LOGIN"Katakan!" Suara bariton Diego menggema di seluruh sudut ruang kerjanya yang megah.Di balik pintu yang sedikit terbuka, Freya mengintip dan melirik ragu ke arah suaminya yang sedang berdiri tegap dengan wajah dingin.Diego melirik, menyadari istrinya tengah mengintip. "Masuk, Baby!" panggilnya tanpa menoleh.Freya menyeringai manis, menunjukkan susunan giginya yang rapi lalu mendorong pintu hingga terbuka lebar dan melangkah masuk."Terima kasih, Honey ...." ucapnya sedikit canggung melihat raut wajah serius sang suami. "Maaf aku mengganggumu." Freya kembali menutup pintu.Diego melangkah mendekati Freya, lalu menuntun jemari wanita cantik itu menuju kursi kebesarannya. "Kamu adalah Nyonya di rumah ini. Jangan pernah ragu untuk masuk atau menyuarakan pendapatmu. Duduklah di sini dan temani suamimu, hm?"Freya mendongak, menatap wajah tampan yang kini menyunggingkan senyum tipis.Sejujurnya ia memang masih sering merasa segan dan canggung, bahkan terkadang sedikit takut pada aur
"Iya, Jegar ... aku ... aku sebenarnya agak keberatan kamu mengadopsi Jegar, Honey. Apalagi kita sama sekali tidak tahu asal-usul anak laki-laki itu," ucap Freya ragu-ragu. Suaranya terdengar sedikit gemetar. Perlahan ia menundukkan kepala, cemas menunggu tanggapan suaminya."Aku tahu kamu masih mengkhawatirkan soal itu, Baby. Karena itulah aku sudah meminta Yoss untuk mencari tahu asal-usul dan identitas Jegar yang sebenarnya. Tapi terlepas dari itu semua, aku akan tetap merawat Jegar, seperti janjiku pada Bernard sebelum dia mengembuskan napas terakhirnya."Freya kembali mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Diego. "Kalau ternyata Jegar adalah anak dari musuhmu, bagaimana? Aku dengar dulunya Jegar ditemukan di pinggir jalan. Kita tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya, kan? Bisa saja mereka sengaja membuang Jegar agar ditemukan oleh orang-orang kita, dibawa ke mansion ini, lalu mereka bisa memanfaatkan anak itu untuk menghancurkanmu dari dalam!"Mende
"Kenapa juga Tuan Diego membawa bayi ini ke mansion?"Mendengar suara Zhue, Freya langsung menoleh ke belakang, melihat gadis muda itu sedang berkacak pinggang di ambang pintu kamar sambil memperhatikan Jegar."Zhue .... " Freya memberikan Jegar kembali pada pelayan. "Sedang apa kamu di sini?" Ia menghampiri gadis cantik itu."Benar 'kan Kak? Kenapa Tuan Diego membawa bayi ini ke mansion? Apa Tuan tidak takut terjadi masalah ke depannya? Kenapa dia tidak memberikan bayi ini pada keluarga Pak Bernad saja?" lanjut Zhue sambil melirik Jegar.Dari lirikan mata itu, jelas sekali terlihat kalau Zhue tidak suka dengan keberadaan Jegar. Apalagi secara tidak langsung bayi itu sudah mengambil setengah perhatian Freya dan Diego, yang harusnya hanya ditujukan pada Dante.Freya pun hanya diam. Dalam hati mengiyakan pendapat Zhue, namun jika Diego sudah mengambil keputusan seperti itu, siapa yang bisa mencegah?"Aku tidak suka dengan dia. Aku lebih suka Dante, karena Dante keponakanku," dengkus Zhu
"Honey, kamu bawa anak siapa?"Kedua mata Freya membulat sempurna saat melihat Diego melangkah masuk ke dalam mansion sambil menggendong seorang anak laki-laki yang tengah tertidur pulas di dalam dekapannya."Mulai sekarang, dia akan menjadi bagian dari keluarga Foster. Dia akan menjadi kakak dan teman Dante," kata Diego dengan nada tegas.Freya masih termangu membeku di tempat, matanya berkedip lambat mencoba mencerna ucapan mendadak dari suaminya.Namun, saat pandangannya turun dan melihat bercak-bercak darah kering yang tertinggal di lengan baju bocah kecil itu, Freya akhirnya menyadari sesuatu."Dia ... Jegar?" tanya Freya lirih, suaranya hampir tak terdengar. "Lalu di mana Pak Bernard?"Diego mengangguk pelan, matanya menatap sayu ke wajah malang anak balita di dekapannya. "Bernard dan istrinya meninggal dunia di lokasi penukaran. Aku tidak berhasil menyelamatkan nyawa mereka ... untuk itu, aku ingin menebus rasa bersalahku. Aku akan membesarkan dan merawat Jegar seperti ana
"Tangkap wanita itu!" teriak pria bertato menggema panik di tengah brondongan tembakan peredam suara.Melihat Istri Bernard berlari membawa Jegar, pria bertato melompat mengejar dengan senjata teracung."Sayang lari cepat!" teriak Bernard mengeluarkan suara sekencang mungkin. "Pak Diego! Tolong selamatkan anak dan Istri saya!"Bernard yang melihat bahaya mengancam anak dan istrinya langsung nekat menghempaskan tubuhnya, menerjang kaki pria bertato itu hingga keduanya terguling-gulung di tanah becek."Bangsat! Lepaskan aku, Tua Bangka!" murka pria bertato. Tanpa ragu, ia mengarahkan moncong pistol tepat ke dada Bernard."Bunuh saja aku! Jangan sentuh anak dan Istriku!""Hah! Ternyata tua bangka ini sudah bosan hidup!" desis pria bertato. "PERGI SAJA KE NERAKA!"DOR!"AAAGHH!" jerit Bernard melengking. Peluru menembus dadanya, menyemburkan darah segar.Namun, ingatan akan keselamatan anak dan istrinya memberi Bernard sisa tenaga terakhir.Dengan mata melotot merah, ia tetap mencengk
"Masukan wanita itu ke mobil! Dia akan berguna untuk membuat Bernad tidak berkutik!""Baik Bos."Tiga orang pria melempar tubuh ringkih istri Bernad ke dalam mobil Van putih. Setelah tawanan mereka berhasil ditenangkan, mobil melaju cepat menuju lokasi penukaran.Sementara itu, di lorong toilet umum di ujung taman kota, suasana terasa begitu mencekam.Bernard melangkah pelan dengan lutut gemetar, terus memeluk erat gulungan selimut berisi boneka bayi reborn doll.Bau lembap dan kegelapan lorong seolah menyambut kedatangannya menuju pintu kematian."Bagaimana situasi di sana?" tanya Yenzing di ujung sambungan."Masih belum ada tanda-tanda mereka datang," jawab Bernard gemetar. Sesekali ia merapikan posisi earphones di telinga, alat komunikasi tersembunyi."Jangan gugup, kami akan terus mengawasi dan menjagamu dari sin
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak







