Home / Male Adult / MIDNIGHT TRANSFER / CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

Share

CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

Author: Azkaihza
last update publish date: 2026-05-15 15:33:00

Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.

Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:

aku tetap akan pergi ke Singapura.

Meskipun semua insting mengatakan jangan.

Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.

Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.

Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.

Jalanan kosong.

Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.

Aku menyetir sendiri.

Tidak ada musik.

Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.

“Semakin dekat kamu sama aku…”

“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”

Sialnya…

aku tetap datang.

Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.

Lebih sunyi.

Lebih dingin.

Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.

Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport, serta pistol yang kusimpan rapi di bagian dalam.

Langkahku berhenti ketika melihat seseorang duduk di sudut lounge.

Flo.

Menggunakan hoodie putih oversized sambil memainkan ponselnya.

Aku menghela napas panjang.

“Serius?”

Flo bahkan tidak menoleh.

“Kalau kamu mati di Singapura, aku males ngurus pemakamanmu.”

Aku duduk di depannya.

“Aku bilang pergi sendiri.”

“Dan sejak kapan kamu pintar nurut?”

Aku terkekeh kecil.

Namun ekspresiku kembali serius.

“Flo.”

Dia akhirnya menatapku.

Tatapannya tajam.

“Aku nggak suka feeling ini, Azka.”

“Aku juga.”

“Vincent terlalu tenang.”

Aku diam.

Karena itu juga yang paling menggangguku.

Pria seperti Vincent tidak pernah bergerak tanpa alasan.

Dan orang yang terlalu tenang biasanya menyimpan sesuatu yang lebih berbahaya daripada kemarahan.

Boarding dipanggil lima menit kemudian.

Saat aku berdiri, Flo tiba-tiba menarik lenganku pelan.

“Kalau ketemu Elena…”

Dia berhenti sebentar.

“…jangan langsung percaya dia.”

Aku menatap Flo beberapa detik.

Lalu bertanya pelan:

“Kamu sebenarnya takut sama Elena… atau takut aku mulai peduli sama dia?”

Flo tersenyum kecil.

Namun matanya tidak ikut tersenyum.

“Kadang dua hal itu sama bahayanya.”

Singapura.

09:40 AM.

Pesawat mendarat mulus di Seletar Private Airport.

Langit Singapura mendung tipis pagi itu.

Aku baru keluar dari terminal ketika ponselku langsung bergetar.

Pesan masuk.

Dari Elena.

Elena:

Jangan gunakan hotel dengan identitas asli.

Aku tersenyum tipis.

Minimal dia masih hidup.

Aku mengetik cepat.

Aku:

Jadi kamu memang lagi dikejar?

Seen.

Typing…

Elena:

Selalu.

Balasan itu membuat dadaku terasa aneh.

Tidak dramatis.

Tidak berlebihan.

Justru terlalu jujur.

Aku memesan mobil lalu bergerak menuju pusat kota Singapura.

Sepanjang perjalanan, pikiranku terus bekerja.

Satu hal mulai terasa jelas:

Elena tidak sedang bermain-main.

Wanita itu hidup seperti seseorang yang selalu siap menghilang kapan saja.

Dan orang seperti itu biasanya pernah melihat sesuatu yang tidak seharusnya mereka lihat.

Sore hari.

Aku akhirnya menerima satu lokasi dari Elena.

Tanpa nama hotel.

Tanpa nomor kamar.

Hanya titik koordinat.

Hotel itu berdiri di area elite dekat Marina Bay.

Bangunannya tinggi dan modern, namun anehnya tidak memiliki papan nama besar seperti hotel-hotel mewah lainnya.

Terlalu privat.

Terlalu tertutup.

Aku turun dari lift lantai tiga puluh satu sambil memperhatikan lorong panjang yang sunyi.

Karpet hitam. Lampu remang. Dan aroma parfum mahal di udara.

Ponselku kembali bergetar.

Elena:

Jalan terus sampai ujung lorong.

Aku mengikuti arah itu perlahan.

Jantung mulai berdetak lebih cepat.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…

aku benar-benar akan bertemu dengannya.

