เข้าสู่ระบบSetelah cinta satu malam itu, kata pertama yang diucapkan Rafael kepada Karina setelah bangun adalah "Keluar." Siapa yang sangka ketika mereka bertemu kembali, Rafael dengan tidak tahu malunya ingin memanfaatkan Karina, meminta Karina menjadi teman tidur pribadinya. Rafael adalah seorang pebisnis ternama yang dikenal dingin dan tidak ada wanita yang bisa menggodanya. Karina yang sangat disayangi oleh Rafael dan bahkan menjadi istrinya, membuat iri para wanita. Akan tetapi, Karina menjadi tidak berharga ketika mantan pacar Rafael muncul. Ketika Karina memilih melepaskan Rafael, Rafael yang memiliki sifat mendominasi itu memegang erat tangan Karina dan berkata, "Siapa yang berani membiarkanmu pergi tanpa seizinku?"
ดูเพิ่มเติม"Wah, rumah yang besar dan sunyi seperti museum! Aku akan kembali lagi nanti, tunggu aku barang-barang mahal. Tunjukkan keberadaan kalian padaku!" bisik Camille ke dirinya sendiri lalu tersenyum di balik kain cadar hitam yang menutupi separoh wajahnya.
Gadis cantik yang senang melakukan pekerjaan sampingan untuk mencuri di kediaman orang kaya itu sontak berbalik arah, saat telinganya mendengar suara getaran ponsel.
Bergegas, Camille meninggalkan ruangan mewah yang akan menjadi target mencurinya tersebut. Namun tanpa sengaja, saat Camille berbalik, tangannya menyenggol patung kristal di atas pajangan yang tergantung di dinding.
Prang!!!
Patung kristal yang berbentuk seperti kuda ukuran tiga puluh centimeter pada dinding tersebut hancur berserakan di atas lantai, membuat suara pecahannya terdengar sangat nyaring pada tengah malam nan sunyi.
Martin masih belum tidur, dia sedang memeriksa laporan dan dokumen pekerjaan yang diberikan oleh asistennya, Patrick. Ponsel Martin baru saja bergetar menandakan alarm tidur untuk pria itu segera menghentikan pekerjaannya namun Martin terkejut mendengar suara benda jatuh yang terdengar pecah dan sangat nyaring dalam ruangan lain di kediamannya.
Dengan cepat, Martin membuka pintu kamarnya dan tidak sempat untuk menghidupkan lampu, matanya menangkap siluet tubuh yang memakai pakaian hitam berlari ke arahnya.
Camille terkejut dengan kehadiran Martin dan melompat ke arah pria itu yang tidak sempat dia perhatikan selain pria yang berdiri di tengah ruangan kediaman mewah tersebut adalah pria yang memiliki tubuh tinggi atletis.
Camille menyibakkan cadar kain hitam depan bibirnya lalu membungkam bibir Martin dengan ciuman. Sebuah ciuman dalam yang sangat agresif dari seorang gadis!
Camille bukanlah gadis bodoh, meskipun dia sangat polos dan lugu belum pernah berciuman dengan lawan jenis sebelumnya. Tetapi dia sudah sering melihat bagaimana cara pria mencium para gadis di pesta yang bahkan tidak pernah dia tertarik untuk masuk ataupun membaur namun sering mengintip apa yang terjadi pada orang-orang yang menghadiri pesta.
Camille menekan belakang kepala pria di depannya dan memaksa pria itu membuka mulutnya yang Camille sendiri terkejut akan sensasi ketika lidah mereka bertemu.
Mata Camille melotot terkejut, begitu juga dengan Martin yang membeliak membola sesaat, kemudian segera menyipitkan tatapan matanya agar bisa melihat siapa orang yang sedang menciumnya.
Martin bisa merasakan bibir kenyal, tangan yang ramping dan buah dada sedikit menempel pada dadanya, menebak jika orang di depannya adalah seorang wanita.
“Apa yang kau lakukan?!” pekik Martin frustasi tetapi Camille menahan tubuh Martin agar tidak bisa bergerak dan menyadari siapa dirinya.
Camille masih terus melumat dan memagut bibir Martin tidak beraturan. Menciptakan sensasi geli dalam perut Martin namun juga nikmat! Pun juga sama dengan Camille sendiri.
