LOGINStefano berdiri di dekat jendela ruang tamu sambil sesekali melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Langit sore perlahan berubah menjadi jingga, menandakan hari hampir berakhir. Namun, hingga saat itu Gea belum juga pulang ke rumah.Biasanya wanita itu akan mengabari jika ada kegiatan tambahan di kampus atau sekadar memberi pesan singkat bahwa dirinya terlambat. Akan tetapi, kali ini tidak ada satu pun kabar yang masuk.Perasaan tidak nyaman mulai merayapi hati Stefano.Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menghubungi nomor Gea. Nada sambung terdengar beberapa detik sebelum akhirnya terputus."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."Stefano mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras menahan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi."Kenapa nomornya tidak aktif?" gumamnya kesal.Ia mencoba menelepon sekali lagi, berharap hasilnya berbeda. Namun suara operator yang sama kembali terdengar. Kini pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang tidak ingin ia bayangkan.St
Gea baru saja menghubungi temannya, dia tidak menyangka kalau keadaan Nadia tengah dalam bahaya. Dia harus menolong wanita itu, dia yakin kalau memang ini ada hubungannya dengan keluarga wanita itu. "Tunggu, Gea," cegah Raya yang merasa khawatir karena Nadia meminta Gea untuk datang sendiri tanpa ditemani oleh dirinya. "Kenapa Raya?" tanya Gea yang kini menoleh pada wanita itu. Raya nampak ragu ketika hendak akan mengatakan semuanya. Tetapi dia diam sejenak. "Aku khawatir kalau kamu ke sana sendirian. Kita tidak tahu situasi yang tengah dialami oleh Nadia seperti apa."Gea meyakinkan temannya. "Kamu dengar sendiri bukan tadi? Nadia meminta hanya aku yang datang. Kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja."Raya tahu kalau Gea mempunyai sifat yang sedikit keras kepala, dia tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri. Bahkan dia tidak yakin kalau semuanya akan jadi seperti ini. "Jika terjadi sesuatu dengan kamu, jangan lupa hubungi aku," saran Raya. Gea hanya mengangguk sambil tersenyu
Gea sudah mulai masuk ke kampusnya kembali, dia kali ini bersama dengan Raya yang kebetulan membawa rujak. Kebetulan Gea tiba-tiba rindu apa yang dibuat ibunya Raya. "Ini pesanan kamu," kata Raya. "Maaf yah merepotkan jadinya," kata Gea. Raya menggelengkan kepalanya, "justru aku senang membawakan ini untuk sahabat terbaikku," puji Raya sambil memeluk Gea. "Kamu bisa saja, aku juga senang dengan semuanya," jelas Gea. Raya kemudian teringat akan sesuatu. Dia baru saja mendapatkan pesan dari Nadia kalau wanita itu tidak masuk sekarang. "Nadia bilang hari ini dia tidak ke kampus, katanya dia lagi ada masalah keluarga," kata Raya memberitahu Gea. "Masalah keluarga?""Dia sih gak menjelaskan lebih detailnya," jelas Raya. Gea yang mendengar itu pun malah khawatir dengan Nadia. Nomornya juga sedikit sulit untuk dihubungi. Dia ingin mengunjungi rumah Nadia, tetapi wanita itu sedikit tertutup dan misterius. Bahkan dia sebagai sahabatnya pun tidak tahu. "Hei, kamu malah melamun, Gea. M
Andin bersama dengan Gea akhirnya memutuskan untuk duduk di kantin yang ada di rumah sakit ini, mereka duduk santai sambil mengobrol banyak hal. Andin juga menceritakan kehidupan dirinya yang selama ini sangat berat, termasuk dengan keluarganya. "Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan semuanya dari kamu," jelas Andin meminta maaf dengan tulus. "Aku sendiri awalnya bingung, jujur aku menemukan foto masa kecil kamu bersama dengan keluarga Stefano. Aku mau menanyakan langsung ketika di restoran saat bekerja, tetapi Pak Fadlan mengatakan kalau libur," jelas Gea. Andin hanya mendengar penjelasan dari Gea saja. Sebelum akhirnya dia kembali menatap wanita itu dengan pandangan serius. "Terus bagaimana akhirnya kamu bisa tahu? Apa kamu bertanya pada Stefano?"Gea mengangguk membenarkan semuanya. "Iya, dia menjelaskan semuanya dan memberitahu juga kalau ayahnya sakit dan tengah dirawat di sini. Sejujurnya aku masih tidak menyangka kalau kamu adalah saudara dari Stefano."Andin tersenyum t
Gea sudah berada di dalam mobil bersama dengan Stefano. Laki-laki itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ada hal yang memang tidak bisa dia jelaskan. Sampai dia teringat akan sesuatu, banyak hal yang harus dia lakukan. Semuanya saling berhubungan satu sama lain. "Ah sialan!"Dia mengumpat dengan kesal, membuat Gea yang ada disampingnya heran. "Kenapa?" tanya Gea. Stefano kembali menaruh ponselnya dan kini melirik kearah Gea. Dia sedikit heran dan merasa aneh. Tidak menyangka sama sekali kalau akan jadi seperti ini. "Anak buahku tidak berhasil melacak keberadaan mereka!"Gea mulai mencerna semua yang dikatakan oleh Stefano barusan. "Maksudnya ibu tirimu dan adik tirimu itu.""Iya siapa lagi," ujar Stefano.Gea akhirnya mencoba untuk menggenggam tangan Stefano dengan lembut, membuat laki-laki itu lebih tenang dari sebelumnya. "Kamu yang sabar yah. Semoga saja nanti akan ketemu.""Aku berharap juga begitu, karena sangat bahaya kalau membiarkan mereka terus berkeliaran,"
Fadlan memastikan semuanya aman, setelah dia berada di belakang, dia langsung melihat kearah layar ponselnya kembali dan menghubungi seseorang."Hallo," ujar orang tersebut. "Kenapa?" tanya Fadlan. "Ada berita penting dan gawat.""Tidak usah berbelit Stefano, katakan saja apa yang terjadi?" tanya Fadlan yang pasti dia yakin kalau tengah terjadi sesuatu. "Ibu tiriku dan anaknya sudah kabur dari rumah, mereka berdua sepertinya sudah tahu kalau akan ketahuan, mereka mengambil langkah lebih awal," jelas Stefano. Fadlan mengepalkan tangannya karena emosi, terlebih setelah dia mengetahui semuanya. Dia tidak menyangka kalau akan ada hal yang seperti ini. "Sialan, rupanya mereka lebih licik!" umpat Fadlan. "Iya, tetapi kamu tidak usah khawatir. Aku sudah menyuruh anak buahku untuk melacak keberadaan mereka," jelas Stefano memberitahu. "Syukurlah, semoga cepat ketemu.""Oh iya, bagaimana dengan kondisi ayahku. Apa dia baik-baik saja?" tanya Stefano. "Dia sudah siuman dan tadi juga mena
Gea menghampiri suaminya setelah mengetahui kalau pria itu habis menghubungi seseorang. Dia penasaran dengan apa yang sudah terjadi sebenarnya. "Kamu habis menghubungi siapa?" tanya Gea menaikan sebelah alisnya heran. "Orang dalam rumah keluargaku, dia mengatakan kalau ibu tiriku kabur."Gea mena
Andin akhirnya masuk ke dalam kamar tempat dimana ayahnya berada sekarang. Ada rasa khawatir melihat kondisi ayahnya yang sekarat. "Ayah," panggil Andin. Ayahnya hanya diinfus biasa saja, ini membuat dia merasa kesal, kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja. Apalagi dengan kondisi ayahnya yang te
Gea membenahi bajunya dengan benar setelah dia bermain panas dengan Stefano barusan. Pria itu memang benar-benar menyebalkan. "Semuanya karena Pak Stefano!" dengus Gea dengan kesal. Dia terlihat sangat kesal ketika melihat semuanya jadi seperti ini. Bahkan dia merasa tidak yakin dengan semuanya.
Rumor tentang Gea berada di perpustakaan bersama dengan Stafano kini kian menyebar. Semuanya karena Satpam itu yang membicarakan ini pada penjaga lainnya. Bahkan mahasiswa lain juga ada yang ikut mendengar rumor tersebut. "Tidak menyangka yah, Gea orang yang seperti itu.""Demi nilai, dia merenda







