Home / Mafia / MEREBUT CALON ADIK IPAR / FOTO SIAPA INI?

Share

FOTO SIAPA INI?

last update Last Updated: 2025-10-24 12:16:31

****

Menjelang subuh, Lucian akhirnya tiba di kediaman megahnya. Langkahnya hati-hati, seolah setiap derit engsel pintu bisa membongkar rahasia gelap yang ia bawa pulang malam itu. Dengan perlahan, ia membuka pintu utama, berharap bisa menyelinap masuk tanpa seorang pun menyadari. Namun, harapannya buyar seketika.

Di balik pintu, Patricia ibunya sudah berdiri tegak dengan tatapan tajam yang membuat darah Lucian seakan berhenti mengalir. Aura wanita bangsawan itu dingin dan penuh wibawa.

“Dari mana kau?” tanyanya datar, nada suaranya tenang namun cukup untuk membuat Lucian tergagap. Dalam hati, ia panik jangan sampai sang ibu mengetahui bahwa ia baru saja mengunjungi toko roti milik Alexa, dan bahkan lebih buruk lagi, telah dengan lancang mencuri ciuman dari bibir tunangan kakaknya sendiri.

“Ah… aku hanya mengecek mobil di garasi, Ma,” jawab Lucian cepat, berusaha terdengar meyakinkan. Namun, detak jantungnya semakin berdegup kencang ketika menyadari sesuatu. Di tangan sang ibu kini tergenggam jas mahal miliknya. Patricia dengan tenang mengangkat jas itu, lalu menyodorkan beberapa lembar foto yang ia keluarkan dari saku dalam.

“Jelaskan, kenapa foto-foto wanita ini ada di dalam sakumu?” suara Patricia terdengar tegas, nyaris tanpa emosi, namun mampu menusuk jantung Lucian seperti belati.

Mata Lucian menyipit tipis, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Ia tahu, kebohongan harus segera disusun dengan rapi. “Ah, Ma… itu karena aku memakai jas milik Roger. Foto-foto itu koleksi dia, bukan milikku,” ujarnya, mencoba terdengar tenang.

Namun Patricia tidak langsung percaya. Alisnya berkerut halus, tatapannya menusuk penuh kecurigaan. “Sejak kapan kau mau memakai sesuatu yang bekas digunakan adikmu?” tanyanya dengan nada heran sekaligus menyelidik.

Lucian tersenyum kaku, menahan ekspresi wajahnya agar tidak membeberkan kebenaran yang sesungguhnya. “Sejak dia koma, Ma. Ya… sejak dia koma,” jawabnya, dengan suara sedikit berat. Ia berharap jawaban itu cukup untuk meredakan kecurigaan sang ibu.

Namun Patricia masih menatapnya lama, seolah berusaha membaca isi hati dan pikiran anak keduanya itu. Lucian menunduk sedikit, pura-pura tenang, meski dalam dirinya berkecamuk rasa takut akan terbongkarnya rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat.

****

SELANDIA BARU, TENGAH MALAM

Ruang kerja megah bergaya klasik itu dipenuhi aroma pekat wine yang masih mengepul dari gelas setengah penuh di tangan Tuan Lucarl.

Urat di pelipisnya menegang, wajahnya memerah menahan amarah setelah mendengar laporan tak masuk akal dari anak buahnya. Suaranya menggelegar, penuh penekanan.

“Omong kosong! Kalian sengaja menyembunyikannya!” desis Tuan Lucarl, matanya menatap beringas.

Anak buahnya yang berlutut di hadapannya menundukkan kepala sedalam mungkin, tubuhnya gemetar. “M-Maaf, Tuan. Obatnya benar-benar kosong… tidak ada persediaan di seluruh Selandia Baru.”

Braammm!

Gelas wine itu melayang dari tangan Lucarl dan pecah berkeping di lantai marmer. Cairan merah pekat mengalir, membentuk bercak menyerupai darah yang menetes angkuh.

Lucarl mencondongkan tubuhnya ke depan, suara rendahnya lebih tajam daripada pecahan kaca. “Kau juga berpindah haluan, hah?” sindirnya dingin, penuh curiga. “Apa kau sekarang ingin berpihak pada anak pembangkang itu? Kau kira aku tidak tahu?”

Anak buah itu semakin gemetar, keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia ingin menyangkal, namun lidahnya kelu di bawah tatapan tajam yang sanggup membuat pria dewasa manapun kehilangan nyali.

“Aku tahu…” ujarnya dingin, senyum tipis penuh kebencian terbentuk di bibirnya. “…dia, bocah bernama Lucian itu. Dialah yang menyabotase seluruh obat untuk adiknya. . Anak keparat itu ingin Roger mati, agar singgasana ini jatuh ke tangannya.”

Lucarl mendengus kasar, suaranya bercampur geraman. “Ah, Lucian kecil… kau salah ukur. Kau mengira bisa menjatuhkanku hanya dengan akal bulus murahan? Kau tidak tahu siapa yang sebenarnya kau lawan. Aku adalah ayahmu, dan aku tidak pernah kalah dalam permainan apa pun.”

Tatapannya menajam, menembus ruang kosong, seolah mengirimkan pesan langsung ke putra keduanya di seberang negeri. Aura mengancam itu memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang ada di sana tak berani mengangkat kepala.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MEREBUT CALON ADIK IPAR   BAB 31

    *** "Ok, aku paham sekarang, bukankah sejak awal kita menikah atas kepentingan masing masing? Jadi tidak perlu keterbukaan d sini! Ujar Lucian datar. " Akhirnya kau mengerti! Balas Alexa dengan tatapan tajam, tidak mumgkim dia membuka semua, sedangkan targetnya adalah keluarga suaminya sendiri. "Baik! " Balas Lucian datar. "Cepat urus admistrasinya, aku ingin keluar dari sini! Keluh Alexa " Nanti malam! Kita pulang! Balas Lucian sambil mengemasi beberapa barang dan dokumennya. Lima belas menit kemudian perawat datang membawakan makan untuk pasien, Alexa memang lapar, dia berusaha menyuap sendiri, tapi nyerinya merembak. Lucian langsung menarik piring itu. "Kalau tidak bisa minta tolong! Jangan berharap seperti drama korea yang prianya langsung peka! Piring itu berpindah dari t

  • MEREBUT CALON ADIK IPAR   BAB 30

    ***Helikopter itu akhirnya terangkat dari tanah, melesat menembus langit dengan kecepatan tinggi. Di kursi kemudi, Lucian mencengkeram joystick dengan tangan gemetar. Napasnya terdengar tidak stabil, bukan karena kelelahan, tetapi karena rasa panik yang tidak mampu ia sembunyikan.Setiap beberapa detik, tatapan Lucian terarah pada lengan Alexa yang terbalut perban darurat. Darah masih merembes tipis di antara lilitan kain, menandakan lukanya cukup dalam.“Sakit?” tanya Lucian, suaranya serak dan terdengar berbeda dari biasanya. Tidak ada kesombongan, tidak ada dingin; hanya kekawatiran. Alexa, yang sedang menahan denyut nyeri pada lengannya, menoleh perlahan. Nada Lucian yang tidak biasanya membuatnya turut menurunkan nada bicara.“Sedikit,” balas Alexa pelan. Meski ia berusaha kuat, raut wajahnya tidak mampu sepenuhnya menutupi rasa perih.Lucian menelan ludah. Ia mempercepat laju helikopter, membuat mesin meraung lebih keras.

  • MEREBUT CALON ADIK IPAR   BAB 29

    ***Udara di dalam celah batu itu lembap dan pengap, namun ketegangan yang menggantung membuat keduanya tidak memedulikan apa pun selain suara baling-baling helikopter yang meraung di atas kepala.Lucian bersandar pada dinding batu, wajahnya pucat dan rahangnya mengeras seakan menahan sesuatu yang selama ini tidak pernah mau ia akui.Alexa meliriknya, heran jarang sekali ia melihat Lucian setertekan itu.“Lucian?” panggilnya perlahan. “Wajahmu… tidak biasanya begitu. Kau aman?”Pria itu menelan ludah, suaranya rendah dan datar, namun getir terasa jelas di sana.“Tidak.”Alexa merayap ke mulut goa, mengintip dari sela batu. Helikopter itu kembali berputar rendah, suaranya menggema hingga membuat dada Alexa bergetar.“Mereka tepat di atas kita,” desisnya. “Kalau mereka turun sedikit saja, kita selesai.”“Terima kasih,” ucap Lucian pelan.Alexa menoleh cepat. “Terima kasih?” ulangnya tak percaya.

  • MEREBUT CALON ADIK IPAR   BAB 28

    ****Asap rokok mengepul pelan di udara, menggantung rendah di atas meja kecil yang ditempati Roger. Tatapan pria itu tajam, seolah mampu menembus jendela kaca yang menghadap ke jalanan sepi.“Sial… bagaimana mungkin mereka hilang jejak begitu saja,” gumamnya penuh rasa geram. Jarinya mengetuk-ngetuk meja, menunjukkan betapa tidak sabarnya ia menunggu kabar.Rencana awal Roger sederhana: menghancurkan kehidupan baru Lucian dengan mengguncang hubungan pria itu dan mantannya. Namun kenyataannya jauh dari harapan. Lucian dan Alexa justru lenyap tanpa jejak, membuat Roger seperti mengejar bayangan.Tiba-tiba... “Brukkk!”Sebuah map tebal dijatuhkan tepat di hadapannya. Roger mendongak dengan rahang mengeras, matanya menyipit menatap sosok yang berani-beraninya bersikap lancang.Pria itu berdiri tegak dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Tenang. Tidak terburu-buru. Berkesan seperti seseorang yang sudah tahu apa yang ia lak

  • MEREBUT CALON ADIK IPAR   BAB 27

    ****Alexa dan Lucian berlari menembus semak belukar, dedaunan menyambar wajah mereka tiap kali ranting terpecah oleh langkah tergesa. Di tengah hiruk-pikuk pelarian itu, Alexa tidak bisa mengusir pikiran yang mengusik benaknya sejak tadi.“Kau kenal mereka?” tanya Alexa dengan suara terengah, namun tetap dipaksa tegas.Lucian tidak menoleh, hanya menepis daun yang menggantung rendah. “Bukan sekadar kenal. Fokus pada jalan keluar.”Belum sempat Alexa membalas, suara deru baling-baling semakin keras dua helikopter melintas rendah di atas kepala mereka, seakan menyisir seluruh permukaan hutan. Angin dari putaran baling-baling membuat rambut Alexa terangkat acak-acakkan.“Arrrghh!”Teriaknya pecah saat kakinya tersandung akar menjulur. Tubuhnya terhuyung dan jatuh menghantam tanah, lututnya tergores cukup dalam hingga pedih menjalar cepat.Lucian berhenti mendadak, menatapnya dari balik bahu. “Ch, payah.”Alexa men

  • MEREBUT CALON ADIK IPAR   BAB 26

    ***Australia, Pukul 10.15 PagiPatricia duduk santai di ruang televisi sambil membersihkan kukunya menggunakan alat kecil berwarna perak. Wajahnya tampak tenang, seolah tidak terjadi apa pun, meski kabar mengenai Lucian dan Alexa jatuh sudah sampai ke telinganya.Bel berbunyi.Ding–dong!Patricia refleks mengerutkan dahi.“Siapa pagi-pagi begini?” gumamnya sambil bangkit.Begitu pintu terbukaDegg.“Lucarl!” serunya terperanjat melihat pria yang telah lama tidak tinggal bersamanya.Lucarl berdiri tegap, wajahnya menampakkan senyum sinis.“Kenapa? Kau terlihat sangat tegang, Patricia. Seharusnya hari ini kau bisa bersenang-senang. Anak itu jatuh dari ketinggian, bukan begitu?”Patricia langsung memalingkan muka.“Jangan bicara sembarangan! Lucian putraku. Tidak mungkin aku menginginkannya mati!” serunya cepat dan penuh tekanan.Lucarl menaikkan alisnya, nada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status