Martin mendorong tubuh wanita yang menciumnya itu dengan panik, tangannya menjepit ujung hidung runcingnya dan matanya menyipit nanar menggelengkan kepala berkali-kali, menghindar juga ingin mengetahui siapa wanita yang sudah menyentuhnya tersebut.
Pria berusia 30 tahun namun memiliki penyakit alergi aneh yaitu tidak bisa bersentuhan dengan wanita. Martin akan menderita seperti penderita penyakit asma akut jika bersentuhan dengan lawan jenisnya, bahkan pernah beberapa kali dirinya dilarikan ke rumah sakit karena sekarat akibat ulah Ibu tirinya yang terobsesi menggoda Martin.
Tetapi kini, Martin terkejut dengan fakta penyakit asma yang biasa menyesakkan rongga dadanya, tidak kambuh ketika mendapatkan ciuman dari seorang wanita yang wajahnya masih belum bisa dia kenali.
Tangan Martin terulur naik untuk menyibak cadar pada wajah wanita yang menyosor menciumnya. Tetapi terlambat, Camille sudah memukul pundak belakang Martin dengan tangannya dan pria yang masih terkejut akan ciuman juga reaksi tubuhnya tersebut, jatuh lemas tidak berdaya yang segera ditangkap Camille cepat agar tidak terjatuh ke lantai keras dan menimbulkan keributan lain.
Camille menarik tubuh besar Martin ke dalam kamar yang pintunya terbuka di belakangnya, lalu membaringkan tubuh pria tersebut pada atas ranjang. Melalui penerangan remang-remang dari lampu luar kediaman yang masuk ke dalam kamar, Camille berjingkat mundur saat menyadari wajah familiar dari pria yang baru saja dia cium bibirnya tersebut.
“Sial!” umpat Camille kasar lalu melompat turun melalui jendela besar dan pulang kembali ke rumah orangtuanya sambil mengusap bibirnya dengan perasaan kesal juga membuang ludah sembarangan, seakan ingin memuntahkan semua kotoran dari dalam mulut serta tenggorokannya.
Camille baru saja naik ke kamarnya di lantai atas pada rumah kecil sekaligus toko orangtuanya berjualan minuman pada tepi pantai Sorrento, Amalfi.
“Cammie,” panggil Dylan-Ayah angkat Camille yang dia panggil ‘Paman’, sedang duduk di kursi saat Camille masuk mengendap memanjat tiang samping rumah untuk masuk melompat ke dalam kamarnya.
Camille yang sedang menggerutu kesal dalam kepalanya, terkejut dan hampir terjatuh ke belakang menabrak meja. Dengan cepat tangan Dylan menarik pergelangan tangan Camille dan membawa gadis muda di depannya untuk duduk pada tepi ranjang.
“Paman belum tidur?” tanya Camille setelah mengatur laju pernapasannya, stabil.
“Bagaimana Paman bisa tidur jika kamu masih berkeliaran di luar sana,” gerutu Dylan disambut kekehan Camille santai.
Dylan menarik napas panjang, dia sangat menyayangi Camille seperti putri kandungnya sendiri. Perbuatan Dylan sebagai pencuri di rumah orang kaya, kini juga diikuti oleh Camille. Tentu saja hal tersebut membuat Dylan tidak bisa tenang karena Camille melakukannya sendiri, tanpa team seperti dirinya yang selalu bekerjasama dengan Christopher, rekan dalam misi mencurinya.
“Besok, Paman akan mengajakmu ke cafe kenalan Paman. Mungkin nanti kamu bisa bekerja di sana,” ujar Dylan memperhatikan Camille yang sedang melepaskan cadar pada wajahnya, kemudian duduk di sebelah putri cantiknya itu.
Camille beringsut lalu merebahkan kepalanya ke pangkuan Dylan, Pamannya yang sangat dia sayangi selain Solenne-istri Dylan yang sejak bayi mengasuh serta membesarkan Camille penuh cinta dan kasih sayang.
“Ya, aku akan menuruti apapun perkataan Paman dan Bibi,” sahut Camille lirih.
“Tetapi Abraham tidak boleh berhenti minum obat dan vitamin, juga dia harus mengkonsumsi makanan bergizi setiap hari. Aku hanya ingin membantu meringankan beban kalian,” tambah Camille menjelaskan tindakannya mungkin tidak akan bisa berhenti mencuri dari kediaman orang kaya untuk mendapatkan uang.
