LOGINKemarahan Mariana masih belum mereda, meskipun Sonya dan putrinya sudah pergi dari mansion Aslan. Ia masih tidak terima dibohongi selama hampir 6 tahun oleh Sonya."Haa ... aku tidak percaya ini. Masa Aslan bisa dibodohi oleh wanita ular itu? Dia itu cerdas! Mana mungkin tertipu!" geram Maria."Tidak Nyonya. Tuan Aslan tidak tertipu. Hans mengatakan kalau sejak awal Tuan besar sudah mengetahui tentang Nona Sonya. Dia membiarkannya di sini, karena punya alasan," tutur Amber yang mendapatkan info dari Hans, salah satu anak buah Aslan.Maria menaikkan dagunya dan tersenyum. "Kau benar. Tak mungkin cucuku yang merupakan seorang mafia cerdik itu, memiliki sifat bodoh. Tidak ada dalam kamus seorang Luca, ada orang bodoh.""Oh ya. Apa cucuku yang bodoh itu sudah bisa membujuk cucu menantuku dan cicitku untuk datang kemari?" tanya Maria yang teringat dengan Laura dan Jayden. Ia siap menerima mereka berdua. Sekarang ia sadar kalau darah lebih kental daripada air.Ia sadar kalau Laura adalah wa
Aslan dengan refleks mendorong Laura ke dalam mobil dan menutup pintu. Ia sendiri tidak masuk, melainkan berdiri di depan mobil dengan pistol di tangan."Tunggu di dalam!" perintahnya tegas sebelum menutup pintu.Laura memeluk Jayden erat. Ia bisa mendengar suara tembakan di luar. Suara ban mendecit. Suara teriakan. Ia berdoa dalam hati, memohon apapun yang berkuasa di alam semesta untuk melindungi Aslan.Beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam berlalu. Kemudian sunyi.Pintu mobil terbuka. Aslan masuk dengan napas memburu. Jaket kulitnya sudah tidak ada, kemejanya basah—bukan keringat, tapi darah."ASLAN!" Laura panik."Ini bukan darahku," ucap Aslan cepat. "Darah mereka. Aku baik-baik saja.""Kau yakin?"Aslan mengangguk. Ia menyuruh sopir untuk segera melaju. Mobil pun bergerak meninggalkan kawasan industri yang sunyi itu, meninggalkan kepulan asap dan sisa-sisa pertempuran kecil.Laura tidak tahu akan dibawa ke mana. Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia meras
Aslan terpaku. Kata-kata Laura bagai pukulan keras di dadanya. Ia merasa lukanya yang terbakar itu tidak ada artinya dibandingkan luka yang baru saja ditorehkan wanita itu ke hatinya."Kenapa?" suara Aslan serak, nyaris berbisik. Matanya yang tajam kini redup, dipenuhi kerapuhan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun. "Setelah semua yang terjadi malam ini... setelah kau lihat aku datang untuk menyelamatkan kalian... kau masih bilang tidak bisa?"Laura menggigit bibir bawahnya. Tangannya masih memeluk Jayden erat, seolah anak itu adalah satu-satunya penopangnya agar tidak rubuh. "Bukan karena aku tidak mau, Aslan. Tapi karena..." Ia menunduk, rambutnya yang kusam menutupi wajahnya. "Karena kau sudah memiliki Sonya. Kau suami orang."Suasana gudang yang sedari tadi sunyi, kini terasa semakin mencekik. Bahkan anak buah Aslan yang berada di sekitar ikut terdiam. Mereka saling pandang, tidak berani bersuara.Rick menghela napas panjang. Ia tahu persis apa yang menjadi beban Laura. Se
Dua jam kemudian.Lokasi di pinggiran kota, kawasan industri terbengkalai.Aslan berdiri di balik reruntuhan tembok beton, teropong malam di tangan kirinya. Lima puluh meter di depan, sebuah gudang tua dengan atap seng bocor berdiri sunyi. Hanya satu lampu temaram menyala dari celah jendela."Gerakan minimal," Aslan berbisik ke comms di kerah jaketnya. "Tim Alfa masuk dari belakang. Tim Bravo kawal perimeter. Tim Charlie bersamaku dari depan."Dua belas anak buahnya menyebar seperti bayangan. Senjata disiapkan, pelatuk di jari, napas ditahan. Tapi Aslan tidak bergerak.Ia menunggu. Menghitung. Satu menit. Dua menit, sampai lima menit."Tim Alfa sudah di posisi, Tuan," suara Rick dari comms."Tim Bravo siap."Aslan menarik napas panjang. Dalam dadanya ada pusaran badai, bukan amarah, tapi ketakutan murni seorang ayah dan kekasih yang belum pernah ia rasakan sehebat ini. Tapi ia tidak bisa membiarkan itu menguasainya. Tidak malam ini."Gerak sekarang," perintahnya datar.Ia melesat. Lan
