LOGINKini Aluna berada dalam satu kamar dengan Tuan Kenzo, dengan suasana yang saling diam. Aluna tak merasa aneh jika hanya melihat Tuan Kenzo yang diam, karena lelaki itu memang wataknya seperti itu. Tapi menyaksikan dirinya yang juga harus diam demi menjaga gengsinya dari Tuan Kenzo, membuat Aluna merasa tersiksa dab juga aneh. Dia yang biasanya menjadi yang paling aktif dan bersemangat di manapun dirinya berada, kini justru harus mengikuti sikap Tuan Kenzo yang menyebalkan itu. Aluna sempat ingin menyerah dan bersikap seperti dirinya yang biasanya saja. Tapi sayangnya, Aluna takut jika Tuan Kenzo kembali mengira jika dirinya begitu berharap dengan pernikahan di antara mereka. Aluna sudah putuskan jika akan bersikap biasa saja layaknya kepada orang lain, bukan lagi seperti suami istri. Toh selama ini, memang Tuan Kenzo tidak pernah menganggap nya sebagai seorang istri. Meskipun rasanya aneh menjadi Aluna yang pendiam, tapi sekuat tenaga Aluna lakukan untuk mempertahankan ego dalam d
Dalam hati Tuan Kenzo dia tersenyum puas melihat Aluna yang kesal padanya. Iseng nya lagi dia justru semakin mengerjai Aluna dengan berpura-pura tidak tahu apa yang membuat Aluna sulit berjalan. Padahal melihat Aluna saja, Tuan Kenzo selalu teringat dengan permainan panas yang dilakukan nya semalam hingga membuat Aluna lemas tak berdaya bahkan seperti makhluk tak bertulang."Jadi kamu benar tidak akan membawa Luki Jalan-jalan kali ini?" Tanya Tuan Kenzo kembali memastikan dan Aluna juga menganggukkan kepala nya dengan sedikit melirik tajam ke arah Tuan Kenzo."Baiklah, kalau begitu. Tetap diam di sini jangan kemana-mana karena aku ingin sedang ingin berkuda." Perintah Tuan Kenzo dengan tegas. Aluna tentu saja membuka mulut nya tak percaya. Dia masih tidak habis fikir dengan maksud Tuan Kenzo, mungkin laki-laki itu memang sengaja ingin mengerjainya. Aluna ingin protes, tapi sayangnya hal itu tidak bisa di lakukannya, karena Tuan Kenzo yang sudah lebih dulu pergi menaiki Luki dan memba
"Biarkan Bik Tutik yang mencuci nya, sekarang kamu ikut aku ke ruang kerja!" Tegas Tuan Kenzo saat melihat Aluna henda mencuci piring bekas makan siang tadi. "Aku? Ikut Tuan ke ruang kerja? Untuk apa Tuan?" Tanya Aluna pensaran, karena baginya mereka sedang tidak ada sebuah pekerjaan yang perlu di bahas. Jadi untuk apa Tuan Kenzo memintanya ikut ke ruang kerja?Begitulah pemikiran Aluna yang sebenarnya juga merasa malas jika harus berurusan dengan Tuan Kenzo."Jangan banyak tanya, cepat ikut ke ruang kerja." Sekali lagi Tuan Kenzo meminta Aluna ikut dengan dirinya ke ruang kerja, tanpa ada penolakan. Jika sudah begini, mau protes pun rasanya sia-sia. Aluna tau dan sadar jika Tuan Kenzo itu tidak menerima penolakan apapun dan setiap perkataan nya itu tegas dan mutlak tak terbantahkan. Jadi dengan rasa malasnya, akhirnya Aluna mengekor di belakang Tuan Kenzo menuju ruang kerja. Saat pintu terbuka, dan membawa Tuan Kenzo menuju kursi kebesaran nya, sedang Aluna masih diam terpaku di
"Kalau begitu cepat hidangkan di meja makan!" Perintah Tuan Kenzo yang di dengar oleh Aluna juga Bik Tutik dan Pak Rangga."Untuk apa Tuan?" Tanya Aluna bingung, pasalnya jika siang hari dia biasanya akan makan di mini bar yang ada di dapur, kecuali jika ada Tuan Kenzo, Aluna akan menemaninya di meja makan. Itupun biasanya Aluna akan mendapatkan kabar dari Bik Tutik jika misalnya Tuan Kenzo akan pulang saat jam makan siang.Tapi siang ini Aluna tidak mendapatkan kabarbitu, dirinya juga sedikit terkejut karena kehadiran Tuan Kenzo yang tiba-tiba tadi. Tapi karena dia masih sangat kesal, sehingga membuat Aluna tidak terlalu memikirkan kenapa Tuan Kenzo kembali ke rumah.Tapi saat ini dirinya di bikin bingung saat Tuan Kenzo meminta dia untuk menyajikan masakan nya di meja makan."Apa dia akan ikut makan siang?" Tanya Aluna dalam hatinya, pasalnya tadi dia sudah terlanjut bertanya untuk apa pada Tuan Kenzo."Tentu saja untuk ku makan Aluna m, kenapa masih diam saja? Cepat, aku sudah sang
