LOGINCHAPTER 2
ELENA HUANG Aku tidak tidur sampai pagi. Bukan karena angka tujuh juta USDT itu. Aku sudah terlalu lama hidup di dunia transaksi besar untuk merasa kaget hanya karena nominal. Yang membuatku gelisah adalah satu hal sederhana: Kenapa dia memilihku? Jam menunjukkan hampir pukul lima pagi ketika hujan akhirnya berhenti. Langit Jakarta mulai berubah abu-abu, dan lampu apartemen di gedung seberang perlahan mati satu per satu. Aku masih duduk di depan laptop. Rokok keempat belas. Kopi kedua. Dan satu nama yang terus berputar di kepalaku. Elena Huang. Aku membuka ulang screenshot profil Telegram sebelum akun itu menghilang. Kosong. Tidak ada petunjuk berarti. Namun ada sesuatu yang menggangguku sejak tadi. Cara dia bicara. Cara dia menyebut namaku. Dan pertanyaan aneh itu. “Kamu masih sering insomnia?” Kalimat itu bukan pertanyaan random. Itu terdengar seperti seseorang yang pernah mengenalku cukup dekat. Aku mengetuk meja perlahan. Kebiasaan buruk saat berpikir. Lalu kembali membuka tools tracking. Transfer tujuh juta USDT tadi sudah berpindah lagi. Cepat. Terlalu cepat. Wallet itu seperti bergerak otomatis melewati beberapa jalur pencucian digital sebelum akhirnya pecah ke berbagai address kecil. Profesional. Orang biasa tidak bekerja seperti ini. Aku menyipitkan mata. Kemudian mulai mengetik beberapa akses private yang jarang kugunakan. Database lama. Forum gelap. Data broker internasional. Nama itu harusnya muncul di suatu tempat. Dan benar saja. Sekitar tiga puluh menit kemudian, aku menemukan sesuatu. Sebuah foto lama. Perempuan yang sama. Rambut hitam panjang. Tatapan dingin. Gaun hitam elegan. Di bawah foto itu tertulis: ELENA HUANG — Singapore Private Art Event, 2023 Aku memperbesar gambarnya. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Dia nyata. Bukan identitas palsu sepenuhnya. Aku mulai membuka data lainnya. Sedikit demi sedikit potongan informasi muncul. Singapura. Tokyo. Dubai. Hong Kong. Selalu berpindah. Selalu menggunakan jaringan elite. Dan anehnya… selalu muncul di sekitar transaksi besar. Aku menyandarkan tubuh perlahan. “Siapa sebenarnya kamu…” Ponselku tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul membuatku menghela napas pendek. FLO. Aku mengangkat panggilan itu sambil tetap menatap layar. “Pagi-pagi udah hidup aja kamu.” Suara perempuan di seberang terdengar santai dan penuh nada mengejek. Florence. Atau Flo. Salah satu sedikit orang yang masih sering berhubungan denganku di dunia ini. Cantik. Berisik. Berbahaya. Dan terlalu pintar untuk ukuran manusia normal. “Belum tidur?” tanyanya. “Belum.” “Transaksi gagal lagi?” Aku diam sebentar. “Flo.” “Hm?” “Kamu pernah dengar nama Elena Huang?” Hening. Untuk pertama kalinya sejak telepon dimulai, Flo tidak langsung menjawab. Dan itu membuatku langsung waspada. “…Dari mana kamu dengar nama itu?” Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih serius. Aku memutar kursi menghadap jendela apartemen. “Jadi kamu kenal.” “Azka.” “Jawab pertanyaanku.” Flo menghembuskan napas panjang. Aku bisa membayangkan dia sedang menggigit kukunya sekarang. Kebiasaan buruknya kalau gugup. “Dengerin aku baik-baik.” “Oke.” “Kalau memang Elena yang menghubungimu…” Ia berhenti beberapa detik. Lalu melanjutkan dengan suara pelan. “…kamu harus berhenti cari tahu tentang dia.” Aku tersenyum tipis. Semua orang selalu mengatakan hal yang sama ketika sebuah masalah mulai menarik. Jangan cari tahu. Jangan lanjut. Jangan ikut campur. Dan biasanya itu alasan terbesar kenapa aku justru terus berjalan. “Terlambat.” “Azka, serius.” “Kamu takut?” Flo tertawa kecil. Namun tawanya terdengar hambar. “Aku cuma belum siap lihat kamu mati.” Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa dingin. Aku tidak langsung menjawab. Karena Flo bukan tipe orang yang suka melebih-lebihkan sesuatu. Kalau dia bilang berbahaya… berarti memang berbahaya. “Dia siapa sebenarnya?” Hening lagi. Lalu Flo berkata pelan: “Aku nggak tahu Elena yang mana yang sedang kamu cari.” Aku mengernyit. “Maksudnya?” “Karena bahkan nama Elena Huang pun belum tentu nama aslinya.” Tokyo. Pukul 08:10 pagi. Kabut tipis menggantung di antara gedung-gedung tinggi ketika Elena berdiri di balkon suite hotel sambil meminum kopi hitam tanpa gula. Ia belum tidur. Matanya sembab samar, tetapi wajahnya tetap terlihat tenang. Di layar tabletnya terpampang berita internasional tentang pergerakan dana ilegal lintas negara. Tangannya berhenti ketika sebuah notifikasi masuk. UNKNOWN ACCESS DETECTED Seseorang sedang mencoba menelusuri identitasnya. Elena langsung tahu siapa. Azkaihza. Ia memejamkan mata perlahan. “Kamu memang nggak pernah berubah…” Pintu suite terbuka lagi. Vincent masuk sambil mengenakan sarung tangan kulit hitam. Tatapannya langsung menuju layar tablet Elena. “Dia mulai mencari.” Elena tidak menjawab. Vincent berjalan mendekat. Tenang. Santai. Namun aura pria itu selalu membuat ruangan terasa sesak. “Aku bisa menghentikannya sekarang.” Elena menatap Tokyo di bawah sana. “Jangan sentuh dia.” Vincent tersenyum tipis. “Kamu mulai terlalu emosional.” “Aku serius.” “Dan aku juga serius.” Vincent meletakkan segelas wine di meja. “Kalau dia terus menggali…” Tatapan pria itu berubah dingin. “…dia akan menemukan Project EDEN.” Nama itu membuat Elena langsung menegang. Untuk pertama kalinya sejak malam tadi, ekspresinya retak. Vincent memperhatikannya sambil tersenyum samar. “Lihat?” “Bahkan kamu masih takut mendengar namanya.” Jakarta. Aku mematikan panggilan dengan Flo sekitar pukul sembilan pagi. Namun percakapan itu justru membuat pikiranku semakin kacau. Karena sekarang semuanya terasa nyata. Elena bukan scammer random. Bukan wanita iseng. Dan jelas bukan seseorang biasa. Aku berdiri menuju dapur kecil apartemen untuk membuat kopi baru ketika layar TV otomatis menyala karena koneksi bluetooth laptopku. Berita internasional muncul. “Seorang investor teknologi asal Prancis, Vincent Laurent, menghadiri private summit di Tokyo…” Aku langsung berhenti bergerak. Di layar muncul pria berjas abu gelap dengan senyum tenang yang entah kenapa terasa mengintimidasi. Tatapan matanya dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang sedang tersenyum pada kamera. Dan tepat di belakang Vincent… ada Elena. Hanya sepersekian detik. Namun cukup jelas untuk membuat dadaku terasa berat. Gaun hitam. Tatapan kosong. Dan wajah yang sama seperti foto semalam. Aku langsung memperbesar layar menggunakan laptop. Namun cuplikan itu sudah berganti. Sial. Aku mundur perlahan lalu duduk kembali. Pikiranku mulai menyusun potongan-potongan kecil yang belum masuk akal. Elena. Tokyo. Transfer tujuh juta. Vincent Laurent. Ancaman. Dan Project EDEN. Aku mengusap wajah kasar. Instingku mengatakan satu hal: Aku seharusnya berhenti sekarang. Namun masalahnya… aku sudah terlalu dalam. Ponselku kembali bergetar. Nomor baru. Tidak dikenal. Pesannya hanya satu foto. Aku membukanya perlahan. Dan darahku langsung terasa dingin. Foto apartemenku. Diambil dari seberang jalan. Baru beberapa menit lalu. Pesan berikutnya masuk. UNKNOWN: Kamu seharusnya mendengarkan Florence. Aku langsung berdiri. Tatapanku refleks menuju jendela apartemen. Gedung seberang terlihat normal. Lalu… di salah satu balkon lantai atas… aku melihat seseorang berdiri memandang ke arah apartemenku. Pria berjas hitam. Diam. Tidak bergerak. Dan meskipun jaraknya jauh… aku bisa merasakan dia sedang tersenyum padaku. Aku masih berdiri di depan jendela ketika pria berjas hitam itu perlahan mundur masuk ke dalam bayangan apartemen seberang. Hilang begitu saja. Seolah memang hanya ingin memastikan satu hal: aku sadar sedang diawasi. Tanganku refleks menggenggam ponsel lebih erat. Notifikasi terakhir dari nomor anonim itu masih menyala di layar. > “Kamu seharusnya mendengarkan Florence.” Jantungku berdetak pelan namun berat. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup di dunia penuh transaksi gelap dan manusia bertopeng, aku mulai merasakan sesuatu yang jarang muncul: insting untuk lari. Namun bersamaan dengan itu… rasa penasaranku terhadap Elena justru tumbuh semakin dalam. Siapa sebenarnya wanita itu? Dan kenapa semua orang terlihat takut ketika namanya disebut? Aku kembali menatap foto Elena di layar laptop. Tatapan dinginnya terasa seperti menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar uang. Lalu ponselku kembali bergetar. Satu pesan baru masuk. Dari Elena. > “Kalau kamu masih hidup besok pagi… temui aku di Tokyo.”Pagi di Singapura terasa terlalu tenang untuk hidup kami.Hujan sudah berhenti sejak subuh, meninggalkan embun tipis di kaca jendela hotel kecil tempat aku dan Elena bersembunyi sementara dari dunia.Namun ketenangan seperti ini selalu menipu.Aku mulai memahami itu sejak mengenal Elena.Karena setiap kali hidup terasa terlalu tenang…sesuatu buruk biasanya sedang berjalan mendekat.Elena masih tertidur di sampingku ketika aku membuka laptop kecil miliknya.Layar langsung menyala otomatis menggunakan facial recognition.Aku mengernyit kecil.“Trust issue tapi laptopnya percaya sama muka gue.”Suara serak Elena terdengar dari belakang.“Karena sistemnya membaca ancaman rendah.”Aku menoleh sambil tersenyum tipis.“Wah, jadi aku cuma level nyamuk?”Elena tertawa kecil sambil menarik selimut menutupi bahunya.Pagi hari selalu membuatnya terlihat berbeda.Lebih lembut.Lebih muda.Dan jauh dari sosok perempuan misterius yang pertama kali muncul di hidupku.Namun justru itu yang berbahaya.
Tulisan itu masih menyala di layar laptop.AZKAIHZASTATUS: PROCESSING ERASURE.Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.Bukan takut.Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…aku melihat kepanikan nyata di matanya.“No…”Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.Namun layar justru berubah merah.ACCESS DENIED.ACCESS DENIED.Suara napas Elena mulai tidak stabil.Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.Aku berdiri perlahan di belakangnya.“Apa arti ‘erasure’?”Elena diam.Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.“Elena.”Tatapannya perlahan naik.Mata indah itu terlihat lelah.Takut.Dan dipenuhi rasa bersalah.“…Mereka akan menghapus hidupmu.”Henin
TV hotel masih menyala.Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.“Selamat pagi, Elena…”Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.Vincent mengangkat gelas wine perlahan.“…aku harap malam kalian menyenangkan.”Klik.Layar mendadak mati sendiri.Hening.Sunyi yang terasa berat.Aku menoleh ke arah Elena.Wajahnya pucat.Bukan karena malu.Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.“Psikopat.”Elena tertawa kecil.Namun tawanya terdengar lelah.“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”Aku menoleh.“Dia mantan kekasihmu?”Elena langsung menatapku datar.“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”“Ya s
Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”Singkat.Sederhana.Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.Vincent Laurent.Pria itu bukan sekadar mengejar kami.Ia sedang bermain.Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.Dan itu berbahaya.Sangat berbahaya.“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”Suara Elena terdengar pelan dari belakang.Aku menoleh.Dia sudah bangun.Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.Namun justru dalam keadaan seperti itu Ele
Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.Cepat.Refleks.Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.Ada kamera tersembunyi di kamar ini.Atau…seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.Aku langsung menoleh ke arahnya.“Secret exit?”Elena tidak menjawab.Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.Tok.Tok.Tok.Tenang.Sopan.Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.Aku mengenali pola itu sekarang.Vincent Laurent.Pria itu bahkan tidak perlu berteriak
Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:aku tetap akan pergi ke Singapura.Meskipun semua insting mengatakan jangan.Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.Jalanan kosong.Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.Aku menyetir sendiri.Tidak ada musik.Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.“Semakin dekat kamu sama aku…”“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”Sialnya…aku tetap datang.Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.Lebih sunyi.Lebih dingin.Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport,







