เข้าสู่ระบบSetelah cinta satu malam itu, kata pertama yang diucapkan Rafael kepada Karina setelah bangun adalah "Keluar." Siapa yang sangka ketika mereka bertemu kembali, Rafael dengan tidak tahu malunya ingin memanfaatkan Karina, meminta Karina menjadi teman tidur pribadinya. Rafael adalah seorang pebisnis ternama yang dikenal dingin dan tidak ada wanita yang bisa menggodanya. Karina yang sangat disayangi oleh Rafael dan bahkan menjadi istrinya, membuat iri para wanita. Akan tetapi, Karina menjadi tidak berharga ketika mantan pacar Rafael muncul. Ketika Karina memilih melepaskan Rafael, Rafael yang memiliki sifat mendominasi itu memegang erat tangan Karina dan berkata, "Siapa yang berani membiarkanmu pergi tanpa seizinku?"
ดูเพิ่มเติมDicen que el amor es algo mágico y atrayente, que poco a poco se va convirtiendo en lo que estaba destinado, o que sin eso no puedes vivir. Es como el oxígeno, como eso que no puedes ver, pero lo necesitas para vivir. Siempre he creído que el amor es una mezcla extraña de dos corazones en uno solo.
—¿Cómo es que tus padres se convirtieron en esto? —preguntó Hanna mientras mirábamos las luces de la ciudad deslumbrando todo alrededor.No pude evitar suspirar antes de responder.—Mis padres... alguna vez fueron felices. Eso es algo que no recuerdo de mi infancia o algo cambió y nunca supe qué fue exactamente. Mi madre solía decir que estaban enamorados, pero ahora ya no lo sé —le conté a Hanna con tristeza en voz baja.Hanna apretó suavemente mi mano y me miró con comprensión en los ojos.—A veces las cosas no son lo que parecen. No podemos juzgar la felicidad de alguien desde afuera. Pero lo importante es lo que sientes tú, lo que te hace feliz —dijo con dulzura.Asentí, agradecido por sus palabras reconfortantes. Ambos volvimos a quedarnos en silencio, contemplando las luces que bailaban en la oscuridad de la noche. Sentí el calor de su mano en la mía, una pequeña chispa de esperanza en medio de la confusión.—¡Debemos volver a casa, Hanna! —exclamé de repente, sintiendo el frío helado que se colaba entre nuestras ropas.Me levanté rápidamente y le extendí la mano para ayudarla a ponerse de pie.Caminamos de regreso en silencio, cada uno inmerso en sus pensamientos. Evitamos mencionar lo que habíamos hablado antes, pero no podía evitar pensar en el anillo que le había puesto en el dedo. No era solo un símbolo de compromiso, era una promesa inquebrantable de protegerla y estar a su lado.Cuando finalmente llegamos a casa, Hanna se recostó entre mis brazos, buscando refugio y calor. La abracé con ternura, sintiendo su dulce respiración y su cuerpo contra el mío. Mientras ella dormía plácidamente, no dejé de pensar en las palabras que le dije a mi madre ese mismo día, agradeciéndole por el infierno que nos hizo vivir al no separarse de mi padre, a pesar de todo lo que nos hizo sufrir a mi hermana y a mí.No podía imaginar lastimar a Hanna de la forma en que ese hombre lo hizo con mi madre. Ella era mi luz, mi salvación. Amaba a mi futura esposa y consideraba que la mujer era como la flor más delicada, una joya que había encontrado y que debía proteger.Traté de conciliar el sueño, queriendo escapar de los pensamientos oscuros que amenazaban con invadir mi mente. Pero la noche parecía estar en mi contra, susurrando recuerdos dolorosos y miedos del pasado.Me levanté, decidido a alejar esos pensamientos y preparé un café colombiano. El aroma llenó la habitación y me reconfortó. Me senté en el sofá, sosteniendo la taza entre mis manos mientras observaba las fotografías de Hanna en mi celular. Cada imagen capturaba su belleza natural y sus expresiones graciosas. Una sonrisa se deslizó por mi rostro mientras recordaba los momentos divertidos que habíamos compartido juntos.—Te amo tanto, Hanna —susurré en voz baja, dejando el teléfono a un lado.Me acomodé en el sofá y apoyé la cabeza en el respaldo, saboreando el momento de tranquilidad antes de que el sueño finalmente me envolviera.Con los ojos cerrados, no pude evitar preguntarme qué hubiera sido de mí si ella no hubiera estado a mi lado en esos momentos difíciles. Aunque no la conocí en un buen momento de mi vida, no cambiaría nada de todo lo vivido a su lado. No era el momento correcto, solo hacía falta esperar para que lo fuera..."Kalian!" teriak Karina.Karina merasa kesal. Dia memandang para wartawan dengan marah, lalu hendak membungkuk untuk mengambil dokumen-dokumen yang berserakan di tanah. Akan tetapi, bagaimana mungkin orang-orang ini peduli? Demi mendapatkan berita utama, mereka semua tidak segan-segan menggunakan cara apa pun.Dokumen yang tercecer di tanah itu sudah diinjak-injak oleh mereka sebelum sempat diambil Karina. "Cukup! Hubunganku dengan Pak Rafael memangnya ada hubungan dengan kalian?" teriak Karina dengan kesal sambil kembali berdiri tegak.Orang-orang itu sudah menghabiskan kesabaran Karina."Nona Karina, apakah Nona marah karena pernyataan kami benar? Apakah Nona benar-benar merayu CEO Grup Stalin demi bisa menjadi bagian dari keluarga kaya raya?""Nggak!" balas Karina dengan cepat."Jika tidak, bisakah Nona mengungkapkan bagaimana Nona dan Pak Rafael bertemu? Apakah Nona merasa bisa menjadi seperti Cinderella?""Benar, Nona Karina, Keluarga Stalin adalah keluarga terkenal. Apakah Nona y
