Home / Male Adult / MIDNIGHT TRANSFER / CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

Share

CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

Author: Azkaihza
last update publish date: 2026-05-15 18:14:40

Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.

“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”

Singkat.

Sederhana.

Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.

Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.

Vincent Laurent.

Pria itu bukan sekadar mengejar kami.

Ia sedang bermain.

Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.

Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.

Dan itu berbahaya.

Sangat berbahaya.

“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”

Suara Elena terdengar pelan dari belakang.

Aku menoleh.

Dia sudah bangun.

Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.

Namun justru dalam keadaan seperti itu Elena terlihat jauh lebih hidup.

Lebih hangat.

Lebih nyata.

Aku tersenyum tipis.

“Percaya deh, ancaman pembunuhan lebih romantis daripada pajak.”

Elena tertawa kecil.

Tawa pertamanya yang benar-benar terdengar tulus sejak aku mengenalnya.

Dan sialnya…

aku mulai menyukai suara itu.

Ia bangkit perlahan dari tempat tidur lalu berjalan mendekat ke arahku.

Lampu kamar yang remang membuat bayangan tubuhnya terlihat lembut di balik kain tipis oversized shirt yang ia kenakan.

Namun bukan itu yang membuatku diam.

Tatapan matanya.

Untuk pertama kalinya, Elena menatapku tanpa dinding pertahanan.

Tanpa topeng dingin.

Tanpa aura misterius yang selama ini selalu ia pakai.

Hanya perempuan lelah yang akhirnya menemukan tempat bernapas sebentar.

Ia berdiri di depanku sambil melipat tangan.

“Vincent lagi?”

Aku mengangguk pelan.

Elena menghela napas kecil lalu menyandarkan kepala ke dadaku.

Natural.

Seolah tubuhnya sendiri sudah mulai terbiasa mencariku.

Dan anehnya… tubuhku juga mulai otomatis melindunginya.

Aku mengusap perlahan rambut hitamnya.

“Kamu tahu nggak?” gumamku.

“Hm?”

“Aku harusnya ninggalin kamu dari kemarin.”

Elena tertawa pelan.

“Tapi kamu nggak pergi.”

“Itu masalahnya.”

Hening beberapa detik.

Suara hujan memenuhi kamar.

Lalu Elena berkata pelan:

“Kadang hidup memang nggak selalu tentang memilih jalan paling aman.”

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

Tatapan kami bertemu.

Dekat.

Terlalu dekat.

“Kadang…”

Bibir Elena nyaris menyentuhku saat berbicara.

“…kita cuma capek hidup terlalu hati-hati.”

Dan kali ini aku yang menciumnya lebih dulu.

Pelan.

Hangat.

Namun jauh lebih dalam daripada sebelumnya.

Ciuman itu tidak terasa seperti pelarian lagi.

Lebih seperti dua orang yang sama-sama kesepian… dan akhirnya berhenti berpura-pura kuat.

Elena membalas ciumanku perlahan sambil mencengkeram bagian depan kaosku.

Napasnya mulai sedikit tidak teratur.

Dan ketika aku menarik tubuhnya lebih dekat, aku bisa merasakan detak jantungnya yang bergerak cepat di balik dadanya.

Kami mundur perlahan hingga tubuh Elena menyentuh sisi tempat tidur.

Ia menatapku beberapa detik.

Ada rasa ragu di matanya.

Bukan karena takut padaku.

Melainkan takut merasa nyaman.

Karena orang-orang yang hidup dalam ancaman terlalu lama biasanya lupa bagaimana rasanya dicintai dengan tenang.

Aku menyentuh sisi wajahnya perlahan.

“Hei.”

Elena mengangkat mata.

“Kamu nggak harus pura-pura kuat terus di depanku.”

Tatapannya langsung melemah.

Dan untuk pertama kalinya…

aku melihat perempuan itu benar-benar runtuh.

Bukan dramatis.

Bukan menangis keras.

Hanya dua mata indah yang akhirnya lelah menahan semuanya sendirian.

Elena tertawa kecil sambil mengusap matanya.

“Ini memalukan.”

Aku tersenyum tipis.

“Tenang aja.”

“Apa?”

“Aku juga berantakan.”

Ia tertawa lagi.

Dan kali ini lebih ringan.

Lebih hidup.

Malam perlahan berubah hangat di antara kami.

Tidak tergesa.

Tidak liar.

Namun penuh rasa lapar yang selama ini sama-sama kami tahan.

Ciuman demi ciuman berubah semakin dalam sementara tangan Elena mulai melingkar di leherku.

Ia beberapa kali tertawa kecil di sela napas yang berantakan ketika kami saling menggoda satu sama lain.

“Kamu selalu serius ya?” bisiknya pelan.

“Profesi.”

“Salah.”

“Lalu?”

Elena tersenyum tipis.

“Kamu cuma terlalu lama hidup sendirian.”

Kalimat itu menghantam lebih dalam daripada yang seharusnya.

Karena dia benar.

Aku terlalu lama hidup tanpa benar-benar membiarkan siapa pun masuk.

Dan sekarang…

perempuan paling berbahaya yang pernah kutemui justru berhasil masuk paling jauh.

Hujan di luar semakin deras ketika kami akhirnya menghabiskan malam dalam pelukan satu sama lain, untuk kedua kalinya malam ini terjadi yang seharusnya memang terjadi, pergumulan hebat antara 2  anak manusia meskipun tanpa  bumbu cinta.

Bukan sekadar gairah, tapi kebutuhan yang tak terkira.

Ada rasa nyaman aneh yang perlahan tumbuh di antara kami, setelah kali kedua saling memasuki tubuh dan bercinta dengan hebat berakhir klimaks, bukan sekali tapi berkali kali 

Suara rintihan dan kenikmatan dengan background sederhana, tanpa busana.

Dan itu justru lebih menakutkan.

Karena aku mulai bisa membayangkan hidup di mana semua kekacauan ini selesai… dan Elena tetap ada di sampingku.

Pikiran bodoh.

Namun terlalu indah untuk langsung dibuang, bahkan in8 baru awal dari banyak hal yang mungkin terjadi nanti.

Beberapa jam kemudian.

Aku terbangun karena aroma kopi.

Elena berdiri di dekat meja kecil sambil menuangkan kopi hitam ke dua cangkir hotel murah.

Rambutnya masih sedikit berantakan.

Namun wajahnya terlihat jauh lebih tenang sekarang.

Aku memperhatikannya sambil tersenyum kecil.

“Apa?”

Aku menggeleng.

“Nggak nyangka aja.”

“Apa lagi sekarang?”

“Perempuan paling dicari satu dunia ternyata bisa bikin kopi juga., setelah bercinta hebat berkali kali tadi”

Elena melempar bantal kecil ke arahku sambil tertawa.

“Diam.”

Aku tertawa pelan.

Dan untuk beberapa menit singkat…

semuanya terasa normal.

Tidak ada Vincent. Tidak ada EDEN. Tidak ada ancaman.

Hanya aku dan dia.

Dua orang rusak yang sedang pura-pura hidup biasa.

Elena duduk di sampingku sambil menyerahkan kopi.

Lalu tiba-tiba berkata pelan:

“Azka.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari nanti semuanya selesai…”

Ia berhenti sebentar.

Tatapannya turun ke cangkir kopi.

“…menurut kamu orang kayak kita masih bisa hidup normal dan terus bisa bercinta tanpa cinta?”

Aku diam cukup lama sebelum menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu jujur.

Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupku… aku juga ingin tahu jawabannya.

Aku tersenyum kecil lalu menyenggol bahunya pelan.

“Normal itu overrated.”

Elena tertawa kecil.

“Itu jawaban paling buruk yang pernah aku dengar.”

“Tapi benar.”

Aku menatapnya pelan.

“Hidup nggak selalu harus sempurna buat bisa bahagia.”

Hening beberapa detik.

Lalu aku melanjutkan:

“Kadang manusia cuma butuh satu orang yang bikin dia nggak takut pulang.”

Tatapan Elena langsung berubah.

Lembut.

Dan sedikit sedih.

Karena mungkin…

dia sudah terlalu lama tidak punya tempat pulang.

Namun kehangatan itu tidak bertahan lama.

Karena tepat saat Elena hendak mengatakan sesuatu…

TV hotel tiba-tiba menyala sendiri.

Layar berkedip beberapa detik.

Lalu muncul wajah Vincent Laurent.

Bukan siaran berita.

Bukan rekaman lama.

Live feed.

Vincent duduk santai di sebuah ruangan gelap sambil memegang wine merah.

Dan perlahan…

ia tersenyum ke arah kamera.

Ke arah kami.

“Selamat pagi, Elena.”

Dadaku langsung terasa dingin.

Sementara senyum Vincent perlahan melebar.

“Dan Mr. Azkaihza…”

Ia mengangkat gelas wine perlahan.

“…aku harap malam kalian menyenangkan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 10 CINTA HADIR DI di TENGAH KEKACAUAN

    Pagi di Singapura terasa terlalu tenang untuk hidup kami.Hujan sudah berhenti sejak subuh, meninggalkan embun tipis di kaca jendela hotel kecil tempat aku dan Elena bersembunyi sementara dari dunia.Namun ketenangan seperti ini selalu menipu.Aku mulai memahami itu sejak mengenal Elena.Karena setiap kali hidup terasa terlalu tenang…sesuatu buruk biasanya sedang berjalan mendekat.Elena masih tertidur di sampingku ketika aku membuka laptop kecil miliknya.Layar langsung menyala otomatis menggunakan facial recognition.Aku mengernyit kecil.“Trust issue tapi laptopnya percaya sama muka gue.”Suara serak Elena terdengar dari belakang.“Karena sistemnya membaca ancaman rendah.”Aku menoleh sambil tersenyum tipis.“Wah, jadi aku cuma level nyamuk?”Elena tertawa kecil sambil menarik selimut menutupi bahunya.Pagi hari selalu membuatnya terlihat berbeda.Lebih lembut.Lebih muda.Dan jauh dari sosok perempuan misterius yang pertama kali muncul di hidupku.Namun justru itu yang berbahaya.

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

    Tulisan itu masih menyala di layar laptop.AZKAIHZASTATUS: PROCESSING ERASURE.Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.Bukan takut.Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…aku melihat kepanikan nyata di matanya.“No…”Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.Namun layar justru berubah merah.ACCESS DENIED.ACCESS DENIED.Suara napas Elena mulai tidak stabil.Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.Aku berdiri perlahan di belakangnya.“Apa arti ‘erasure’?”Elena diam.Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.“Elena.”Tatapannya perlahan naik.Mata indah itu terlihat lelah.Takut.Dan dipenuhi rasa bersalah.“…Mereka akan menghapus hidupmu.”Henin

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

    TV hotel masih menyala.Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.“Selamat pagi, Elena…”Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.Vincent mengangkat gelas wine perlahan.“…aku harap malam kalian menyenangkan.”Klik.Layar mendadak mati sendiri.Hening.Sunyi yang terasa berat.Aku menoleh ke arah Elena.Wajahnya pucat.Bukan karena malu.Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.“Psikopat.”Elena tertawa kecil.Namun tawanya terdengar lelah.“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”Aku menoleh.“Dia mantan kekasihmu?”Elena langsung menatapku datar.“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”“Ya s

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

    Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”Singkat.Sederhana.Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.Vincent Laurent.Pria itu bukan sekadar mengejar kami.Ia sedang bermain.Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.Dan itu berbahaya.Sangat berbahaya.“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”Suara Elena terdengar pelan dari belakang.Aku menoleh.Dia sudah bangun.Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.Namun justru dalam keadaan seperti itu Ele

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

    Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.Cepat.Refleks.Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.Ada kamera tersembunyi di kamar ini.Atau…seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.Aku langsung menoleh ke arahnya.“Secret exit?”Elena tidak menjawab.Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.Tok.Tok.Tok.Tenang.Sopan.Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.Aku mengenali pola itu sekarang.Vincent Laurent.Pria itu bahkan tidak perlu berteriak

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

    Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:aku tetap akan pergi ke Singapura.Meskipun semua insting mengatakan jangan.Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.Jalanan kosong.Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.Aku menyetir sendiri.Tidak ada musik.Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.“Semakin dekat kamu sama aku…”“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”Sialnya…aku tetap datang.Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.Lebih sunyi.Lebih dingin.Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status