Mag-log inPerlahan Katya turun dari atas jembatan.
Niatnya pupus sudah. Dia tak sanggup menjalani hidup ini tapi untuk mati dia juga tak berani.
Keadilan memang sulit dia dapatkan.
Pada intinya memang dia yang bodoh mau saja melakukan hal itu. Katya tak pernah punya keinginan untuk membalas dendam. Akan tetapi hatinya begitu sakit saat tahu dia harus menanggung semua akibat kesalahannya seorang diri, sedangkan sutradara dalam drama ini melenggang bebas dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Prof. Ben tak berhak mendapatkan proyek itu dan mungkin saja semua proyek yang dia dapatkan dengan cara licik. Dia memang lemah dan tak berdaya tapi semutpun bisa mengalahkan gajah jika dia mau. Dengan semangat itu, Katya kembali menjalankan motornya kali ini dia akan pulang kembali ke rumahnya. Malam belum terlalu tua, jika perkiraannya benar jam delapan malam dia sudah akan sampai ke tempat yang dia tuju. Semoga saja kakaknya sudah pulang kembali ke rumahnya, jadi dia tak perlu bertemu dengan kakaknya itu. Katya membuka pintu rumah dengan hati-hati, dia memang sengaja memarkir motornya di tepi jalan, supaya memudahkannya untuk pergi lagi. Sepi. Dia menghela napas lega, akhirnya sang kakak pulang juga. Bukan dia tak mau kenal dengan saudaranya lagi tapi dalam kondisi pikiran ruwet seperti ini dia tak butuh penghakiman dari siapapun terutama kakaknya. Dengan langkah ringan dia membuka pintu kamarnya. "Apa yang mbak lakukan di kamarku?!!!" Mata Katya membelalak saat sang kakak mendekap ranselnya... Ransel yang berisi uang yang diberikan Prof. Ben. "Ternyata kamu memang benar-benar pelacur ya Katya. Bapak dan ibu pasti menangis di alam kuburnya." Katya ingin sekali menampar mulut kakaknya yang lancang itu, tapi saat dia ingat uang yang ada dalam dekapan kakaknya, dia berpikir lain. "Berikan ransel itu padaku, mbak. Uang itu awalnya aku pinjam untuk pengobatan ibu." "Pinjam... Hah murah hati sekali orang yang meminjamnya apa jaminannya adalah tubuhmu?" Katya menggeleng tak tahu lagi bagaiaman harus menjelaskan pada kakak kandungnya ini, setahunya memang sejak dulu mbak Karin memang egois dan mau menang sendiri, tapi dia tidak tahu kalau kakaknya ini juga suka ikut campur urusannya. "Uang ini untuk ibu bukan, jadi akan aku ambil untuk sedekah ibu." "Apa maksudmu?" "Uang ini untuk acara mendoakan ibu, uangku sudah habis untuk acara kemarin jadi ini sebagai gantinya." Tahulah Katya sekarang apa maksud kakaknya ini. "Dengan uang hasil menjual diri, bagaimana kalau semua orang tahu dan menganggap mbak mucikariku." Saat sang kakak bersiap mendebatnya saat itulah Katya bergerak cepat merampas ransel dari tangan kakaknya dan mengunci pintu kamarnya dari luar. "Katya!!! Dasar pelacur sialan!!! Keluarkan aku dari sini!!!" Katya bahkan tak menoleh lagi, dia langsung berjalan cepat keluar rumah dengan ransel berisi uang itu. Dia sama sekali tak menyangka kakaknya akan bertindak selancang itu. Beberapa orang terlihat melongok mendengar keributan itu tapi Katya tak peduli, dia sudah kenyang dengan hinaan dan makian dan menganggapnya sangsi sosial untuk apa yang dia lakukan, tapi tidak dengan uang ini. *** "Untuk apa kamu datang kemari?! Mau menggoda suamiku?!" Astaga... Katya tidak bermaksud merasa sok cantik dan sok baik sebenarnya, dia memang telah melakukan kesalahan tapi dia tak sudi jika harus menanggung kesalahan orang lain. Apalagi orang serakah dan licik macam Prof. Ben. Dan menggodanya, yang benar saja memangnya pelacur juga tidak pilih-pilih usia prof. Ben bahkan sama dengan ayahnya. "Maaf saya ingin bertemu dengan Prof. Ben ada hal yang harus saya katakan padanya. "Enak saja kamu bilang mau ketemu suamiku. Kamu mau menjebak suamiku juga seperti Prof. Erland?" Katya memajamkan matanya, dia mengerti apa yang dirasakan oleh istri dari Prof Ben apalagi setelah videonya viral. Dia sekarang bukan mahasiswi miskin tapi cemerlang lagi, dia hanya wanita murahan yang tega menjebak dosennya. "Saya hanya ingin mengembalikan uang yang suami anda berikan pada saya." Katya membuka tas punggung yang memang dia simpan dalam jok motornya. Uang itu bahkan terasa lebih berat dengan bayang dosa yang telah dia perbuat. Sang nyonya menatap Katya dengan mata terbelalak, dan wajah yang pucat pasi, dia sampai takut kalau wanita itu akan terkena