LOGINPintu kamar tertutup sudah di belakang tubuh mungil Alif. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, matanya mengedar tak percaya menelusuri setiap sudut ruangan yang kini menjadi tempat istirahatnya. Kamar ini sangat luas, jauh lebih besar dibandingkan satu rumah tempat ia dan Emak tinggal bertahun-tahun lamanya.
"Ya Allah ... bagus sekali!" gumam Alif. Di sana terlihat kasur berukuran besar yang terlihat sangat empuk dan lembut, ditutupi sprei berwarna biru muda dengan motif halus yang terlihat mahal. Lemari pakaian besar dari kayu jati yang berkilau, meja belajar yang tertata rapi lengkap dengan lampu hias, hingga karpet tebal yang menutupi seluruh lantai membuat suasana terasa begitu hangat dan mewah. Semua benda di sini tampak baru, bersih, dan berharga tinggi. Hal-hal yang selama ini hanya bisa Alif lihat di layar televisi tetangga, kini ada di depan matanya, bahkan menjadi miliknya. Namun, bukannya merasa melompat kegirangan seperti anak-anak seusianya jika diberi hadiah besar, dada Alif justru terasa sesak dan berat. Hatinya terasa kosong, seolah ada bagian dari jiwanya yang ikut hilang bersama kepergian Emak tadi siang. Alif melangkah pelan mendekati pinggiran kasur yang empuk itu. Ia duduk perlahan, merasakan kelembutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Di tangannya, ia masih menggenggam erat selembar kain sarung lusuh milik almarhum Bapak, serta baju gamis sederhana peninggalan Emak yang sempat ia selamatkan dari rumah reyot itu. Benda-benda itulah harta paling berharga baginya, jauh lebih mahal harganya dibandingkan segala kemewahan yang ada di sekelilingnya saat ini. "Emak... Bapak..." bisik Alif lirih, suaranya bergetar menahan tangis yang sejak tadi ia tahan agar tidak terdengar oleh penghuni rumah lain. "Alif sekarang tidur di kasur empuk, Mak... di kamar yang bagus banget... tapi kenapa rasanya sakit sekali ya Mak? Kenapa rasanya lebih perih dibandingkan tidur di lantai tanah rumah kita yang dingin itu?" Air mata bening akhirnya tumpah juga, membasahi pipi bersihnya. Alif memeluk erat baju peninggalan Emak itu, menciumnya berkali-kali seolah ingin menghirup sisa aroma tubuh ibundanya yang sabar dan penyayang. Di dalam keheningan malam itu, Alif menangis tersedu-sedu, meluapkan segala rasa lelah, sedih, dan kehilangan yang menumpuk sejak subuh tadi. Ia ingat betul nasihat Emak sebelum berangkat berjualan, senyum Emak yang memancarkan cahaya, dan kata-kata perpisahan halus yang dulu belum ia mengerti maknanya. "Emak bilang, kalau Emak sudah tua... Emak titip kebun, titip rumah... Ternyata itu pesan perpisahan ya, Mak..." gumam Alif di sela isak tangisnya. "Alif janji Mak, walaupun sekarang Alif tinggal di rumah istana begini, Alif gak akan berubah. Alif tetap Alif anak Emak yang sederhana. Alif akan selalu doakan Emak dan Bapak, setiap waktu, sampai kapan pun." Jam dinding di dinding kamar menunjukkan pukul dua belas malam lebih seperempat. Lama Alif menangis hingga akhirnya kelelahan menguasai tubuh kecilnya yang sejak pagi berkeliling membawa beban berat, ditambah lagi berpuasa seharian penuh. Perlahan namun pasti, mata Alif terpejam, terlelap di atas kasur empuk itu sambil tetap memeluk erat kenangan satu-satunya yang ia miliki dari orang tuanya. "Allahu Akbar... Allahu Akbar..." Suara adzan shubuh berkumandang syahdu dari masjid di kejauhan, memecah keheningan malam yang mulai beranjak pagi. Secara otomatis, mata Alif terbelalak terbuka. Kebiasaan yang sudah ditanamkan Emak sejak kecil itu tertanam begitu kuat di dalam dirinya. Ia bangkit dari tidurnya, mengusap