Se connecterSetelah cinta satu malam itu, kata pertama yang diucapkan Rafael kepada Karina setelah bangun adalah "Keluar." Siapa yang sangka ketika mereka bertemu kembali, Rafael dengan tidak tahu malunya ingin memanfaatkan Karina, meminta Karina menjadi teman tidur pribadinya. Rafael adalah seorang pebisnis ternama yang dikenal dingin dan tidak ada wanita yang bisa menggodanya. Karina yang sangat disayangi oleh Rafael dan bahkan menjadi istrinya, membuat iri para wanita. Akan tetapi, Karina menjadi tidak berharga ketika mantan pacar Rafael muncul. Ketika Karina memilih melepaskan Rafael, Rafael yang memiliki sifat mendominasi itu memegang erat tangan Karina dan berkata, "Siapa yang berani membiarkanmu pergi tanpa seizinku?"
Voir plus"C–Claudia?!"
Keterkejutan di wajah tampan yang berkeringat itu membuat Claudia gemetar. Ia masih bisa melihat sisa-sisa gairah di mata lelaki itu. Lelaki yang harusnya mengucap janji suci pernikahan untuknya beberapa hari lagi.
Beberapa saat lalu, Claudia datang dengan penuh semangat untuk merayakan tujuh tahun kebersamaan mereka. Namun, yang ia temukan di apartemen lelaki itu bukan kebahagiaan, melainkan pengkhianatan yang mengoyak hatinya.
Tak pernah sekalipun ia membayangkan kekasihnya akan berselingkuh! Apalagi dengan sepupunya sendiri, Selena!
"Cla, aku—!"
Deon terbata-bata, buru-buru menarik bokser hitam dari lantai dan mencoba mendekat, tapi–
Plak!
Tamparan Claudia mendarat keras di pipi pria yang selama tujuh tahun terakhir mengisi hatinya. Tangannya bergetar, terasa panas seperti amarah yang membakar seluruh tubuhnya.
"Kita putus." Suaranya tegas, final. Tanpa ragu, ia berbalik, melangkah keluar dari kamar yang membuatnya muak.
"Claudia! Dengarkan aku dulu, Sayang!"
"Jangan panggil aku 'Sayang' dengan mulut kotormu!" bentaknya, menghempaskan tangan Deon yang mencoba menahannya. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah, memancarkan luka dan kekecewaan yang begitu dalam.
Deon tertegun, jantungnya mencelos melihat rasa sakit yang terpancar di wajah Claudia, wanitanya.
"Aku minta maaf, Cla! Aku khilaf!" ucapnya lirih, mencoba meraih tangan Claudia.
Claudia terkekeh pahit, menatap kecewa pria yang selama tujuh tahun menjadi salah satu alasannya bahagia.
Claudia tertawa pahit. "Khilaf?" ia mengulangi kata itu dengan getir. "Khilaf itu kalau kamu hanya bertukar pesan atau sekadar kencan di kafe. Tapi ini—" Napasnya bergetar, matanya berkilat marah. "Kamu melakukannya sampai akhir. Dan itu tidak hanya sekali." Tatapannya menusuk, terlebih setelah melihat beberapa kondom bekas yang berserakan di lantai.
"Aku dijebak–!"
"DEMI TUHAN, DEON!!!" Claudia berteriak, menghentikan segala alasan yang bahkan tak masuk akal untuknya. "Aku tidak gila hingga tidak bisa membedakan keadaanmu tadi, saat kamu mengejar pelepasanmu! Kamu tidak mabuk, kamu tidak berada di bawah pengaruh obat apa pun! Bagian mana yang jebakan?!"
Wanita itu menarik napas panjang, menghapus air mata yang tidak berhenti menetes.
"Aku tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan, Deon. Kamu pasti mengenalku dengan sangat baik selama tujuh tahun ini. Kita selesai ... dan alasan berakhirnya hubungan ini adalah karena kamu!"
