Share

Bab 2. Mencoba berbenah

Penulis: RatuNna Kania
last update Tanggal publikasi: 2024-12-18 11:43:01

“Masuk kamar dan temani Giselle tidur, Fan!” Retno—Ibu Bima itu menyuruh menantunya dengan suara tegas.

“Iya, Bu. Sekali lagi … Fani minta maaf.”

Retno hanya mengangguk, Fani langsung membawa putrinya yang baru berusia empat tahun itu masuk ke dalam kamar. Sesuai dengan perintah mertuanya.

“Bu, ngapain sih pakai dibela segala? Udah bagus lho, wanita itu tadi minta Pak RT buat kasih hukuman sama Mbak Fani. Sesekali dia memang harus dikasih pelajaran, Bu! Memalukan!” Putri yang hanya berdiri di ambang pintu tampak kesal.

Tadi sewaktu Pak RT diminta tegas oleh gadis yang kesal karena pacarnya berada di rumah Fani, Retno memang pasrah dan menurut saja jika itu yang terbaik dan dirasa adil. Namun permintaan dari Bima lah yang akhirnya membuat perdebatan alot pun bisa berakhir dengan damai. Tentu saja ditutup dengan gelontoran uang untuk membungkam semuanya.

“Kan kamu tau itu tadi keinginan Mas-mu, Nduk. Ibu juga tadinya kesel, malu, rasanya seperti dikuliti hidup-hidup. Tapi mau gimana lagi, suaminya minta begitu.” Retno menghela pasrah.

Dia juga jadi serba salah. Di satu sisi dia sangat malu dan sakit hati menantunya berbuat ulah, namun dia kalah jika putranya masih bertekad untuk menutupi dan membela.

“Ngapain juga Mas Bima pakai gegayaan kasih uang tutup mulut buat cewek itu! Udah bagus juga dia kasih usul biar mbak Fani diarak. Aku jadinya yang nggak terima kalau kayak gini, Bu!” Putri mencak-mencak. Rasanya darahnya begitu mendidih hingga tak bisa mengontrol emosi. Dia kecewa, malu dan kasihan sama sang kakak yang tengah berjuang mencari nafkah, tapi istrinya di rumah malah terlena dalam dekapan pria lain.

“Sudahlah, sabar! Ayo kita pulang, biar Fani juga bisa introspeksi diri. Kita nggak usah ikut terlalu dalam urusan rumah tangga mereka. Yang penting Mas-mu tadi sudah dikasih tau, sudah dikabari. Keputusan juga ada di tangannya. Semoga saja dia cepet sadar, ayo kita pulang!” ajak Retno.

Wanita paruh baya itu menggandeng lengan putrinya dan melenggang keluar dari rumah Fani. Jika ada yang bertanya apakah Retno marah? Tentu saja! Dia sangat marah. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena sang anak yang menginginkan seperti itu.

Kediaman Bima dan Fani memang masih satu lingkup dengan Retno, juga Putri. Wajar saja jika terjadi kegaduhan atau tragedi seperti tadi mereka tau.

“Gi la, ya! Mas Bima dulu lahirnya di-aqiqah hewan apa sih, Bu? Sabarnya kebangetan lho, beda tipis antara sabar sama guo blok! Udah terang-terangan istrinya bertingkah, eh malah dibela.” Putri menghentakkan kakinya kesal.

Dia memang menjadi garda terdepan jika menyangkut nama keluarga. Apalagi sepak terjang Fani yang terdengar dari bisik-bisik tetangga sudah lama membuatnya gerah. Puncaknya malam ini, saat Kakak iparnya itu digerebek, Putri pikir Bima akan mengambil langkah. Tapi ternyata jawaban dari Kakaknya itu masih tetap sama. Hingga Putri kesal sendiri dibuatnya.

“Sst, udah! Kan udah selesai. Kita doakan saja semoga setelah ini Fani memang benar-benar berubah.” Retno mengambil langkah lebar pulang ke rumahnya.

Walaupun dengan emosi meluap, Putri tetap nurut dan mengekor di belakang Retno. Sambil bersungut-sungut dia mengumpat. “Amit-amit banget kelakuan Mbak Fani, mana anaknya cewek. Apa dia itu nggak mikir, nasib dan masa depan Giselle gimana kalau dianya aja nggak bener? Jangan sampai keponakanku tertular jiwa lon tay-nya!”

Sementara mengetahui mertua dan adik iparnya pulang, Fani keluar dari kamar. Dengan kedua bola mata yang sembab karena air mata buayanya, Fani bersorak girang. “Untung aja Mas Bima masih bisa diperdaya. Nggak sia-sia tiap Senin Kamis aku rapalin mantra-mantra.”

Wanita dengan piyama satin berwarna merah jambu itu menutup pintu rumah dengan perasaan tenang.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   Bab 21. Salah Mengira

    “Kamu kemana aja dan kenapa kamu nggak ada, waktu Giselle dibawa ke rumah sakit? Sebenarnya apa saja yang kamu lakukan di luaran, Fan?” Suara tegas Bima membuat nyali Fani menciut.Bima memanggilnya dengan sebuah nama, hal yang hampir tak pernah terjadi dalam sejarah pernikahan mereka. Fani menyandarkan tubuhnya pada kursi besi yang berada di luar kamar. Dia pusing, bagaimana harus berkata-kata lagi agar suaminya percaya.“Iya, Mas, aku minta maaf aku pergi ke luar kota karena ingin bertemu dengan teman-teman lamaku. Kegiatanku ini juga positif kok, Mas. Kami rencananya ingin menggalang dana untuk Yayasan, juga hal-hal baik lainnya. Ehm, perasaan aku udah cerita banyak sama kamu waktu kamu pulang kemarin.” Fani menjeda kalimatnya.“Ya mungkin memang sudah menjadi nasib sialku saja, saat aku berada di luar rumah Giselle malah kondisinya semakin parah, hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit. Aku bener-bener minta maaf Mas, aku lalai menjaga Giselle dengan baik. Aku memang ibu yang tidak

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   Bab 20. Opname

    “Makasih ya, Kak Dika buat hari ini!” seru Fani dengan suara nyaring.“Sama-sama! Eits, jangan panggil Kak dong, kan tadi udah sepakat buat panggil nama aja. Kita kan juga nggak jauh-jauh amat terpaut usianya. Panggil nama aja biar lebih enak,” kata Dika.“Oke Dika. Sekali lagi, terima kasih.” Fani tersenyum. “Next kalau aku main ke kota ini lagi, kamu wajib siapkan waktu luang ya, spesial buat jadi tour guide ku seperti ini.”“Siap! Kabar-kabari aja pokoknya!” Dika mengacungkan jempol.Fani mengangguk, perempuan itu langsung melambaikan tangan dan membawa mobilnya membelah jalan raya. Pukul delapan malam Fani baru memasuki gerbang pintu tol. Perjalanan sampai ke rumah kurang lebih menghabiskan sekitar satu hingga satu setengah jam dari tol yang sekarang. Tergantung situasi dan kondisinya. Fani menyalakan ponselnya saat sudah berada di jalan tol. Dia mengambil rute kiri karena tak bermaksud untuk mendahului. Lagi pula dia juga tak berminat kebut-kebutan. Pelan-pelan saja asal sampai t

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   19. Dimabuk asmara

    “Sepertinya aku harus balik deh, Fan, udah hampir sore juga. Aku mau pulang dulu buat kasih ini ke anak istriku.” Dika melirik arloji di pergelangan tangannya lalu menunjuk paper bag yang diletakkan di kursi sampingnya.“Memangnya Kak Dika kerja di Perusahaan apa, sih?” tanya Fani ingin tahu.“Aku di bidang properti. Ya kerjanya santai, cuma kalau nggak kekejar targetnya ya aku nggak gajian, Fan. Kadang masuk juga absen aja gitu, atau kalau nggak ada prospek dan ketemu klien ya aku cosplay jadi kang ojek,” jawab Dika jujur.“Memangnya pernah gitu nggak gajian ya, Kak?” “Alhamdulillah belum pernah sih, Fan, aku selalu dapat customer ya meskipun kadang pernah nggak capai target. Tapi kan lumayan hasilnya bisa bikin dapur tetep ngebul. Sorry jadi banyak cerita gini sama kamu ya, Fan. Ini aja aku habis antar makanan ke rumah, rencananya mau keliling lagi cari customer sambil aktifkan aplikasi.” Dika menatap Fani sejenak, lalu menghabiskan sisa minumannya dalam gelas.“Kalau gitu biar aku

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   Bab 18. Masuk perangkap

    Bab 18. Masuk perangkap Semalam Fani memberikan Giselle obat penurun panas dua kali. Jadi pagi ini Giselle badannya hanya sumer meskipun tak seceria biasa. Fani sedikit lega karena rencananya dia akan pergi bertemu dengan tambatan hatinya. Berkat koneksinya, akhirnya Fani bisa juga menemukan keberadaan Dika. Andai kapan hari dia tak melihat Dika, mungkin keinginan untuk mengejar dan mendekati lelaki itu tak akan pernah terpikirkan oleh Fani.“Bu, aku mau pergi ke luar kota. Paling sampai di sini nanti jam 9 malam. Itu juga paling lama, aku titip Giselle bisa kan, ya? Upah lebihannya aku bayar di muka, ini!” Fani memberikan selembar uang berwarna merah pada Bu Nur. Wanita paruh baya itu juga langsung meraihnya. Selama ada uang, maka Bu Nur akan melakukan apa yang diperintahkan oleh majikannya itu. “Makasih, Fani.”Fani mengangguk. Tekadnya untuk bertemu dengan Dika sudah lebih dari bulat. Antara rindu, ingin beramah tamah dan menjalin hubungan dekat dengan pria itu, adalah impiannya.