Abraham adalah anak jalanan yang berteman dengan Camille dan kini pria yang tidak mau di sebut anak kecil meskipun usianya baru sepuluh tahun tersebut sedang menderita penyakit kronis, dirawat oleh Dylan dan Solenne.
“Paman dan Bibimu akan menjaga dan merawat kalian. Percayalah, Abraham pasti sembuh,” ucap Dylan sambil membelai rambut panjang Camille dalam pelukannya.
“Paman dan Bibimu tidak ingin kamu melakukan pekerjaan ini. Paman juga berjanji pada Bibimu untuk tidak membuatnya cemas lagi. Kita pasti bisa hidup normal seperti orang lain dan memiliki uang banyak untuk pengobatan Abraham. Sudah malam, tidurlah dan ingat besok bangun pagi, Paman akan membawamu ke cafe kenalan Paman.” lanjut Dylan lalu mengangkat kepala dan tubuh anak gadisnya tersebut agar berbaring di ranjang dan kepalanya menjejak bantal.
“Terima kasih, Paman!” cetus Camille saat Dylan sudah berada di ambang pintu kamarnya.
Dylan mengangguk samar lalu berjalan cepat sambil menghubungi seseorang melalui ponselnya.
“Jangan libatkan putriku dalam misi lagi! Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada putriku!” ucap Dylan berbisik tegas lalu segera mematikan ponsel tanpa mau mendengarkan pembelaan dari orang yang dia hubungi di sambungan telpon tersebut.
Dylan masuk ke dalam kamarnya, melihat istrinya yang juga terjaga.
“Maafkan aku, aku gagal menjadi Ayah yang baik untuk putri kita,” bisik Dylan sambil memeluk istrinya yang juga pastinya sangat kuatir seperti dirinya ketika Camille berada di luar rumah belum pulang bahkan setelah tengah malam menjelang.
“Kamu adalah Ayah yang hebat untuknya,” sahut Solenne, istri Dylan.
Solenne menumpukan keningnya ke kening Dylan dan mengambil udara yang sama dengan suaminya untuk bernapas. Meskipun mereka bukan orangtua kandung Camille, tetapi Dylan dan Solenne sangat menyayangi dan mencintai Camille yang di curi Dylan saat masih bayi merah.
"Kalian!" teriak Karina.Karina merasa kesal. Dia memandang para wartawan dengan marah, lalu hendak membungkuk untuk mengambil dokumen-dokumen yang berserakan di tanah. Akan tetapi, bagaimana mungkin orang-orang ini peduli? Demi mendapatkan berita utama, mereka semua tidak segan-segan menggunakan cara apa pun.Dokumen yang tercecer di tanah itu sudah diinjak-injak oleh mereka sebelum sempat diambil Karina. "Cukup! Hubunganku dengan Pak Rafael memangnya ada hubungan dengan kalian?" teriak Karina dengan kesal sambil kembali berdiri tegak.Orang-orang itu sudah menghabiskan kesabaran Karina."Nona Karina, apakah Nona marah karena pernyataan kami benar? Apakah Nona benar-benar merayu CEO Grup Stalin demi bisa menjadi bagian dari keluarga kaya raya?""Nggak!" balas Karina dengan cepat."Jika tidak, bisakah Nona mengungkapkan bagaimana Nona dan Pak Rafael bertemu? Apakah Nona merasa bisa menjadi seperti Cinderella?""Benar, Nona Karina, Keluarga Stalin adalah keluarga terkenal. Apakah Nona y
Pada akhirnya yang mendapatkan keuntungan dari keseluruhan kejadian ini adalah Amy.Di dalam mobil.Karina berdebar-debar dan bergumam, "Hubungan kita telah diketahui publik, aku nggak tahu bagaimana reaksi dari pihak kampus ...."Memiliki hubungan dengan Rafael pasti akan menimbulkan sensasi. Karina tahu itu dan dia hanya berharap reaksi orang-orang tidak terlalu berlebihan.Namun, pasti akan menarik banyak perhatian orang terhadapnya.Karina menghela napas, dia merasa tidak ingin pergi ke kampus untuk sementara waktu.Begitu Karina selesai berbicara, Rafael sudah memegang tangannya. Sentuhan hangat itu membuat Karina terkejut. Karina menoleh, menatap Rafael dengan bingung. Terlihat Rafael sedang memandang keluar jendela mobil sambil menopang dagunya, seperti sedang menikmati pemandangan, dan berkata dengan datar, "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisimu."Wanita mana pun pasti akan tersentuh hatinya mendengar perkataan itu.Sudut mata Karina melengkung. Dia menggeser p