sisa air mata di pelupuk matanya, dan melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Tanpa perlu disuruh, tanpa perlu diingatkan, Alif segera mengambil air wudhu dengan tertib dan khusyuk. Ia berdiri menghadap kiblat di sudut kamar yang telah disediakan tikar indah oleh pemilik rumah. Sholat sunnah tahajud dan hajat ia laksanakan dengan penuh ketundukan. Di sepertiga malam yang mulia itu, doa Alif mengalir tiada henti. Ia memohon ampunan Allah, ia memohonkan tempat terbaik untuk Emak dan Bapak di sisi-Nya, serta memohon kekuatan agar bisa menjalani hidup baru ini dengan baik dan menjadi anak yang berguna bagi siapa saja yang berbuat baik padanya. Setelah selesai berdoa dan berzikir, Alif keluar dari kamarnya. Ia berniat menuju musala kecil yang letaknya ada di lantai bawah dekat ruang tengah, tempat yang biasa digunakan keluarga besar ini untuk beribadah. Langkah kakinya yang pelan dan hati-hati terhenti mendadak saat ia melihat sesosok wanita tua sedang berdiri di dekat tangga, menatapnya dengan pandangan yang tajam dan menusuk. Itu adalah Nyonya Marni, ibu kandung dari Om Rendi, wanita yang kemarin sore dengan tegas melarang Alif memanggilnya Omah. Wajah Nyonya Marni tidak tampak ramah sedikit pun, bahkan lebih ketus dan dingin dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu kemarin sore. Ia melangkah mendekati Alif dengan langkah tegap, seolah ingin menguasai seisi rumah ini. "Pagi sekali sudah bangun, bocah?" ucap Nyonya Marni dengan nada suara rendah namun penuh penekanan, matanya melotot tajam menatap wajah Alif. Alif menundukkan kepalanya dengan hormat dan takzim, sepenuhnya ingat pesan Emak untuk selalu sopan pada orang yang lebih tua. "I-iya, Nyonya Besar. Alif biasa bangun subuh untuk sholat, Nyonya," jawab Alif pelan, suaranya terdengar canggung namun tetap santun. Nyonya Marni mendengus kasar, ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Alif dari ujung kaki hingga ke ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Dengar baik-baik ya, kamu anak desa," ucap Nyonya Marni mendekatkan wajahnya ke arah Alif, membuat anak itu mundur selangkah karena takut. "Jangan mentang-mentang kemarin Rendi dan Nayla mengangkat kamu jadi anak, lalu kamu merasa sudah jadi tuan rumah di sini ya! Ingat posisi kamu yang sebenarnya! Kamu itu cuma anak angkat, pengganti sementara buat Daffa cucuku yang sudah tiada. Kamu cuma punya wajah mirip, tapi kamu bukan dia! Kamu tetaplah anak miskin dari rumah reyot itu!" Jantung Alif berdegup kencang mendengar ucapan pedas itu. Ia menelan ludah susah payah, dadanya terasa perih mendengar kata-kata yang menusuk kalbu itu. Namun, ia ingat pesan Emak: Alif harus sabar, Alif harus ikhlas, Alif harus jadi anak sholeh. "S-siap, Nyonya Besar. Alif mengerti," jawab Alif pelan, kepalanya semakin tertunduk dalam. "Bagus kalau kamu paham!" seru Nyonya Marni ketus. "Di sini ada aturan yang harus kamu taati. Jangan pernah berani-berani memakai barang-barang mahal yang ada di ruang tamu atau kamar utama. Jangan manja, jangan banyak menuntut, dan kalau disuruh apa-apa oleh pembantu atau olehku, kamu harus mau melakukannya dengan ikhlas! Anggap saja itu balas budi karena sudah diterima tinggal di rumah mewah ini. Paham?!" "Paham, Nyonya Besar..." "Dan satu lagi!" Nyonya Marni menunjuk tepat ke dada Alif dengan jari telunjuknya yang bertatahkan cincin berlian. "Selama di depan anakku dan menantuku itu, kamu harus bersikap manis, sopan, dan ceria! Jangan sampai mereka tau aku ngomong begini sama kamu. Kalau sampai ada satu kata pun yang bocor dari mulutmu, atau kamu berlagak seolah disakiti, ingat kata-kataku... kamu akan aku usir dari rumah ini dalam sekejap mata! Kamu mau kan diusir dan tidur di jalanan lagi? Di sana dingin, banyak serangga, dan bau sampah lho!" Darah Alif serasa berhenti mengalir mendengar ancaman itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang ingin jatuh. "T-tidak, Nyonya Besar. Alif janji akan diam, Alif janji akan nurut semua kata Nyonya Besar." "Hmm, bagus. Kamu memang anak pintar," Nyonya Marni tersenyum sinis, lalu kembali nada bicaranya berubah halus saat terdengar langkah kaki orang mendekat dari arah ruang tengah. "Eh, pagi-pagi sudah ngobrol berdua, tuh!" suara Om Rendi terdengar ceria. Ia baru saja keluar dari kamarnya yang ada di lantai atas, tampak segar dan bersemangat. Di belakangnya, tampak Tante Nayla yang berjalan dengan wajah berseri-seri. "Ya itu lho Pah, Omah kebetulan lewat, terus lihat Daffa sudah bangun. Ya sudah Omah sapa sekalian ngasih tau tata krama di rumah ini biar dia betah dan rajin," ucap Nyonya Marni berubah seratus delapan puluh derajat, wajahnya yang tadinya jutek kini berubah manis dan penuh kasih sayang palsu. Alif hanya diam terpaku, hatinya bingung dan kacau balau. Ia tidak menyangka wanita itu pandai sekali berpura-pura, persis seperti dua orang yang berbeda. "Anak pintar memang harus begitu, Mah. Daffa memang anak yang baik dan penurut," sahut Nayla dengan lembut. Ia segera berjalan menghampiri Alif, lalu memeluk tubuh kecil itu dengan erat dan penuh rasa rindu. "Pagi sayang... Mamah bangun tidur langsung nyariin kamu. Kamu bangun pagi sekali ya? Mau sholat berjamaah ya? Ayo dong, Mamah sama Papah ikut sholat bareng kamu." Nayla mencium kening Alif dengan penuh kasih sayang, membuat hati Alif yang sedih dan takut itu sedikit tersentuh kehangatan. Di pelukan wanita itu, Alif merasakan ketulusan, rasa sayang yang begitu besar, meskipun ia sadar kasih sayang itu ditujukan untuk sosok Daffa, bukan dirinya. Tapi bagi Alif, sedikit saja perhatian baik sudah cukup baginya untuk bersyukur. "Iya Mah... ayo kita sholat berjamaah," jawab Alif pelan, berusaha tersenyum meski hatinya masih terasa perih karena ancaman Nyonya Marni tadi. Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan khusyuk, suasana di ruang makan pun mulai ramai. Bi Inah dan pembantu lain sibuk menyajikan berbagai macam hidangan yang terlihat sangat lezat dan mewah. Ada roti berbagai jenis, selai buah, sereal, telur, daging asap, hingga aneka kue kering yang belum pernah Alif lihat sebelumnya. Alif duduk di kursi makan yang empuk dan tinggi, ia merasa sangat canggung. Ia biasa makan di tikar di lantai, dengan lauk seadanya, nasi hangat ditambah tahu goreng dan sambal buatan Emak. Melihat makanan yang begitu mewah dan berlimpah ruah di depannya, ia justru merasa tidak enak hati dan takut salah mengambil. "Makan dong Sayang... kok diam saja?" Nayla menyodorkan sepotong roti isi daging ke depan mulut Alif dengan penuh perhatian. "Dulu kamu paling suka banget lho makan ini pas sarapan. Ayo dimakan ya, biar kuat. Nanti habis sarapan kita jalan-jalan ya, mau? Kita beli seragam sekolah baru, buku-buku, tas, sama baju-baju keren buat kamu." Mata Alif terbelalak mendengar rencana itu. "Beli... semuanya baru Mah? Mahal pasti..." gumamnya dalam hati. Namun, saat ia hendak membuka mulut untuk berbicara, ia kembali menangkap tatapan tajam dari seberang meja. Nyonya Marni sedang duduk dengan tenang sambil menyeruput teh hangatnya, namun matanya menatap Alif dengan kilatan ancaman seolah berkata: "Hati-hati bicara, ingat peringatanku tadi." Dada Alif