แชร์

Kesayangan Janda Dan Gadis Desa
Kesayangan Janda Dan Gadis Desa
ผู้แต่ง: DewaRa

Transmigrasi Ahli Gowok

ผู้เขียน: DewaRa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-29 21:34:14

Byur!

Air comberan yang berbau busuk menyengat sisa limbah dapur mengguyur tubuh Sena.

"Makanya, kalau miskin itu tahu diri! Kantong bolong, badan kurus kering, impoten pula! Anak orang mau kamu beri makan apa? Hah?!"

Suara bariton menggelegar dengan nada mengejek menusuk gendang telinga Sena.

Sambil menahan mata yang perih akibat sisa air comberan yang menetas, Sena mendongak.

Berdiri di hadapannya seorang pemuda bertubuh kekar, dengan rantai perak melingkar di leher. Itu Rio, anak juragan tanah sekaligus preman yang paling ditakuti di desa.

Tangan Rio masih memegang ember plastik kosong yang baru saja digunakannya untuk menyiram Sena.

Di sebelah Rio, berdiri seorang gadis dengan lipstik merah menyala yang tampak kontras dengan latar belakang rumah gedek milik Sena.

Dia adalah Wulan. Tidak ada raut bersalah di wajah cantiknya. Yang ada hanyalah tatapan jijik yang dilemparkan ke arah Sena, seolah pemuda di hadapannya tak lebih dari seonggok bangkai tikus di tepi jalan.

"Ayo pergi, Mas Rio. Disini Bau.” Sambil mengibaskan tangan.

“Dia sudah tidak akan berani datang lagi ke rumahku untuk menagih janji pertunangan," ucap Wulan sambil menggelayut manja di lengan kekar Rio.

Deg…

Tepat saat itu, sebuah hantaman keras menghantam bagian belakang kepala Sena. Kepalanya berputar hebat, jiwa yang berada di dalam raga kurus itu bukanlah Sena si pemuda desa miskin.

Dia adalah Raden Wicaksana, seorang tabib agung sekaligus ahli pijat rahasia dari Kerajaan kuno.

Tiga puluh tahun hidupnya dihabiskan di dalam kamar wangi, melayani para permaisuri dan selir agung dengan Ilmu Gowok, sebuah keahlian mistis memanipulasi titik meridian tubuh untuk penyembuhan total sekaligus membangkitkan gairah terdalam wanita.

Namun, saat kesadarannya kembali, memori pemilik tubuh asli tiba-tiba mencuat dan tumpang tindih.

Raden Wicaksana dipaksa menyaksikan kilasan ingatan Sena, Bagaimana beberapa bulan lalu Wulan menangis di bawah pohon mangga, mengemis cinta Sena dan memohon agar segera dilamar karena takut dijodohkan.

Sena yang tulus bekerja membanting tulang hingga kurang gizi demi mengumpulkan uang hantaran. Namun, begitu Rio datang membawa kemewahan dan uang segepok, Wulan berbalik arah. Mencampakkannya seperti sampah!

Demi menutupi rasa malunya karena berselingkuh, Wulan dengan kejam menyebarkan fitnah ke seluruh desa bahwa Sena adalah pria tidak berguna yang impoten.

“Brengsek…” batin Wicaksana. Rasa sakit di dada itu milik Sena, namun amarah yang membakar dada adalah milik sang Tabib Kerajaan.

Wicaksana mengepalkan tangannya. Sebagai pria dominan yang terbiasa dihormati para bangsawan, insting pertamanya adalah meremukkan rahang Rio saat itu juga. Namun, akal sehat Wicaksana langsung menahan ego tersebut.

‘Tubuh ini terlalu ringkih. Jika aku nekat maju dengan fisik selemah ranting bambu ini, aku justru akan mempermalukan diriku sendiri,’ batin Wicaksana.

Maka, untuk sementara waktu dia memilih diam. Wicaksana menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan Rio meludah ke tanah sebelum akhirnya berjalan pergi bersama Wulan sambil tertawa terbahak-bahak.

Mereka mengira Sena telah hancur total karena mentalnya runtuh. Tanpa mereka tahu, di dalam tubuh itu, bersemayam jiwa seorang singa.

Pekarangan kembali sepi, hanya menyisakan bau busuk yang menguap di bawah terik matahari.

"Astaga, Sena!"

Sebuah teriakan cemas memecah keheningan. Dari depan rumahnya, seorang gadis berlari ke arahnya. Ayu, anak gadis tetangga sebelah yang selama ini diam-diam selalu merawat ibu Sena yang sakit-sakitan, langsung menerobos pagar bambu.

Ayu tidak peduli dengan bau comberan yang menyengat. Dengan wajah pias dan mata berkaca-kaca, sepasang tangan langsung meraih dan memapah lengan kurus Sena agar pemuda itu tidak tumbang.

Kontak kulit itu instan memicu sesuatu di dalam dada Wicaksana.

Bagai bendungan yang jebol, sebuah aliran hawa panas yang sangat murni tiba-tiba meledak dari sumsum tulang belakang Sena, merambat deras menuju telapak tangannya.

Wicaksana terkesiap. Hawa Meridian Ilmu Gowok yang dilatih selama puluhan tahun di kehidupan lampau ternyata tidak lenyap!

Energi suci itu ikut bertransmigrasi, bersembunyi di sukma, dan kini terbangun karena dipicu oleh sentuhan ketulusan seorang wanita.

Merasakan energi murni yang bergolak di ujung jarinya, Wicaksana langsung mempraktekkannya.

Detik itu juga, tubuh Ayu refleks menegang kaku di tempat.

Sepasang mata bulat gadis desa itu membelalak sempurna. Ayu merasa seolah-olah ada sengatan listrik yang menjalar naik ke tangannya, lalu menyebar ke seluruh rongga dadanya.

Rasa lelah akibat bekerja seharian lenyap dalam sekejap, digantikan oleh sensasi hangat yang membuat bagian bawah perutnya mendadak berdenyut aneh.

"Se... Sena...?" bisik Ayu dengan suara yang tiba-tiba bergetar dan parau. Pipinya yang semula pucat karena cemas, kini mendadak merona merah padam tanpa alasan.

Tubuhnya mendadak lemas, seolah seluruh ototnya tunduk pada sentuhan satu jari Sena.

Wicaksana perlahan melepaskan pegangannya, lalu menegakkan tubuhnya yang kurus.

Tatapan matanya kini tidak lagi melankolis seperti Sena yang dulu, matanya kini berkilat tajam, penuh dengan aura dominasi seorang penguasa raga.

Ilmu Gowok-nya masih utuh. Dan di dunia modern yang penuh dengan wanita kesepian tangan magisnya akan menjadi senjata paling mematikan untuk membalikkan takdir.

“Bagus, akan aku buat wanita kesepian merasa senang.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Pulang Dan Menikah

    Sena menuntaskan semua tugas medisnya di ibu kota dengan sempurna. Luruhnya penyakit kronis para pejabat VIP serta kukuhnya benteng dukungan politik dari Bu Mawar dan Bu Jasmin membuat nama Sena menjelma menjadi legenda hidup di Rumah Sakit Kepresidenan. Namun, kemewahan dan riuk-pikuk Jakarta tak pernah sanggup mengikat hatinya. Rindu pada heningnya desa dan sosok Ayu—wanita lembut yang menjadi penambat jiwanya—kian membuncah di dalam dada.​Di ruang tamu rumah dinas, Bu Mawar, Bu Jasmin, dan Dokter Vera berkumpul untuk mengantar kepulangan Sena.​"Sena, apa kamu yakin tidak ingin menetap di Jakarta?" tanya Bu Mawar dengan nada berat melepas. "Fasilitas rumah dinas ini, posisi di rumah sakit, hingga perlindungan politik... semuanya sudah kami siapkan untukmu."​Bu Jasmin ikut mengangguk pelan, menatap Sena dengan binar penuh rasa terima kasih dan keterikatan yang mendalam. "Benar, Sena. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untukmu. Kehadiranmu di sini sangat berarti bagi kami."​Sen

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Terima Kasih Sena.

    Pikiran Sena berdesir pelan. De javu. Sungguh sebuah pola takdir yang sangat sempurna. Dokter Vera yang tegas namun penuh perhatian persis seperti Mbak Irma, Bu Mawar yang anggun dan berkelas seperti Nyonya Sarah, Bu Jasmin yang lembut dan penuh kehangatan seperti Nyonya Widya, serta Ina yang sigap melayani seperti Elsa. Kota besar ini ternyata menyimpan cerminan persis dari wanita-wanita yang membantunya membangun pilar kekuatan di desa.​Sena menatap Bu Jasmin yang berdiri penuh harap di hadapannya.​"Bisa, Bu. Kalau Bu Jasmin berkenan, kita bisa lakukan terapinya sekarang di kamar terapi," tutur Sena ramah.​"Sekarang, Sena? Apa tidak merepotkanmu?" tanya Bu Jasmin, matanya berbinar gembira meski nada suaranya tertahan sopan.​"Tidak sama sekali, Bu. Lebih cepat ditangani, tidur Bu Jasmin malam ini akan jauh lebih nyenyak," sahut Sena seraya melangkah membimbingnya menuju koridor dalam.​Bu Mawar tersenyum tipis, melempar pandangan penuh arti pada Bu Jasmin. "Masuklah, Jasmin. Perc

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Bu Mawar Dan Bu Jasmin Seperti Dejavu

