Home / Male Adult / MIDNIGHT TRANSFER / CHAPTER 3 LAST SEEN: SINGAPORE

Share

CHAPTER 3 LAST SEEN: SINGAPORE

Author: Azkaihza
last update publish date: 2026-05-15 15:30:14

Aku membaca pesan itu lebih dari lima kali.

“Kalau kamu masih hidup besok pagi… temui aku di Tokyo.”

Tidak ada emoji.

Tidak ada penjelasan.

Hanya satu kalimat pendek yang terasa seperti undangan sekaligus ancaman.

Aku berdiri diam di tengah apartemen sambil memandangi layar ponsel. Jakarta mulai terang di luar sana, tetapi kepalaku justru terasa semakin gelap.

Pria berjas hitam tadi sudah menghilang.

Namun perasaan diawasi masih tertinggal di ruangan ini seperti asap rokok yang tidak mau pergi.

Aku membuka kembali chat Elena.

Online.

Typing…

Berhenti.

Typing lagi…

Lalu hilang.

Seolah dia sedang berusaha mengatakan sesuatu namun terus menghapusnya.

Aku mengetik cepat.

Aku:

Siapa pria di depan apartemenku?

Seen.

Tidak dibalas.

Aku:

Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku?

Seen lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Aku mengusap wajah kasar sambil menghela napas panjang.

Perempuan ini mulai membuatku gila hanya dalam satu malam.

Dan yang paling kubenci adalah kenyataan bahwa aku tetap penasaran.

*******

Pukul sebelas siang aku masih belum tidur ketika suara bel apartemen berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Pendek, tapi tegas.

Aku refleks mengambil pistol kecil dari laci meja sebelum berjalan perlahan menuju pintu.

Dunia tempatku hidup mengajarkan satu aturan sederhana:

jangan pernah membuka pintu tanpa curiga.

Aku melihat peephole.

Flo.

Menggunakan hoodie abu oversized dan kacamata hitam besar yang tidak cocok dipakai di dalam gedung.

Aku membuka pintu sedikit.

“Kamu tahu jam berapa sekarang?”

Flo langsung masuk tanpa izin sambil melepas kacamatanya.

“Dan kamu tahu betapa susahnya nyari parkir di sini?”

Dia berhenti ketika melihat kondisi apartemenku.

Laptop menyala. Cangkir kopi berantakan. Rokok di mana-mana.

Flo menyipitkan mata.

“Oh no…”

“Apa?”

“Kamu udah masuk terlalu jauh ya?”

Aku menutup pintu perlahan.

“Duduk dulu.”

Flo memperhatikanku beberapa detik sebelum akhirnya duduk di sofa.

Hari ini dia memakai kaos hitam sederhana dan celana cargo gelap. Rambut panjangnya diikat asal, tapi tetap terlihat seperti perempuan yang terlalu mahal untuk berada di tempat berantakan seperti apartemenku.

Itulah Flo.

Selalu terlihat santai.

Padahal otaknya bekerja lebih cepat daripada kebanyakan orang.

Aku melempar ponsel ke meja.

“Dia nyuruh gue ke Tokyo.”

Flo langsung membeku.

Benar-benar membeku.

Dan reaksinya membuat dadaku terasa tidak nyaman.

“…Kapan?”

“Secepatnya.”

Flo tertawa kecil sambil menunduk.

Namun kali ini tawanya terdengar seperti orang stres.

“Gila…”

“Kamu tahu sesuatu.”

“Aku tahu banyak hal.”

“Tentang Elena?”

Flo menatapku lama.

Lalu berkata pelan:

“Masalahnya bukan Elena.”

“Lalu?”

“Orang-orang di belakangnya.”

Hening.

Suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar dari balik kaca apartemen.

Aku duduk di depan Flo.

“Jelaskan.”

Flo menggigit bibir bawahnya sebentar.

Kebiasaan buruknya saat berpikir keras.

“Pernah dengar Project EDEN?”

Nama itu lagi.

Aku langsung teringat ucapan Vincent tadi pagi di berita Tokyo.

“Apa itu?”

Flo menggeleng pelan.

“Aku nggak tahu detailnya. Dan jujur… aku nggak mau tahu.”

“Flo.”

“Azka, dengar.”

Tatapannya berubah serius.

Jarang sekali Flo menatapku seperti ini.

“Beberapa tahun lalu ada banyak orang kaya, investor, broker, bahkan pejabat yang tiba-tiba hilang dari radar.”

“Maksudnya?”

“Identity erased.”

Dadaku terasa sedikit dingin.

“Nama mereka hilang. Data mereka hilang. Hidup mereka kayak nggak pernah ada.”

Aku terdiam.

Flo melanjutkan.

“Dan semua rumor itu selalu nyambung ke satu nama.”

“…EDEN.”

Flo mengangguk pelan.

“Katanya EDEN bukan organisasi biasa.”

“Lalu?”

“Mereka nggak jual senjata.”

“Narkoba?”

“Bukan.”

Flo menatap lurus ke mataku.

“Mereka jual kehidupan baru.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Aku tidak langsung menjawab.

Karena entah kenapa… semua potongan ini mulai terasa terlalu nyata.

Elena.

Wallet misterius.

Identitas palsu.

Dan wanita yang hidup berpindah negara seperti buronan.

Sial.

Tokyo.

Hujan kembali turun membasahi kaca suite hotel lantai tiga puluh tujuh ketika Elena berdiri sendirian di depan cermin.

Gaun hitamnya sudah berganti menjadi sweater abu longgar.

Wajahnya terlihat lelah.

Namun matanya tetap terjaga.

Di meja belakangnya, tiga passport berbeda tergeletak terbuka.

Nama berbeda.

Negara berbeda.

Wajah yang sama.

Elena memegang ponselnya erat sambil membaca chat terakhir dari Azkaihza.

“Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku?”

Matanya perlahan melembut.

Seolah pertanyaan itu jauh lebih menyakitkan daripada yang terlihat.

Pintu suite terbuka tanpa ketukan.

Vincent masuk sambil membawa folder hitam.

“Dia masih hidup.”

Elena tidak menjawab.

Vincent meletakkan folder di meja.

“Tapi itu nggak akan lama kalau dia terus mencari.”

Elena menatapnya dingin.

“Kamu janji nggak akan menyentuh dia.”

Vincent tersenyum tipis.

“Aku juga pernah janji akan berhenti merokok.”

“Vincent.”

“Relax.”

Pria itu berjalan mendekat perlahan.

Terlalu tenang.

Terlalu santai.

Dan justru itu yang membuatnya menyeramkan.

“Aku penasaran satu hal.”

Elena diam.

“Kenapa harus dia?”

Tatapan Elena berubah kosong beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan:

“Karena dia satu-satunya orang yang mungkin masih bisa mengingat semuanya.”

Untuk pertama kalinya, senyum Vincent perlahan menghilang.

Jakarta.

Aku akhirnya mandi dan mengganti pakaian sekitar sore hari.

Namun pikiranku tetap dipenuhi Elena.

Aku berdiri di depan cermin wastafel sambil menatap mata sendiri.

Lelah.

Kurang tidur.

Dan mulai terlihat seperti orang yang sedang menuju masalah besar.

Ponselku kembali bergetar.

Nomor baru lagi.

Pesan suara.

Tanpa nama.

Aku memutar voice note itu perlahan.

Awalnya hanya suara statis.

Lalu…

suara Elena muncul.

Pelan.

Hampir berbisik.

“Kalau kamu dengar ini… berarti mereka mulai mendekat.”

Aku langsung diam.

Voice note itu berlanjut.

“Azka… aku minta maaf.”

Suara napasnya terdengar tidak stabil.

Seperti sedang berjalan cepat.

Atau berlari.

Lalu suara pintu terbuka keras terdengar di latar belakang.

Elena langsung berbisik lebih cepat.

“Jangan percaya siapa pun selain Flo.”

BUGH.

Suara benturan keras.

Lalu voice note terputus.

Aku langsung berdiri tegak.

“Sial.”

Flo yang sedang memainkan laptop di sofa langsung menoleh.

“Kenapa?”

Aku memutar voice note itu keras-keras.

Ekspresi Flo berubah pucat.

Benar-benar pucat.

“…Mereka nemuin dia.”

“Siapa ‘mereka’?”

Flo belum sempat menjawab.

Karena tiba-tiba seluruh lampu apartemenku mati.

Gelap.

Total.

Hanya suara hujan dari luar dan dengung listrik yang menghilang.

Aku refleks mengambil pistol dari meja.

“Flo.”

“Aku tahu.”

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Insting buruk.

Sangat buruk.

Lalu…

dari luar apartemen terdengar suara langkah kaki.

Pelan.

Teratur.

Menuju pintuku.

Tok.

Tok.

Tok.

Tiga ketukan pelan terdengar dari balik pintu apartemen.

Dan sebuah suara pria yang tenang akhirnya terdengar.

“Mr. Azkaihza…”

Aku langsung membeku.

Karena aku mengenali suara itu.

Suara pria dari berita Tokyo tadi pagi.

Vincent Laurent.

“…kita perlu bicara.”

Aku dan Flo saling menatap dalam gelap.

Tidak ada yang bergerak beberapa detik.

Hanya suara hujan di luar apartemen dan detak jantungku sendiri yang terasa semakin keras.

Vincent Laurent.

Pria itu sekarang berdiri tepat di balik pintuku.

Dan entah bagaimana… itu terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman anonim mana pun.

Flo perlahan berdiri dari sofa.

Wajahnya pucat, tapi matanya tetap tajam.

“Jangan buka pintunya.”

Aku menggenggam pistol lebih erat.

Namun sebelum sempat menjawab, suara Vincent kembali terdengar dari luar.

Tenang.

Sopan.

Dan justru itu yang membuat bulu kudukku merinding.

“Aku datang bukan untuk membunuhmu, Azka.”

Hening.

Lalu ia melanjutkan:

“Kalau aku ingin kamu mati… kamu tidak akan sempat mendengar ketukan pertama.”

Dadaku terasa dingin.

Karena cara pria itu berbicara terdengar seperti seseorang yang tidak pernah gagal menepati ancaman.

Aku melangkah perlahan mendekati pintu apartemen.

Dan untuk pertama kalinya sejak Elena muncul dalam hidupku…

aku mulai sadar satu hal.

Mungkin aku bukan sedang masuk ke dalam permainan besar.

Mungkin sejak awal… aku memang sudah menjadi bagian dari permainan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 10 CINTA HADIR DI di TENGAH KEKACAUAN

    Pagi di Singapura terasa terlalu tenang untuk hidup kami.Hujan sudah berhenti sejak subuh, meninggalkan embun tipis di kaca jendela hotel kecil tempat aku dan Elena bersembunyi sementara dari dunia.Namun ketenangan seperti ini selalu menipu.Aku mulai memahami itu sejak mengenal Elena.Karena setiap kali hidup terasa terlalu tenang…sesuatu buruk biasanya sedang berjalan mendekat.Elena masih tertidur di sampingku ketika aku membuka laptop kecil miliknya.Layar langsung menyala otomatis menggunakan facial recognition.Aku mengernyit kecil.“Trust issue tapi laptopnya percaya sama muka gue.”Suara serak Elena terdengar dari belakang.“Karena sistemnya membaca ancaman rendah.”Aku menoleh sambil tersenyum tipis.“Wah, jadi aku cuma level nyamuk?”Elena tertawa kecil sambil menarik selimut menutupi bahunya.Pagi hari selalu membuatnya terlihat berbeda.Lebih lembut.Lebih muda.Dan jauh dari sosok perempuan misterius yang pertama kali muncul di hidupku.Namun justru itu yang berbahaya.

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

    Tulisan itu masih menyala di layar laptop.AZKAIHZASTATUS: PROCESSING ERASURE.Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.Bukan takut.Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…aku melihat kepanikan nyata di matanya.“No…”Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.Namun layar justru berubah merah.ACCESS DENIED.ACCESS DENIED.Suara napas Elena mulai tidak stabil.Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.Aku berdiri perlahan di belakangnya.“Apa arti ‘erasure’?”Elena diam.Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.“Elena.”Tatapannya perlahan naik.Mata indah itu terlihat lelah.Takut.Dan dipenuhi rasa bersalah.“…Mereka akan menghapus hidupmu.”Henin

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

    TV hotel masih menyala.Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.“Selamat pagi, Elena…”Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.Vincent mengangkat gelas wine perlahan.“…aku harap malam kalian menyenangkan.”Klik.Layar mendadak mati sendiri.Hening.Sunyi yang terasa berat.Aku menoleh ke arah Elena.Wajahnya pucat.Bukan karena malu.Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.“Psikopat.”Elena tertawa kecil.Namun tawanya terdengar lelah.“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”Aku menoleh.“Dia mantan kekasihmu?”Elena langsung menatapku datar.“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”“Ya s

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

    Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”Singkat.Sederhana.Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.Vincent Laurent.Pria itu bukan sekadar mengejar kami.Ia sedang bermain.Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.Dan itu berbahaya.Sangat berbahaya.“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”Suara Elena terdengar pelan dari belakang.Aku menoleh.Dia sudah bangun.Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.Namun justru dalam keadaan seperti itu Ele

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

    Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.Cepat.Refleks.Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.Ada kamera tersembunyi di kamar ini.Atau…seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.Aku langsung menoleh ke arahnya.“Secret exit?”Elena tidak menjawab.Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.Tok.Tok.Tok.Tenang.Sopan.Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.Aku mengenali pola itu sekarang.Vincent Laurent.Pria itu bahkan tidak perlu berteriak

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

    Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:aku tetap akan pergi ke Singapura.Meskipun semua insting mengatakan jangan.Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.Jalanan kosong.Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.Aku menyetir sendiri.Tidak ada musik.Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.“Semakin dekat kamu sama aku…”“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”Sialnya…aku tetap datang.Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.Lebih sunyi.Lebih dingin.Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status