LOGINSemua orang mengira Pemberton akan menang lagi. Pemberton sendiri mungkin juga mengira begitu—cara ia berjalan ke arena menunjukkan kepercayaan diri seseorang yang sudah melakukan ini dua tahun berturut-turut dan tidak melihat alasan mengapa tahun ini akan berbeda. Tapi Vane sudah mempelajari polanya selama berminggu-minggu, dan ketika ia melangkah ke arena, ia tidak bertarung dengan emosi seperti biasanya. Ia bertarung seperti seseorang yang sudah menung
Beberapa detik setelah Benedict mengucapkan kata itu, tidak ada yang bicara.Duke Harrington menatap putranya. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada kemarahan, tidak ada tanda bahwa kedatangan ini di luar perhitungannya. Hanya tatapan tenang yang sama seperti sebelumnya.Di sekitar mereka, para bangsawan masih berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Alice masih mencengkeram lengan Oliver. Oliver masih belum mengeluh.“Selesai berdansa?” tanya Duke Harrington akhirnya.“Ya.”Harrington mengangguk. Lalu ia mengalihkan pandangannya kembali ke Rosemary, seolah kedatangan Benedict tidak mengubah apa pun.Benedict tidak pergi.
Ashworth belum beranjak. Di depannya, Duke Harrington berdiri setenang sebelumnya.Rosemary berada di antara mereka. Henry tetap di sisinya.Para bangsawan di sekitar mereka tidak menoleh secara terang-terangan. Itu bukan cara orang-orang ini bereaksi terhadap sesuatu yang menarik. Cara mereka adalah dengan menurunkan gelas lebih pelan dari sebelumnya, memperlambat langkah tanpa tujuan yang jelas, memiringkan kepala ke arah yang secara kebetulan menghadap ke titik di mana dua Duke berdiri. Mereka sudah sangat terlatih untuk memperhatikan tanpa terlihat memperhatikan, dan malam ini semua keahlian itu digunakan sepenuhnya.Musik waltz masih mengalun. Tarian belum berhenti. Tapi perhatian sudah terbelah sejak langkah pertama Duke Ashworth mendekat.Ashworth yang
Rosemary tidak langsung menjawab. Dua pilihan yang baru saja diberikan Ratu terasa seperti dua jalan yang sama-sama menuntut sesuatu yang tidak sanggup ia lepaskan.Lalu ia teringat semua yang sudah ia lakukan selama ini. Arsip-arsip yang ia baca sampai larut, nama-nama yang ia tulis ulang berulang kali di kertas catatan, percakapan di koridor dan perpustakaan dan kamar 504. Bukti-bukti kecil yang belum cukup untuk menjatuhkan Ashworth, tapi cukup untuk membuatnya terus mencari.“Yang Mulia,” katanya pelan. “Bagaimana kalau keduanya?”Ratu mengangkat alis.“Aku bantu Yang Mulia memperjuangkan Kingsley. Aku bisa menjadi contoh yang Yang Mulia butuhkan—perempuan yang sudah membuktikan bahwa ia bisa melakukan apa yang dilakuka
Pintu tertutup di belakangnya, dan dunia berubah.Bukan karena ruangan ini lebih besar atau lebih megah dari aula. Justru sebaliknya, ruangan ini lebih kecil, lebih hangat, dengan perapian yang menyala di sudutnya dan hanya satu kursi yang dipersiapkan untuk tamunya. Tapi di aula, ada musik yang mulai dimainkan, ada lusinan pasang mata, ada bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berhenti. Di sini, tidak ada semua itu. Hanya sunyi. Hanya suara api yang berderak pelan. Hanya Ratu yang duduk di kursinya.Rosemary membungkuk. Gerakannya sedikit canggung, separuh ingatan tubuhnya masih mengikuti cara seorang pria memberi hormat, separuh lainnya mencoba mengingat kembali cara yang sudah lama tidak digunakan. Tapi otot-ototnya mengingat lebih banyak dari yang ia duga.“Angkat wajahmu,” kata Ratu. Suaranya te
Pintu besar di belakang mereka tertutup. Suara kayu berat yang bertemu dengan rangkanya menggema pelan di seluruh aula, dan bersamaan dengan itu, semua suara di ruangan itu perlahan mereda. Satu demi satu. Seperti gelombang yang surut.Mereka yang tadinya tertawa, mengobrol, menyesap anggur—kini menoleh. Melihat. Menunggu.Lord Benedict Harrington berjalan masuk dengan seorang perempuan di lengannya. Gaun biru tua. Rambut cokelat sebahu. Kalung perak dengan liontin kecil berbentuk bunga. Wajah yang asing bagi hampir semua orang di ruangan ini.Tapi tidak bagi semua orang.Di sudut aula, Vane menegakkan punggungnya. Gelas di tangannya berhenti di udara. Hanya sesaat. Lalu sudut bibirnya perlahan kembali terangkat. “Berani juga.” Vane memutar gelas di tan
Benedict tidak langsung menjawab pertanyaannya. Rosemary sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa diam itu bukan berarti tidak peduli. Diam itu berarti ia sedang berpikir.“Kau serius,” kata Benedict akhirnya.“Aku serius.”“Mereka akan menatapmu. Semua orang. Bukan hanya Ratu.”“Aku tahu.”“Vane dan Ashworth mungkin sedang menunggu momen seperti ini.”Rosemary berhenti berjalan. Di sekitar mereka, festival terus bergerak, tapi ia tidak memperhatikannya. “Aku tahu. Tapi selama ini aku terus bersembunyi. Untuk apa? Ratu sudah tahu. Ayahmu tahu. Kingsley tahu. Kamu tahu. Henry tahu. Oliver tahu. Bahkan Alic
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t
Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti
Rosemary tersentak. Ia terduduk dengan cepat. Tangannya segera menarik mantel, teringat ikatan dadanya yang tadi dilonggarkan.“Anda … Anda tidak bisa masuk begitu saja!”Dan begitu suara itu mencapai telinganya sendiri, Rosemary ingin menggigit lidahnya.Suara rendah yang selama ini ia pertahankan







