LOGINPengorbanan yang Dibalas Fitnah
Malam semakin larut, jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih seperempat. Namun, di dapur belakang rumah mewah itu, masih terlihat sosok kecil yang bergerak lincah di antara tumpukan piring kotor dan wajan bekas masakan tadi siang. Itu adalah Alif. Sejak tiga hari yang lalu, Alif sengaja bangun lebih malam. Ia melihat Bi Inah dan pembantu lain tampak kelelahan karena harus mengerjakan semuanya sendirian. Di dalam hati kecilnya, Alif merasa sangat tidak enak hati. Ia makan enak, tidur empuk, bersekolah bagus, sementara orang-orang di sini bekerja keras melayani semua orang. Pesan Emak terus terngiang di telinganya: "Alif, kalau kamu ditolong orang, kamu harus balas lebih banyak kebaikannya. Jangan jadi beban, jadilah penolong." Dengan pakaian tidur sederhana dan lengan baju yang sudah digulung ke atas, Alif menggosok setiap piring dengan telaten dan hati-hati. Ia tidak ingin ada satu pun pecah atau kotor. Tangannya yang mungil dan halus kini bersentuhan dengan air sabun yang kadang terasa panas, tapi ia acuhkan rasa perih itu. Baginya, lelah fisik tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa bahagia karena bisa berguna. "Masih bangun nak Alif? Ya ampun, ngapain kamu di sini?" Bi Inah yang baru keluar dari gudang terkejut setengah mati melihat keberadaan Alif. Ia segera menghampiri dan hendak mengambil alih pekerjaan itu. "Aduh Nak, ini bukan kewajibanmu. Kamu kan Tuan muda, nanti kalau Nyonya Besar tau aku suruh kamu kerja, habis aku dimarahinnya!" Alif tersenyum tipis, senyum tulus khas anak desa yang sopan. Ia menggeleng pelan. "Gak apa-apa Bi Inah... Alif cuma mau bantu dikit. Alif kan sehat, kuat, dan rajin. Lagian kalau diam di kamar sendirian, Alif malah ingat Emak terus, sedih..." jawab Alif lirih, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha tegar. Bi Inah terdiam, hatinya terasa terenyuh sekali. Ia tahu betul siapa Alif, ia tau perlakuan Nyonya Marni selama ini yang manis di depan orang tapi tajam di belakang. Bi Inah mengusap kepala Alif dengan lembut. "Kamu anak baik banget, Nak. Kalau Emakmu masih ada, pasti bangga sekali punya anak sebaik kamu. Sudah ayo istirahat, biar Bibi bereskan sisanya." "Sebentar lagi selesai kok Bi... ini tinggal sedikit lagi," jawab Alif semangat, ia kembali fokus mencuci alat masak yang besar. Namun, di balik pintu dapur yang sedikit terbuka, sepasang mata tua sedang mengamati segalanya dengan pandangan sinis dan penuh prasangka. Itu adalah Nyonya Marni. Ia sebenarnya tidak tidur karena sakit rematik yang kambuh hebat malam itu. Niatnya ingin minta tolong ambilkan obat, tapi melihat Alif ada di dapur, pikiran jahatnya mulai berputar. Keesokan harinya... Suara erangan kesakitan terdengar dari kamar Nyonya Marni sejak pagi buta. Penyakit lamanya kambuh, tapi obat langka yang biasa ia minum ternyata sudah habis, dan apotek terdekat sedang kehabisan stok. Rendi dan Nayla sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis mendadak, jadi di rumah hanya ada Nyonya Marni, Alif, dan para pembantu. Alif mendengar kabar itu dari Bi Inah. Tanpa pikir panjang, rasa kemanusiaan dan didikan Emak langsung bergerak di hatinya. Walaupun Nyonya Marni sering jahat, sering memarahinya, sering memandang rendah dirinya, tapi bagi Alif, wanita itu tetaplah orang tua dari orang yang telah berbuat sangat baik padanya. "Bi, obatnya