Pada akhirnya yang mendapatkan keuntungan dari keseluruhan kejadian ini adalah Amy.Di dalam mobil.Karina berdebar-debar dan bergumam, "Hubungan kita telah diketahui publik, aku nggak tahu bagaimana reaksi dari pihak kampus ...."Memiliki hubungan dengan Rafael pasti akan menimbulkan sensasi. Karina tahu itu dan dia hanya berharap reaksi orang-orang tidak terlalu berlebihan.Namun, pasti akan menarik banyak perhatian orang terhadapnya.Karina menghela napas, dia merasa tidak ingin pergi ke kampus untuk sementara waktu.Begitu Karina selesai berbicara, Rafael sudah memegang tangannya. Sentuhan hangat itu membuat Karina terkejut. Karina menoleh, menatap Rafael dengan bingung. Terlihat Rafael sedang memandang keluar jendela mobil sambil menopang dagunya, seperti sedang menikmati pemandangan, dan berkata dengan datar, "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisimu."Wanita mana pun pasti akan tersentuh hatinya mendengar perkataan itu.Sudut mata Karina melengkung. Dia menggeser p
Karina menggeleng, raut wajahnya tampak bimbang. "Nggak, hanya saja ini terlalu mendadak, aku merasa belum siap.""Apa yang perlu kamu takutkan? Bukankah aku ada di depanmu untuk melindungimu? Kamu hanya perlu bersembunyi di belakangku dengan tenang," jawab Rafael dengan sangat santai dan lancar seakan-akan dia telah berlatih berkali-kali.Hati Karina menjadi hangat. Awalnya dia merasa sedikit bimbang, tetapi sekarang semuanya seketika menjadi jelas. Apa pun yang terjadi, bukankah Rafael selalu ada untuknya?Mengapa dirinya harus khawatir berlebihan?Karina pun mengangguk dengan bersemangat, tersenyum manis dan berkata dengan gaya menggemaskan, "Mulai sekarang, aku akan mengandalkanmu."Rafael mengangkat alisnya ketika dia melihat ekspresi antusias Karina dan berkata, "Kalau aku nggak melindungimu, aku harus melindungi siapa?"Mendengar itu, Karina tertawa lebih bahagia.....Setelah itu, atas permintaan keras Rafael, Karina baru bisa keluar dari ruang perawatan khusus di rumah sakit s
"Eh?" Karina mengusap hidungnya, lalu menatap Rafael."Kamu sudah tahu aku sebaik ini, jadi kamu menikah denganku atau nggak?" tanya Rafael sambil memegang dagu Karina, tersenyum lebar.Karina mengangguk mantap dan berkata, "Asalkan kamu mau menikahiku, aku akan menikah denganmu."Rafael benar, jika kamu ingin memakai mahkota, harus siap menanggung bebannya. Rafael telah melakukan begitu banyak hal untuknya, lalu mengapa dirinya tidak menghadapi orang-orang yang datang untuk memprovokasinya demi Rafael?Jika sudah mencintai, mengapa dirinya tidak sanggup menghadapi sedikit kesulitan demi Rafael?Mendengar jawaban yang pasti, Rafael tersenyum lebar, matanya yang hitam penuh arti. "Kamu yakin?"Karina mengangguk tegas. "Aku yakin."Tiba-tiba, Rafael menekan bahu Karina, menghela napas panjang dan berkata, "Sekarang aku merasa lega.""Eh?"Karina tertegun, matanya berkedip-kedip. 'Apa maksudnya?'Ekspresi Rafael tiba-tiba tampak serius, menatap ke arah Karina dan berkata dengan sungguh-su
Sebelum tubuhnya mendekat, Karina dapat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang dari tubuh Rafael.Hanya seperti itu Karina sudah sangat kedinginan. Bagaimana dengan Rafael yang merupakan sumber hawa dingin itu? Rasa sakit seperti apa yang dia tanggung?Karina tidak ingin terlalu banyak pikir. Dia m
Setelah Karina keluar dari gudang dan menghirup udara segera, dia mempunyai dua pilihan untuk menyelesaikan masalah ini. Yang pertama, melaporkan insiden ini ke pihak polisi dan membiarkan mereka yang menanganinya, tetapi ada kemungkinan ayahnya Nella yang merupakan seorang wakil bupati akan ikut ca
Karina bingung, dia menempelkan pipinya ke dada Rafael, mendengarkan detak jantungnya yang kuat dan merasakan detak jantungnya sendiri ikut sinkron.Karena begitu dekat, dia sepertinya dapat merasakan Rafael sedikit gemetar, gemetar yang disebabkan oleh rasa takut.'Dia sebenarnya sangat takut, bukan?
Setelah mendengar hal tersebut, cengkeraman tangan Nella yang memegang ponsel makin erat.Dia yang awalnya ingin mempermalukan Karina dengan video itu, tidak menyangka video itu malah menjadi bukti fatal kejahatannya. Inilah yang dinamakan senjata makan tuan!Pandangan Karina beralih ke tangan Nella,


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม