Home / Male Adult / MIDNIGHT TRANSFER / CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

Share

CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

Author: Azkaihza
last update publish date: 2026-05-15 18:13:35

Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.

Cepat.

Refleks.

Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.

Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.

Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.

Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.

Ada kamera tersembunyi di kamar ini.

Atau…

seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.

Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.

Aku langsung menoleh ke arahnya.

“Secret exit?”

Elena tidak menjawab.

Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.

Tok.

Tok.

Tok.

Tenang.

Sopan.

Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.

Aku mengenali pola itu sekarang.

Vincent Laurent.

Pria itu bahkan tidak perlu berteriak untuk membuat ruangan terasa sesak.

Elena menggenggam tanganku tanpa sadar.

Tangannya dingin.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku bisa merasakan ketakutan nyata dari tubuhnya.

Bukan paranoia.

Bukan kewaspadaan biasa.

Takut.

Aku menariknya pelan mendekat.

“Hei.”

Elena mengangkat wajahnya.

Tatapan matanya terlihat lelah.

Sangat lelah.

“Aku nggak akan ninggalin kamu.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Natural.

Dan anehnya… Elena terlihat semakin sedih setelah mendengarnya.

Pintu suite diketuk lagi.

Lebih keras kali ini.

Namun Elena justru berdiri diam beberapa detik sambil menatapku.

Seolah sedang menimbang sesuatu di dalam kepalanya.

Lalu perlahan ia berkata:

“Itu alasan kenapa kamu bakal hancur nanti.”

Aku belum sempat membalas ketika Elena langsung menarikku masuk ke lorong rahasia.

Pintu panel tertutup otomatis di belakang kami.

Gelap.

Sempit.

Hanya lampu emergency kecil berwarna merah di sepanjang dinding.

Kami berjalan cepat menuruni tangga besi sempit yang terasa dingin dan lembap.

Suara langkah kaki dari atas samar terdengar.

Dan entah kenapa aku bisa membayangkan Vincent sedang masuk ke suite kosong kami dengan ekspresi tenang khasnya.

Tidak marah.

Tidak panik.

Karena orang seperti dia tidak mengejar dengan emosi.

Ia mengejar dengan kepastian.

Lorong itu berakhir di basement privat hotel.

Udara malam Singapura terasa lembap ketika kami akhirnya keluar melalui pintu servis belakang gedung.

Hujan tipis turun membasahi jalanan.

Elena langsung mengenakan hoodie hitam dan menutupi sebagian wajahnya sebelum berjalan cepat menuju mobil sedan gelap yang sudah menunggu.

Aku masuk ke kursi penumpang tanpa banyak bertanya.

Mobil langsung melaju meninggalkan area Marina Bay.

Selama hampir lima belas menit tidak ada yang bicara.

Hanya suara hujan dan napas kami yang memenuhi kabin mobil.

Aku memperhatikan Elena dari samping.

Tangannya masih sedikit gemetar di setir.

Namun wajahnya kembali tenang.

Seolah ia baru saja mengenakan topeng lain.

Perempuan ini aneh.

Kadang terlihat sangat kuat.

Kadang terlihat seperti seseorang yang hampir runtuh.

Dan mungkin itu yang membuatku semakin sulit menjauh darinya.

“Kamu lapar?”

Pertanyaan itu keluar tiba-tiba dari mulut Elena.

Aku menoleh.

“Serius?”

Ia tersenyum kecil untuk pertama kalinya malam ini.

Tipis.

Namun cukup membuat atmosfer di antara kami sedikit berubah.

“Orang tetap butuh makan meskipun hidupnya berantakan.”

Aku terkekeh pelan.

Dan anehnya… aku mulai merasa nyaman berada di dekatnya.

Itu buruk.

Sangat buruk.

Karena aku sadar semakin lama aku bersamanya, semakin kecil kemungkinan aku bisa kembali ke hidup normal.

Elena membawaku ke sebuah hotel kecil di daerah pinggir Singapura.

Tidak mewah.

Tidak mencolok.

Bangunan tua dengan lobby sepi dan pencahayaan redup.

Tempat seperti ini justru sempurna untuk orang yang ingin menghilang.

Kami masuk menggunakan identitas palsu.

Elena bahkan tidak terlihat gugup saat memberikan passport berbeda kepada resepsionis.

Artinya dia sudah terlalu sering melakukan ini.

Kamar hotel itu sederhana.

Satu tempat tidur besar. Lampu kuning hangat. Jendela kecil menghadap jalan basah.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…

suasana terasa tenang.

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa semakin intim.

Aku berdiri di dekat jendela sambil membuka coat basah ketika Elena keluar dari kamar mandi dengan rambut sedikit lembap dan kaos hitam longgar.

Tanpa makeup.

Tanpa topeng sosialita elite.

Hanya Elena.

Dan sialnya… dia terlihat jauh lebih cantik seperti ini.

Tatapannya bertemu denganku beberapa detik.

Hening.

Tidak ada suara selain hujan di luar sana.

Aku berjalan mendekat perlahan.

Bisa kulihat kelelahan di wajahnya sekarang.

Mata yang kurang tidur. Bibir pucat. Dan tatapan seseorang yang terlalu lama hidup dalam mode bertahan.

Aku mengangkat tangan perlahan lalu menyentuh sisi wajahnya.

Hangat.

Elena memejamkan mata beberapa detik.

Dan saat itulah aku sadar.

Perempuan ini mungkin sudah terlalu lama tidak disentuh dengan lembut.

Bukan dengan nafsu.

Bukan dengan ambisi.

Hanya… lembut.

“Kamu capek ya?”

Suara kecil itu hampir terdengar seperti bisikan.

Elena membuka mata perlahan.

Tatapannya berubah rapuh.

“Aku lupa rasanya hidup tanpa takut.”

Dadaku terasa sesak.

Aku menariknya mendekat tanpa banyak berpikir.

Dan Elena tidak menolak.

Tubuhnya justru perlahan melemas dalam pelukanku.

Seolah untuk beberapa detik singkat…

ia akhirnya bisa berhenti pura-pura kuat.

Ciuman pertama kami terjadi pelan.

Tidak terburu-buru.

Tidak liar.

Lebih seperti dua orang rusak yang sama-sama mencari tempat untuk bernapas.

Aku bisa merasakan napas Elena sedikit bergetar ketika tangannya mencengkeram bajuku perlahan.

Dan semakin lama ciuman itu berlangsung…

semakin terasa jelas bahwa ada rasa takut di balik semua ini.

Takut kehilangan.

Takut ditinggalkan.

Atau mungkin takut merasa nyaman.

Karena orang seperti kami tahu satu hal:

kenyamanan biasanya tidak bertahan lama.

Malam itu kami saling menenangkan dalam diam.

Tubuh Elena terasa hangat di bawah jemariku sementara hujan Singapura terus turun di luar jendela hotel kecil itu.

Tidak ada janji cinta.

Tidak ada kata romantis murahan.

Hanya dua orang kesepian yang mencoba melupakan dunia beberapa jam saja.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku merasa tidak sendiri.

Sekitar pukul tiga pagi, aku terbangun lebih dulu.

Elena masih tertidur di sampingku.

Wajahnya terlihat jauh lebih damai saat tidur.

Tidak ada kewaspadaan.

Tidak ada topeng dingin.

Aku memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya bangkit perlahan dari tempat tidur.

Ponselku bergetar di meja kecil dekat jendela.

Satu pesan masuk.

Nomor anonim.

Aku membuka pesan itu perlahan.

Dan darahku langsung terasa dingin.

Sebuah foto.

Foto kamar hotel ini.

Diambil dari luar jendela.

Baru saja.

Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.

“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”

Aku membeku.

Karena hanya ada satu orang yang bisa tahu detail sekecil itu.

Vincent Laurent.

Dan itu berarti satu hal yang jauh lebih mengerikan daripada ancaman biasa.

Vincent tidak sedang mengejar Elena.

Pria itu sedang mempermainkan kami.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 10 CINTA HADIR DI di TENGAH KEKACAUAN

    Pagi di Singapura terasa terlalu tenang untuk hidup kami.Hujan sudah berhenti sejak subuh, meninggalkan embun tipis di kaca jendela hotel kecil tempat aku dan Elena bersembunyi sementara dari dunia.Namun ketenangan seperti ini selalu menipu.Aku mulai memahami itu sejak mengenal Elena.Karena setiap kali hidup terasa terlalu tenang…sesuatu buruk biasanya sedang berjalan mendekat.Elena masih tertidur di sampingku ketika aku membuka laptop kecil miliknya.Layar langsung menyala otomatis menggunakan facial recognition.Aku mengernyit kecil.“Trust issue tapi laptopnya percaya sama muka gue.”Suara serak Elena terdengar dari belakang.“Karena sistemnya membaca ancaman rendah.”Aku menoleh sambil tersenyum tipis.“Wah, jadi aku cuma level nyamuk?”Elena tertawa kecil sambil menarik selimut menutupi bahunya.Pagi hari selalu membuatnya terlihat berbeda.Lebih lembut.Lebih muda.Dan jauh dari sosok perempuan misterius yang pertama kali muncul di hidupku.Namun justru itu yang berbahaya.

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

    Tulisan itu masih menyala di layar laptop.AZKAIHZASTATUS: PROCESSING ERASURE.Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.Bukan takut.Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…aku melihat kepanikan nyata di matanya.“No…”Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.Namun layar justru berubah merah.ACCESS DENIED.ACCESS DENIED.Suara napas Elena mulai tidak stabil.Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.Aku berdiri perlahan di belakangnya.“Apa arti ‘erasure’?”Elena diam.Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.“Elena.”Tatapannya perlahan naik.Mata indah itu terlihat lelah.Takut.Dan dipenuhi rasa bersalah.“…Mereka akan menghapus hidupmu.”Henin

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

    TV hotel masih menyala.Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.“Selamat pagi, Elena…”Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.Vincent mengangkat gelas wine perlahan.“…aku harap malam kalian menyenangkan.”Klik.Layar mendadak mati sendiri.Hening.Sunyi yang terasa berat.Aku menoleh ke arah Elena.Wajahnya pucat.Bukan karena malu.Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.“Psikopat.”Elena tertawa kecil.Namun tawanya terdengar lelah.“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”Aku menoleh.“Dia mantan kekasihmu?”Elena langsung menatapku datar.“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”“Ya s

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

    Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”Singkat.Sederhana.Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.Vincent Laurent.Pria itu bukan sekadar mengejar kami.Ia sedang bermain.Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.Dan itu berbahaya.Sangat berbahaya.“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”Suara Elena terdengar pelan dari belakang.Aku menoleh.Dia sudah bangun.Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.Namun justru dalam keadaan seperti itu Ele

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

    Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.Cepat.Refleks.Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.Ada kamera tersembunyi di kamar ini.Atau…seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.Aku langsung menoleh ke arahnya.“Secret exit?”Elena tidak menjawab.Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.Tok.Tok.Tok.Tenang.Sopan.Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.Aku mengenali pola itu sekarang.Vincent Laurent.Pria itu bahkan tidak perlu berteriak

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

    Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:aku tetap akan pergi ke Singapura.Meskipun semua insting mengatakan jangan.Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.Jalanan kosong.Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.Aku menyetir sendiri.Tidak ada musik.Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.“Semakin dekat kamu sama aku…”“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”Sialnya…aku tetap datang.Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.Lebih sunyi.Lebih dingin.Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status