Bukan foto.

Bukan voice note.

Bukan bayangan.

Nyata.

Langkahku berhenti di depan pintu suite paling ujung.

Tidak ada nomor.

Tidak ada identitas.

Hanya pintu hitam matte dengan fingerprint scanner di sampingnya.

Pintu itu terbuka perlahan sebelum aku sempat mengetuk.

Dan di sanalah Elena berdiri.

Diam.

Tatapan kami langsung bertemu.

Beberapa detik pertama terasa aneh.

Karena otakku seperti tidak siap melihatnya benar-benar nyata.

Dia lebih cantik daripada foto.

Namun bukan itu yang membuatku kehilangan kata-kata.

Melainkan matanya.

Tatapan Elena terlihat lelah.

Seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidak merasa aman.

Rambut hitam panjangnya jatuh berantakan tipis di bahu. Ia mengenakan sweater abu oversized dan celana hitam sederhana.

Tidak seperti wanita elite di foto-foto sebelumnya.

Hari ini dia terlihat… manusia.

Dan entah kenapa itu justru lebih berbahaya.

Karena aku mulai merasa ingin melindunginya.

Elena membuka pintu lebih lebar.

“Masuk sebelum ada yang lihat.”

Aku masuk perlahan.

Suite itu luas namun gelap.

Tirai tertutup.

Tiga laptop menyala di meja.

Beberapa passport berbeda tergeletak terbuka.

Dan satu koper hitam besar berada di dekat sofa.

Siap pergi kapan saja.

Aku menatap semua itu beberapa detik.

“…Kamu hidup kayak buronan.”

Elena tersenyum kecil.

Namun senyumnya terasa sedih.

“Karena memang itu kenyataannya.”

Hening.

Aku berdiri beberapa langkah darinya.

Dekat.

Sangat dekat.

Dan sekarang aku akhirnya bisa mencium aroma parfumnya.

Floral dingin dengan sedikit aroma hujan.

Sial.

Aku membenci kenyataan bahwa aku menyukai detail itu.

“Kenapa aku?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.

Elena diam cukup lama sebelum menjawab.

“Karena cuma kamu yang masih bisa aku percaya.”

Aku tertawa kecil.

“Lucu.”

“Apa?”

“Kita bahkan nggak benar-benar saling kenal.”

Tatapan Elena perlahan berubah.

Ada sesuatu di matanya sekarang.

Kesedihan.

Dan rasa bersalah.

“…Itu yang kamu pikir.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Aku menyipitkan mata.

“Maksud kamu?”

Elena belum sempat menjawab.

Karena tiba-tiba salah satu laptop di meja berbunyi keras.

WARNING DETECTED.

WARNING DETECTED.

Ekspresi Elena langsung berubah pucat.

Benar-benar pucat.

Dia berjalan cepat ke laptop lalu membuka tracking kamera gedung.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Vincent Laurent.

Masuk ke lobby hotel bersama beberapa pria berjas hitam.

Tenang.

Santai.

Dan tersenyum kecil ke arah kamera CCTV.

Seolah tahu Elena sedang melihatnya.

Dadaku langsung menegang.

“Dia nemuin kita?”

Elena menggigit bibir bawahnya pelan.

Tangannya mulai gemetar untuk pertama kalinya sejak aku datang.

“Bukan.”

“Lalu?”

Tatapan Elena perlahan beralih ke arahku.

Dan untuk pertama kalinya…

aku melihat ketakutan nyata di wajahnya.

“Dia memang sengaja membiarkan kamu sampai ke sini.”

Lift hotel mulai bergerak naik.

Perlahan.

Sunyi.

Namun justru kesunyian itu terasa jauh lebih mengerikan daripada suara tembakan.

Aku berdiri di depan layar CCTV sementara Vincent Laurent masih terlihat di lobby hotel dengan ekspresi santai yang membuat dadaku terasa tidak nyaman.

Pria itu tidak terlihat seperti orang yang sedang mengejar seseorang.

Ia terlihat seperti seseorang yang sudah tahu akhir permainan.

