เข้าสู่ระบบKatya berlari seperti orang gila. Dia bahkan tak peduli berapa orang yang dia tabrak sepanjang lorong ini.
Informasi yang dia dapat berhasil membuat tubuh dan jiwanya yang lelah bisa berlari sekuat tenaga untuk mencapai tempat itu, bahkan kalau bisa dia ingin langsung saya menghilang dan muncul di sana, sayang dia hanya manusia biasa bukan jin atau orang sakti yang bisa melakukannya. “Mbak bagaiamana–“ Plakkk!!! Tamparan itu sangat keras. Tubuhnya terhuyung hingga jatuh menabrak tong sampah. Bunyi kontangan menarik lebih banyak orang untuk memperhatikan. Namun tak ada yang tergerak membantunya bangun. Tak ada yang ingin menjelaskan. “Mbak, apa–“ Plakkk!!! Lagi-lagi ucapannya tak selesai, sebuah tamparan kembali menyapanya, kali ini dia bisa merasakan cairan asin mulai merembes dari celah bibirnya. Jangan ditanya bagaimana sakitnya, tapi rasa malu lebih mendominasi saat ini, apalagi beberapa orang menyeletuk. “Itukan perempuan yang menggoda dosennya.” “Benar! Aku masih ingat wajahnya! Pantas saja dipukuli!” “Murahan!” Katya memejamkan matanya, berusaha tegar diantara semua cemoohan yang dia terima. Perlahan dia bangun dan menatap kakaknya. Kakak yang bahkan tak pernah peduli padanya dan sang ibu, haruskah sekarang dia senang saat tiba-tiba sang kakak menghubunginya mengatakan sang ibu kritis. “Ini salahmu! Ibu kritis karena kamu!!! Kalau sampai ibu kenapa-napa.... aku... aku akan menghancurkanmu!” “A–apa maksud, Mbak. Ibu kenapa bisa kritis bukankah dokter bilang–“ Plakkk!!! Untuk ketiga kalinya tamparan menyapa pipinya. “Itu pantas untukmu. Anak durhaka!” Kalimat terakhir sang kakak membuatnya sadar apa yang terjadi. “I–ibu tahu video itu?!” Sang kakak hanya mendecih sinis tapi itu cukup untuk Katya. Ibunya sudah tahu tentang apa yang tengah menimpanya. Ibunya pasti sangat kecewa padanya, anak yang sangat dia banggakan malah menjadi seperti ini, menjebak dosennya sendiri untuk tidur denganya. Kata murahan dan jalang bahkan masih cukup baik untuknya. Katya mengubur wajahnya dalam telapak tangannya, dia bahkan tak peduli kalau saat ini dia duduk di lantai dekat tempat sampah yang berhamburan keluar dan... bau. Kakaknya masih berdiri di depannya dengan pandangan penuh cemoohan, sementara di ruang rawat ibunya terlihat beberapa dokter masih berusaha keras mempertahankan kehidupan ibunya. Pintu ruangan perlahan terbuka, Katya langsung bangkit, dia bahkan tak peduli dengan keadaan dirinya. “Maaf, Katya ibumu tak bisa kami selamatkan,” kata sang dokter. Tubuh Katya ambruk, seolah tulangnya dilolosi dari tubuhnya. Manusia memang akan mati, tapi tidak seharusnya dengan membawa kekecewaan. Dan itu karena dirinya. “Puas kamu telah membunuh ibu.” Kalimat itu diucapkan sang kakak dengan penuh kebencian, tapi Katya tak peduli, dia bahkan tak punya tenaga untuk tersinggung dengan ucapan kakaknya. Yang dia tahu dia harus menemui ibunya.... “Mau kemana kamu?! Jangan dekati ibu dengan tubuh kotormu!!!” Sekali lagi tubuhnya yang lemah tersungkur. Kakaknya bahkan tak memberinya kesempatan sama sekali untuk mendekat, menyaksikan wajah ibu mereka untuk terakhir kalinya. Lucu memang. Kakaknya yang selama ini tak peduli dengan ibu mereka kini seperti pahlawan yang menjadi tameng sang ibu