Diam sejenak. Lalu suara kecil itu menjawab, "Janji."Langkah kaki berhenti tepat di depan mereka. Laura bisa mencium bau rokok dan parfum murah yang menyengat. Ia merasakan seseorang berjongkok di hadapannya—udara bergeser, membawa hawa hangat napas orang asing itu ke wajahnya."Laura Daniella Moretti,"suara laki-laki itu terdengar sengaja dibuat pelan, hampir berbisik, tapi ada nada puas di dalamnya. "Akhirnya kita bertemu. Si gila Luca itu ... demi kau dia mengacak-acak organisasi Tuanku."Laura tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibirnya lebih keras."Tidak mau bicara?" orang itu terkekeh pelan. "Tidak apa. Kita punya banyak waktu. Malam masih panjang."Laura merasakan jemari kasar menyentuh dagunya, menengadahkan kepalanya sedikit. Ia ingin meludah, ingin menggigit tangan itu, tapi ia ingat Jayden di sebelahnya. Satu gerakan salah, dan mereka bisa melukai anaknya."Kau cantik," kata laki-laki itu. "Pantasan saja Aslan Luca rela mati-matian menyembunyikanmu."Laura akhirnya membuk
"Ya, Pak. Saya dapat sesuatu."Rick menegangkan rahangnya. "Cepat.""Laporan dari petugas pos keamanan perumahan tiga blok dari sini. CCTV mereka menangkap dua mobil hitam melintas pukul 22.47. Plat nomor terekam samar, tapi tim kita sedang membersihkannya. Satu hal yang pasti—mobil itu melaju ke arah timur, menuju jalan arteri."Rick menutup mata sejenak. Timur. Jalan arteri. Dari sana, mereka bisa ke mana saja. Intinya keluar dari Marseille."Lanjutkan pelacakan," perintah Rick. "Hubungi semua pos gerbang tol di sekitar. Cari tahu apakah mobil-mobil itu masuk tol. Jika ya, ke arah mana.""Baik, Pak."Panggilan ditutup. Rick memasukkan ponsel ke saku, lalu berjalan menuju salah satu anak buahnya yang sedang duduk di bangku taman, lengannya masih dibalut darurat oleh rekannya."Kau bisa bicara?" tanya Rick.Pria itu mengangguk, wajahnya masih pucat. "Bisa, Pak. Maaf, saya—""Apa yang kau lihat sebelum pingsan?"Pria itu mengerutkan dahi, mencoba mengingat. "Saya jaga di posisi belakan
Rick menerima cangkir kopi itu dengan hati-hati, kedua tangannya terasa sedikit gemetar. Bukan karena kopinya, melainkan karena pertemuan ini terasa begitu berat baginya. Enam tahun berlalu sejak terakhir kali ia melihat Laura, wanita yang dulu sangat dekat dengannya, yang selalu ia anggap seperti
Sonya terkapar di lantai. Lehernya terasa seperti terbakar, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang baru saja didengarnya. Aslan tahu. Pria itu tahu tentang sepupunya, tentang Sean—tentang semua kebohongan yang selama enam tahun ini ia bangun dengan susah payah."A-Aku bisa menjelaskanny
Laura melihat pria berkacamata hitam yang mengambilkannya ikan dalam kaleng tersebut dan tersenyum ramah sebagai salah satu ungkapan terimakasihnya. Namun, ia melihat gerakan pria itu seakan menatap seseorang dibelakangnya. Aslan."Lama tidak bertemu, Tuan Luca."Pria itu menyapa Aslan. Tapi Aslan
Aslan menutup bagasi mobil dengan satu hentakan halus. Suara klik itu terdengar tegas, seolah menandai berakhirnya percakapan mereka, atau justru awal dari sesuatu yang lain. Laura masih berdiri di samping pintu mobil, tangannya memegang ujung tas kecil yang ia bawa. Dadanya terasa aneh oleh kata-k







