ANMELDENRina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah.
Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan baik.Ia menoleh ke arah Dimas yang berdiri menunduk tak berani menatap matanya. "Mas?" panggil Rina pelan, terkejut melihat perubahan itu. Dimas menelan ludah, suaranya keluar pelan dan penuh rasa takut. "A... aku... aku cuma mau bantu, Ri. Aku cuci baju, aku pel lantai... maaf kalau ada yang salah atau kurang bersih. Aku... aku takut kamu marah lagi." Ia menunduk makin dalam, lalu melanjutkan dengan suara bergetar, seolah membuka rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan. "Ri... aku tahu aku ini egois. Selama ini aku suka marah-marah, aku keras kepala, aku mau menang sendiri. Tapi sebenarnya... semua itu cuma aktingku saja". Air mata mulai menetes di pipi Dimas. Ego dan gengsinya yang besar akhirnya runtuh sepenuhnya, berganti dengan kejujuran yang menyakitkan. "Aku sadar sekarang, aku cuma beban buat kamu. Tapi aku janji... mulai hari ini aku akan berubah. Apa saja yang bisa aku kerjakan, akan aku lakukan. Aku tidak mau lagi marah-marah tanpa alasan. Aku mau nurut sama kamu, aku mau bantu kamu. Tolong jangan tinggalkan aku, Ri... aku tidak sanggup hidup sendirian." Rina berdiri diam, matanya menatap suaminya lekat-lekat. Ia melihat ketakutan yang tulus, rasa bersalah yang mendalam, dan keinginan untuk berubah di wajah Dimas. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat perlahan. Ia mengusap pelan bahu Dimas. Wajahnya tidak lagi keras seperti pagi tadi, tapi juga tidak sepenuhnya lembut. "Mas... aku sudah lama menunggu kata-kata itu keluar dari mulutmu," ucapnya tenang . "Aku tidak butuh suami yang galak atau yang mau menang sendiri. Aku butuh teman hidup yang mau bekerja sama, mau saling bantu, dan mau jujur sama perasaannya. Kalau kemarin kamu diam dan marah-marah, aku memang capek dan kecewa. Tapi hari ini... kamu sudah membuktikan sesuatu." Rina menunjuk ke arah rumah yang bersih itu. "Kerjamu ini sudah bagus, Mas, aku senang". "Tapi ingat ya, ini bukan cuma dilakukan karena takut aku marah". ". Tapi kalau kamu sudah sadar dan mau berubah, masih ada waktu buat kita perbaiki semuanya sama-sama." Dimas mengangkat wajahnya, matanya berbinar penuh harap. "Be... benar, Ri? Kamu tidak marah lagi sama aku?" "Aku tidak marah," jawab Rina sambil tersenyum tipis". "Tapi aku mau kamu konsisten. Besok, lusa, dan seterusnya, sikapmu harus tetap begini". " Jangan kembali ke sifat lama lagi. Sekarang, ayo kita bersiap makan malam. Aku sudah beli lauk di jalan." Dimas mengangguk antusias, rasa takutnya berubah menjadi rasa lega dan bahagia. " Aku harus mengambil hati istriku dan pura pura baik dulu saat ini" Dimas hanya menatap punggung istrinya dengan senyuman licik dan helaan nafasnya. Malam itu, setelah makan malam mereka berdua membereskan meja makannya. Dimas berpamitan pada Rina untuk ikut ronda di pos penjagaan dekat rumah. Ia ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar mau berubah dan ikut serta dalam kegiatan warga, tidak hanya diam di rumah saja. Rina tersenyum dan mengangguk senang, merasa apa yang ia harapkan perlahan mulai terwujud. Di pos ronda, suasana sedang ramai.,beberapa bapak-bapak sedang duduk mengobrol sambil minum