harus dibeli di kota sebelah ya? Mahal harganya?" tanya Alif pada Bi Inah dengan wajah cemas. "Iya Nak, harganya hampir dua ratus ribu. Itu pun harus cepat, kalau nanti-nanti Nyonya Besar makin parah nanti," jawab Bi Inah gelisah. Alif terdiam sejenak, merogoh saku celananya. Uang sisa uang belanja yang dikasih Papah Rendi kemarin cuma ada lima puluh ribu. Jauh kurang. Matanya kemudian tertuju ke arah kotak kain kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Isinya satu-satunya barang berharga peninggalan Emak: Sebuah kalung sederhana berbandul batu akik kecil yang selalu dipakai Emak setiap hari sampai meninggal. Dulu Bapak beli itu hasil jual salak berbulan-bulan lamanya. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Alif. Ia memegang kalung itu erat-erat, bibirnya bergetar. "Mak... maafin Alif ya Mak. Ini satu-satunya kenangan yang ada. Tapi Nyonya Marni lagi sakit, Mak. Kalau dia kenapa-napa, Alif juga sedih. Alif jual dulu ya Mak, nanti kalau Alif sudah sukses, Alif beli lagi yang lebih bagus buat Emak di surga..." Dengan berat hati namun penuh keteguhan hati untuk berbuat baik, Alif berlari kecil keluar rumah. Ia pergi ke toko perhiasan, menjual kalung itu seharga dua ratus lima puluh ribu. Uang itu langsung ia pakai menyewa ojek ke kota sebelah, membeli obat yang dimaksud Bi Inah, lalu berlari pulang dengan napas terengah-engah meski keringat membanjiri wajah polosnya. "Nyonya Besar! Ini obatnya! Alif sudah belikan, minum ya biar cepat sembuh!" seru Alif dengan napas memburu, wajahnya sumringah bangga bisa menolong, ia menyerahkan bungkus obat itu ke tangan Nyonya Marni yang sedang berbaring di tempat tidur. Nyawa Marni menatap obat itu, lalu menatap wajah Alif yang memerah karena lelah. Ada sekejap rasa kaget di matanya, tapi segera digantikan oleh sifat keras kepalanya. Ia tidak mau mengakui kebaikan anak itu. "Darimana kamu dapat uang?!" tanya Nyonya Marni tiba-tiba dengan nada tinggi, ia menegakkan tubuhnya meski masih kesakitan. "A-a... Alif punya tabungan Nyonya... Alif kan rajin nabung," jawab Alif berbohong pelan, ia tidak tega bilang kalau dia sudah jual barang peninggalan Emak, takut dibilang boros atau tidak tahu diuntung. Siang harinya, saat Rendi dan Nayla pulang, suasana rumah yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi mencekam. Teriakan Nyonya Marni menggema dari lantai atas. "PANGGIL ANAK ITU KESINI! SEKARANG JUGA!" seru Nyonya Marni dengan marah besar. Alif yang sedang menyapu halaman kecil berlari masuk dengan kaget. Di ruang tamu, sudah ada Rendi, Nayla, dan Bi Inah dengan wajah pucat. Di tangan Nyonya Marni ada kotak perhiasan kecil miliknya yang terbuka. "Kenapa Omah marah begini?" tanya Rendi bingung. "Lihat ini Rendi! Kalung berlian warisan nenekmu hilang! Dan tadi pagi aku lihat anak ini keluar rumah buru-buru banget, terus pas pulang dia pegang-pegang obat mahal yang harganya selangit! Katanya dia punya uang dari mana?! Pasti dia yang ambil! Pasti dia yang curi barang berharga kita buat jual!" tuduh Nyonya Marni dengan jari telunjuk menunjuk tepat ke wajah Alif. DEGH! Jantung Alif seolah berhenti berdetak saat itu juga. Tubuh kecilnya gemetar hebat. Matanya melotot tak percaya. "Mencuri...? Alif dituduh mencuri...?" "Ti-tidak Mah... Ti-tidak! Alif tidak nyuri! Demi Allah Alif tidak pernah ambil barang Nyonya Besar!" bantah Alif dengan suara parau, air matanya langsung meluncur deras. Ia menatap Rendi dan Nayla berharap dibela. "Alif beli obat itu pakai uang sendiri... pakai uang..." "Uang dari mana?! Kamu kan anak miskin, kamu pikir kami bodoh tidak tau harga barang?! Kamu bawa masuk kemiskinan dan kebiasaan burukmu ke sini ya?! Dasar anak tidak tahu diuntung! Sudah ditampung, diberi makan enak, malah balasnya nyuri-nyuri!" makian Nyonya Marni semakin pedas, ia sengaja menangis-nangis biar Rendi dan Nayla percaya. Nayla tampak bingung dan sedih, ia menatap Alif dengan ragu. Rendi menghela napas berat, wajahnya kecewa. Itu yang paling menyakitkan buat Alif: tatapan kecewa Papah Rendi. "Lif... apa benar?" tanya Rendi pelan. "Sumpah Pah... Alif gak nyuri... Alif cuma mau berbuat baik... Alif cuma mau obatain Nyonya Marni..." Alif berusaha menjelaskan di sela isak tangisnya, kakinya lemas sampai ia berlutut di lantai keramik dingin itu. Sakit sekali rasanya. Pengorbanan, kehilangan kenangan Emak, kerja keras diam-diam... semuanya dianggap dosa. "Sudah! Jangan alasan! Dasar pembawa sial! Jangan harap kamu bisa tidur di kamar mewah itu lagi! Sana keluar dari sini! Tidur di gudang belakang sana sama tikus-tikus! Atau kalau mau, pulang saja ke rumah reyotmu sana!" bentak Nyonya Marni dengan penuh kemenangan. Alif bangkit berdiri dengan susah payah, kakinya gemetar, hatinya hancur lebur tak bersisa. Ia menatap Rendi dan Nayla berharap ada satu kata pembelaan, tapi mereka hanya diam bingung di tengah tekanan Nyonya Marni. Pelan-pelan, Alif berjalan mundur, menundukkan kepalanya. "Maafkan Alif kalau Alif jadi beban... Maafkan Alif kalau Alif cuma anak miskin yang cuma bikin susah... Alif pamit..." bisiknya lirih, suaranya hilang tertelan tangis. Alif berlari keluar rumah besar itu, berlari menerobos gerbang tinggi, berlari sejauh mungkin sambil memeluk dada yang terasa nyeri sekali. Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi tubuh kecilnya, sama persis seperti hari-hari terberatnya dulu. Ia berhenti berlari di bawah tiang lampu jalan yang remang-remang, di pinggir trotoar kota yang ramai tapi terasa sepi banget buat dia. Alif menangis tersedu-sedu, memanggil nama Emak berulang kali. "Mak... sakit sekali Mak... kenapa baik dibalas jahat ya Mak... Alif salah apa Mak... Alif cuma mau jadi anak baik..." Tiba-tiba, sebuah tangan kasar namun hangat menepuk bahu Alif dari belakang. Alif menoleh dengan kaget, menyeka air matanya kasar. Di sana, berdiri sesosok pria paruh baya yang wajahnya sangat ia kenal, mengenakan baju dinas desa yang lusuh namun akrab di mata Alif. Itu Pak Qosim, Pak RT dari kampungnya! "Pa-Pak RT...?" Alif tergagap, matanya semakin membelalak. "Pak RT ngapain ada di sini...?" Pak Qosim tampak kaget dan sedih melihat keadaan Alif yang basah kuyup dan menangis. Ia langsung memeluk tubuh kecil itu erat-erat, seolah melindungi dari dunia yang jahat ini. "Lif... kebetulan Pak ada urusan ke sini, terus lihat kamu lari-lari nangis..." Pak Qosim menghela napas panjang, wajahnya berubah serius dan sedih sekali. Ia menatap mata Alif lekat-lekat. "Lif... sebelum Emakmu meninggal, waktu itu Emakmu masih sempat pegang tangan Pak, masih sempat bilang sesuatu sebelum napasnya habis... sesuatu yang sampai sekarang Pak simpan rapat-rapat karena Emakmu pesan jangan bilang siapa-siapa kecuali kalau kamu sudah besar atau kamu dalam bahaya besar..." Alif menghentikan tangisnya seketika. Jantungnya berdegup kencang, sangat kencang, campur rasa takut dan penasaran. "Apa... apa yang Emak bilang Pak?!" tanya Alif dengan napas tertahan. Pak Qosim menatap lurus ke manik mata Alif, suaranya berat dan bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir itu: "Emakmu bilang... DIA TIDAK MENINGGAL SAKIT BIASA, LIF... DAN KEMATIAN BAPAKMU DULU PUN BUKAN KECELAKAAN BIASA... ADA ORANG YANG SENGJA MENGINGINKAN KALIAN PUNAH DARI MUKA BUMI INI." DEGH! Dunia Alif serasa runtuh untuk kedua kalinya malam itu. Cahaya lampu jalan terasa berputar-putar. Mulutnya menganga tak percaya. Air matanya berhenti mengalir, digantikan rasa dingin yang menjalar sampai ke tulang sumsum. Siapa? Siapa yang sejahat itu?! Dan kenapa?!Aku Bukan Daffa, Aku Cuma AlifHujan deras mengguyur sekujur tubuh mungil Alif yang terduduk lemas di pinggir trotoar kota. Air hujan bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir dari kedua mata sendunya. Kalimat Pak Qosim tadi masih berputar terus di kepalanya, seperti pisau yang berputar di dalam dada."Emakmu tidak meninggal sakit biasa... Bapakmu juga bukan kecelakaan..."Siapa? Siapa yang sejahat itu? Kenapa? Pertanyaan itu terus menghantui benak Alif. Di saat ia sedang bingung, takut, dan hancur lebur, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Pintu terbuka, keluar sosok wanita yang sangat ia kenal, berlari menerobos hujan tanpa memakai payung sama sekali.Itu Nayla."DAFFA! ANAK KU SAYANG! KAMU KEMANA AJA SAYANG? MAMAH CARin DARI TADI!" seru Nayla histeris. Ia langsung memeluk tubuh Alif dengan sangat erat, seolah takut anak itu akan hilang lagi dari pelukannya. Nayla menangis tersedu-sedu, menciumi seluruh wajah Alif yang basah kuyup."Mah... Alif di sini Mah..
Pengorbanan yang Dibalas FitnahMalam semakin larut, jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih seperempat. Namun, di dapur belakang rumah mewah itu, masih terlihat sosok kecil yang bergerak lincah di antara tumpukan piring kotor dan wajan bekas masakan tadi siang. Itu adalah Alif.Sejak tiga hari yang lalu, Alif sengaja bangun lebih malam. Ia melihat Bi Inah dan pembantu lain tampak kelelahan karena harus mengerjakan semuanya sendirian. Di dalam hati kecilnya, Alif merasa sangat tidak enak hati. Ia makan enak, tidur empuk, bersekolah bagus, sementara orang-orang di sini bekerja keras melayani semua orang. Pesan Emak terus terngiang di telinganya: "Alif, kalau kamu ditolong orang, kamu harus balas lebih banyak kebaikannya. Jangan jadi beban, jadilah penolong."Dengan pakaian tidur sederhana dan lengan baju yang sudah digulung ke atas, Alif menggosok setiap piring dengan telaten dan hati-hati. Ia tidak ingin ada satu pun pecah atau kotor. Tangannya yang mun
Pintu kamar tertutup sudah di belakang tubuh mungil Alif. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, matanya mengedar tak percaya menelusuri setiap sudut ruangan yang kini menjadi tempat istirahatnya. Kamar ini sangat luas, jauh lebih besar dibandingkan satu rumah tempat ia dan Emak tinggal bertahun-tahun lamanya. "Ya Allah ... bagus sekali!" gumam Alif.Di sana terlihat kasur berukuran besar yang terlihat sangat empuk dan lembut, ditutupi sprei berwarna biru muda dengan motif halus yang terlihat mahal. Lemari pakaian besar dari kayu jati yang berkilau, meja belajar yang tertata rapi lengkap dengan lampu hias, hingga karpet tebal yang menutupi seluruh lantai membuat suasana terasa begitu hangat dan mewah. Semua benda di sini tampak baru, bersih, dan berharga tinggi. Hal-hal yang selama ini hanya bisa Alif lihat di layar televisi tetangga, kini ada di depan matanya, bahkan menjadi miliknya. Namun, bukannya merasa melompat kegirangan seperti anak-anak seusianya jika diberi hadiah besar, dada
“Jangan mentang-mentang anak saya itu mengangkat kamu sebagai anak angkatnya terus kamu bisa seenaknya tinggal di sini, ya!” perempuan itu melotot tajam pada Alif, ia tak henti-hentinya memperhatikan Alif dari ujung kaki hingga ujung kepala.Glek!Alif menelan salivanya dengan susah payah, Alif hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah perempuan paruh baya itu.“Jangan mentang-mentang kamu memiliki wajah yang sangat mirip dengan almarhum cucu saya, lantas saya bakal tiba-tiba menyayangi kamu gitu, lalu saya tiba-tiba menerima kamu sebagai cucu saya gitu? Begitu maksud kamu, hah?” perempuan itu berbicara dengan nada yang sedikit ditinggikan.Alif hanya diam tak bergeming seraya menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan.Kini, Alif serta perempuan paruh baya itu saling duduk berhadap-hadapan di atas kursi sofa yang ada di ruang depan kediaman Rendi.“Hm, tapi lumayan juga kamu tinggal di sini, saya bisa memanfaatkan situasi ini dengan menggunakan tenaga kamu yang m
Dua hari kemudian ….Setelah selesai mengurus beberapa dokumen penting agar Alif menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, akhirnya, kini Alif sudah sah menjadi anak angkat Rendi dan juga Nayla, Akhirnya Alif pun meninggalkan rumah reyot peninggalan kedua almarhum orang tuanya. Alif diboyong oleh Rendi dan Nayla di kediamannya yang berada di kota sebelah.Rumah Rendi sangat besar dan juga megah, rumah Rendi dan Nayla memiliki dua lantai rumahnya terletak di perumahan elite di kotanya. Alif terbelalak saat melihat kediaman Rendi yang sangat besar itu, baru pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah sebesar itu.“Mari Lif, kita masuk ya. Mulai sekarang, kamu tinggal di sini!” Rendi berucap ramah pada Alif sementara Nayla tidak pernah mau melepas genggamannya dari Alif.Alif hanya menggangguk pelan pada Rendi.Sesampainya di ambang pintu kedua mata Alif kembali tercengang, ia sangat mengagumi interior rumah Rendi serta Nayla, orang tua angkat Alif.“Mulai sekarang, ini rumah kamu jug
“Alif yang sabar ya, ikhlaskan semuanya ….”Seorang pria paruh baya menghampiri Alif dan memegangi bahu Alif dengan begitu erat. Alif masih bingung dan tidak begitu mengerti dengan apa yang telah terjadi. Ia melihat tampak tubuh yang sedang terbujur kaku yang sedang ditutupi oleh kain jarik berbaring di ruang depan rumahnya.Alif masih berpikiran positif, ia sangat berharap kalau yang sedang berbaring itu adalah orang lain, bukan siapa-siapa.“Lif, ikhlasin emakmu ya Lif. Untuk sementara, Bapak akan temani kamu di rumah ini, karena Bapak tahu betul kalau kamu itu sebatang kara ….”Pak Qosim yang dikenal dengan Pak RT di kampung Alif sangat baik dan dan sangat perhatian kepada warganya itu, ia memberikan perhatian lebih kepada Alif yang notabenenya Alif adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki sanak saudara atau tidak memiliki siapa-siapa lagi.“Ma-maksud Pak RT, apa?” tanya Alif dengan bibirnya yang bergetar.“emakmu, Lif. Emakmu sudah meninggal Lif,” jawab Pak RT dengan wajah s