"Apakah ada masalah Tuan?" Tanya Pak Rangga saat menyadari raut wajah Tuan Kenzo tampak begitu masam dan sulit di tebak apa isi fikiran nya. Pak Rangga bertanya, takut jika sesuatu sedang dalam masalah sehingga membuat mood Tuan nya menjadi jelek dan jelas itu tidak baik. Tidak baik untuk semua orang yang berada di dekat Tuan Kenzo yang akan menjadi sasaran amukan Tuan Kenzo biasanya. "Apa jadwal saya pagi ini?" Tanya Tuan Kenzo tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Asisten pribadinya itu. "Jadwal Anda pagi ini, meeting di Hotel Sinar Rembulan bersama Mr. Ronald dari Canada yang akan membahas kerja sama mengenai ketahanan pangan." Jelas Pak Rangga yang langsung di mengerti oleh Tuan Kenzo. "Baiklah kalau begitu kita segera ke sana dan kosongkan jadwal saya setelah pertemuan ini." Titah Tuan Kenzo mutlak tidak bisa di ganggu gugat tanpa perlu memberitahukan alasan nya. "Baik Tuan." Pak Rangga sudah lama ikut dengan Tuan Kenzo membuat nya begitu mengenal lelaki itu. Pasti ada sesu
Tubuh Aluna lemas lesu lunglai dan tak berdaya setelah mengalami gempuran tiada henti dari Tuan Kenzo, Aluna sudah tidak memiliki tenaga untuk mengumpat dan menghajar Tuan Kenzo yang sudah mengganggu tidurnya bahkan menggempur dirinya tanpa permisi. "Awas kau Kenzo ... tunggu besok aku akan membalasmu." Batin Aluna sebelum dirinya benar-benar terlelap karena lelah nya. Sedangkan Tuan Kenzo, menarik selimut untuk menutupi tubuh Aluna yang masih polosan. Dirinya sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ikut bergabung ke kasur bersama Aluna. "Bawakan air hangat dan kompres ke kamar sekarang!" Titah Tuan Kenzo melalui panggilan telpon begitu dia keluar dari kamar mandi dan melihat Aluna yang benar-benar pulas dalam tidurnya. Tok tok tok ... "Permisi Tuan, ini air hangat dan kompresnya." Bk Tutik memberika mangkuk berisikan air hangat dan kain bersih untuk kompresan. Sebenar nya Bik Tutik sedikit penasaran, untuk apa Tuan nya meminta hal itu. Bik Tutik berfikir jik
Dunia ibarat roda yang terus berputar. Kadang akan membawa kita kepuncak kebahagiaan tanpa duga dan bisa juga membawa kita pada jurang nestapa.Setelah kehilangan Ayah nya dan kini menikah dengan laki-laki arogan bermarga Mahesa, yang menjadi satu-satunya penerus di keluarga itu.Dunia Aluna seketi
Pagi sang surya bangunkan mimpi, embun pagi yang telah menghilang akan cahaya mentari yang kini mulai menyinari bumi dengan kehangatan sinarnya. Membangunkan setiap insan yang terlelap dari mimpi malamnya. Hari Minggu yang seharusnya Aluna nikmati dengan begitu santai nya. Hari Minggu yang seharus
"Harus Kenzo katakan berapa kali agar Kakek bisa paham, sampai kapanpun Kenzo tidak akan mau menikah lagi. Sekalipun perempuan itu pilihan kakek." Ucap laki-laki berbadan tinggi besar yang kini sedang duduk tegak di sebuah sofa yang menghadap langsung dengan laki-laki paruhbaya yang dipanggilnya ka
Tuan Kenzo tampak semakin marah tak terkendali, namun alih-alih melampiaskan nya pada Aluna dan menghukum gadis itu, Tuan Kenzo justru berdiri dari duduknya dan kembali pergi meninggal kan mansion itu dengan wajah nya yang sangar namun tak bisa Aluna tebak akan sikap Tuan Kenzo yang tak terbaca itu







