แชร์

148. Pertarungan IV

ผู้เขียน: Murlox
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-21 18:41:25

Di istana, Kasim Li merangkak bangkit dari puing dengan susah payah, tapi gelombang kejut baru dari serangan God of Darkness melemparnya lagi seperti boneka rusak. “Tuan... kekuatanku... tak cukup untuk berdiri di samping dewa,” desahnya sendirian, pengkhianatannya gagal total tanpa ada yang peduli.

Feng Longwei terhuyung parah, lutut kirinya menyentuh tanah berdebu pertama kali, kesadarannya terkikis cepat—bayangan masa lalu melintas nyata: diremehkan sebagai pangeran sampah sejak kecil, pengk
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
cerita yg sangat bagus
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   154. Menunggu Jawaban

    Kata-kata itu langsung menimbulkan kegaduhan di antara prajurit kekaisaran.Beberapa orang bahkan saling berpandangan dengan wajah tidak percaya.‘Tuanku?’Istilah itu terasa sangat aneh.Mong Chuyun sedikit mengernyit.“Tuanmu?” ulangnya pelan.Ia mengingat informasi yang ia ketahui tentang kota Linglong.“Setahuku, kota ini berada di bawah komando Long Huibong,” ujar Mong Chuyun. “Dia adalah komandan garnisun kekaisaran di wilayah ini.”Ia menatap Tian Moran lebih dalam.“Apakah dia yang kau maksud?”“Jika benar begitu, maka tidak ada alasan bagi Long Huibong untuk menutup gerbang dan menahan rombongan kaisar di luar.”Namun reaksi Tian Moran membuat semua orang semakin bingung.Pria itu perlahan menggelengkan kepala.Satu gerakan sederhana.Namun dampaknya seperti batu yang dilempar ke tengah danau.Semua orang terdiam.“Kalau bukan Long Huibong… lalu siapa?” gumam salah satu perwira kekaisaran.Jendral Mo Fuchen yang sudah berdiri tegak kembali maju beberapa langkah. Wajahnya masi

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   153. Bukan Pengecualian

    Tekanan yang menyebar dari tubuh Tian Moran belum juga mereda.Udara di depan gerbang kota Linglong terasa berat, seolah-olah ruang di sekitarnya ditekan oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Prajurit-prajurit kekaisaran yang berada di barisan depan bahkan mulai berkeringat dingin. Beberapa dari mereka menundukkan kepala tanpa sadar, berusaha menahan tekanan kultivasi yang tak mampu mereka lawan.Jendral Mo Fuchen berdiri beberapa puluh langkah dari gerbang. Ia telah berhasil menahan tubuhnya agar tidak mundur lebih jauh, tetapi kedua kakinya masih terasa berat seperti ditanam ke tanah.Tangannya yang menggenggam pedang sedikit bergetar.Bukan karena takut.Melainkan karena tubuhnya secara naluriah merasakan bahaya.Mo Fuchen mengerutkan kening dalam-dalam. Pikirannya berputar cepat, mencoba mengingat sesuatu yang samar di ingatannya.“Tekanan seperti ini… bukan milik kultivator biasa,” gumamnya dalam hati.Ingatan lama tiba-tiba muncul di benaknya.Beberapa waktu lalu, jaringan inte

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   152. Rombongan Kaisar

    Rombongan Kaisar Feng Zhuqu bergerak perlahan melintasi jalan utama yang mengarah ke Provinsi Guangli. Perjalanan panjang dari ibu kota telah memakan waktu beberapa hari, dan sebagian besar prajurit terlihat letih meskipun tetap menjaga formasi. Bendera kekaisaran berkibar di barisan depan, menjadi tanda jelas bagi siapa pun yang melihat bahwa penguasa tertinggi negeri itu sedang melakukan perjalanan.Menjelang senja pada hari keempat, tembok kota Linglong akhirnya terlihat di kejauhan.Kota itu dikenal sebagai pusat penting di wilayah provinsi Guangli. Jalur perdagangan dari utara dan selatan bertemu di sana, membuatnya selalu ramai oleh pedagang, prajurit, dan utusan dari berbagai daerah. Biasanya, begitu rombongan kerajaan mendekat, gerbang kota akan segera dibuka, para pejabat lokal bergegas keluar untuk menyambut, dan jalan utama akan dipenuhi warga yang ingin melihat sang kaisar.Namun kali ini tidak demikian.Gerbang kota Linglong tertutup rapat.Dua daun gerbang kayu raksasa y