serangan jantung. "Ja-jadi kamu juga ada main dengan suamiku... Dasar pelacur!!!Murahan!!! Pergi! Sebelum aku lapor polisi!!!" “Saya akan sangat berharap anda melapor ke polisi, supaya semua tahu keterlibatan suami anda.” Wajah wanita itu merah padam mendengar tantangan Katya. "Kamu mengancamku... Aku istri sah di sini dan kamu hanya-" "Apa menurut anda saya mau menjadi simpanan suami anda??" Katya tak bermaksud menghina tapi itu memang kenyataannya. "Atau anda yang ingin saya menjadi simpanan suami anda, lalu kenapa anda tidak memanggilnya supaya kita tahu dia mau atau tidak." Katya hanya berdiri tenang melihat wanita itu berteriak seperti orang gila memanggil suaminya. Tak lama kemudian Prof. Ben yang menggunakan pakaian tidurnya keluar dengan panik dan matanya membelalak saat melihat Katya berdiri di ruang tamu rumahnya. "Apa yang kamu lakukan di sini?!" Beberapa kali dia menatap istrinya yang menatapnya seperti elang sedang menandai mangsanya. "Mengembalikan uang yang anda berikan pada saya, seharusnya memang uang itu menjadi milik saya karena sesuai perintah anda saya berhasil menjebak Prof. Erland dan membuatnya harus kehilangan proyek itu, tapi saya rasa anda lebih butuh uang ini untuk pengobatan jiwa anda yang sakit." Katya menatap istri dari Prof. Ben dengan tajam. "Mungkin anda tidak percaya ini tapi suami andalah yang sebenarnya telah menjebak saya dan Prof. Erland, tapi tenang saja saya tidak bermaksud melaporkan suami anda, karena apa... Karena saya tidak ingin dia meringkuk di dalam penjara untuk menghabiskan masa tuanya." "Jangan bicara sembarangan Katya!! Kamu bisa aku tuntut dengan pencemaran nama baik." "Silahkan... Anda lupa perbuatan anda yang memanipulasi saya dengan memberikan obat itu bisa masuk tindak pidana." Wajah laki-laki itu memerah apalagi saat sang istri menatapnya dengan pandangan tak percaya. "Kamu tidak punya bukti dan saksi untuk melakukannya." Katya membeku. Benar apa yang dikatakan lelaki keparat di depannya. "Saya memang tidak punya saksi dan bukti tapi saya sangat yakin hukum karma pasti ada. Silahkan ambil lagi uang anda pas seratus juta, dan semoga uang itu bisa membantu anda di masa sulit nanti." Tanpa menunggu reaksi dua orang yang terlihat masih shock dengan apa yang dia lakukan, Katya melangkah pergi dari sana. Dia tahu telah menabuh genderang perang dengan dosennya yang licik itu. Tapi dia juga tak boodoh, dia menyentuh ponsel yang sejak tadi menyala itu dan mengamankan rekaman yang berhasil dia ambil. Bukan bukti valid memang karena tak ada pengakuan laki-laki itu tapi dia rasa ini sudah cukup untuk membuat laki-laki itu gentar dan kehilangan proyek itu.Mereka memang sengaja datang saat pesta akan berakhir, para tamu undangan sebagian besar memang sudah kembali pulang, meninggalkan para teman dekat dan saudara yang masih betah mengobrol sambil menikmati hidangan. “Selamat ulang tahun,” kata Erland menjabat tangan ibu tirinya, datar dan formal. Tak ada pelukan atau bahkan cium pipi kiri kanan seolah dia sedang menghadiri acara rekan kerjanya. Meski begitu wanita itu menyambut ucapan Erland dengan sangat antusias, bahkan saat Katya juga melakukan hal sama senyumnya tak juga surut. “Mama sudah menunggu kalian sejak tadi, iya kan, Pa.” Laki-laki paruh baya itu hanya mengangguk dan menyalami anak dan menantunya. “Maaf-” Ucapan permintaan maaf Katya langsung terputus saat sang suami dengan sengaja menekan pinggangnya, memberi kode supaya sang istri tidak bicara lagi. “Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya punya hal penting untuk dibicarakan, kapan acara ini berakhir?” Katya meringis melihat sikap suaminya yang bisa dibilang k
“Nanti jangan jauh-jauh dariku, kita pulang setelah semua clear, atau aku perlu sewa pengawal.” Katya langsung melongo mendengar ucapan terakhir suaminya. “Mas kita mau ke acara keluarga lho bukan mau ke tempat teroris,” kata Katya sambil cemberut. “Justru mereka bisa lebih kejam dari teroris. Kamu lupa apa yang telah mereka lakukan,” kata laki-laki itu sambil bergidik ngeri membayangkan apa yang menimpa Lyla minggu lalu terjadi pada istrinya. Sampai sekarag Erland masih menyesali apa yang terjadi, dan menyalahkan dirinya. Akan tetapi kali ini dia akan memegang erat istrinya dan berusaha menulikan telinga dari suara sumbang istri ayahnya itu. “Yang membuatku celaka bukan keluarga mas tapi mantan kekasih, mas.” Katya langsung mengatupkan bibirnya menyesal dengan apa yang sudah dia katakan pada sang suami, apalagi saat dia melihat penyesalan itu begitu pekat. “Maaf.” “Maaf.” Keduanya saling menatap dan tersenyum saat mengucapkan kata itu secara bersamaan. “Sebaikny