Elena langsung menutup beberapa laptop dan memasukkan passport ke dalam koper hitam dengan gerakan cepat.

Tangannya gemetar tipis.

Dan itu cukup membuatku sadar satu hal:

bahkan Elena takut pada Vincent.

“Kita harus pergi sekarang.”

“Ke mana?”

Elena menatapku beberapa detik sebelum menjawab pelan:

“Tempat terakhir yang nggak pernah dia pikir akan aku datangi lagi.”

Belum sempat aku bertanya lebih jauh…

suara lift berhenti terdengar dari luar suite.

Ting.

Hening.

Lalu langkah kaki pelan mulai berjalan mendekati pintu kamar kami.

Dan bersamaan dengan itu…

ponselku tiba-tiba menerima satu foto baru.

Foto diriku dan Elena di dalam suite ini.

Diambil beberapa detik lalu.

Dari dalam kamar….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 10 CINTA HADIR DI di TENGAH KEKACAUAN

    Pagi di Singapura terasa terlalu tenang untuk hidup kami.Hujan sudah berhenti sejak subuh, meninggalkan embun tipis di kaca jendela hotel kecil tempat aku dan Elena bersembunyi sementara dari dunia.Namun ketenangan seperti ini selalu menipu.Aku mulai memahami itu sejak mengenal Elena.Karena setiap kali hidup terasa terlalu tenang…sesuatu buruk biasanya sedang berjalan mendekat.Elena masih tertidur di sampingku ketika aku membuka laptop kecil miliknya.Layar langsung menyala otomatis menggunakan facial recognition.Aku mengernyit kecil.“Trust issue tapi laptopnya percaya sama muka gue.”Suara serak Elena terdengar dari belakang.“Karena sistemnya membaca ancaman rendah.”Aku menoleh sambil tersenyum tipis.“Wah, jadi aku cuma level nyamuk?”Elena tertawa kecil sambil menarik selimut menutupi bahunya.Pagi hari selalu membuatnya terlihat berbeda.Lebih lembut.Lebih muda.Dan jauh dari sosok perempuan misterius yang pertama kali muncul di hidupku.Namun justru itu yang berbahaya.

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 9 ERASURE PROTOCOL

    Tulisan itu masih menyala di layar laptop.AZKAIHZASTATUS: PROCESSING ERASURE.Aku membaca kalimat itu perlahan sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.Bukan takut.Lebih seperti perasaan ketika seseorang akhirnya sadar bahwa dirinya sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.Di sampingku, Elena langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat.Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…aku melihat kepanikan nyata di matanya.“No…”Ia berjalan cepat menuju laptop lalu mencoba menutup sistem itu.Namun layar justru berubah merah.ACCESS DENIED.ACCESS DENIED.Suara napas Elena mulai tidak stabil.Tangannya gemetar ketika mengetik beberapa command dengan cepat.Aku berdiri perlahan di belakangnya.“Apa arti ‘erasure’?”Elena diam.Dan diamnya jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.Aku menarik kursi lalu memaksanya menatapku.“Elena.”Tatapannya perlahan naik.Mata indah itu terlihat lelah.Takut.Dan dipenuhi rasa bersalah.“…Mereka akan menghapus hidupmu.”Henin

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 8 THE SECOND NIGHT

    TV hotel masih menyala.Wajah Vincent Laurent memenuhi layar dengan senyum tenang yang terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman biasa.“Selamat pagi, Elena…”Suara pria itu rendah. Elegan. Dan dingin.Aku langsung berdiri dari tempat tidur sementara Elena mematung di sampingku sambil menggenggam cangkir kopi terlalu erat.Vincent mengangkat gelas wine perlahan.“…aku harap malam kalian menyenangkan.”Klik.Layar mendadak mati sendiri.Hening.Sunyi yang terasa berat.Aku menoleh ke arah Elena.Wajahnya pucat.Bukan karena malu.Bukan karena takut ketahuan tidur denganku.Namun karena ia tahu satu hal yang sama denganku sekarang:Vincent sedang mengawasi setiap langkah kami.Aku berjalan menuju TV lalu mencabut kabel listriknya kasar.“Psikopat.”Elena tertawa kecil.Namun tawanya terdengar lelah.“Aku pernah bilang… Vincent nggak suka kehilangan kendali.”Aku menoleh.“Dia mantan kekasihmu?”Elena langsung menatapku datar.“Kamu serius nanya itu setelah semua yang terjadi?”“Ya s

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 7 SISI KIRI TEMPAT TIDUR

    Hujan masih turun di luar jendela hotel kecil itu ketika aku membaca ulang pesan dari nomor anonim tadi.“Dia selalu tidur di sisi kiri tempat tidur.”Singkat.Sederhana.Namun cukup untuk membuat bulu kudukku perlahan merinding.Aku berdiri diam beberapa detik di dekat jendela sambil memandangi jalanan Singapura yang basah oleh cahaya lampu malam.Vincent Laurent.Pria itu bukan sekadar mengejar kami.Ia sedang bermain.Dan yang paling menggangguku adalah fakta bahwa dia menikmati permainan ini.Aku menghembuskan napas panjang lalu mematikan layar ponsel.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bertemu seseorang yang mampu membuat ancaman terasa seperti seni psikologis.Dan itu berbahaya.Sangat berbahaya.“Kamu kelihatan kayak orang yang baru lihat tagihan pajak.”Suara Elena terdengar pelan dari belakang.Aku menoleh.Dia sudah bangun.Masih terbungkus selimut putih hotel dengan rambut hitam sedikit berantakan dan mata setengah mengantuk.Namun justru dalam keadaan seperti itu Ele

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 6 PRIA DENGAN JAS HITAM

    Foto itu masih terpampang di layar ponselku ketika Elena langsung menarik lenganku menjauh dari pintu suite.Cepat.Refleks.Seolah tubuhnya sudah terbiasa hidup dalam ancaman.Aku masih sempat melihat detail foto itu sebelum layar terkunci.Aku dan Elena. Berdiri di dalam suite. Diambil dari sudut ruangan yang mustahil.Dan itu berarti hanya ada dua kemungkinan.Ada kamera tersembunyi di kamar ini.Atau…seseorang sudah berada di dalam suite bersama kami sejak tadi.Elena membuka panel kecil di dekat lemari lalu menekan beberapa tombol cepat. Suara mekanik pelan terdengar sebelum salah satu bagian dinding terbuka memperlihatkan lorong sempit tanpa cahaya.Aku langsung menoleh ke arahnya.“Secret exit?”Elena tidak menjawab.Tatapannya fokus ke pintu suite yang kini mulai terdengar diketuk perlahan dari luar.Tok.Tok.Tok.Tenang.Sopan.Dan justru itu yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.Aku mengenali pola itu sekarang.Vincent Laurent.Pria itu bahkan tidak perlu berteriak

  • MIDNIGHT TRANSFER    CHAPTER 5 HOTEL TANPA NAMA

    Aku tidak memberi tahu Flo soal keputusan itu.Karena jauh di dalam pikiranku, aku sudah tahu satu hal:aku tetap akan pergi ke Singapura.Meskipun semua insting mengatakan jangan.Meskipun Elena mungkin sedang menjebakku.Dan meskipun pria seperti Vincent Laurent sekarang jelas mengetahui keberadaanku.Pukul empat pagi, Jakarta masih basah oleh hujan ketika mobil hitamku meluncur menuju bandara Halim.Jalanan kosong.Lampu kota memantul di kaca mobil seperti potongan mimpi yang pecah.Aku menyetir sendiri.Tidak ada musik.Hanya suara wiper dan voice note Elena yang terus berputar di kepalaku.“Semakin dekat kamu sama aku…”“…semakin kecil kemungkinan kamu untuk hidup normal lagi.”Sialnya…aku tetap datang.Private terminal Halim selalu terasa berbeda dibanding bandara biasa.Lebih sunyi.Lebih dingin.Dan dipenuhi orang-orang yang terlalu kaya untuk mau antre bersama manusia lain.Aku berjalan melewati lounge sambil mengenakan coat hitam tipis dan tas kecil berisi laptop, passport,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status