland. Karena Nyonya Ratna sudah terlanjur mengatakan demikian. Akhirnya wanita itu mengaku jika dirinya sudah mengenal Nyonya Rose. "Ohhh iya, aku.. aku cuma menebak saja. Tante lupa kalau dulu
Romi yang sejatinya sudah tahu rahasia besar Nyonya Ratna. Pria itu pun langsung terkesiap. Bahkan, ia belum sempat cerita pada bosnya tentang siapa Erick Hermawan itu. "Gawat! Ada Nyonya Ratna di sini. Tapi sepertinya Nyonya Ratna tidak akan tahu selagi aku nggak ngasih tahu kalau Erick itu adalah anaknya, masih aman lah!" batin Romi. Aland yang mendengar sang Tante bertanya tentang Erick, pria itu pun menjawab apa adanya. "Erick Hermawan itu adalah musuh kita, Tante. Dia sengaja datang ke Indonesia untuk membunuhku. Entahlah, aku sendiri tidak tahu apa salahku padanya sehingga dia ingin mencelakai aku dan istriku. Itulah kenapa Vina melahirkan secara darurat di dalam mobil, semua itu gara-gara dia!" ungkap Aland. Nyonya Ratna nampak terdiam sesaat. Nama belakang Erick mengingatkannya pada nama seorang pria yang tak lain adalah suami Nyonya Rose, Hermawan. "Erick Hermawan! Kenapa aku merasa nggak asing dengan nama itu, ya Tuhan, jangan-jangan!" gumam Nyonya Ratna yang mulai
Nyonya Ratna juga ikut memeluk Aland. "Hai, Land. Gimana kabarmu?" tanya nyonya Ratna sesaat ia melepaskan pelukannya. Aland tersenyum sambil memperhatikan sekeliling. "Seperti yang Tante lihat sekarang. Kebahagiaan menjadi bapak lagi masih menghiasi wajahku yang yang tampan kan, Tante?" Seperti biasa, Aland masih suka bercanda dengan sang Tante yang sudah lama tidak bertemu. "Kamu ini dari dulu tidak pernah berubah! Ohhh iya, di mana cucu keponakanku yang baru?" sahut Nyonya Ratna sambil memperhatikan sekeliling. Lantas, Vina langsung menunjukkan di mana Baby Raisya ditidurkan. Nyonya Ratna sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan cucu perempuannya yang konon memiliki wajah yang sangat mirip sekali dengan Vina. "Dia di sana!" tunjuk Aland pada kotak bayi di mana sang anak sedang beristirahat. Nyonya Ratna langsung berjalan menuju ke kotak bayi baby Raisya. Perlahan wajah mungil bayi perempuan itu mulai terlihat. Nyonya Ratna tersenyum senang, segera ia mengangk
Karena Nyonya Ratna yakin jika wanita yang dilihatnya adalah Rose, ia pun segera menghampirinya. Ia tahu betul jika Rose adalah wanita yang diamanahkan untuk merawat bayinya oleh kedua orang tuanya. Di saat Nyonya Rose selesai membayar barang yang dibelinya, tiba-tiba wanita itu terkejut bukan main saat melihat wajah Nyonya Ratna di hadapannya. "Hai, nyonya Rose. Akhirnya kita bertemu lagi setelah bertahun-tahun. Apa kabar Anda?" sapa Nyonya Ratna yang terlihat tenang. Ia hanya menyapa wanita itu bukan bermaksud lain. Tapi, nyonya Rose terlihat khawatir dan takut. Wanita itu pun menjawab singkat, setelah itu ia langsung pergi agar Nyonya Ratna tidak bertanya macam-macam lagi. "Ya Tuhan, wanita itu! Kenapa harus sekarang aku bertemu dengannya! Semoga saja dia tidak berniat mengambil Erick dari sisiku. Aku nggak mau Erick meninggalkan aku!" gerutu Nyonya Rose yang nampak gugup, takut jika Nyonya Ratna bertemu dengan putranya di saat sekarang. Tak ingin Nyonya Ratna curiga. Nyo
Keempat anak buahnya langsung terdiam meskipun dalam hati mereka sangat kesal dengan ucapan Erick. "Pergi kalian, aku tidak mau melihat wajah kalian lagi!" titah pria itu sambil membelakangi keempat pria itu. "Tapi bos, masa nggak ditambah bayaran kami? Katanya gagal atau berhasil, Anda akan menambah bayaran kami. Bos tahu sendiri kami babak belur dan butuh pengobatan. Uang segitu mana cukup untuk berobat belum lagi dikasih ke istri!" protes salah satu di antara mereka sambil menunjukkan beberapa lembar uang seratus ribuan sebanyak Lima. Erick langsung menoleh ke arah mereka dengan tatapan mata yang tajam. "Hei! Kerjaan kalian saja gagal! Enak saja kalian minta tambah. Cukup tidak cukup ya itu bayaran kalian. Aku tidak peduli dengan muka kalian yang bonyok. Salah sendiri tidak bisa berpikir!" umpat pria itu tanpa mau tahu keadaan keempat pria suruhannya. Rupanya, ucapan Erick semakin membuat keempat pria itu kesal. Mungkin kali ini mereka bisa diam, tapi suatu hari nanti Eri
Tanpa menutup ponselnya, Aland meletakkan ponsel itu begitu saja di atas dashboard. Pria itu segera membantu istrinya untuk menangkap bayi mereka yang akan segera keluar. Vina terus berusaha untuk mengejan sekuat tenaga dan pada akhirnya kepala bayinya mulai keluar semakin banyak. "Aaarrrggghh!" Teriakan Vina semakin kuat, dengan satu tangannya berpegangan pada sisi pintu dan tangan lainnya menahan kaki. Vina terus mendorong bayinya untuk segera keluar. Sementara itu Aland mengurangi kecepatan mobilnya, ia tidak bisa menepi karena mobilnya berada di tengah-tengah padatnya aktivitas jalan raya. Dan setelah beberapa saat, bayi sehat dan memerah itu keluar dari jalan lahir sang ibu. Spontan Vina menahannya dengan kedua tangannya agar sang jabang bayi tidak terjatuh ke bawah. Dengan mata telanjang, Aland menyaksikan istrinya melahirkan di dalam mobil. Pria itu sangat shok sekaligus bahagia. Suara tangis bayi mereka langsung pecah saat itu juga. Vina segera mendekap si jabang b