Memilih untuk segera berbalik dan keluar dari apartemen yang sering dikunjunginya, Claudia berlari menuju lift, menghela napas panjang untuk menghentikan tangisnya. Wanita itu menggigit bibir, menahan diri agar tidak berteriak dan menangis dengan keras.
Keluar dari gedung apartemen yang mungkin tidak akan pernah dikunjunginya lagi, Claudia yang datang tanpa membawa mobil nyaris mengumpat. Terlalu percaya jika calon suaminya akan mengantarnya pulang, Claudia meninggalkan mobilnya di kantor dan memilih naik taksi.
Wanita itu mendongak ketika merasakan tetes demi tetes dari langit mulai membasahi kepalanya.
"Bahkan langit pun tidak mendukungku?" Tawa pahitnya terdengar, bersamaan dengan hujan yang semakin deras, menutupi air matanya yang kembali mengalir.
Claudia berjalan pelan menyusuri trotoar, terlalu lelah hanya untuk mencari taksi.
Ia kemudian berhenti di pemberhentian bus, memilih duduk di bangku besi panjang dan kembali terisak. Dunianya hancur berserakan. Claudia tidak tahu bagaimana harus menyusunnya kembali.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Terlalu banyak kenangan dan mimpi-mimpi serta janji yang ia ukir bersama Deon. Claudia tidak pernah membayangkan jika hubungan yang dilandasi kepercayaan selama bertahun-tahun harus hancur karena sebuah pengkhianatan.
Lucunya ... pria itu masih berani berkata jika itu adalah kesalahan tidak disengaja!
"Dasar brengsek!"
Menyedihkan! Bagaimana bisa Claudia yang selalu bangga pada setiap hal yang ada pada dirinya dan mengangkat wajah dengan penuh kepercayaan diri, berakhir menangis patah hati karena dikhianati?
Apalagi ketika tunangannya justru selingkuh dengan Selena, sepupu yang paling ia percaya?
Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api, tapi Claudia bahkan tidak berani untuk menebak sejak kapan sepupu tersayangnya memiliki minat lain pada Deon.
Hujan turun lebih deras, tempiasnya memercik pada Claudia yang memang sudah basah. Tidak ada siapa pun di sekitarnya, seolah sepi yang mencekik ini juga dipersiapkan takdir untuknya.
Tring!
Notifikasi dari ponsel di tas tangannya membuat Claudia tersentak.
Dengan gemetar, wanita itu mengeluarkan ponselnya.
Sebuah pesan terpampang di layar ponselnya. Sebuah pemberitahuan dari wedding organizer yang ia sewa, sekaligus pengingat tentang hari pernikahan yang sudah makin dekat.
"Tidak akan ada pernikahan ... bukan aku yang akan menikah." Mata Claudia kembali basah, tanpa bisa mencegah lagi air matanya yang tumpah sekali lagi.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"ADUH!!!"
Claudia terkesiap ketika sesuatu jatuh di depannya–
Seseorang lebih tepatnya.
"Hei, kamu baik-baik saja?" Claudia segera membantu sosok kecil yang baru saja terjerembab dan mendudukkannya di bangku halte.
Sama seperti dirinya, anak itu juga tampak berantakan dengan pakaian basah dan air mata menggenang.
"Di mana orang tuamu? Kenapa kamu sendirian di sini?" Claudia berlutut di hadapan anak itu dan bertanya dengan lembut, seolah kesedihannya beberapa waktu lalu hilang begitu saja. "Ya Tuhan ... kamu berdarah!"
Claudia menatap ngeri lutut anak kecil yang duduk di hadapannya. Melihat bagaimana anak itu tidak menangis dengan keras meski matanya sudah berkaca-kaca membuat perasaan Claudia tidak senang.
"Pasti sakit, ya? Katakan saja kalau sakit ... jangan ditahan. Tidak baik menahan diri." Claudia berucap lembut.
