แชร์

Kesempatan Di Balik Suamiku Yang Buta
Kesempatan Di Balik Suamiku Yang Buta
ผู้แต่ง: Goldhour

Bab 1

ผู้เขียน: Goldhour
Namaku Juni, seorang pengantin baru yang memiliki hasrat yang tinggi.

Wajahku terlihat polos, tapi bentuk tubuhku jauh lebih sexy daripada model.

Buah dadaku yang berukuran 36E dipadukan dengan bokongku yang sexy, membuat suamiku selalu ketagihan setiap malam.

Namun, sebuah kecelakaan mobil merubah segalanya. Suamiku menjadi buta dan kehilangan kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri.

Dia bahkan menjadi lumpuh dalam urusan ranjang.

Bukan hanya tingkat kekerasannya yang berkurang drastis, durasinya pun sangat singkat hingga hanya bisa dihitung dalam hitungan detik.

Bahkan terkadang, dia kesulitan mencari sasaran yang tepat.

Lama-kelamaan, aku tidak lagi menaruh harapan padanya.

Hasrat yang tidak tersalurkan ini terpaksa kulampiaskan secara diam-diam menggunakan mainan yang kubeli online.

Suamiku juga mulai merasa sikapku yang semakin acuh tak acuh. Dia mengira aku hanya kelelahan merawatnya, jadi dia mengusulkan agar sahabatnya yang bekerja di proyek konstruksi datang untuk membantuku. Kebetulan proyek tempat sahabatnya bekerja sedang diliburkan.

Keesokan sorenya, Johan, sahabatnya pun datang.

Dia tampaknya baru saja pulang kerja, wajahnya kusam berdebu dan masih mengenakan seragam kerja.

Berpakaian seperti pekerja konstruksi pada kasar, dengan ekspresi wajah yang tampak jujur dan polos.

Namun, lengan yang menyembul dari balik bajunya sangat kekar dan berotot. Kulitnya yang hitam terbakar matahari memancarkan aura maskulin yang kuat. Bahkan celana kerjanya yang longgar pun tak bisa menyembunyikan aset besarnya yang luar biasa.

Wajahku bahkan sampai memerah melihatnya.

Hingga suamiku memanggilku, aku baru tersadar kembali.

Malam harinya, aku menyiapkan hidangan mewah untuk menyambut Johan.

Dia bilang dirinya sangat senang dan berterima kasih karena aku tetap setia mendampingi sahabatnya. Bahkan memujiku sebagai kakak ipar yang baik.

Setelah makan malam, aku membantu suamiku untuk mandi dan tidur. Saat keluar, aku terkejut melihat Johan tidak hanya merapikan meja makan, tapi juga sudah mencuci semua piring.

Tak disangka, Johan baik sekali. Aku pun terharu dan menyeduhkan segelas teh hangat untuk berterima kasih padanya.

Namun, saat membawa teh keluar, aku melihat Johan masuk ke kamar mandi.

Aku langsung panik. Belum sempat aku mencegahnya, dia sudah mengunci pintu dari dalam.

Seketika, wajahku langsung memerah karena malu.

Gawat, dia pasti sudah melihat semuanya.

Karena suamiku tak bisa memuaskanku, sementara hasratku sangat besar setiap malam, aku membeli banyak sekali mainan untuk menyalurkan keinginan itu.

Berhubung suamiku buta, aku tak perlu ragu dan meletakkan semua barang itu di kamar mandi tersebut, menjadikannya ruang rahasia pribadiku.

Di dinding bahkan tertempel belasan alat stimulasi dengan berbagai ukuran yang aku susun sesuai tinggi badanku agar bisa langsung digunakan.

Padahal di kamar Johan ada kamar mandinya sendiri, aku tak menyangka dia akan masuk ke sini. Dia pasti sudah melihat semuanya.

Benar-benar memalukan sekali.

Aku berdiri di depan pintu dengan perasaan menyesal. Tidak terdengar suara air dari dalam, sepertinya Johan sedang mengamati benda-benda itu satu per satu. Mungkinkah dia membandingkan ukurannya dengan miliknya sendiri.

Sambil memikirkannya, pikiranku mulai melayang ke mana-mana.

Setelah menunggu lama, akhirnya Johan keluar. Melihat ekspresinya yang agak canggung, aku yakin dia sudah melihatnya.