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   151. Kekhawatiran

    Di dalam sekte Pedang Langit. Berita tenggelamnya kekaisaran Dinasti Yan oleh pemberontakan dan serangan monster sudah menyebar luas hingga menjadi topik para murid dan tetua sekte.Di aula Paviliun Pedang Giok, para tetua serta ketua sekte berkumpul dalam diskusi serius.Saat itu Huang Buren, pemimpin sekte Pedang Langit tampak terdiam namun ekspresinya serius. Dalam benaknya ia tak menyangka Dinasti Yan akan menemui akhir yang mengerikan."Ketua sekte, masalah ini sudah melewati batas. Dinasti Barat keterlaluan sekali dalam melancarkan serangan ke daratan timur ini. Sampai menggunakan sihir kegelapan hingga memanggil monster dari dunia lain. Benar-benar tak bisa diampuni." ucap tetua Hong Yun.Huang Buren berdiri dari kursinya, ia berjalan ke arah jendela paviliun dan menatap langit biru di kejauhan."Sekte Pedang Langit kita memiliki ikatan dengan Dinasti Yan. Tentu saja masalah ini tak bisa diabaikan begitu saja. Kirim beberapa murid dan tetua untuk menyelidiki situasi di istana k

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   150. Bayangan Ancaman

    Kota Linglong di provinsi Guangli bagaikan oase tenang di tengah badai kehancuran. Jauh dari neraka kehancuran, jalan-jalan batu yang rapi masih dipenuhi pedagang keliling dan warga yang beraktivitas seperti biasa. Pohon-pohon willow menjuntai lembut di tepi sungai kecil, angin sepoi membawa aroma bunga liar. Namun ketenangan itu retak sejak fajar menyingsing. Kabar kehancuran ibu kota kekaisaran menyebar lebih cepat dari api melalap jerami.Awalnya, tak seorang pun percaya. "Mustahil Dinasti Yan jatuh begitu saja," Kata para penduduk di kedai teh. Tapi ketika Long Huibong, memperketat penjagaan benteng—prajurit berzirah lengkap berpatroli dua kali lipat, gerbang kota ditutup rapat—kenyataan itu meresap seperti racun. Rumor bergulir liar di restoran pinggir jalan, di mana para pria bersantap mi panas sambil mendengarkan bisik-bisik kerumunan."Ini tak bisa dipercaya," kata seorang pandai besi berotot lebar, meletakkan mangkuknya dengan keras. "Bahkan jika Dinasti Barat menyerang ibu

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   149. Pelarian Dalam Kegelapan

    Istana kekaisaran berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung. Langit di atas reruntuhan istana tertutup pusaran awan hitam pekat, pusatnya menganga seperti lubang raksasa tak berujung. Dari celah dimensi itu, monster-monster ganas berhamburan keluar bagai banjir.Mereka merayap ke segala arah, merobek dinding kota, menerkam siapa saja yang masih bernapas. Jeritan warga memenuhi udara, bercampur raungan haus darah monster yang tak pernah putus. Reruntuhan istana kini menjadi sarang iblis, api dan asap hitam menyala di puing-puing, menerangi mayat-mayat berserakan. Benteng ibu kota, benteng pertahanan terkuat Dinasti Yan, telah runtuh. Gerbang timur hancur berkeping-keping, jalan masuk kota dipenuhi darah prajurit yang bertumpuk. Kapten Wei tergeletak di antara mereka, pedangnya patah, dada robek oleh tombak. Para prajurit Dinasti Yan yang tersisa tercerai-berai, tanpa komando jenderal utama, tak ada perintah yang jelas. Sebagian bertarung mati-matian, ada pula yang lari ke gan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status