Teilen

Bab 5

Nine
Setelah acara lelang berakhir, para tamu mulai pulang satu per satu dalam kelompok-kelompok kecil. Saat Arsa sedang dikelilingi banyak orang yang mengajaknya berbincang, Lyra memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Izzy.

"Izzy, sekarang kamu seharusnya sudah melihat dengan jelas, 'kan?" Lyra merendahkan suaranya. Bibir merahnya melengkung membentuk senyum penuh kemenangan. "Orang yang disukai Arsa itu aku. Kalau kamu terus menempel begini, yang ada dia hanya akan semakin muak sama kamu."

Izzy menatapnya dengan tenang. Tak ada gejolak sedikit pun di matanya. "Keinginanmu akan terwujud."

Lyra mengernyit. "Apa maksudmu?"

Izzy tidak menjawab. Dia berbalik dan hendak pergi.

"Ahhh!" Tiba-tiba terdengar jeritan dari belakang. Izzy menoleh. Dia melihat Lyra berguling jatuh dari tangga!

"Izzy!" Raungan marah Arsa menggema di seluruh aula. Dia berlari menghampiri dan langsung mendorong Izzy dengan keras. Tenaga yang begitu besar membuat tubuh Izzy terhuyung hingga menghantam dinding.

"Memangnya apa yang dilakukan Lyra sama kamu sampai kamu perlakukan dia begini?" bentak Arsa dengan suara tajam. Tatapannya begitu dingin hingga menakutkan. "Meskipun beberapa kali sebelumnya aku gagal melindungimu, kalau kamu marah, lampiaskan saja sama aku! Kenapa harus sakiti dia?"

Punggung Izzy menempel pada dinding yang dingin. Suaranya pelan, tetapi tegas. "Aku nggak dorong dia."

"Arsa ...." Lyra yang terbaring di lantai dengan lemah mencengkeram ujung lengan jas Arsa. "Aku sendiri yang nggak hati-hati .... Ini nggak ada hubungannya sama Izzy."

"Kamu nggak perlu bela dia!"

Arsa melirik Izzy dengan tatapan dingin. Kemudian, dia membungkuk dan mengangkat Lyra.

"Aku nggak akan mengurusmu. Kamu pulang sendiri saja." Setelah mengatakan itu, dia langsung membawa Lyra pergi tanpa menoleh lagi.

Izzy berdiri di tempatnya. Dia memperhatikan punggung Arsa yang semakin menjauh. Anehnya, kali ini dia tidak merasa sedih. Mungkin karena setelah terlalu sering kecewa, hati akhirnya menjadi mati rasa.

Atau mungkin karena dia sudah memutuskan untuk pergi. Sehingga semua yang dilakukan Arsa kini tidak lagi mampu melukai dirinya seperti dulu.

Izzy berdiri di tempat, memandangi punggung Arsa yang terburu-buru pergi sambil menggendong Lyra. Jas yang dikenakan Arsa masih menyelimuti tubuh Lyra. Cara Arsa melindunginya begitu hati-hati, seolah sedang memegang harta yang paling berharga.

Arsa memang selalu seperti itu. Selama Lyra menangis, maka yang salah pasti dirinya.

Izzy menyentuh tiket pesawat yang ada di sakunya. Satu minggu lagi, penerbangan menuju London akan membawa pergi seluruh cinta dan rasa sakit yang selama ini dia simpan.

Arsa tidak perlu lagi menganggapnya sebagai beban. Karena tidak lama lagi, beban ini akan menghilang selamanya dari dunianya.

Lokasi tempat lelang sangat jauh dari vila dan berada di daerah yang cukup terpencil. Izzy sama sekali tidak bisa mendapatkan taksi. Dia hanya bisa berjalan kaki pulang sendiri.

Saat hujan mulai turun, dia baru menempuh setengah perjalanan. Air hujan yang dingin membasahi rambut dan pakaiannya. Sepatunya dipenuhi air. Setiap langkah terasa seperti menginjak ujung pisau.

Ketika akhirnya sampai di rumah, telapak kakinya sudah dipenuhi lepuhan berdarah. Tubuhnya juga mulai terasa panas. Dia memaksakan diri mencari obat, membersihkan luka secara sederhana, lalu tertidur dalam keadaan setengah sadar.

Keesokan harinya, suara keributan dari lantai bawah membangunkannya.

Begitu turun dari kamar, dia langsung melihat ruang tamu dipenuhi koper dan barang-barang milik Lyra. Suara Arsa terdengar dari ruang tamu. "Orang tua Lyra sedang di luar negeri. Nggak aman baginya tinggal sendirian, jadi untuk beberapa hari ke depan dia akan tinggal di sini."

Setelah jeda singkat, suaranya menjadi lebih dingin. "Jaga sikapmu. Jangan lagi memainkan trik-trik kecil seperti sebelumnya."

Izzy berpegangan pada pegangan tangga saat perlahan menuruni anak tangga. Wajahnya pucat karena demam. "Aku tidak nggak melakukannya."

Dia memang tidak akan lagi memainkan trik apa pun dan dia juga tidak akan mencintai Arsa lagi.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 23

    Izzy tetap pergi, dengan tanpa keraguan sedikit pun. Kepergiannya juga sesuai dengan apa yang telah diduga semua orang. Bahkan Tano dan yang lainnya tanpa sadar menghela napas lega saat melihatnya pergi.Mereka semua tahu bahwa jika Izzy benar-benar dipaksa untuk tetap tinggal, maka hari-hari berikutnya mungkin akan terus seperti hari ini. Dia akan terus dipaksa menerima cinta Arsa. Namun, tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.Mungkin inilah yang disebut memiliki takdir untuk bertemu, tetapi tidak memiliki takdir untuk bersama.Mereka pernah saling mencintai. Sayangnya, hati mereka tidak pernah berada pada waktu yang sama.Saat Izzy paling mencintainya, Arsa hanya memikirkan harga dirinya sendiri. Bahkan dia lebih memilih memberikan seluruh perhatian kepada seseorang yang pernah meninggalkannya. Daripada melihat orang yang benar-benar layak dihargai dan selama ini berada di sisinya.Lalu ketika Izzy pergi ... dia baru menyesal. Baru ingin memperbaiki semuanya.Na

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 22

    "Izzy, selamat ulang tahun." Suara Arsa menariknya kembali dari lamunannya.Izzy menarik sudut bibirnya tipis. Dia menundukkan pandangan, menyembunyikan semua emosi di matanya, lalu menjawab pelan, "Terima kasih."Saat pikirannya masih melayang ke mana-mana, sepotong kue tiba-tiba disodorkan ke hadapannya. Ketika mengangkat kepala, dia melihat wajah Arsa yang dipenuhi senyum."Izzy, nggak perlu terima kasih sama aku. Kali ini semuanya memang terlalu mendadak, jadi persiapannya masih kurang. Tahun depan aku pasti akan mengadakan pesta ulang tahun yang lebih cocok dan lebih megah untukmu.""Gimana?"Izzy tidak menjawab. Dia mengambil sesuap kue. Krim mahal itu terasa lembut di mulut, manis tanpa membuat enek. Namun entah mengapa, rasanya tetap hambar baginya.Tanpa sadar, dia menggenggam gelang batu kecubung di tangannya sedikit lebih erat. Butiran kristal saling beradu dan mengeluarkan bunyi pelan. Sebenarnya, dia tidak menyukai satu pun hadiah itu.Yang benar-benar dia inginkan hanyala

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 21

    Dua hari kemudian, tibalah hari ulang tahun Izzy. Arsa sengaja membatalkan semua jadwal pekerjaannya. Namun baru saat hendak menyiapkan kue ulang tahun, dia menyadari betapa sedikitnya dia mengenal Izzy. Dia bahkan tidak tahu rasa kue apa yang disukai Izzy.Karena tidak punya pilihan lain, dia akhirnya membeli semua jenis dan semua rasa yang tersedia. Kalau dipikir-pikir, ini mungkin pertama kalinya dia benar-benar merayakan ulang tahun Izzy dengan serius.Sebelum kecelakaannya, sebagai putra kebanggaan Keluarga Radhika, Arsa bahkan tidak pernah memperhatikan ulang tahun seorang siswi miskin yang dibiayai keluarganya. Kemudian setelah Izzy datang ke sisinya, Arsa malah sedang berada dalam masa paling kelam setelah lumpuh.Saat itu, pikirannya hanya dipenuhi rasa malu karena kondisinya dilihat orang lain dan hampir setiap hari dia melampiaskan emosinya kepada Izzy. Belakangan, berkat perhatian dan dorongan yang terus diberikan Izzy, kondisinya perlahan membaik.Arsa akhirnya belajar men

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 20

    Izzy benar-benar tidak mengerti.Untuk apa semua ini? Arsa tidak mungkin bisa menahannya di sini seumur hidup. Cepat atau lambat, dia tetap akan pergi. Kalau begitu, untuk apa terus melakukan hal-hal yang sia-sia seperti ini?Namun, Arsa tidak pernah peduli berapa lama waktu akan berlalu. Yang dia takutkan hanyalah satu hal. Bahwa suatu hari nanti Izzy akan pergi lagi. Sama seperti terakhir kali, menghilang begitu saja dari hidupnya.Karena itulah, selama masih ada kesempatan untuk berada di sisinya, baik kesempatan itu sekecil apa pun, Arsa tidak ingin melepaskannya.Ketika Izzy menghitung matahari terbenam untuk ketiga kalinya sejak berada di vila itu, Arsa kembali pulang. Kali ini, dia membawa sesuatu bersamanya. Sekelompok besar anggrek kupu-kupu.Bunga itu adalah permintaan Izzy beberapa hari sebelumnya. Saat Arsa bertanya apakah ada sesuatu yang dia sukai dan ingin dibawakan lain kali, itulah yang dia minta.Sebenarnya, cuaca di ibu kota tidak terlalu cocok untuk menanam anggrek

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 19

    Sama seperti dulu saat dia menyukai Arsa.Ketika mendengar Arsa terpuruk setelah lumpuh akibat kecelakaan, Izzy langsung datang ke sisinya tanpa ragu. Meskipun saat itu Arsa mudah marah, sulit ditebak, bahkan sering memaki dan melampiaskan emosinya kepadanya, Izzy tidak pernah berpikir untuk mundur.Begitu pula dengan Marco.Meski Izzy berkali-kali menolak dan menjaga jarak, Marco tetap sama seperti sebelumnya. Dia tidak pernah menyerah. Dia terus bertahan dengan ketulusan dan kesabarannya hingga akhirnya berhasil menyentuh hati Izzy.Namun selama bersama Arsa, Izzy tidak pernah merasakan hal seperti itu. Bahkan pada masa-masa menjelang kesembuhannya, ketika sikap Arsa perlahan berubah dari kasar menjadi lebih tenang, perubahan itu hanya sebatas tidak lagi seburuk dulu.Tidak lebih dari itu."Kalau begitu, Lyra gimana?"Izzy menundukkan pandangan, menyembunyikan emosi di matanya. Suaranya tetap tenang.Arsa sama sekali tidak merasa kecewa dengan sikapnya. Sebaliknya setelah mendengar p

  • Kuberi Cinta Malah Dianggap Saudara   Bab 18

    Di sisi lain, Izzy sama sekali tidak mengetahui semua itu. Sebenarnya, ide untuk mengadakan pernikahan di tanah air datang dari ayah Marco.Meskipun sekarang ayah Marco telah menetap di luar negeri, para sesepuh keluarga besar mereka masih tinggal di dalam negeri. Selain itu, kakek dan nenek Marco juga sudah lama tidak bertemu dengan cucu mereka. Ditambah lagi, sebagian besar teman dan kerabat keluarga juga berada di sini.Karena itulah, pada akhirnya lokasi pernikahan tetap diputuskan di tanah air.Mempersiapkan pernikahan adalah pekerjaan yang rumit dan sangat menyita waktu. Karena tanggal pernikahan ditetapkan cukup mendadak, ada begitu banyak hal yang harus mereka urus.Setiap hari mereka sibuk ke sana kemari hingga Izzy kewalahan. Dia bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal lain. Nama Arsa pun sudah lama terlempar dari pikirannya.Namun yang tidak dia sangka adalah, meskipun dia telah melupakan Arsa, Arsa tidak melupakannya. Bahkan pria itu langsung muncul di hadapannya.

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status