MasukTidak terima mendapatkan penghinaan dari orang asing yang telah mengacaukan semestanya, sang lelaki berjubah emas pun segera memberi perintah.“Serang!” serunya lantang.Mendengar itu, 50 juta pasukan langsung berhamburan menerjang Galuh dari berbagai sisi.Layaknya gelombang air bah, mereka datang secara bersamaan dengan kekuatan maha tinggi.Sehingga jika orang lain yang menghadapinya, mungkin dia akan tewas tepat ketika pasukan itu mendekat di mana aura energi mereka mampu menghancurkan gunung dalam sekali jalan.Tapi Galuh, dengan tenang dia menotok beberapa jalan darah di tubuhnya, membuka segel inti energi yang selama ini membatasi kekuatannya.Bruuuuuuusss! BUMMMM!Sebuah ledakan energi dari tubuh Galuh mampu mementalkan semua pasukan, membuat mereka segera membentuk perisai kuat untuk bertahan.Sementara sang lelaki berjubah emas mengaga melebarkan mata, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.“Aku sudah menegaskan ini kepada kalian. Tapi apa boleh buat, kal
“Tuan Lintang!” Batara Anjar Rasa mengangga membelalakan mata khawatir terjadi sesuatu yang buruk kepada Lintang.“Kakak …!” Arga jatuh berlutut dengan berderai air mata.Sementara guncangan gelombang energi ledakan tidak kunjung reda, membuat Arga kembali bangkit penuh amarah.Rasa sakit tidak ingin kehilangan membuat kesedihan pemuda itu sirna berganti rasa kecewa terhadap ayahnya.Arga segera menarik pedang kebalikan, membuka segel energi sejati Kegelapan berniat menghancurkan kubah energi milik kakaknya.Bruuusssh!Gelombang energi mengerikan menyeruak dari tubuh Arga, menghantam Batara Anjar Rasa, membuat tubuh sesepuh perguruan Air Mata Budha tersebut terpental sejauh ribuan meter menuju ke dalaman semesta.“Apa yang …? Aaaaaaa!” Batara Anjar Rasa terkejut, sebelum akhirnya berteriak kencang melayang memuntahkan darah segar.Sementara Arga berdiri di selimuti Kegelapan, matanya berkilat dipenuhi amarah kepada dia yang telah menyiksa kakaknya.Sring! Sring! Sring!Arga melepaskan
“Kekuatan ayah kalian mungkin akan sangat membahayakan, kau harus membuat perisai pertahanan untuk melindungi kita semua, tuan Lintang,” tutur Batara Anjar Rasa.“Aku mengerti Batara,” angguk Lintang sembari langsung mengibaskan tangan, menciptakan kubah energi raksasa dari kekuatan cahaya.“Jadi ini alasan mengapa dirimu membawa kami ke batas semesta, Batara?” tanya Arga.“Benar, tuan Arga. Aku pernah diperingati oleh kakek agar tidak bertindak gegabah. Dunia manusia akan hancur jika kekuatan tuan Galuh muncul secara mendadak,” jelas Batara Anjar Rasa.“Begitu rupanya,” ujar Arga mengerti.Namun jauh di dalam hati, Arga mengumpati ayahnya, “Sial! Ternyata kekuatannya begitu sangat hebat.”“Apa kemungkinan yang akan terjadi jika kita membangkitkannya di batas semesta?” tanya Lintang.“Alam atas akan berguncang dan mungkin pembesar kerajaan dewa akan turun ke mari untuk mencari kita,” jawab Batara Anjar Rasa.“Hmm, cukup adil dari pada harus mengorbankan satu alam. Baiklah! Ayo kita la
Setelah tahu niat Batara Anjar Rasa yang sesungguhnya, Lintang dan Arga pun lantas menyantap hidangan.Mereka makan begitu lahap seperti orang yang tengah kelaparan membuat Batara Anjar Rasa entah berapa kali menggeleng menyaksikannya.“Dasar maniak,” umpat Batara Anjar Rasa di dalam hati.“Apa kau hanya akan berdiri saja atau bergabung bersama kami, Batara?” tanya Lintang, membuat sesepuh perguruan Air Mata Budha itu terkejut khawatir Lintang mampu membaca pikirannya.Sementara Jalamada sudah sedari tadi bergabung menyantap hidangan bersama mereka.“A-apa? A—aku?” Batara Anjar Rasa terbata.“Memang ada siapa lagi di ruangan ini yang tidak makan selain dirimu, Batara?” Lintang menyeringai lebar.“De-dewa tidak perlu makan, tuan Lintang. Silahkan saja lanjutkan,” tolak Batara Anjar Rasa secara halus.“Hahaha, jika dirimu ingin berpetualang di alam kami, maka kau harus mulai belajar mengikuti budaya para dewa di sana. Ayo mari, kita makan,” ujar Lintang.Mendengar kata budaya membuat Ba
Lintang dan Arga duduk pada kursi kotak di depan singgasana, mereka dijamu layaknya tamu agung oleh Batara Anjar Rasa.Disuguhi banyak berbagai hidangan lezat yang diantar oleh para murid, membuat Lintang dan Arga menjadi risih mendapatkannya.“Maaf Batara, apa ini tidak terlalu berlebihan?” tanya Arga tidak mengerti.Sementara Lintang hanya terdiam, menatap Batara Anjar Rasa penuh selidik. Sedangkan Jalamada tersenyum senang menyaksikan mereka.“Hahaha, tidak ada yang terlalu berlebihan untuk kalian, tuan-tuan. Aku tahu niat kalian ke mari, jadi nikmatilah dulu,” Batara Anjar Rasa tertawa.Meski usia batara itu sudah lebih dari puluhan ribu tahun, tapi dia masih terlihat muda karena mempertahankan penampilannya menggunakan energi.Hal ini sudah lumrah di lakukan oleh para dewa, di mana dengan enegi mereka yang besar, apa pun dapat dilakukan.Mendengar Batara Anjar Rasa membuat Lintang dan Arga saling memandang satu sama lain seperti sedang berdiskusi.Mereka terlalu waspada kepada or
Dengan kesaktian pengobatan Lintang, Jalamada akhirnya bisa kembali mendapatkan kaki. Bahkan kanuragan lelaki itu menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya membuat Jalamada sangat berterima kasih kepada Lintang.Sehingga dari sejak itu, Jalamada berjanji akan mengabdi kepada keluarga Lintang.Dia mengungkapkan ingin ikut ke dunia Lintang dan Arga, untuk bisa tetap bersama mereka. Dan Lintang mengangguk menerima permintaan itu. Bahkan Lintang menerima janji Jalamada yang akan mengabdi kepada keluarganya.Dua hari terlewati dengan sangat cepat, sehingga sekarang Lintang, Arga, dan Jalamada telah berada di ujung jembatan.“Akhirnya,” Arga menarik napas lega.“Guru, aku kembali pulang,” gumam Jalamada terharu.Sedangkan Lintang hanya termangu menatap kuil megah yang berdiri di puncak gunung.Kuil itu sangat mirip sekali dengan bangunan kuil Teratai Putih milik Galuh di daratan beku ujung selatan dunia Narapada. Membuat Lintang semakin yakin bahwa di sinilah Resi Arjuna berada.“Apa sebelum
“Si-siapa kau pak tua?” suara Atmarani bergetar karena kesedihan.Air mata berderai lirih membasahi wajah cantiknya yang kian memucat. Rasa sakit kehilangan Lintang sungguh membuat Atmarani tidak lagi semangat melanjutkan kehidupan.Dia memukul-mukul kubah energi menggunakan tangannya sampai tulang
“Mengapa? Me-mengapa selalu seperti ini? Me-mengapa setiap orang yang aku sukai selalu saja tewas? Mengapa dunia ini selalu tidak adil?” Atmarani meracau tidak karuan.Jiwa gadis itu benar-benar terpukul saat menyaksikan Lintang tersiksa. Dan ketika Lintang tidak lagi bergerak, hati Atmarani terasa
Trang! Trang! Bummmm!Wush! Buk! Aaaa! Trang! BUMM!Lintang dan Kuradala terus bergerak saling menyerang, tetapi gerakan mereka sangat cepat hingga Atmarani tidak bisa melihatnya.Yang terlihat dari pertarungan keduanya hanyalah percikan api dan muntahan gelombang energi yang meledak di ketinggian.
“Akhirnya kau tiba juga anak lelembut, hahaha,” Kuradala tertawa terbahak-bahak.“Namun sayang dirimu sudah terlambat bocah. Sekarang tidak akan ada lagi pendekar yang mampu menandingi kesaktianku, hahaha, termasuk dirimu!” sambung Kuradala sembari memberikan tatapan membunuh ke arah Lintang.“Bena





![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