Dengan wajah memerah karena malu, aku menundukkan kepala dan berbicara pelan, “Johan, kamu… kamu nggak akan merendahkanku, ‘kan?”

“Tentu saja nggak.”

Johan menoleh sekilas ke arah kamar mandi, “Tapi mainan tetap nggak bisa menggantikan orang sungguhan. Apalagi, sering menggunakan benda seperti itu nggak baik untuk kesehatan. Aku pernah belajar teknik pijat dari seorang dokter tua, katanya sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan bagian itu.”

Aku terkejut. Meskipun tahu dia pekerja lapangan yang blak-blakan, aku tak menyangka dia akan bicara sejujur ini padaku.

Namun, mengingat malam-malam kesepian yang menyiksa selama ini, akhirnya aku pun mengangguk dengan wajah yang merona.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kesempatan Di Balik Suamiku Yang Buta   Bab 7

    Melakukannya diam-diam saja sudah salah, apalagi di depan mata suamiku sendiri.Aku benar-benar tak sanggup.Aku bahkan lebih memilih mati saja. Sambil terisak, aku memohon, “Johan, aku sudah tahu salah. Kumohon, tenangkan dirimu. Jangan begini, ya?”“Ini benar-benar nggak benar. Kamu sudah nggak menganggapnya sahabatmu lagi?”Johan malah tersenyum meremehkan, “Bang Gilang, istrimu setiap hari menyakiti dirinya sendiri dengan mainan itu, sebagai sahabatmu, aku merasa sangat kasihan. Dia baru berusia 20-an tahun, tapi malah sudah harus hidup seperti janda. Ini semua salahmu. Aku hanya mencoba membantumu.”Sambil berbicara begitu, dia malah menelepon seseorang, “Pandu, kakak iparku lagi kepingin, ayo datang ke sini, kita main bersama.”Astaga, dia bahkan berniat memanggil orang asing.“Maafkan aku sayang, ini salahku.”“Sayang, aku mencintaimu!”….Namun, Johan seperti anjing gila, seolah kehilangan akal sehatnya. Dia membeberkan seluruh kejadian dari awal sampai akhir pada suamiku.Term

  • Kesempatan Di Balik Suamiku Yang Buta   Bab 6

    Johan berbisik pelan di telingaku, lalu menarik tubuhku dengan sangat kuat!“Begini baru lebih menantang, ‘kan?”“Cepat katakan!”Aku tahu orang gila ini tidak akan melepaskanku begitu saja, jadi aku terpaksa menahan rasa malu dan berkata, “Aku anjing betina.”Tak disangka, si mesum ini masih belum puas, “Cepat bilang lagi, peliharaan siapa?”Aku rasanya ingin menangis, “Johan… aku anjing peliharaan Johan.”“Nah, begini baru benar.”Johan tampak sangat puas. Dengan penuh gairah, dia menerjang dan menindih tubuhku.Namun, tepat saat aku mencengkeram punggung Johan dan bersiap untuk melampiaskan hasrat, tiba-tiba suamiku muncul di depan pintu.Wajahnya tampak muram dan bertanya, “Kalian lagi apain?”Seketika, aku hampir pingsan sangking ketakutan.Jangan-jangan penglihatan suamiku sudah pulih? Dia sudah tahu semuanya?Apa yang harus kulakukan? Meskipun saat ini aku sedang memegang pinggang Johan, aku masih punya perasaan yang dalam pada suamiku. Aku tak ingin bercerai.Aku dan Johan sali

  • Kesempatan Di Balik Suamiku Yang Buta   Bab 5

    Tak lama kemudian, dia pun tertidur dan untungnya tidak mendengkur.Dia bisa tidur dengan nyenyak, aku malah sebaliknya. Benda keras dan panas yang mengganjal itu membuat pikiranku kacau dan melayang ke mana-mana.Karena benar-benar tak bisa menahan diri, aku menyelinap masuk ke bawah selimut untuk menghisapnya, barulah setelah itu bisa memaksakan diri untuk tidur.Keesokan paginya, Johan terbangun dengan gairah pagi yang memuncak. Dia langsung menekan kepalaku dan memaksaku untuk memuaskannya.Gerakannya terlalu kasar hingga membuat suamiku terbangun. Untungnya suamiku tidak curiga dan mengira aku sedang bermain dengan mainanku sendiri. “Sayang, masih pagi buta sudah nggak tahan?”Aku menjawab dengan suara yang tidak jelas, “Iya.”Jawabanku berhasil mengelabuhinya.Siang harinya, saat suamiku sedang tidur siang, Johan menarikku masuk ke kamar, “Sekarang waktunya menepati janjimu. Cepat biarkan aku merabamu sepuasnya.”Dia terlalu blak-blakan, membuatku sangat malu, “Jangan begini, tu

