LOGINHalo semuanya!
Sudah Bab 200 ternyata.
Terima kasih banyak sudah bertahan menemani perjalanan Rosemary Sterling sampai sejauh ini. Rasanya masih sulit dipercaya cerita yang awalnya cuma ada di kepala akhirnya bisa sampai di tangan kalian, lalu hidup lewat teori, candaan, bahkan pertengkaran kecil di antara karakter-karakternya. Itu benar-benar menyenangkan.
Luna juga ingin mengucapkan terima kasih untuk semua komentar dan dukungan yang selalu kalian tinggalkan. Kadang aku tidak sempat membalas satu per satu, tapi percayalah, aku membacanya. Banyak komentar yang membuatku tertawa sendiri, banyak juga yang membuatku sadar ada detail yang ternyata berhasil sampai ke pembaca.
Oh iya, buat yang sadar kalau tangan Benedict selalu mengetuk dinding saat frustrasi, atau yang perhatikan Oliver selalu mendorong kacamatanya ... ya, itu memang disengaja. Dan aku senang kalian melihatnya.
Sedikit cerita di balik layar, ternyata menulis novel ini jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Ada bab yang selesai dalam sekali duduk, ada juga bab yang berkali-kali kutulis ulang karena rasanya belum pas. Bahkan sampai sekarang pun aku masih terus belajar mengenal karakter-karakterku sendiri.
Ngomong-ngomong soal karakter, aku mau sedikit curhat tentang Henry. Jujur, Henry adalah salah satu karakter yang paling sulit kutulis. Bukan karena aku tidak menyukainya—justru sebaliknya. Aku menyukai Henry. Tapi setiap kali dia muncul, aku selalu merasa harus berhati-hati agar sifatnya tetap konsisten. Dia bukan karakter yang emosinya mudah terlihat, tapi juga bukan orang yang dingin. Dia hangat dengan caranya sendiri, dan mencari keseimbangan itu ternyata tidak mudah. Karena itu, mungkin kalian merasa Henry belum terlalu sering muncul atau belum mendapatkan banyak sorotan. Semoga kalian bisa sedikit memakluminya. Aku masih terus belajar memahami dirinya, dan aku berharap ke depannya Henry akan mendapat lebih banyak kesempatan untuk bersinar sesuai porsinya.
Satu pertanyaan kecil: Kalian Tim Benedict, Tim Henry, atau Tim Oliver? (Atau Tim Vane? Gapapa, aku tidak menghakimi.)
Aku sendiri, karakter favoritku adalah Oliver. Dia yang paling mudah kutulis, dari dialognya serta dari gesturnya itu sangat khas Oliver.
Festival dansa sudah selesai. Tapi perjalanan Rosemary belum. Masih banyak yang harus dia hadapi. Dan beberapa di antaranya, akan datang lebih cepat dari yang dia kira.
Terakhir, terima kasih karena sudah mencintai Rosemary, Benedict, Henry, Alice, Oliver, dan semua karakter di cerita ini dengan cara kalian masing-masing. Semoga perjalanan mereka masih bisa terus menemani kalian sampai akhir.
Sampai bertemu di bab berikutnya. Ambil napas dulu. Minum teh. Karena setelah ini, kita lanjut lagi.