kembali berdebar kencang. Ia menelan ludah, lalu memaksakan diri tersenyum pada Nayla. "I-iya Mah... makasih banyak," jawabnya pelan, lalu menerima makanan itu dengan sopan dan hati-hati. Rendi tersenyum puas melihat keakraban itu. "Nah gitu dong. Hari ini kita persiapkan semuanya, besok Papah antar kamu masuk sekolah baru ya. Sekolah terbaik, paling bagus di kota ini. Kamu harus rajin belajar ya Lif... eh maksud Papah, Sayang," Rendi hampir salah sebut nama, membuat Nayla tertawa kecil. Alif tersenyum tipis, namun di dalam hatinya ia berjanji setengah mati. "Ya Allah... berikan Alif kekuatan. Di rumah mewah ini, di tengah kemewahan ini, di tengah kasih sayang yang sebenarnya bukan untukku ini, dan di bawah ancaman Nyonya Marni... izinkan Alif tetap jadi anak yang sholeh, tetap ingat Emak dan Bapak, dan tetap jadi orang yang berguna. Alif titipkan semuanya pada-Mu Ya Allah..." Sarapan pagi itu berlangsung dengan suasana kontras yang ganjil. Di luar tampak hangat dan bahagia, namun di dalam hati Alif, badai kecil mulai bergemuruh. Ia sadar, kehidupan barunya yang penuh ujian baru saja benar-benar dimulai.Aku Bukan Daffa, Aku Cuma AlifHujan deras mengguyur sekujur tubuh mungil Alif yang terduduk lemas di pinggir trotoar kota. Air hujan bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir dari kedua mata sendunya. Kalimat Pak Qosim tadi masih berputar terus di kepalanya, seperti pisau yang berputar di dalam dada."Emakmu tidak meninggal sakit biasa... Bapakmu juga bukan kecelakaan..."Siapa? Siapa yang sejahat itu? Kenapa? Pertanyaan itu terus menghantui benak Alif. Di saat ia sedang bingung, takut, dan hancur lebur, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, keluar sosok wanita yang sangat ia kenal, berlari menerobos hujan tanpa memakai payung sama sekali.Itu Nayla."DAFFA! ANAK KU SAYANG! KAMU KEMANA AJA SAYANG? MAMAH CARin DARI TADI!" seru Nayla histeris. Ia langsung memeluk tubuh Alif dengan sangat erat, seolah takut anak itu akan hilang lagi dari pelukannya. Nayla menangis tersedu-sedu, menciumi seluruh wajah Alif yang basah kuyup."Mah... Alif di sini Mah..
Pengorbanan yang Dibalas FitnahMalam semakin larut, jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih seperempat. Namun, di dapur belakang rumah mewah itu, masih terlihat sosok kecil yang bergerak lincah di antara tumpukan piring kotor dan wajan bekas masakan tadi siang. Itu adalah Alif.Sejak tiga hari yang lalu, Alif sengaja bangun lebih malam. Ia melihat Bi Inah dan pembantu lain tampak kelelahan karena harus mengerjakan semuanya sendirian. Di dalam hati kecilnya, Alif merasa sangat tidak enak hati. Ia makan enak, tidur empuk, bersekolah bagus, sementara orang-orang di sini bekerja keras melayani semua orang. Pesan Emak terus terngiang di telinganya: "Alif, kalau kamu ditolong orang, kamu harus balas lebih banyak kebaikannya. Jangan jadi beban, jadilah penolong."Dengan pakaian tidur sederhana dan lengan baju yang sudah digulung ke atas, Alif menggosok setiap piring dengan telaten dan hati-hati. Ia tidak ingin ada satu pun pecah atau kotor. Tangannya yang mun
Pintu kamar tertutup sudah di belakang tubuh mungil Alif. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, matanya mengedar tak percaya menelusuri setiap sudut ruangan yang kini menjadi tempat istirahatnya. Kamar ini sangat luas, jauh lebih besar dibandingkan satu rumah tempat ia dan Emak tinggal bertahun-tahun lamanya. "Ya Allah ... bagus sekali!" gumam Alif.Di sana terlihat kasur berukuran besar yang terlihat sangat empuk dan lembut, ditutupi sprei berwarna biru muda dengan motif halus yang terlihat mahal. Lemari pakaian besar dari kayu jati yang berkilau, meja belajar yang tertata rapi lengkap dengan lampu hias, hingga karpet tebal yang menutupi seluruh lantai membuat suasana terasa begitu hangat dan mewah. Semua benda di sini tampak baru, bersih, dan berharga tinggi. Hal-hal yang selama ini hanya bisa Alif lihat di layar televisi tetangga, kini ada di depan matanya, bahkan menjadi miliknya. Namun, bukannya merasa melompat kegirangan seperti anak-anak seusianya jika diberi hadiah besar, dada
“Jangan mentang-mentang anak saya itu mengangkat kamu sebagai anak angkatnya terus kamu bisa seenaknya tinggal di sini, ya!” perempuan itu melotot tajam pada Alif, ia tak henti-hentinya memperhatikan Alif dari ujung kaki hingga ujung kepala.Glek!Alif menelan salivanya dengan susah payah, Alif hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah perempuan paruh baya itu.“Jangan mentang-mentang kamu memiliki wajah yang sangat mirip dengan almarhum cucu saya, lantas saya bakal tiba-tiba menyayangi kamu gitu, lalu saya tiba-tiba menerima kamu sebagai cucu saya gitu? Begitu maksud kamu, hah?” perempuan itu berbicara dengan nada yang sedikit ditinggikan.Alif hanya diam tak bergeming seraya menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.Kini, Alif serta perempuan paruh baya itu saling duduk berhadap-hadapan di atas kursi sofa yang ada di ruang depan kediaman Rendi.“Hm, tapi lumayan juga kamu tinggal di sini, saya bisa memanfaatkan situasi ini dengan menggunakan tenaga kamu yang m
Dua hari kemudian ….Setelah selesai mengurus beberapa dokumen penting agar Alif menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, akhirnya, kini Alif sudah sah menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, Akhirnya Alif pun meninggalkan rumah reyot peninggalan kedua almarhum orang tuanya. Alif diboyong oleh Rendi dan Nayla di kediamannya yang berada di kota sebelah.Rumah Rendi sangat besar dan juga megah, rumah Rendi dan Nayla memiliki dua lantai rumahnya terletak di perumahan elite di kotanya. Alif terbelalak saat melihat kediaman Rendi yang sangat besar itu, baru pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah sebesar itu.“Mari Lif, kita masuk ya. Mulai sekarang, kamu tinggal di sini!” Rendi berucap ramah pada Alif sementara Nayla tidak pernah mau melepas genggamannya dari Alif.Alif hanya menggangguk pelan pada Rendi.Sesampainya di ambang pintu kedua mata Alif kembali tercengang, ia sangat mengagumi interior rumah Rendi serta Nayla, orang tua angkat Alif.“Mulai sekarang, ini rumah kamu jug
“Alif yang sabar ya, ikhlaskan semuanya ….”Seorang pria paruh baya menghampiri Alif dan memegangi bahu Alif dengan begitu erat. Alif masih bingung dan tidak begitu mengerti dengan apa yang telah terjadi. Ia melihat tampak tubuh yang sedang terbujur kaku yang sedang ditutupi oleh kain jarik berbaring di ruang depan rumahnya.Alif masih berpikiran positif, ia sangat berharap kalau yang sedang berbaring itu adalah orang lain, bukan siapa-siapa.“Lif, ikhlasin emakmu ya Lif. Untuk sementara, Bapak akan temani kamu di rumah ini, karena Bapak tahu betul kalau kamu itu sebatang kara ….”Pak Qosim yang dikenal dengan Pak RT di kampung Alif sangat baik dan dan sangat perhatian kepada warganya itu, ia memberikan perhatian lebih kepada Alif yang notabenenya Alif adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki sanak saudara atau tidak memiliki siapa-siapa lagi.“Ma-maksud Pak RT, apa?” tanya Alif dengan bibirnya yang bergetar.“emakmu, Lif. Emakmu sudah meninggal Lif,” jawab Pak RT dengan wajah s