  • Kesempatan Di Balik Suamiku Yang Buta   Bab 4

    Aku tak tahu lagi bagaimana bicara dengannya. Meskipun kuakui rasanya sangat nyaman, sungguh sangat nyaman.Aku adalah seorang wanita kota yang manja, dikelilingi pria-pria kaya. Ini adalah pertama kalinya aku merasakan pengalaman dengan pria kasar seperti Johan dan tak kusangka rasanya begitu luar biasa.Otot-otot di tubuhnya terbentuk secara alami karena kerja keras selama bertahun-tahun, bukan hasil bentukan gym. Aroma tubuhnya yang liar dan maskulin benar-benar tak tertandingi. Namun, aku ini manusia, bukan binatang.Berselingkuh dengan sahabat suami sendiri di belakangnya, ini benar-benar merusak moral.Pokoknya aku sudah memperingatkannya. Jika dia tak bisa menahan diri, aku akan langsung mengusirnya kembali ke lokasi proyek.Siapa sangka, malam itu juga, saat sedang tidur lelap, tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang sedang menyentuhku.Telapak tangan itu merayap dari belakang telingaku, menelusuri tulang selangka, turun ke dadaku, lalu berpindah ke arah bokong.Aku sedang tid

  • Kesempatan Di Balik Suamiku Yang Buta   Bab 3

    Sentuhan benda keras dan panas itu membuat seluruh tubuhku bergidik.“Hm….” Sebuah erangan yang sulit kutahan keluar begitu saja dari mulutku.Itu membuat suamiku curiga, “Kamu kenapa? Kok seperti ada orang yang sedang menyentuhmu?”Aku langsung merasa bersalah dan berbohong, “Aku nggak tahan, jadi memuaskannya sendiri.”Mendengar itu, suamiku tertawa terbahak-bahak, “Kalau begitu, sini.”Tepat saat dia menyentuhku dan menarikku dengan paksa, tiba-tiba ponselnya berdering. Aku panik luar biasa, “Sayang, telepon di luar bunyi, aku pergi angkat dulu.”“Merusak suasana saja,” gerutu suamiku dengan kesal.Johan juga menunjukkan ekspresi terganggu, karena momennya dirusak. Seketika, wajahnya langsung memuram.Setelah telepon, aku pun tidur. Tentu saja Johan tak punya kesempatan lagi.Namun, yang membuatku heran, perasaanku pun menjadi labil.Di satu sisi aku merasa lega karena tidak mengkhianati suamiku, tapi di sisi lain, ada rasa hampa dan kecewa yang samar.Seandainya saja….Tak kusangka

  • Kesempatan Di Balik Suamiku Yang Buta   Bab 2

    Aku membangunkan suamiku dan kasih tahu bahwa Johan ingin memijatnya.Aku tak berani jujur bahwa itu adalah pijatan khusus, karena takut dia akan langsung menolak. Bagaimanapun, sejak kecelakaan itu, dia sama sekali tidak tertarik pada urusan ranjang.Jadi, aku terpaksa berbohong bahwa pijatan itu bagus untuk membantu pemulihan matanya.Benar saja, begitu mendengar demi kesembuhan matanya, dia langsung bersemangat.Tak lama kemudian, Johan masuk dan mulai memijat suamiku.Harus kuakui, gerakannya sangat profesional. Suamiku langsung mendesah sangking nyamannya.Benda di bawahnya bahkan mulai menegang. Sejak buta, ini pertama kalinya benda milik suamiku bisa bangun secara alami.Johan merasa waktunya sudah tepat, lalu menepuk bahuku, memberiku isyarat sudah bisa menikmatinya.“Sampai di sini dulu, bang. Aku keluar dulu.”Ujar Johan sambil menutup pintu.Suamiku langsung menarikku ke ranjang. Dengan tidak sabar, dia langsung menekan kepalaku ke bawah.Meskipun tak bisa melihat, tenaganya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status