dari... dirinya. Selama ini Katya bisa dibilang hidup berdua dengan ibunya saja, sejak kakaknya lulus kuliah sepuluh tahun yang lalu dan menikah.jangankan datang dan menjenguk ibunya, bertanya kabar lewat teleponpun tak pernah. Jika Katya atau ibunya nekad menelpon, sang kakak hanya menjawab malas dan beralasan sibuk. “Katanya dia tidur dengan dosennya supaya dapat nilai bagus.” “Ih! Amit-amit ya, pantas ibunya shock dan langsung meninggal.” “Dia benar-benar terlihat jalang di video itu.” Katya berusaha keras menulikan pendengarannya. Dia yang sejak tadi seolah menjadi orang asing di rumahnya sendiri, kakaknya telah mengurus semua. Bahkan dirinya tak diperkenankan untuk mendekati makam ibunya sendiri. Sakit! tentu saja, tapi dia bisa apa jika semua orang menatapnya seolah dia adalah virus yang pantas dijauhi. Bahkan pembacaan tahlil hari ini pun Katya lebih memilih duduk di pojokan, dia benar-benar sendiri sekarang.... tanpa orang tua dan teman, satu-satunya saudara yang dia punya terlihat sangat benci padanya, dan tidak selalu memberikan pandangan membunuh saat dia berusaha mendekat. Katya tahu dia salah. Mungkin ini karma untuknya yang telah menghancurkan orang sebaik Prof. Erland. “Sebaiknya kamu masuk, semua orang jadi tak fokus mendoakan ibumu.” Katya menondongak saat bu RT tiba-tiba mendekatinya dan berbisik lirih. Ucapannya memang cukup lembut tapi mampu mengoyak hatinya. “Saya ingin mendoakan ibu,” katanya dengan memelas, tapi wanita paruh baya itu menggeleng dengan tegas. “Kamu bisa mendoakan ibumu di kamar, masuklah.” Tak punya pilihan Katya perlahan bangkit dengan diiringi tatapan sinis beberapa orang. Sampai di kamar, Air mata tak berhenti mengalir dari pipinya, penyesalan dan ketidak berdayaan bercampur menjadi satu. Kerusakan yang dia timbulkan terlalu parah hingga dia sama sekali tak tahu caranya untuk memperbaikinya. Lelah menangis, Katya perlahan bangkit dia bermaksud mengambil album foto miliknya. Biasanya wajah teduh sang ibu selalu berhasil membuatnya lebih tenang. *** Pagi harinya Katya keluar dari kamarnya dengan wajah sembab dan kepala pusing. Matahari sudah agak tinggi menyorot langsung ke dalam kamarnya. Terdengar suara-suara di luar kamarnya, mungkin saja kakaknya sudah datang atau memang menginap di sini semalam dan pagi ini sudah mempersiapkan hidangan tahlilan ibu. Ingin sekali dia tetap mendekam dalam kamar, tapi dia tahu ibu pasti akan marah jika dia terlalu larut dalam kesedihan. Ketukan yang lebih mirip gedoran di kamarnya membuatnya buru-buru bangkit dan kakaknya dengan wajah sangar sudah berdiri di depan pintu. “Berasa jadi tuan putri ya, bangun jam segini. Buatkan minuman untuk tamumu.” “Tamu?” Sang kakak tak menggubris perkataan Katya dia langsung balik badan dan kembali ke ruang tamu. Katya terserang panik. Dia masih trauma bertemu orang lain. Apa mereka datang untuk menghinanya lagi? Katya ingin pergi saja dan tak perlu menemui mereka, tapi itu akan menimbulkan masalah lain nantinya. Secepat kilat dia berganti pakaian tanpa peduli wajahnya yang sembab dan kucel. Saat membuka pintu ruang tamu, dia hanya bisa menunduk dalam. Dia bahkan tak diizinkan untuk berduka dengan meninggalnya sang ibu. Teman-temannya datang berkunjung, ada juga adik tingkat yang biasanya dalam bimbingannya. “Ini dia Katya. Maaf ya harus menunggu lama, dia memang selalu bangun siang.” “Iya nggak apa-apa, mbak. Kalau malam pasti Katya sangat sibuk.” Ucapan penuh sindiran itu diterima Katya dengan hati perih. Seharusnya mereka tak perlu datang ke rumah yang sedang berduka jika hanya untuk menghakiminya, apa tidak cukup dia harus menerima hinaan di kampus tadi. Dia memang bersalah. Tapi mereka tak berhak mengadilinya seolah dia sampah tak berguna.“Boleh papa gendong?” Tanya laki-laki paruh baya itu denga ragu. Sore ini mobil mewah itu datang, tanpa sopir atau didampingi oleh istri dan anaknya, laki-laki itu datang dengan banyak tentengan di kedua tangannya. Katya melihat ketulusan di wajah itu, tapi dia tahu hal itu belum cukup bagi suaminya. Erland memang menerima ayahnya secara terbuka, sebagi kenln yang menjenguk istrinya yang baru saja melahirkan, bukan sebagai kakek yang menjenguk cucunya.Jurang itu terlalu dalam untuk diseberangi, apalagi setelah kejadian demi kejadian yang terjadi pada mereka akhir-akhir ini. “Boleh, Pa,” kata Katya sambil menyerahkan bayi laki-laki yang ada dalam dekapannya. Sedangkan sang suami seolah tak mendengar permintaan sang ayah dia malah asyik sendiri dengan bayi perempuannya. “Dia tampan sekali mirip Erland waktu kecil,” kata laki-laki itu sedikit menerawang. “Benarkah?” kali ini yang bicara bukan Katya tapi Erland, meski kata itu diucapkan dengan sinis tapi tak mampu menghapus seny
“Katya coba deh nasehatin suamimu, jangan terlalu lebay.” Katya menoleh pada box bayi kembarnya, syukurlah mereka tak terganggu dengan suaranya yang sedang melakukan video call dengan Lyla dan tiba-tiba Prof. Adrian yang sekarang menjadi suami Lyla ikut nimbrung. Biasanya kedua bayi itu akan terganggu dengan suara berisik, tapi dia sedang tak ingin keluar kamar, apalagi dia sedang ngambek dengan suaminya. “Lebay bagaimana pak?” tanya Katya. Laki-laki di seberang sana menatap Katya dengan datar seperti biasanya, tatapan yang jauh berbeda saat dia menoleh pada Lyla, tatapan yang sama yang sering dia dapatkan dari sang suami. Katya bersyukur dalam hati, setelah seumur hidupnya gadis itu hidup dalam kesulitan karena sang ibu, kini ada laki-laki tulus yang akan membahagiakannya. “Dia menunjukkan video anak kalian pada semua orang seolah hanya dia yang punya anak.” Katya tertawa mendengarnya. Setelah gelarnya bertambah menjadi ayah, sang suami memang tidak tanggung-tanggung, bahka
“Kok kalian ada di sini?!” Laki-laki yang biasanya tampil rapi dan berwibawa itu kini tak ada ubahnya seperti orang depresi. Pakaiannya kusut, bahkan sandal yang digunakan meski dua-duanya merk ternama tapi tetap saja beda warna, juga rambutnya yang sering dia acak-acak saking frustasinya. “Ini tempat umum.” Rumah sakit memang tempat umum.Erland yang sedang panik dan khawatir sama sekali tak peduli dengan sindiran sahabatnya itu, dia hanya bisa terduduk lemas di kursi tunggu. “Mbak Katya dimana?” Tanya Lyla yang sejak tadi diam memperhatikan kedua sahabat yang saling berbantahan. “Di dalam,” kata Erland lemah sambil menunjuk ke ruangan bersalin. “Lho bapak tidak ikut masuk, biasanya suaminya boleh masuk.” “Memang boleh lainnya cuma aku yang tidak boleh.” “Kamu belum bayar administrasinya,” kata Adrian sembarangan. Mata Erland menatap sahabatnya tak terima. “Bukan itu.” “Lalu kenapa?” “Aku panik dan membuat Katya ikut panik.” “Ya kamu tenangin dirilah, kenapa ikutan pani
“Cantik banget ya mas pengantinnya, dekorasinya juga bagus.” “Iya mereka juga tampak bahagia, syukurlah.” Katya tersenyum dan mengangguk. “Lyla pernah bilang padaku dia ingin di hari pernikahannya banyak bunga hidup, dan sekarang benar-benar terwujud.” Katya tak pernah menyangka kalau Lyla dan Prof. Adrian berjodoh. Jarak usia mereka yang cukup jauh dan juga status sosialnya menjadi alasan keraguan Katya. Akan tetapi dia lupa kalau sebuah rasa bahkan tak melihat umur ataupun saldo di rekening, mereka datang tiba-tiba tanpa permisi.“Kalau kamu?” Katya mengangkat alisnya tak mengerti. “Aku tidak terlalu suka bunga” “Bukan itu maksudku. Bagaimana pernikahan impianmu? Kamu pasti punya.”Lagi-lagi Katya mengangguk, tentu saja dia punya keinginan seperti itu. Tapi sekarang hal itu tidak mungkin terwujud. “Hanya pernikahan sederhana dengan masakan ibu,” gumam Katya yang membuatnya tercekat di akhir kalimatnya. Sebagai anak petani miskin tentu saja Katya bahkan tak sempat untuk memi
Katya mengamati wajah-wajah terkejut dan tak puas di depannya. Padahal menurut Katya ini adalah penawaran paling bagus, setidaknya dengan syarat itu mereka tidak perlu lagi mengemis pada suaminya. Mereka tetap bisa sombong seperti dulu tanpa menganggap seorang anak bernama Erland pernah ada. Pemikiran sang kakek yang masih memegang teguh bahwa anak laki-laki pertama yang sahlah yang berhak mewarisi semua harta. Katya bahkan pernah menanyakan kenapa kakek tidak mewariskan langsung kepada ayah mertuanya, bukankah beliau juga anak laki-laki pertama yang sah, dan jawabannya begitu mencengangkan. “Karena Kakek menganggap ayah telah mengkhianati keluarga dengan berselingkuh saat masih memiliki istri sah.” Sang kakek memang tidak mempermasalahkan perselingkuhan itu, tapi tindakan tak bertanggung jawab ayah mertuanya. Apa Erland senang dengan hal ini? Jawabannya tidak. Seperti anak lain Erland juga berharap kasih sayang ayahnya, tapi harapan itu langsung pupus saat sang ayah dengan s
“Mau mas suapin?” Tanya sang suami dengan manis. Katya menggeleng, dia hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun saat siomay yang dia pesan menjadi sate ayam dan tetap menahannya. Katya akan pura-pura tak tahu apa yang terjadi sampai sang suami sendiri yang mengatakannya. Tadinya dia ingin mendekat dan memastikan apa yang terjadi. Bisik-bisik para tamu menyebut nama sang suami dan wanita itu, tapi Katya percaya sang suami memang perlu waktu untuk menyelesaikan apa yang tertinggal di antara mereka. Dengan keyakinan kalau wanita itu hanya masa lalu untuk suaminya, Katya kembali duduk dan menunggu, sampai dia melihat wanita itu berjalan cepat melewatinya dengan mata sembab dan bahu merosot. Dia tahu tebakannya benar. “Tadi Liandra menemuiku,” kata Laki-laki itu sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. “Aku tahu,” jawab Katya tenang. “Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk menemuinya, dia tiba-tiba saja ada di belakangku.” “Itu juga aku tahu,” kata Katya masih dengan senyumnya yang manis