kopi. Di sana, Dimas berpapasan dengan Pak Adi, warga yang tinggal di ujung jalan itu. Pak Adi dikenal sebagai orang yang punya usaha dagang dan beberapa gudang penyimpanan barang. "Eh, Dimas, sudah lama tidak lihat kamu ikut ronda. Apa kabar?" sapa Pak Adi ramah sambil menepuk bahu Dimas. "Kabar baik, Pak. Iya, ini baru sempat ikut lagi. Sekarang mau lebih sering keluar dan bantu-bantu di mana saja," jawab Dimas dengan sopan, berbeda sekali dengan sikapnya yang dulu sering sombong dan dingin. Dimas mulai memainkan sandiwaranya berpura pura baik demi mencari perhatian warga. Mereka pun mengobrol panjang lebar. Tak lama kemudian, Pak Adi mengeluh sedikit. "Sebenarnya saya lagi pusing nih, Dimas. Kantor saya butuh orang jaga gudang. Barang-barang di sana cukup banyak dan berharga, tapi penjaga yang lama baru saja berhenti". "Sampai sekarang belum ada yang cocok mengisi tempatnya. Padahal saya butuh orang yang jujur, bisa dipercaya, dan mau tekun bekerja." Mendengar itu, hati Dimas berdebar kencang. Ini kesempatan emas! Ia tidak mau menyia-nyiakan peluang yang datang begitu saja. Ingat betul ia betapa kesalnya di hina oleh istrinya karena selama ini menanggung hidup berdua. Dan betapa ia sangat butuh pekerjaan agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada istrinya lagi. Tanpa ragu, Dimas langsung menatap Pak Adi dan berkata dengan sungguh-sungguh dengan suara memohon. "Pak Adi... kalau Bapak belum dapat orangnya, saya... saya bersedia mencoba. Saya butuh pekerjaan, Pak. Saya janji akan bekerja sebaik mungkin, jujur, dan bertanggung jawab penuh. Saya tidak akan mengecewakan Bapak." Pak Adi agak terkejut, lalu menatap wajah Dimas lekat-lekat. Ia melihat ketulusan dan semangat yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari pemuda itu. "Kamu serius, Dimas? Kerja jaga gudang itu harus sabar, kadang harus bersih-bersih juga, tidak boleh malas lho," kata Pak Adi memastikan. "Saya serius, Pak! Saya siap melakukan apa saja yang jadi tugas saya" " Dulu saya memang salah, malas dan banyak maunya. Tapi sekarang saya sadar, saya mau berubah demi istri dan demi masa depan kami. Tolong beri saya kesempatan ini, Pak," jawab Dimas dengan nada memohon namun penuh keyakinan. Pak Adi tersenyum lebar, tampak senang mendengarnya. "Bagus kalau begitu. Kalau niatmu sudah bulat dan mau berubah, saya percaya sama kamu". "Ya sudah, besok pagi-pagi sekali kamu langsung datang ke kantor saya. Alamatnya saya tulis di sini. Kamu lapor ke bagian administrasi, bilang saya yang menyuruhmu masuk kerja mulai besok." Dimas merasa sangat bahagia dan terharu. Rasanya seperti mendapat harta karun. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil bersalaman erat dengan Pak Adi. "Terima kasih banyak, Pak! Saya janji akan membuktikan bahwa pilihan Bapak tidak salah. Terima kasih banyak!" Malam itu Dimas pulang dengan langkah ringan dan hati yang berbunga-bunga. Begitu masuk rumah, ia langsung menemui Rina yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Wajahnya berseri-seri, berbeda jauh dari wajah takut dan bingung yang dulu selalu ia tunjukkan. "Ri! Rina!" panggilnya bersemangat. "Kamu dengar tidak? Tadi di pos ketemu Pak Adi. Dia butuh orang jaga gudang, dan dia menawarkannya ke aku!" " Besok pagi aku disuruh datang ke kantornya untuk mulai kerja!" Rina terbelalak kaget, lalu wajahnya berubah menjadi sangat gembira. Ia langsung berdiri dan mendekati suaminya. "Benar kata kamu, Mas? Itu berita yang sangat bagus! Alhamdulillah... aku senang sekali dengarnya." Dimas mengangguk, matanya berkaca-kaca karena haru. Ia memegang tangan istrinya dengan lembut. Dimas berpura pura haru dan ingin terlihat sudah berubah di depan Rina "Ini semua karena kamu, Rin. Karena kamu mau menegur aku dan mau sabar sama aku". " Kalau aku masih tetap keras kepala dan egois seperti dulu, mungkin aku tidak akan berani bicara sama Pak Adi, dan kesempatan ini pasti lewat begitu saja". "Besok aku akan kerja sungguh-sungguh. Aku ingin bantu kamu, aku ingin kita sama-sama menafkahi rumah ini. Aku tidak mau lagi jadi beban buat kamu." Rina tersenyum tulus, lalu mengusap lengan suaminya "Kerja yang rajin, jaga kepercayaan orang, dan jangan lupa uangnya nanti di tabung mas buat masa depan kita". Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tidur Rina terasa nyenyak dan damai. Tapi tidak dengan Dimas yang tampak gelisah belum tidur. Dimas menatap tajam Istrinya dan tersenyum licik sambil mengepalkan tangannya.“Baiklah, aku siap melakukan apa saja demi kita,” jawab Dimas dengan penuh keyakinan. Di dalam hatinya, ia justru merasa senang dengan rencana ini. Bukan hanya karena bisa lebih jauh dari Rina, tapi juga karena di Bandung ia akan memiliki posisi yang lebih baik, gaji yang mungkin lebih besar, dan jauh lebih mudah untuk menyembunyikan semua uang yang ia kumpulkan tanpa diketahui siapa pun. Tapi ia tidak mengatakan hal itu pada Sari. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku akan tunjukkan bahwa keputusan Ibu—eh, maksudku keputusan Sayang ini benar. Aku akan bekerja sebaik mungkin di Bandung, supaya kamu tidak menyesal.” Sari tersenyum bahagia dan mencium kening Dimas. “Itu yang aku harapkan. Ingat terus, jaga rahasia ini seketat mungkin. Sampai kita siap untuk membuka semuanya nanti, tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.” “Janji,” jawab Dimas singkat, sambil memeluk Sari kembali. Mereka berdua duduk berdiskusi lebih lanjut mengenai cara menyampaikan hal ini pada Anto dan reka
Sementara itu, di rumah sederhana , malam itu terasa sangat panjang dan menyiksa bagi Rina. Sejak Dimas pergi keesokan harinya, tidak ada kabar sama sekali. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lalu satu pagi, namun Dimas belum juga pulang. Rina duduk di tepi kasur dengan lampu kamar yang menyala redup. Beberapa kali ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Dimas, berharap suaminya akan mengangkat teleponnya. Namun setiap kali hanya terdengar suara dering yang berulang, dan akhirnya berakhir dengan pesan bahwa nomor yang dituju sedang tidak dapat dihubungi. Dimana dia? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Atau apakah dia masih marah padaku karena hal kemarin? Rina terus bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa cemas, takut, dan sedih bercampur jadi satu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di luar sana, saat ia menunggu di rumah yang sepi, Dimas sedang bersenang-senang bersama wanita lain yang jauh lebih kaya dan menarik darinya.
Rina mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan keluar dari rumah dengan langkah yang berat. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekali ke arah Dimas yang kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya lagi, kali ini wajahnya kembali terlihat senyum-senyum sendiri seperti tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi. Saat Rina benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi, Dimas segera berdiri dan kembali membaca pesan dari Bu Sari. "Sudah siap belum? Aku sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu. Jangan terlambat ya." Dimas tersenyum lebar kali ini, jauh berbeda dengan wajah marahnya pada Rina tadi. Ia mengetik balasan dengan cepat: "Siap Bu. Aku akan berangkat sekarang. Terima kasih sudah menunggu." Di dalam hati Dimas, ia merasa puas dan lega. Dengan mengusir Rina sebentar dan membuatnya merasa rendah diri, ia bisa bebas pergi menemui Bu Sari sesuai rencananya. Ia tidak peduli sama sekali bahwa Rina hanya ingin terlihat rapi dan baik, atau bahwa perkataannya itu sangat menyakiti
Mendengar kata-kata itu, air mata Rina kembali menetes. "Ibu… kenapa harus terburu-buru begitu? Rina masih ingin belajar dari Ibu. Tapi kalau memang harus begitu, semoga perjalanan Ibu selamat sampai tujuan ya." "Iya Nak, terima kasih. Jangan marah sama Dimas terlalu lama ya. Ibu pamit dulu," jawab Ibu Dimas, lalu segera berjalan mengikuti Dimas menuju pintu depan. Rina hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan mereka berdua pergi. Ia merasa sangat bingung. Kemarin ibunya Dimas masih bersikap ramah dan manis, tapi hari ini malah pergi dengan terburu-buru. Ia tidak menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari rencana Dimas yang lebih besar. Sebenarnya, alasan utama Dimas menyuruh ibunya pulang bukanlah karena ada urusan di kampung. Ia khawatir sekali. Ia sudah mulai menjalin kedekatan dengan Bu Sari, dan hubungan mereka semakin erat. Ia tidak ingin ibunya atau Rina melihat atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apalagi jika suatu saat nanti ia harus mendua dan berinter
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua berteriak dan bertengkar malam-malam begini?" tanya Ibu Dimas dengan suara yang tegas namun khawatir, lalu langsung menghadap ke arah Rina. "Rina, kamu tidak apa-apa nak? Kenapa kamu menangis?" Mendengar suara ibunya, Dimas hanya mengangkat bahu santai. "Nggak apa-apa Bu, cuma Rina saja yang sensitif sekali. Aku cuma bilang ke dia supaya dia lebih jaga penampilan dan kebersihan saja." "Kamu bicara apa itu?" Ibu Dimas langsung menatap anaknya dengan tajam. "Meskipun Rina itu tidak punya banyak uang, dia sudah bekerja keras menjaga rumah dan melayani kita selama ini. Kamu kok bisa bicara kasar dan menghina dia begitu? Bau asem apa yang kamu maksud? Dia sudah mandi dan merawat diri seperti biasa." Ibu Dimas kemudian berbalik menghadap Rina dan memegang bahu menantunya itu. "Jangan didengarkan kata-kata kasar anakku ya, Nak. Dia cuma sedang capek dan tidak berpikir panjang. Ibu minta maaf atas perkataan anakku itu." Namun yang tidak diduga oleh
Malam itu sudah cukup larut saat Dimas sampai di rumah. Jalanan sudah sepi dan udara terasa dingin, namun di dalam hatinya Dimas penuh dengan rasa bangga dan kepuasan yang tidak ia tunjukkan. Ia baru saja kembali dari rumah Sari, dengan perasaan bahwa ia sudah mendapatkan peluang besar dan dukungan dari wanita yang sangat ia inginkan. Saat ia membuka pintu rumah, cahaya lampu ruang tamu masih menyala terang. Rina sudah duduk menunggunya sejak tadi, dengan wajah yang tampak cemas dan menunggu. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Rina segera berdiri dan menghampiri suaminya. "Mas, kamu sudah pulang. Aku sudah siapkan makanannya tadi, sudah dihangatkan lagi. Kamu pasti lelah sekali ya, makan dulu ya supaya tenagamu kembali," ucap Rina dengan suara lembut, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Namun Dimas hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak terlihat senyum seperti biasa. Ia melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi, lalu duduk santai sambil menghela napas panjang.
Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar
Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci
Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu
Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa







