Home / Male Adult / MIDNIGHT TRANSFER / CHAPTER 4 VOICE NOTE TENGAH MALAM

Share

CHAPTER 4 VOICE NOTE TENGAH MALAM

Author: Azkaihza
last update publish date: 2026-05-15 15:32:09

Tok.

Tok.

Tok.

Suara ketukan itu terdengar pelan dari balik pintu apartemenku.

Tenang.

Teratur.

Dan justru karena itulah bulu kudukku perlahan merinding.

Aku berdiri beberapa langkah dari pintu sambil menggenggam pistol di tangan kanan. Sementara Flo berdiri di belakang sofa dengan wajah tegang dan laptop kecil yang masih menyala di tangannya.

Lampu apartemen baru saja mati beberapa menit lalu.

Sekarang ruangan hanya diterangi cahaya samar kota Jakarta dari balik jendela kaca besar.

Hujan kembali turun di luar sana.

Dan suara pria dari balik pintu itu terdengar lagi.

“Aku nggak punya banyak waktu, Azka.”

Aku menyipitkan mata.

Suara Vincent Laurent.

Tenang. Dingin. Dan terdengar seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan situasi.

Namun ada satu hal yang langsung kusadari.

Pria ini tidak mungkin baru tiba dari Tokyo hanya dalam hitungan jam secara normal.

Berita pagi tadi jelas menunjukkan dia masih berada di Jepang.

Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan:

Vincent memiliki tim di Jakarta…

atau pria itu menggunakan penerbangan private jet internasional miliknya sendiri.

Dari semua data yang kulihat tadi pagi, Vincent memang dikenal sebagai investor kelas atas dengan akses perjalanan elite.

Pria seperti dia bisa berpindah negara dalam semalam tanpa perlu tercatat publik.

Dan itu justru membuat semuanya terasa jauh lebih nyata.

Karena artinya:

dia benar-benar datang khusus untukku.

Flo mendekat perlahan lalu berbisik sangat kecil.

“Jangan buka pintunya.”

Aku belum sempat menjawab ketika ponselku tiba-tiba bergetar.

Satu notifikasi masuk.

Nomor anonim.

Lagi.

Aku membuka layar perlahan.

Dan jantungku langsung berdetak lebih keras.

1 New Voice Note — Elena

Durasi: 02:13

Aku langsung membeku.

Entah kebetulan atau tidak… voice note itu berdurasi tepat sama dengan jam pertama semuanya dimulai.

Flo ikut melihat layar ponselku dan wajahnya langsung berubah tegang.

“…Putar.”

Di luar pintu, Vincent masih diam.

Seolah tahu sesuatu sedang terjadi di dalam apartemen.

Aku menekan tombol play.

Awalnya hanya suara statis pelan.

Lalu…

suara napas Elena terdengar.

Lembut.

Pelan.

Dan anehnya… terasa sangat dekat.

Seperti seseorang yang sedang duduk di sampingku dalam gelap.

“Azka…”

Untuk pertama kalinya aku benar-benar mendengar suaranya dengan jelas.

Tenang.

Dewasa.

Namun ada sesuatu di dalam nada bicaranya yang sulit dijelaskan.

Suara orang yang terlalu lama memendam lelah.

Bukan lelah fisik.

Lebih dalam dari itu.

Lelah hidup.

Ruangan apartemen terasa mendadak sunyi.

Bahkan Flo tidak bergerak sedikit pun.

Voice note itu berlanjut.

“Kalau kamu lagi dengar ini… berarti semuanya sudah mulai terlambat.”

Suara hujan terdengar samar di latar belakang rekaman.

Disusul bunyi gelas kecil yang diletakkan di meja.

Aku memejamkan mata sesaat.

Aneh.

Aku bahkan belum pernah bertemu langsung dengan Elena.

Tapi suaranya terasa seperti sesuatu yang sudah lama kukenal.

“Aku tahu kamu pasti marah.”

Ia tertawa kecil.

Namun tawanya terdengar kosong.

“Jujur aja… aku juga marah sama diriku sendiri.”

Aku menelan ludah perlahan.

Sementara di luar sana, Vincent belum pergi.

Dan itu membuat semuanya terasa semakin tidak normal.

Voice note Elena terus berjalan.

“Aku nggak pernah niat melibatkan kamu lagi.”

Lagi.

Kata itu langsung membuatku membuka mata.

Lagi?

Tanganku otomatis mengepal.

“Tapi ternyata beberapa orang memang nggak pernah bisa benar-benar keluar dari masa lalu mereka.”

Aku langsung menatap Flo.

“Apa maksudnya ‘lagi’?”

Flo menggeleng pelan.

Namun aku bisa melihat jelas dia juga mulai takut.

Voice note belum selesai.

Dan semakin lama aku mendengarnya… semakin terasa bahwa Elena sedang bicara bukan hanya kepadaku.

Tapi kepada dirinya sendiri.

“Kadang aku capek, Azka…”

Suaranya melemah.

“Capek harus pura-pura kuat setiap hari.”

Hening beberapa detik.

Lalu suara korek api terdengar.

Mungkin rokok.

“Capek hidup pakai nama yang bahkan bukan milikku.”

Dadaku terasa sesak.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…

Elena terdengar seperti manusia biasa.

Bukan wanita misterius.

Bukan manipulator.

Bukan buronan.

Hanya perempuan yang kelelahan.

Dan entah kenapa… itu jauh lebih berbahaya buatku.

Karena aku mulai peduli.

Tokyo.

00:47 AM.

Hujan turun tipis membasahi kaca suite hotel lantai tiga puluh tujuh ketika Elena berdiri sendiri di balkon sambil memegang segelas wine yang belum disentuh.

Angin malam menerbangkan sedikit rambut hitamnya.

Di bawah sana, Tokyo tetap hidup dalam cahaya neon dan suara kendaraan yang samar.

Namun tatapan Elena kosong.

Di meja kecil sampingnya terdapat recorder digital kecil.

Voice note yang baru saja dikirimnya kepada Azka.

Ia memutarnya ulang sebentar.

Mendengar suaranya sendiri.

Dan membencinya.

“Kamu mulai emosional.”

Suara Vincent muncul dari belakang.

Elena tidak menoleh.

Vincent berjalan mendekat sambil membuka kancing jas hitamnya.

Tenang seperti biasa.

Pria itu baru saja tiba kembali di Tokyo beberapa jam sebelumnya menggunakan jet pribadinya dari Jakarta.

Bagi orang biasa, perpindahan dua negara dalam waktu secepat itu terasa mustahil.

Namun bagi Vincent Laurent, uang membuat jarak terasa tidak relevan.

Dan itu salah satu hal yang paling dibenci Elena dari pria itu.

Vincent selalu bisa muncul di mana pun dia mau.

Seolah dunia hanya kumpulan ruangan yang bisa dia pindahkan sesuka hati.

“Aku cuma lelah.”

Vincent tersenyum samar.

“Orang sepertimu nggak boleh lelah.”

Elena tertawa kecil.

Namun tawanya terdengar pahit.

“Itu masalahnya.”

Hening beberapa detik.

Angin malam Tokyo terasa dingin.

Lalu Vincent berkata pelan:

“Kamu mulai jatuh cinta sama dia?”

Tatapan Elena langsung berubah.

Bukan marah.

Lebih seperti seseorang yang terlalu takut mendengar pertanyaan itu.

“Jangan bahas dia.”

Vincent mendekat sedikit.

“Sayangnya sekarang semuanya memang tentang dia.”

Elena memejamkan mata.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama…

ia terlihat rapuh.

Jakarta.

Voice note Elena terus berjalan di tengah apartemen gelapku.

“Aku tahu kamu pasti lagi mencoba nyari tahu siapa aku.”

“Dan aku tahu kamu nggak akan berhenti.”

Aku tertawa kecil tanpa sadar.

Ya.

Dia benar.

Aku memang tidak bisa berhenti sekarang.

Bahkan kalau mau.

“Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat…”

Suara Elena berubah lebih pelan.

Lebih serius.

“Semakin dekat kamu sama aku…”

Hening.

Lalu ia melanjutkan dengan hampir berbisik.

“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”

Aku diam.

Karena jauh di dalam diri sendiri…

aku mulai sadar itu memang benar.

Sejak satu dolar itu masuk ke walletku, semuanya berubah terlalu cepat.

Ancaman.

Pengawasan.

Vincent.

EDEN.

Dan wanita bernama Elena Huang yang bahkan mungkin bukan nama aslinya.

Voice note mendadak dipenuhi suara langkah kaki.

Cepat.

Tergesa.

Lalu suara pintu terbuka.

Elena langsung bicara lebih cepat.

“Aku nggak punya banyak waktu.”

Napasnya terdengar tidak stabil sekarang.

“Kalau sesuatu terjadi sama aku…”

Suara benda jatuh terdengar di latar belakang.

Lalu untuk pertama kalinya…

suara Elena terdengar takut.

Benar-benar takut.

“Jangan pernah percaya Vincent.”

BRAK.

Suara pintu dibanting keras.

Voice note langsung berhenti.

Ruangan mendadak hening total.

Aku menatap layar ponsel beberapa detik tanpa bergerak.

Dan saat itulah…

lampu apartemen tiba-tiba kembali menyala.

Cahaya putih terang memenuhi ruangan.

Aku refleks menoleh ke arah pintu.

Sunyi.

Tidak ada suara lagi dari luar.

Vincent menghilang.

Begitu saja.

Flo langsung berjalan cepat ke peephole lalu mengintip keluar.

Kosong.

Koridor apartemen bersih.

Tidak ada siapa pun.

“…What the hell.”

Aku masih berdiri diam.

Pikiranku kacau.

Karena ada satu hal yang jauh lebih mengganggu daripada hilangnya Vincent.

Kata-kata Elena tadi.

“Semakin dekat kamu sama aku…”

“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”

Sialnya…

aku merasa dia benar.

Pukul dua lewat empat belas menit dini hari.

Aku masih belum bisa tidur.

Flo akhirnya tertidur di sofa setelah hampir enam jam mencoba meretas beberapa jalur komunikasi anonim milik Elena.

Namun hasilnya nihil.

Aku berdiri sendirian di balkon apartemen sambil merokok dan memandangi kota.

Jakarta terlihat indah dari atas sini.

Dan kesepian.

Ponselku masih memutar ulang voice note Elena tanpa sadar.

Berulang-ulang.

Aku bahkan mulai hafal cara dia bernapas.

Cara dia berhenti bicara beberapa detik sebelum mengatakan sesuatu yang penting.

Dan cara suaranya berubah ketika menyebut namaku.

Aku membenci kenyataan itu.

Karena aku mulai terlalu memikirkannya.

Padahal aku bahkan belum pernah benar-benar melihatnya secara langsung selain dari foto.

Namun ada sesuatu tentang Elena yang terasa…

dekat.

Seperti seseorang dari mimpi lama yang tidak bisa kuingat sepenuhnya.

Aku menutup mata sambil menghembuskan asap rokok perlahan.

Dan tepat saat itu…

potongan ingatan aneh tiba-tiba muncul di kepalaku.

Hujan.

Bandara.

Suara perempuan tertawa.

Dan seseorang berkata:

“Kalau suatu hari kita hilang…”

Sakit kepala tajam langsung menghantam pelipisku.

Aku membuka mata cepat sambil memegang kepala.

Napas mulai berat.

Sial.

Apa itu tadi?

Kenangan?

Atau cuma efek kurang tidur?

Belum sempat aku berpikir lebih jauh, ponselku kembali bergetar.

Satu pesan masuk.

Dari nomor tak dikenal.

Namun kali ini bukan teks.

Sebuah foto.

Aku membuka gambar itu perlahan.

Dan darahku langsung terasa dingin.

Foto Elena.

Duduk di kursi.

Tangannya diikat.

Wajahnya pucat.

Di belakangnya ada jam digital merah yang menunjukkan waktu:

02:13

Dan di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.

“COME TO SINGAPORE ALONE.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 10 CINTA HADIR DI di TENGAH KEKACAUAN

    Pagi di Singapura terasa terlalu tenang untuk hidup kami.Hujan sudah berhenti sejak subuh, meninggalkan embun tipis di kaca jendela hotel kecil tempat aku dan Elena bersembunyi sementara dari dunia.Namun ketenangan seperti ini selalu menipu.Aku mulai memahami itu sejak mengenal Elena.Karena setiap kali hidup terasa terlalu tenang…sesuatu buruk biasanya sedang berjalan mendekat.Elena masih tertidur di sampingku ketika aku membuka laptop kecil miliknya.Layar langsung menyala otomatis menggunakan facial recognition.Aku mengernyit kecil.“Trust issue tapi laptopnya percaya sama muka gue.”Suara serak Elena terdengar dari belakang.“Karena sistemnya membaca ancaman rendah.”Aku menoleh sambil tersenyum tipis.“Wah, jadi aku cuma level nyamuk?”Elena tertawa kecil sambil menarik selimut menutupi bahunya.Pagi hari selalu membuatnya terlihat berbeda.Lebih lembut.Lebih muda.Dan jauh dari sosok perempuan misterius yang pertama kali muncul di hidupku.Namun justru itu yang berbahaya.

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

    Tulisan itu masih menyala di layar laptop.AZKAIHZASTATUS: PROCESSING ERASURE.Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.Bukan takut.Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…aku melihat kepanikan nyata di matanya.“No…”Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.Namun layar justru berubah merah.ACCESS DENIED.ACCESS DENIED.Suara napas Elena mulai tidak stabil.Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.Aku berdiri perlahan di belakangnya.“Apa arti ‘erasure’?”Elena diam.Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.“Elena.”Tatapannya perlahan naik.Mata indah itu terlihat lelah.Takut.Dan dipenuhi rasa bersalah.“…Mereka akan menghapus hidupmu.”Henin

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

    TV hotel masih menyala.Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.“Selamat pagi, Elena…”Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.Vincent mengangkat gelas wine perlahan.“…aku harap malam kalian menyenangkan.”Klik.Layar mendadak mati sendiri.Hening.Sunyi yang terasa berat.Aku menoleh ke arah Elena.Wajahnya pucat.Bukan karena malu.Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.“Psikopat.”Elena tertawa kecil.Namun tawanya terdengar lelah.“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”Aku menoleh.“Dia mantan kekasihmu?”Elena langsung menatapku datar.“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”“Ya s

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

    Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”Singkat.Sederhana.Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.Vincent Laurent.Pria itu bukan sekadar mengejar kami.Ia sedang bermain.Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.Dan itu berbahaya.Sangat berbahaya.“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”Suara Elena terdengar pelan dari belakang.Aku menoleh.Dia sudah bangun.Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.Namun justru dalam keadaan seperti itu Ele

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

    Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.Cepat.Refleks.Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.Ada kamera tersembunyi di kamar ini.Atau…seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.Aku langsung menoleh ke arahnya.“Secret exit?”Elena tidak menjawab.Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.Tok.Tok.Tok.Tenang.Sopan.Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.Aku mengenali pola itu sekarang.Vincent Laurent.Pria itu bahkan tidak perlu berteriak

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

    Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:aku tetap akan pergi ke Singapura.Meskipun semua insting mengatakan jangan.Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.Jalanan kosong.Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.Aku menyetir sendiri.Tidak ada musik.Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.“Semakin dekat kamu sama aku…”“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”Sialnya…aku tetap datang.Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.Lebih sunyi.Lebih dingin.Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status