Karina menggeleng, raut wajahnya tampak bimbang. "Nggak, hanya saja ini terlalu mendadak, aku merasa belum siap.""Apa yang perlu kamu takutkan? Bukankah aku ada di depanmu untuk melindungimu? Kamu hanya perlu bersembunyi di belakangku dengan tenang," jawab Rafael dengan sangat santai dan lancar seakan-akan dia telah berlatih berkali-kali.Hati Karina menjadi hangat. Awalnya dia merasa sedikit bimbang, tetapi sekarang semuanya seketika menjadi jelas. Apa pun yang terjadi, bukankah Rafael selalu ada untuknya?Mengapa dirinya harus khawatir berlebihan?Karina pun mengangguk dengan bersemangat, tersenyum manis dan berkata dengan gaya menggemaskan, "Mulai sekarang, aku akan mengandalkanmu."Rafael mengangkat alisnya ketika dia melihat ekspresi antusias Karina dan berkata, "Kalau aku nggak melindungimu, aku harus melindungi siapa?"Mendengar itu, Karina tertawa lebih bahagia.....Setelah itu, atas permintaan keras Rafael, Karina baru bisa keluar dari ruang perawatan khusus di rumah sakit s
"Eh?" Karina mengusap hidungnya, lalu menatap Rafael."Kamu sudah tahu aku sebaik ini, jadi kamu menikah denganku atau nggak?" tanya Rafael sambil memegang dagu Karina, tersenyum lebar.Karina mengangguk mantap dan berkata, "Asalkan kamu mau menikahiku, aku akan menikah denganmu."Rafael benar, jika kamu ingin memakai mahkota, harus siap menanggung bebannya. Rafael telah melakukan begitu banyak hal untuknya, lalu mengapa dirinya tidak menghadapi orang-orang yang datang untuk memprovokasinya demi Rafael?Jika sudah mencintai, mengapa dirinya tidak sanggup menghadapi sedikit kesulitan demi Rafael?Mendengar jawaban yang pasti, Rafael tersenyum lebar, matanya yang hitam penuh arti. "Kamu yakin?"Karina mengangguk tegas. "Aku yakin."Tiba-tiba, Rafael menekan bahu Karina, menghela napas panjang dan berkata, "Sekarang aku merasa lega.""Eh?"Karina tertegun, matanya berkedip-kedip. 'Apa maksudnya?'Ekspresi Rafael tiba-tiba tampak serius, menatap ke arah Karina dan berkata dengan sungguh-su
Sebelum tubuhnya mendekat, Karina dapat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang dari tubuh Rafael.Hanya seperti itu Karina sudah sangat kedinginan. Bagaimana dengan Rafael yang merupakan sumber hawa dingin itu? Rasa sakit seperti apa yang dia tanggung?Karina tidak ingin terlalu banyak pikir. Dia m
Setelah Karina keluar dari gudang dan menghirup udara segera, dia mempunyai dua pilihan untuk menyelesaikan masalah ini. Yang pertama, melaporkan insiden ini ke pihak polisi dan membiarkan mereka yang menanganinya, tetapi ada kemungkinan ayahnya Nella yang merupakan seorang wakil bupati akan ikut ca
Karina bingung, dia menempelkan pipinya ke dada Rafael, mendengarkan detak jantungnya yang kuat dan merasakan detak jantungnya sendiri ikut sinkron.Karena begitu dekat, dia sepertinya dapat merasakan Rafael sedikit gemetar, gemetar yang disebabkan oleh rasa takut.'Dia sebenarnya sangat takut, bukan?
Setelah mendengar hal tersebut, cengkeraman tangan Nella yang memegang ponsel makin erat.Dia yang awalnya ingin mempermalukan Karina dengan video itu, tidak menyangka video itu malah menjadi bukti fatal kejahatannya. Inilah yang dinamakan senjata makan tuan!Pandangan Karina beralih ke tangan Nella,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม