Share

11

Author: Reykan Uwais
last update publish date: 2026-05-25 14:42:58

Aku Bukan Daffa, Aku Cuma Alif

Hujan deras mengguyur sekujur tubuh mungil Alif yang terduduk lemas di pinggir trotoar kota. Air hujan bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir dari kedua mata sendunya. Kalimat Pak Qosim tadi masih berputar terus di kepalanya, seperti pisau yang berputar di dalam dada.

"Emakmu tidak meninggal sakit biasa... Bapakmu juga bukan kecelakaan..."

Siapa? Siapa yang sejahat itu? Kenapa? Pertanyaan itu terus menghantui benak Alif. Di saat ia sedang bingung, takut, dan hancur lebur, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, keluar sosok wanita yang sangat ia kenal, berlari menerobos hujan tanpa memakai payung sama sekali.

Itu Nayla.

"DAFFA! ANAK KU SAYANG! KAMU KEMANA AJA SAYANG? MAMAH CARin DARI TADI!" seru Nayla histeris. Ia langsung memeluk tubuh Alif dengan sangat erat, seolah takut anak itu akan hilang lagi dari pelukannya. Nayla menangis tersedu-sedu, menciumi seluruh wajah Alif yang basah kuyup.

"Mah... Alif di sini Mah..." gumam Alif lirih, kaget dengan kedatangan Nayla. Ia berusaha melepaskan pelukan itu pelan, rasa bersalah kembali menyerangnya.

"Kenapa lari Sayang? Kenapa bikin Mamah takut banget? Siapa yang berani marahin kamu hah? Bilang sama Mamah! Daffa anak baik, Daffa anak suci, gak mungkin nyuri barang siapa-siapa! Mereka semua yang salah, mereka yang jahat sama anakku!" Nayla berbicara dengan cepat, matanya menatap lekat wajah Alif dengan tatapan rindu dan obsesi yang mendalam. Bagi Nayla, di depan matanya ini bukan Alif, ini adalah Daffa yang sudah kembali hidup.

Dari dalam mobil, terlihat Rendi turun dengan wajah lelah dan bingung. Ia mendekat, berusaha menenangkan istrinya. "Mah, ayo masuk dulu, hujannya makin deras. Kita bicarakan di rumah ya," bujuk Rendi pelan.

Alif ditarik masuk ke dalam mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan pulang, Nayla tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Alif. Ia terus mengelus-elus punggung tangan itu, menatap wajah Alif tanpa berkedip, sambil bergumam sendiri.

"Persis... persis sama persis... Mata ini, hidung ini, bibir ini... Daffa-ku memang sudah kembali. Mamah tau kok, Tuhan baik banget sama Mamah," bisik Nayla sambil tersenyum bahagia di sela isak tangisnya.

Alif hanya diam membeku di sudut kursi belakang. Di sebelah kanannya ada Nayla yang menganggapnya anak kandung, di sebelah kirinya ada Pak Qosim yang ikut menumpang karena kebetulan ada di situ, menatap Alif dengan tatapan penuh arti dan rasa kasihan.

"Mah... kalau Mamah tau aku cuma Alif, anak buangan yang dibuang jauh-jauh... Mamah bakal benci sama aku gak ya? Mamah bakal buang aku lagi gak?" batin Alif tersayat perih. Ia merasa seperti penjahat yang sedang menipu perasaan wanita baik ini, padahal ia sama sekali tidak berniat menipu.

Sesampainya di rumah besar itu, suasana langsung tegang. Nyonya Marni sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam menahan amarah. Ia menatap tajam ke arah Alif, lalu beralih menatap Pak Qosim yang ikut masuk. Ada kilatan kaget sekilas di mata tua itu saat melihat Pak Qosim, namun cepat-cepat ia tutupi dengan wajah garangnya.

"Nah! Anak pembawa sial itu sudah balik lagi! Bawa orang asing pula ke sini! Mau bawa preman apa hah?!" bentak Nyonya Marni keras-keras.

"DIAM KAMU!" tiba-tiba Nayla membentak balik, suaranya tinggi dan menggelegar. Semua orang di ruang itu terdiam kaget. Nayla berbalik menatap ibu mertuanya itu dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.

"JANGAN BERANI-BERANI KAMU BILANG ANAKKU JAHAT! DIA DAFFA! DAFFA ANAKKU! DIA GAK AKAN BERBUAT JAHAT! KAMU YANG UDAH TUA TAPI HATINYA KOSONG, KAMU YANG FITNAH DIA TERUS-TERUSAN!" Nayla menangis, lalu kembali memeluk bahu Alif erat. "Maafin mereka ya Sayang... mereka gak ngerti, mereka gak tau betapa berharganya kamu buat Mamah..."

Nyonya Marni tertegun, bibirnya gemetar menahan amarah yang memuncak, tapi ia takut meledak-ledak kalau Rendi ada di situ dan Nayla sedang kambuh sakitnya. Ia mendengus kasar, lalu menunjuk ke arah gudang kecil di samping belakang rumah.

"Baiklah! Kalau kalian bela dia mati-matian, terserah! Tapi ingat kata-kataku! Dia sudah mencemarkan nama baik rumah ini. Dia gak boleh tidur di kamar utama! Dia gak pantas tidur di kasur empuk itu! Biar dia tidur di gudang saja! Tempat yang pantas buat anak miskin seperti dia!" seru Nyonya Marni dengan penuh kemenangan, lalu berjalan pergi dengan langkah tegap.

Rendi menatap Alif dengan wajah sedih dan ragu. "Lif... eh... Daffa... maafkan Papah ya... Papah sedang bingung. Kamu... kamu ikut Bi Inah ke gudang dulu ya? Sementara waktu saja sampai keadaan tenang," ucap Rendi pelan, suara beratnya terdengar tak berdaya.

Alif mengangguk pasrah. Ia sudah biasa diperlakukan seperti ini. Yang menyakitkan bukan perlakuan kasarnya, tapi kenyataan bahwa Rendi pun lebih percaya omongan ibunya sendiri dibandingkan kebaikan hatinya.

"Iya Pah... Alif ngerti..." jawabnya lirih.

 

Malam itu, angin dingin berhembus kencang masuk lewat celah-celah dinding gudang tua itu. Ruangan itu sempit, berdebu, bau lembab, dan penuh sarang laba-laba di sudut atap. Di lantai tanah yang hanya dialasi kardus bekas, Alif duduk memeluk lututnya. Ia menggigil kedinginan, tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih menusuk daripada dinginnya udara malam.

"Emak... Bapak... ternyata kalian gak pergi karena takdir biasa ya... ada orang jahat..." bisik Alif pelan, matanya menatap remang-remang ke sekeliling ruangan. Tangannya meraba-raba sekantong kain lusuh yang selalu ia bawa, sisa kenangan satu-satunya.

Tiba-tiba, pintu gudang yang tua itu berderit terbuka pelan. Alif terlonjak kaget, mendekap dirinya sendiri makin erat.

"Siapa...?"

Sosok wanita berjalan masuk membawa lentera kecil. Itu Nayla. Ia masuk dengan langkah hati-hati, menunduk karena pintunya rendah. Di tangannya ada selimut tebal hangat dan nampan berisi makanan yang masih mengepul. Wajahnya tampak tenang, namun matanya berbinar-binar aneh, tatapan yang hanya tertuju pada satu orang: Daffa.

"Sayang... Mamah tau kamu pasti kedinginan," bisik Nayla lembut. Ia mendekat, lalu langsung berlutut di lantai kotor itu tanpa peduli bajunya mahal atau kotor. Nayla membentangkan selimut tebal itu, lalu membungkus seluruh tubuh Alif dengan penuh kasih sayang.

"M-mah... tempatnya kotor dan dingin... Mahal nanti bajunya kotor..." Alif berusaha menolak, hatinya terasa panas sekali, ingin menangis tapi ditahan.

"Nggak apa-apa Sayang... di mana pun kamu ada, di situ tempat Mamah. Dulu kamu juga pernah hilang, Mamah cari sampai ke bawah tanah pun Mamah mau," Nayla tersenyum manis, lalu menyuapkan nasi hangat ke mulut Alif. "Makan ya Daffa... maafkan Omah ya, Omah makin tua makin aneh. Padahal dulu sebelum kamu pergi, Omah sayang banget sama kamu..."

Alif menerima suapan itu dengan pasrah. Air matanya jatuh menetes ke piring makan itu. Rasanya perih sekali, manis tapi pahit.

"Mah..." suara Alif bergetar hebat. Ia menatap lurus ke manik mata Nayla. "Mah... liat Alif baik-baik... Alif ini siapa di mata Mamah? Alif ini... Alif atau Daffa?"

Nayla terdiam sejenak, tangannya berhenti mengusap kepala Alif. Wanita itu tersenyum lebar, senyum yang bikin hati Alif remuk redam. Nayla memegang kedua pipi Alif dengan kedua tangannya yang lembut, menatap lekat tepat ke manik mata anak itu.

"Kamu Daffa... Daffa-ku... Anak kembar satu-satunya Mamah..."

DEGH!

Jantung Alif seakan berhenti berdetak saat itu juga. Matanya membelalak sempurna, mulutnya menganga tak percaya.

"Anak kembar...?"

Belum sempat Alif bertanya apa maksud kalimat itu, tiba-tiba matanya tertuju ke sebuah kotak kayu tua yang terselip di balik tumpukan karung lama di sudut gudang itu. Karena tersenggol kakinya, kotak itu terbuka sedikit, dan jatuhlah sebuah foto usang berwarna sepia ke lantai tanah.

Alif mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Cahaya lentera jatuh tepat ke atas permukaan foto itu.

Di foto itu terlihat Nayla muda, Rendi muda, dan dua bayi mungil kembar yang digendong di sebelah kiri dan kanan. Wajah kedua bayi itu SAMA PERSIS, tidak ada bedanya sedikit pun.

Tapi yang membuat darah Alif membeku bukan wajah bayi itu... melainkan sosok wanita tua yang berdiri di belakang mereka, tersenyum licik. Di tangannya, wanita itu memegang sebuah kain pembungkus yang sama persis dengan kain pembungkus yang dulu dipakai Emak saat menemukan bayi Alif di pinggir kali bertahun-tahun lalu.

Dan di sudut foto itu, ada tulisan tangan yang masih terbaca jelas meski sudah pudar:

"Lahir 25 Mei, Dua Putra Kembar. Satu untuk warisan, Satu harus hilang selamanya. - Nyonya Marni"

"MAK... BAPAK... JADI MEMANG BENAR ADA YANG SENGAJA..." bisik Alif, suaranya hilang tertelan rasa takut yang luar biasa.

Seketika itu juga, dari balik pintu gudang yang sedikit terbuka, terdengar suara tawa kecil yang sangat ia kenal. Suara tawa yang dingin, penuh kebencian, dan penuh kemenangan.

Suara NYONYA MARNI.

Dan kalimat yang keluar dari mulut wanita tua itu membuat nyawa Alif hampir melayang di tempat:

"Ah... akhirnya kamu nemu foto itu juga ya... ANAK BUANGAN..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketupat Untuk Emak   11

    Aku Bukan Daffa, Aku Cuma AlifHujan deras mengguyur sekujur tubuh mungil Alif yang terduduk lemas di pinggir trotoar kota. Air hujan bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir dari kedua mata sendunya. Kalimat Pak Qosim tadi masih berputar terus di kepalanya, seperti pisau yang berputar di dalam dada."Emakmu tidak meninggal sakit biasa... Bapakmu juga bukan kecelakaan..."Siapa? Siapa yang sejahat itu? Kenapa? Pertanyaan itu terus menghantui benak Alif. Di saat ia sedang bingung, takut, dan hancur lebur, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, keluar sosok wanita yang sangat ia kenal, berlari menerobos hujan tanpa memakai payung sama sekali.Itu Nayla."DAFFA! ANAK KU SAYANG! KAMU KEMANA AJA SAYANG? MAMAH CARin DARI TADI!" seru Nayla histeris. Ia langsung memeluk tubuh Alif dengan sangat erat, seolah takut anak itu akan hilang lagi dari pelukannya. Nayla menangis tersedu-sedu, menciumi seluruh wajah Alif yang basah kuyup."Mah... Alif di sini Mah..

  • Ketupat Untuk Emak   10

    Pengorbanan yang Dibalas FitnahMalam semakin larut, jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih seperempat. Namun, di dapur belakang rumah mewah itu, masih terlihat sosok kecil yang bergerak lincah di antara tumpukan piring kotor dan wajan bekas masakan tadi siang. Itu adalah Alif.Sejak tiga hari yang lalu, Alif sengaja bangun lebih malam. Ia melihat Bi Inah dan pembantu lain tampak kelelahan karena harus mengerjakan semuanya sendirian. Di dalam hati kecilnya, Alif merasa sangat tidak enak hati. Ia makan enak, tidur empuk, bersekolah bagus, sementara orang-orang di sini bekerja keras melayani semua orang. Pesan Emak terus terngiang di telinganya: "Alif, kalau kamu ditolong orang, kamu harus balas lebih banyak kebaikannya. Jangan jadi beban, jadilah penolong."Dengan pakaian tidur sederhana dan lengan baju yang sudah digulung ke atas, Alif menggosok setiap piring dengan telaten dan hati-hati. Ia tidak ingin ada satu pun pecah atau kotor. Tangannya yang mun

  • Ketupat Untuk Emak   9

    Pintu kamar tertutup sudah di belakang tubuh mungil Alif. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, matanya mengedar tak percaya menelusuri setiap sudut ruangan yang kini menjadi tempat istirahatnya. Kamar ini sangat luas, jauh lebih besar dibandingkan satu rumah tempat ia dan Emak tinggal bertahun-tahun lamanya. "Ya Allah ... bagus sekali!" gumam Alif.Di sana terlihat kasur berukuran besar yang terlihat sangat empuk dan lembut, ditutupi sprei berwarna biru muda dengan motif halus yang terlihat mahal. Lemari pakaian besar dari kayu jati yang berkilau, meja belajar yang tertata rapi lengkap dengan lampu hias, hingga karpet tebal yang menutupi seluruh lantai membuat suasana terasa begitu hangat dan mewah. Semua benda di sini tampak baru, bersih, dan berharga tinggi. Hal-hal yang selama ini hanya bisa Alif lihat di layar televisi tetangga, kini ada di depan matanya, bahkan menjadi miliknya. Namun, bukannya merasa melompat kegirangan seperti anak-anak seusianya jika diberi hadiah besar, dada

  • Ketupat Untuk Emak   bab 8

    “Jangan mentang-mentang anak saya itu mengangkat kamu sebagai anak angkatnya terus kamu bisa seenaknya tinggal di sini, ya!” perempuan itu melotot tajam pada Alif, ia tak henti-hentinya memperhatikan Alif dari ujung kaki hingga ujung kepala.Glek!Alif menelan salivanya dengan susah payah, Alif hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah perempuan paruh baya itu.“Jangan mentang-mentang kamu memiliki wajah yang sangat mirip dengan almarhum cucu saya, lantas saya bakal tiba-tiba menyayangi kamu gitu, lalu saya tiba-tiba menerima kamu sebagai cucu saya gitu? Begitu maksud kamu, hah?” perempuan itu berbicara dengan nada yang sedikit ditinggikan.Alif hanya diam tak bergeming seraya menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.Kini, Alif serta perempuan paruh baya itu saling duduk berhadap-hadapan di atas kursi sofa yang ada di ruang depan kediaman Rendi.“Hm, tapi lumayan juga kamu tinggal di sini, saya bisa memanfaatkan situasi ini dengan menggunakan tenaga kamu yang m

  • Ketupat Untuk Emak   bab 7

    Dua hari kemudian ….Setelah selesai mengurus beberapa dokumen penting agar Alif menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, akhirnya, kini Alif sudah sah menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, Akhirnya Alif pun meninggalkan rumah reyot peninggalan kedua almarhum orang tuanya. Alif diboyong oleh Rendi dan Nayla di kediamannya yang berada di kota sebelah.Rumah Rendi sangat besar dan juga megah, rumah Rendi dan Nayla memiliki dua lantai rumahnya terletak di perumahan elite di kotanya. Alif terbelalak saat melihat kediaman Rendi yang sangat besar itu, baru pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah sebesar itu.“Mari Lif, kita masuk ya. Mulai sekarang, kamu tinggal di sini!” Rendi berucap ramah pada Alif sementara Nayla tidak pernah mau melepas genggamannya dari Alif.Alif hanya menggangguk pelan pada Rendi.Sesampainya di ambang pintu kedua mata Alif kembali tercengang, ia sangat mengagumi interior rumah Rendi serta Nayla, orang tua angkat Alif.“Mulai sekarang, ini rumah kamu jug

  • Ketupat Untuk Emak   bab 6

    “Alif yang sabar ya, ikhlaskan semuanya ….”Seorang pria paruh baya menghampiri Alif dan memegangi bahu Alif dengan begitu erat. Alif masih bingung dan tidak begitu mengerti dengan apa yang telah terjadi. Ia melihat tampak tubuh yang sedang terbujur kaku yang sedang ditutupi oleh kain jarik berbaring di ruang depan rumahnya.Alif masih berpikiran positif, ia sangat berharap kalau yang sedang berbaring itu adalah orang lain, bukan siapa-siapa.“Lif, ikhlasin emakmu ya Lif. Untuk sementara, Bapak akan temani kamu di rumah ini, karena Bapak tahu betul kalau kamu itu sebatang kara ….”Pak Qosim yang dikenal dengan Pak RT di kampung Alif sangat baik dan dan sangat perhatian kepada warganya itu, ia memberikan perhatian lebih kepada Alif yang notabenenya Alif adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki sanak saudara atau tidak memiliki siapa-siapa lagi.“Ma-maksud Pak RT, apa?” tanya Alif dengan bibirnya yang bergetar.“emakmu, Lif. Emakmu sudah meninggal Lif,” jawab Pak RT dengan wajah s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status