“Ini bagus, lihat bahannya juga terlihat kokoh… ah sebentar aku lihat reviewnya. Wah benarkan memang bagus aku tidak salah.” Katya hanya terseyum masam, dia yang sedang bersandar di dada sang suami sambil memperhatikan layar tablet yang memperlihatkan aplikasi belanja online. Saat dirawat di rumah sakit kemarin mereka memang memutuskan sekalian melakukan USG dan kebetulan kedua bayi mereka memperlihatkan dengan jelas jenis kelamin masing-masing. Laki-laki dan perempuan, meski bobot tubuh mereka tergolong kecil tapi kata dokter itu wajar untuk bayi kembar, nanti saat sudah lahir bisa diberikan nutrisi yang bagus untuk menambah berat badannya. Katya bahkan mendapati sang suami beberapa kali tersenyum sendiri saat melihat senyum-senyum sendiri melihat foto usg bayi mereka. Dia bahkan tak menyangka bayi yang hadir karena kesalahannya menjadi hal terindah dalam hidup mereka. Begitu pulang kerja dan mereka sedang santai di ruang tengah, sang suami berinisiatif untuk berbelanja kebutu
“Kenapa kamu begitu menyusahkan! Sudah jangan pura-pura lagi! Bangun dan kerja! Mama butuh uang!” Kegaduhan itu memang tidak menarik perhatian pasien lain. Ruang rawat Lyla yang ada di kelas VIP terpisah dari pasien lainnya tapi tentu saja tidak dengan para perawat khusus kamar itu yag sedang bertugas. Mereka langsung buru-buru masuk ke ruang rawat Lyla dan berusaha mengetahui apa penyebabnya. Tapi rupanya wanita paruh baya dengan dandanan heboh itu sama sekali tidak peduli dengan pandangan mereka. Toh bukan mereka yang membayar ruangan ini. “Minta saja uang untuk perawatanmu, nanti mama carikan dukun pijat yang bagus.” “Bu, Maaf. Pasien baru saja selesai operasi tidak boleh keluar dari rumah sakit dulu apalagi dipijat.” Salah satu perawat akhirnya tak tahan lagi dengan ini semua, dia kasihan dengan pasien mereka yang hanya bisa menunduk dan ketakutan dibawah tekanan ibunya. “Halah tahu apa kalian! Kalian bicara begitu pasti karena dapat uang banyak dari orang kaya itu!” “Maaf
“Katanya dia itu mantan pacar pak Erland yang tiba-tiba menikah dengan pejabat yang korupsi itu.” “Iya aku juga pernah dengar, Pak Erland yang patah hati memilih melanjutkan S3 di Jerman.” “Ah iya benar, katanya dia juga sudah cerai dengan suaminya yang koruptor itu.” “Apa pak Erland mau kembali padanya?” “Ah mana mungkin kamu tidak lihat betap khawatirnya pak Erland saat melihat Katya pingsan.” “Tapi pernikahan mereka karena terpaksa.” “Orang dipaksa tak akan memperlakukan istrinya seperti ratu, bahkan menghadiahkan rumah mewah puluhan milyar untuk istrinya.” Liandra menatap dekan fakultas sekaligus atasan langsungnya dengan wajah pias. Bukan hanya itu di sana juga ada rektor dan jajarannya. Kerjasama ini memang diadakan untuk meningkatkan kualitas akademik kedua kampus, bukan hanya akan diadakan pertukaran mahasiswa tapi juga dosen pengajarnya, dengan program ini diharapkan kedua kampus dapat menyerap kelebihan satu sama lain. Awalnya Liandra menyambut baik progra
“Bagaimana Erland istrimu baik-baik saja, Kan?” Begitu memasuki rumah Erland langsung disambut sang ayah. “Para tamu sebagian besar sudah berpamitan, jangan khawatir papa sudah mengurus mereka dengan baik.” Erland hanya mengangguk, pandangan jatuh pada Liandra yang masih ada di sana dan berbincang dengan ibu tirinya. Dia ingat perkataan Adrian saat mereka bertemu di tempat parkir tadi. “Liandra akan aku laporkan pada polisi kamu suka atau tidak. Oh ya kalau kamu mau merekayasa CCTV boleh juga, banyak saksi yang ada di sana. Kalau perlu aku akan gunakan pengaruh keluargaku.” Adrian bukan orang yang suka menggunakan pengaruh keluarganya. Keluarga bangsawan dengan koneksi kuat baik di pemerintahan, sangat mudah baginya untuk membuat orang yang bersalah masuk penjara. Erland sendiri bukannya tak mau memenjarakan Liandra, tak ada alasan baginya untuk peduli pada wanita itu, bahkan luka masa lalunya pun sudah terhapus sudah. Baginya Liandra sama seperti rekan dosen lainnya