— Luna Maji
Halaman Kingsley kembali dipenuhi kereta sejak pagi.Suara roda berhenti bergantian di depan gerbang. Para pelayan sibuk menurunkan koper, sementara mahasiswa lama berjalan melewati halaman dengan langkah yang jauh lebih santai daripada mahasiswa baru yang terus melihat ke segala arah.Tahun akademik baru telah dimulai.Untuk pertama kalinya, mahasiswa perempuan berdiri di halaman Kingsley dengan pakaian resmi akademi. Rok panjang berwarna gelap, blus berkerah rapi, dan jubah tipis yang sama dengan mahasiswa laki-laki. Rosemary berdiri di dekat tangga gedung utama, memperhatikan semuanya. Ia masih ingat bagaimana dulu ia datang ke tempat ini sebagai Edmund. Kaku, waspada, dan selalu memastikan suaranya cukup dalam dan caranya berdiri cukup meyakinkan. Sekarang ia berdiri di sini sebagai senior tingkat dua, dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan pakaian perempuan.“Senior, boleh tanya sesuatu?”Rosemary menoleh. Seorang mahasiswi baru berdiri di hadapannya, menenteng koper di tangan
Rosemary kembali ke Kingsley saat sore mulai turun.Setelah berpisah dari Edmund di Sterling Manor, ia menghabiskan perjalanan dengan menatap jalan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi yang ia tunggu di balik tikungan. Tidak ada yang harus ia sembunyikan dari pandangan siapa pun.Halaman Kingsley terlihat ramai, tapi tidak mencekam. Beberapa mahasiswa lalu-lalang membawa buku. Yang lain duduk di bangku kayu dekat jalan setapak. Rosemary turun dari kereta, menyesuaikan tas di bahunya, lalu berjalan melewati gerbang.Ia berhenti sebentar di tengah halaman.Pertama kali ia berdiri di titik yang sama, ia baru saja tiba sebagai Edmund Sterling dan sedang menghitung berapa banyak orang yang harus ia waspadai. Sekarang udara sore yang hangat menyen
Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada yang Rosemary ingat. Jalan yang sama membentang di depan kereta, melewati ladang-ladang yang mulai menguning dan deretan pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Edmund duduk di seberangnya. Sejak meninggalkan Kingsley, ia beberapa kali membuka buku yang dibawanya, tetapi tidak pernah benar-benar membacanya. Akhirnya buku itu diletakkan begitu saja di sampingnya. Rosemary memperhatikan hal itu sambil tersenyum kecil. “Capek?” Edmund menggeleng. “Tidak.” “Bohong.” Edmund menatapnya. “Kau juga tidak membaca apapun sejak tadi.” Rosemary melihat buku yang sejak satu jam lalu masih terbuka pada halaman yang sama. “Aku sedang menikmati pemandangan.” “Oya?” Rosemary menutup bukunya. “Baiklah. Mungkin kita memang capek.” Edmund tersenyum kecil dan kembali memandang keluar jendela. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Sterling Manor akhirnya terlihat dari ujung jalan ketika matahari mulai turun. Bangunan batu yang selam
Beberapa hari setelah keputusan Dewan, Kingsley mulai kembali terasa seperti akademi.Rosemary dan Benedict kembali mengikuti jadwal kuliah. Tidak ada lagi surat yang harus disembunyikan di saku jas. Tidak ada lagi arsip yang harus mereka periksa hingga larut malam. Yang mereka bawa sekarang hanya satu map tipis dengan hasil yang sah dan bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya.Profesor Langston meminta mereka maju untuk mempresentasikan tugas.Ruangan lebih penuh dari biasanya. Oliver duduk di baris tengah bersama Cedric. Beberapa mahasiswa yang dulu menatap Rosemary dengan curiga kini hanya diam menunggu. Tidak ada bisik-bisik. Semua mata tertuju ke depan.Rosemary membuka map itu.Benedict berdiri di sampingny
Lima hari setelah sidang, Henry datang ke Kingsley.Ia tidak menyembunyikan kedatangannya kali ini. Ia berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang, memberi salam singkat pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Langit pagi itu cerah, dan udara sudah mulai hangat. Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict.Tidak banyak yang mereka lakukan sambil menunggu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja, tetapi tidak ada yang benar-benar membaca. Oliver sempat membalik dua halaman sebelum akhirnya membiarkan jarinya berhenti di sudut kertas. Edmund duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, sesekali melirik ke arah pintu. Rosemary sendiri beberapa kali melihat jam.Tidak ada yang mengatakan apa yang sedang mereka tunggu. Mereka bahkan sudah tahu berita apa yang akan dibawa Henry. Tetapi selama keputusan itu belum berada di tangan mereka, semuanya masih terasa seperti sesuatu yang bisa berubah.Benedict berdiri di dekat jendela.Pagi sudah cukup terang
Semua mata tertuju ke pintu ketika nama itu disebut.Duke Ashworth masuk dengan langkah tenang, dan tidak terburu-buru. Pintu besar menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang menggema pelan di seluruh ruangan. Ia berjalan melewati barisan kursi dengan punggung tegak, dan tidak menoleh pada siapa pun. Hanya matanya yang sempat berhenti sekejap pada Lord Lancaster, lalu bergeser ke Rosemary. Tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk membuat Rosemary merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.Ashworth berhenti di tempat yang ditentukan. Ia memberi hormat pada Ratu. Wajahnya tenang.“Duke Ashworth,” kata Ratu. “Kau tahu alasan pemanggilan ini.”“Aku bisa menebaknya, Yang Mulia.” Ashworth tersenyum tipis. “Dan aku bisa mema
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t
Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti