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   Bab 17. Lalai

    Fani pulang dengan sejuta pertanyaan. Pasalnya, tadi Pak U'ut berkata bahwa dia tak memiliki nomor ponsel Dika ataupun tau tempat tinggalnya. Tapi kepastiannya ternyata Dika sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Hal itu tak membuat Fani menyerah walaupun dia sempat kecewa karena tambatan hatinya itu ternyata sudah berkeluarga. Fani masih bertekad untuk mencari tau tentang Dika. Ada ambisi yang menggebu-gebu untuk mendapatkan apa saja yang tak bisa diraihnya dulu.“Fan, ini Giselle kayaknya demam deh. Apa nggak sebaiknya kamu bawa ke dokter?” ujar Bu Nur.“Kasih aja obat penurun demamnya dulu, Bu, ada di kotak P3K yang rasa jeruk. Kalau 4 jam ke depan masih panas, minumkan lagi. Kita tunggu aja sampai besok, kalau masih demam juga baru aku bawa ke dokter,” kata Fani.Bu Nur hanya mengangguk saja. Dia menurut dengan apa saja yang dikatakan oleh majikannya.“Oke!” sahut Bu Nur. Dia langsung membalikkan badan untuk memenuhi ucapan Fani, memberikan obat sirup penurun panas untuk Gisell

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   Bab 16. kabar segar

    Berat bagi Bima meninggalkan anak istrinya untuk kembali mencari nafkah, namun hal itu harus dilakukan karena sudah menjadi tanggung jawabnya. Apalagi kebutuhan dan kepentingan lainnya semakin meningkat, seiring dengan pertumbuhan putrinya. Jadi Bima harus berupaya dan bekerja keras dari sekarang, agar masa depan anaknya terjamin.“Aku berangkat dulu ya, Sayang? Kamu jaga diri baik-baik di rumah, aku selalu merindukanmu dan Giselle,” ucap Bima saat berada di Bandara. Penerbangan pesawatnya masih satu setengah jam lagi, tak apa menunggu sambil bersantai di sana daripada ketinggalan nanti. Fani yang sudah bisa mengontrol perasaannya sejak pagi tadi pun mengangguk seraya tersenyum. Terbesit sedikit perasaan bersalah karena kemarin dia sempat kasar pada suaminya.“Iya, Mas! Kamu kerjanya semangat dan jangan lupa berdoa. Semoga suatu saat nanti kamu bisa kerja di sini tanpa kita harus LDM kayak gini, ya, Mas? Aku minta maaf soal kemarin, mungkin suasana hatiku sedang buruk,” kata Fani.Di

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   Bab 3. Susah ditaklukkan

    Kabar perselingkuhan Fani yang digerebek warga sudah terdengar kemana-mana. Tapi seminggu berlalu ternyata cukup mereda juga. Pagi ini Fani memutuskan keluar rumah setelah seminggu mengurung diri dan hanya berdiam di dalam rumah. Kebetulan Bima tadi memberinya kabar bahwa kebutuhan bulanan sudah di

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   Bab 7. Aduan bohong

    Malam harinya sekitar pukul sembilan, Fani menggedor pintu rumah mertuanya. Tadi saat dia pulang, Giselle dan Nur tak ada di rumah. Jadi feeling-nya berkata bahwa mereka pasti ada di rumah sang mertua. Dia pun mau tak mau harus kesana menyusul Gisel. Fani mengetuk pintu dan mengucapkan salam denga

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   Bab 6. Ani-ani kabupaten

    Dering ponsel Bima begitu meraung-raung. Panggilan kedua baru diangkat. "Mas! Kemana aja sih, kok lama banget ngangkatnya?""Assalamualaikum, Putri cantik!" "Ish!" Putri memutar kedua bola matanya dengan kesal."Biasakan, kalau menelpon itu, ucapkan salam yang utama!" "Iya! Iya! Maaf! Eh, Mas. A

  • Long Distance Marriage (Ketika Istri Kesepian)   Bab 1. Digerebek

    [Mas, istrimu digrebek! Rame banget ini, kamu nggak mau pulang?]Bima yang baru saja mendaratkan tubuhnya ke atas kursi pun mengerutkan kening. Seharian letih mengontrol jalannya proyek di lapangan membuatnya tak sempat melihat ponsel. Bahkan benda berbentuk pipih yang temperedglass-nya mulai reta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status