Langsung saja, anak itu terisak. "Sakit ... lutut Aga perih, tapi Aga nggak boleh nangis. Mama bilang akan jemput kalau Aga menjadi laki-laki yang bisa diandalkan."
Kata-kata bocah berusia sekitar 4 tahun itu membuat Claudia tertegun, air mata yang sempat berhenti, kembali berurai tak terbendung. Claudia menumpukan kepalanya di paha anak lelaki itu, menangis.
"Bunda juga ... Bundaku juga bilang begitu. Katanya kalau aku tidak cengeng, dia akan datang dan membawaku. Tapi ..., Bunda tidak pernah kembali ...."
Claudia kehilangan ibunya sejak masih kecil. Meski usianya sudah cukup untuk mengerti apa itu ‘meninggal’, ia tetap menangis setiap hari dan berharap ibunya kembali.
Orang lain yang paling mendekati sosok yang Claudia rindukan adalah tantenya, adik dari sang ayah.
Namun, sosok itu juga ibu dari Selena, sepupunya yang tadi melakukan adegan tak pantas dengan tunangan Claudia.
Mana mungkin Claudia menyampaikan informasi tersebut pada tantenya? Ekspresi apa yang harus ia tampilkan? Bagaimana ia harus mengatakannya?
Claudia menangis semakin deras saat anak lelaki di hadapannya juga turut terisak, keduanya menangis bersama di tengah hujan, berbagi rasa sakit dengan orang asing yang baru pertama kali ditemui.
"Kalian!" teriak Karina.Karina merasa kesal. Dia memandang para wartawan dengan marah, lalu hendak membungkuk untuk mengambil dokumen-dokumen yang berserakan di tanah. Akan tetapi, bagaimana mungkin orang-orang ini peduli? Demi mendapatkan berita utama, mereka semua tidak segan-segan menggunakan cara apa pun.Dokumen yang tercecer di tanah itu sudah diinjak-injak oleh mereka sebelum sempat diambil Karina. "Cukup! Hubunganku dengan Pak Rafael memangnya ada hubungan dengan kalian?" teriak Karina dengan kesal sambil kembali berdiri tegak.Orang-orang itu sudah menghabiskan kesabaran Karina."Nona Karina, apakah Nona marah karena pernyataan kami benar? Apakah Nona benar-benar merayu CEO Grup Stalin demi bisa menjadi bagian dari keluarga kaya raya?""Nggak!" balas Karina dengan cepat."Jika tidak, bisakah Nona mengungkapkan bagaimana Nona dan Pak Rafael bertemu? Apakah Nona merasa bisa menjadi seperti Cinderella?""Benar, Nona Karina, Keluarga Stalin adalah keluarga terkenal. Apakah Nona y
Pada akhirnya yang mendapatkan keuntungan dari keseluruhan kejadian ini adalah Amy.Di dalam mobil.Karina berdebar-debar dan bergumam, "Hubungan kita telah diketahui publik, aku nggak tahu bagaimana reaksi dari pihak kampus ...."Memiliki hubungan dengan Rafael pasti akan menimbulkan sensasi. Karina tahu itu dan dia hanya berharap reaksi orang-orang tidak terlalu berlebihan.Namun, pasti akan menarik banyak perhatian orang terhadapnya.Karina menghela napas, dia merasa tidak ingin pergi ke kampus untuk sementara waktu.Begitu Karina selesai berbicara, Rafael sudah memegang tangannya. Sentuhan hangat itu membuat Karina terkejut. Karina menoleh, menatap Rafael dengan bingung. Terlihat Rafael sedang memandang keluar jendela mobil sambil menopang dagunya, seperti sedang menikmati pemandangan, dan berkata dengan datar, "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisimu."Wanita mana pun pasti akan tersentuh hatinya mendengar perkataan itu.Sudut mata Karina melengkung. Dia menggeser p