    Bu Mawar melangkah mendekati ranjang terapi kayu. Dengan penuh keanggunan, wanita berpengaruh itu merebahkan tubuhnya menelungkup di atas kasur empuk. Gaun sutra mewahnya sedikit tersingkap di bagian punggung atas, menyingkapkan kulit mulus nan kencang yang memancarkan aroma cendana.​Sena mengatur napasnya, memusatkan Hawa Murni dari pusat dada ke kedua telapak tangannya hingga pendar keemasan hangat memancar samar dari jemarinya.​"Saya mulai ya, Bu Mawar. Rileks dan bernapaslah teratur," bisik Sena halus.​"Baik, Sena... lakukan saja," pukas Bu Mawar dengan nada bergetar gugup bercampur harap.​Sena menempelkan kedua telapak tangannya di belikat belakang Bu Mawar. Sentuhan itu seketika memicu letupan energi. Aliran Hawa Murni yang hangat dan perkasa menerobos masuk melintasi pori-pori kulit punggungnya, merayap cepat menghantam penyumbatan pembuluh darah kronis di belikat dan rongga dada.​"Aahhh..."​Desahan halus lolos dari bibir Bu Mawar. Tubuhnya mendadak lemas seketika. Sensas

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Sena Bisa Pijat Aku

    Malam kian larut di kompleks perumahan dinas Rumah Sakit Pusat Kepresidenan. Suasana di sekitar kediaman Sena tampak tenang, hanya diselingi gesekan dedaunan yang ditiup angin malam. Sena baru saja selesai membersihkan diri dan mengenakan kaos polos serta celana kain santai saat ketukan halus terdengar di pintu depan.​Ina, sang ART yang selalu sigap, bergegas membukakan pintu. Tak lama kemudian, gadis itu melangkah menuju ruang tengah tempat Sena sedang duduk menikmati teh hangat.​"Mas Sena, ada Bu Mawar di depan. Beliau membawakan hantaran camilan untuk Mas," pukas Ina dengan nada sopan dan sigap.​Belum sempat Sena menjawab, sosok wanita bertubuh jenjang berkelas itu sudah melangkah masuk. Bu Mawar tampak sangat anggun dengan gaun malam berbahan sutra yang jatuh pas di lekuk tubuhnya. Aromanya yang mewah dan tegas—perpaduan wangi mawar dan kayu cendana—langsung memenuhi ruangan, membuat Sena teringat total pada keanggunan Nyonya Sarah di desa.​"Malam, Sena. Maaf ya kalau Mawar me

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Ada Apa?

    Sena melipat kedua kakinya di atas ranjang, bersila dalam posisi meditasi sempurna. Ia memejamkan mata rapat-rapt, mencoba memusatkan pikiran untuk mengamati sirkulasi Hawa Murni di dalam meridian tubuhnya.​Biasanya, arus energinya terasa tenang dan stabil—terkunci rapat sejak ia mengikat ikrar batin dengan Ayu di desa. Namun malam ini, ada getaran asing yang bergejolak hebat di pusat dadanya.​Pendar keemasan merembes keluar dari pori-pori kulitnya, menerangi kamar rumah dinas yang remang. Sena dapat merasakan dengan sangat jelas bagaimana energi kehidupan milik Dokter Vera yang baru saja ia sentuh meninggalkan jejak halus, menyatu, dan membuka pilar energi baru di dalam dirinya.​"Kenapa bisa seperti ini...?" gumam Sena pelan. Solilokui itu bergetar di keheningan malam. "Energi yang seharusnya terkunci rapat bersama Ayu... tiba-tiba merekah kembali. Sensasi ini... persis saat pertama kali aku membantu Bidan Irma."​Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Apakah penyembuhan yang

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Lega Sekali Sena

    Desahan lega yang lolos dari bibir Dokter Vera tadi bukanlah sekadar reaksi atas hilangnya rasa pening. Saat Hawa Murni hangat dari telapak tangan Sena meresap menembus pangkal tengkoraknya, sensasi itu meletup lembut, mengalir terus ke bawah melintasi tulang belakangnya.​Aliran hangat itu meluncur deras menuju area bawah perutnya, memicu denyut halus yang begitu nikmat hingga membuat otot-otot tubuhnya lemas seketika. Sebuah sensasi asing namun sangat membuai, membuat dadanya berdesir hebat.​Sena menarik pelan kedua tangannya, memutus pendar keemasan yang samar-samar menyelimuti jemarinya. Ia melangkah ke samping, menatap wanita di hadapannya dengan raut tenang.​"Bagaimana, Dokter Vera? Sudah enakan?" tanya Sena seraya menyodorkan segelas air hangat.​Dokter Vera menarik napas panjang, mencoba menguasai degup jantungnya yang masih berdebar kambar. Sensasi nikmat di bawah perutnya bertahap surut, menyisakan kebugaran luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.​"Sudah.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status