Karina menggeleng, raut wajahnya tampak bimbang. "Nggak, hanya saja ini terlalu mendadak, aku merasa belum siap.""Apa yang perlu kamu takutkan? Bukankah aku ada di depanmu untuk melindungimu? Kamu hanya perlu bersembunyi di belakangku dengan tenang," jawab Rafael dengan sangat santai dan lancar seakan-akan dia telah berlatih berkali-kali.Hati Karina menjadi hangat. Awalnya dia merasa sedikit bimbang, tetapi sekarang semuanya seketika menjadi jelas. Apa pun yang terjadi, bukankah Rafael selalu ada untuknya?Mengapa dirinya harus khawatir berlebihan?Karina pun mengangguk dengan bersemangat, tersenyum manis dan berkata dengan gaya menggemaskan, "Mulai sekarang, aku akan mengandalkanmu."Rafael mengangkat alisnya ketika dia melihat ekspresi antusias Karina dan berkata, "Kalau aku nggak melindungimu, aku harus melindungi siapa?"Mendengar itu, Karina tertawa lebih bahagia.....Setelah itu, atas permintaan keras Rafael, Karina baru bisa keluar dari ruang perawatan khusus di rumah sakit s
"Eh?" Karina mengusap hidungnya, lalu menatap Rafael."Kamu sudah tahu aku sebaik ini, jadi kamu menikah denganku atau nggak?" tanya Rafael sambil memegang dagu Karina, tersenyum lebar.Karina mengangguk mantap dan berkata, "Asalkan kamu mau menikahiku, aku akan menikah denganmu."Rafael benar, jika kamu ingin memakai mahkota, harus siap menanggung bebannya. Rafael telah melakukan begitu banyak hal untuknya, lalu mengapa dirinya tidak menghadapi orang-orang yang datang untuk memprovokasinya demi Rafael?Jika sudah mencintai, mengapa dirinya tidak sanggup menghadapi sedikit kesulitan demi Rafael?Mendengar jawaban yang pasti, Rafael tersenyum lebar, matanya yang hitam penuh arti. "Kamu yakin?"Karina mengangguk tegas. "Aku yakin."Tiba-tiba, Rafael menekan bahu Karina, menghela napas panjang dan berkata, "Sekarang aku merasa lega.""Eh?"Karina tertegun, matanya berkedip-kedip. 'Apa maksudnya?'Ekspresi Rafael tiba-tiba tampak serius, menatap ke arah Karina dan berkata dengan sungguh-su
Sebelum tubuhnya mendekat, Karina dapat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang dari tubuh Rafael.Hanya seperti itu Karina sudah sangat kedinginan. Bagaimana dengan Rafael yang merupakan sumber hawa dingin itu? Rasa sakit seperti apa yang dia tanggung?Karina tidak ingin terlalu banyak pikir. Dia m
Setelah Karina keluar dari gudang dan menghirup udara segera, dia mempunyai dua pilihan untuk menyelesaikan masalah ini. Yang pertama, melaporkan insiden ini ke pihak polisi dan membiarkan mereka yang menanganinya, tetapi ada kemungkinan ayahnya Nella yang merupakan seorang wakil bupati akan ikut ca
Karina bingung, dia menempelkan pipinya ke dada Rafael, mendengarkan detak jantungnya yang kuat dan merasakan detak jantungnya sendiri ikut sinkron.Karena begitu dekat, dia sepertinya dapat merasakan Rafael sedikit gemetar, gemetar yang disebabkan oleh rasa takut.'Dia sebenarnya sangat takut, bukan?
Setelah mendengar hal tersebut, cengkeraman tangan Nella yang memegang ponsel makin erat.Dia yang awalnya ingin mempermalukan Karina dengan video itu, tidak menyangka video itu malah menjadi bukti fatal kejahatannya. Inilah yang dinamakan senjata makan tuan!Pandangan Karina beralih ke tangan Nella,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus